Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Suasana pagi di apartemen sempit Bayu benar-benar terasa seperti kapal pecah yang sedang karam.
Suara teriakan anak-anak saling bersahutan mengalahkan suara klakson kendaraan dari jalan raya di bawah sana.
"Om Bayu, tolong ikatkan pita rambut Cika sekarang juga!" teriak Cika dari arah ruang tengah.
"Iya sebentar, Om sedang memakaikan sepatu Rara dulu di sini," jawab Bayu dengan nafas terengah-engah.
Sinta berjalan mondar-mandir memastikan seragam Kania dan Bella sudah rapi dan tidak kusut.
Hari ini adalah hari yang sangat penting karena Kania dan Bella akan tampil menari di acara sekolah mereka.
"Kania, tolong jangan makan cokelat dulu nanti seragam putihmu kotor terkena noda," tegur Sinta seperti seorang ibu.
"Iya Kak Sinta bawel sekali, aku hanya memakan sedikit saja kok," balas Kania sambil cemberut lucu.
Bayu akhirnya selesai mengikat tali sepatu Rara dan langsung berdiri mengusap keringat di dahinya.
"Baiklah anak-anak, apakah semuanya sudah siap untuk berangkat sekarang?"
"Sudah siap Om!" teriak keenam keponakannya dengan serempak dan penuh semangat.
Bayu mengambil kunci mobil Alphard dari atas meja dan segera menggiring mereka semua keluar dari apartemen.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki mungil mereka menggema di sepanjang lorong apartemen menuju area parkir.
Saat mereka tiba di area parkir, mobil Toyota Alphard putih mengkilap itu tampak sangat mencolok.
Ukurannya yang besar membuat mobil-mobil tua di sekitarnya terlihat seperti mainan anak-anak.
Cklek.
Bayu menekan tombol di kuncinya dan pintu geser otomatis mobil itu langsung terbuka lebar.
"Ayo semuanya masuk dan pasang sabuk pengaman kalian masing-masing," perintah Bayu dengan gaya seorang bos.
Rara dan Luna langsung memanjat masuk dan mencari posisi paling nyaman di kursi belakang.
"Om, mobilnya wangi sekali seperti wangi permen karet," puji Bella sambil mengendus udara di dalam mobil.
"Tentu saja, ini kan mobil baru jadi wangi kemewahannya masih sangat terasa."
Bayu duduk di kursi kemudi dan segera menyalakan mesin mobil tersebut.
Brumm.
Suara mesin yang sangat halus nyaris tidak terdengar dari dalam kabin yang kedap suara itu.
Mobil mewah itu pun perlahan melaju meninggalkan area parkir apartemen menuju jalan raya kota Jakarta.
Pagi itu jalanan cukup padat namun Bayu mengemudi dengan sangat santai dan tenang.
Kania dan Bella terus mengobrol di kursi tengah membicarakan gerakan tarian yang akan mereka bawakan nanti.
Tiba-tiba, suara getaran keras terdengar dari dalam saku celana Bayu.
Trrrrt trrrrt.
Bayu mengambil ponselnya dan melihat layar yang menyala menampilkan sebuah nama panggilan.
"Bos Botak Yono Memanggil" Bayu mendengus pelan melihat nama atasannya itu tertera di layar ponselnya.
"Panjang umur, baru saja semalam aku memikirkannya dan sekarang dia sudah menelpon."
"Sinta, tolong bantu Om tekan tombol angkat panggilannya lalu pasang mode pengeras suara ya."
Sinta mencondongkan tubuhnya dari kursi penumpang depan dan menekan tombol hijau di layar ponsel Bayu.
Belum sempat Bayu mengucapkan salam, suara teriakan melengking langsung terdengar dari ponsel tersebut.
"Bayu! Jam berapa ini hah? Kenapa kamu belum juga menampakkan batang hidungmu di kantor?!"
"Apakah kamu mengira perusahaan ini milik nenek moyangmu sehingga kamu bisa datang sesuka hati?"
Suara Pak Yono yang sangat keras membuat Kania dan Bella langsung terdiam karena kaget.
Sinta mengerutkan keningnya karena merasa kesal mendengar pamannya dibentak seperti itu.
"Selamat pagi juga Pak Yono, mohon maaf saya tidak bisa masuk kantor hari ini," jawab Bayu dengan nada sangat santai.
"Saya sedang ada urusan keluarga yang sangat penting dan mendesak saat ini."
"Urusan keluarga apa? Alasan macam apa lagi yang sedang kamu karang sekarang Bayu?!"
"Laporan evaluasi bulanan yang aku minta kemarin belum selesai dan kamu berani membolos hari ini?!"
Bayu menghela nafas panjang dan menatap jalanan di depannya dengan tatapan bosan.
"Laporannya memang belum saya kerjakan Pak karena semalam saya harus mengurus keponakan saya."
"Lalu Bapak sendiri kapan mau mengerjakan laporan Bapak sendiri tanpa harus menyuruh saya terus?"
"Bapak kan digaji lebih besar dari saya, masa harus staf biasa yang mengerjakan tugas manajer."
Hening sejenak.
Pak Yono di ujung telepon sana sepertinya sedang tersedak ludahnya sendiri mendengar balasan telak dari Bayu.
"Bayu! Kamu sudah bosan bekerja di sini ya?! Beraninya kamu berbicara seperti itu padaku!" teriak Pak Yono semakin murka.
"Kalau kamu tidak segera datang ke kantor dalam waktu setengah jam, kamu akan saya pecat hari ini juga!"
Bayu justru tersenyum lebar mendengar ancaman pemecatan yang biasanya sangat menakutkan baginya itu.
"Silakan saja pecat saya Pak Yono, saya juga sudah muak melihat kepala botak Bapak setiap pagi."
"Tolong siapkan saja surat pemecatan saya, besok saya akan datang untuk mengambilnya sekalian membereskan barang-barang saya."
Bayu memberi kode kepada Sinta untuk mematikan panggilan tersebut.
Klik.
Panggilan terputus menyisakan suasana hening di dalam mobil Alphard itu.
"Ah, rasanya puas sekali bisa mengatakan hal itu secara langsung kepadanya," batin Bayu dengan perasaan sangat lega.
Sinta menatap Bayu dengan mulut sedikit terbuka karena merasa tidak percaya.
"Om Bayu baru saja menantang bos Om dan menyuruhnya memecat Om?"
"Lalu dari mana kita akan mendapatkan uang untuk makan bulan depan jika Om menjadi pengangguran?"
Bayu tertawa terbahak-bahak melihat wajah panik keponakan tertuanya itu.
"Sinta sayang, Om sekarang sudah kaya raya jadi gaji dari kantor itu tidak ada artinya lagi."
"Om punya uang yang cukup untuk membeli pabrik mie instan agar kalian bisa makan sampai bosan."
Sinta hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkat kepercayaan diri pamannya yang semakin tidak masuk akal.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di depan gerbang Sekolah Dasar Pelita Jaya.
Sekolah itu adalah salah satu sekolah swasta yang cukup elit di kawasan tersebut.
Banyak mobil-mobil bagus yang terparkir di pinggir jalan karena hari ini ada acara pentas seni yang mengundang orang tua murid.
Bayu mengarahkan mobil Alphard barunya untuk masuk ke area parkir sekolah secara perlahan.