Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.
Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.
Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.
Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sweet Couple (6) Rakan
Maret 2008
Sarah sedang menyiapkan sarapan ketika Regan masuk ke dapur. Dia mendekat, memeluknya dari belakang lalu mencium bahu dan lehernya dengan mesra. Sarah tersenyum geli. Dia berbalik dan mendorong Regan untuk duduk.
Regan menyeruput kopinya. Sarah meletakkan nasi goreng yang baru saja matang di atas meja. Lalu mengambil piring, menuangkan nasi goreng, mengambilkan ceplok telor dan kerupuk udang kemudian memberikannya pada Regan.
“Makasih sayang,” ucap Regan.
Dia mulai menyantap sarapan buatan istri tercinta. Sarah duduk di depan Regan, hanya melihat suaminya makan.
“Kamu ga sarapan?”
“Nanti aja mas, belum laper.”
Akhir-akhir ini Sarah tak berselera makan, sudah tiga hari setiap pagi dia selalu merasa mual dan pusing.
Regan telah selesai sarapan. Sehabis meminum air putih, dia berdiri. Sarah segera menghampiri Regan.
“Berangkat sekarang?”
Regan hanya mengangguk. Lalu berjalan keluar sambil merangkul Sarah. Sesampainya di halaman rumah, Sarah mencium punggung tangan Regan, yang dibalas dengan ciuman di kening dan bibirnya. Tak berapa lama roda kendaraan suaminya meluncur meninggalkan rumah.
Sarah segera masuk menuju kamarnya. Membuka laci lemari lalu mengambil test pack yang dibelinya kemarin. Dia segera masuk ke kamar mandi. Sarah duduk di atas closet sambil memejamkan mata, berharap hasilnya positif. Perlahan Sarah membuka matanya, melihat pelan-pelan hasil test pack dan ternyata terdapat dua garis biru di atasnya.
“Alhamdulillah,” ucap Sarah senang. Dia mengelus perutnya sambil tersenyum bahagia.
Sore harinya Regan pulang ke rumah. Ketika masuk ke dalam bi Parmi baru selesai masak.
“Loh ada bi Parmi.”
“Iya tadi mba Sarah telpon, katanya ga enak badan. Jadi bibi ke sini nemenin takut ada apa-apa.”
Regan terkejut, Sarah tidak mengatakan apa-apa padanya. Buru-buru dia naik ke atas masuk ke dalam kamar. Sarah sedang berbaring di atas kasur. Regan langsung menghampiri dengan perasaan cemas.
“Kamu sakit apa sayang? Kenapa ngga kasih tau mas?”
Regan langsung bertanya seraya memegang kening Sarah. Wajah Sarah nampak sedikit pucat.
“Aku ga apa-apa mas.”
“Bener?” Regan mencoba memastikan, Sarah hanya mengangguk.
“Mas, aku punya sesuatu untukmu.”
Sarah membuka laci di samping tempat tidurnya. Mengambil test pack lalu memberikannya pada Regan. Regan mengambil test pack dari tangan Sarah dan melihat dua garis biru. Matanya membelalak, dia senang bukan kepalang.
“Ya Allah, Sarah kamu hamil, alhamdulillah,” ucap Regan senang.
Dia langsung memeluk Sarah, menghujani wajahnya dengan ciuman. Kemudian mengelus perut Sarah serta mencium lembut perutnya.
“Kamu udah kasih tau mami?”
“Udah mas, kalau tante Dina dan papa, mas aja yang kasih tau,” ucap Sarah sambil tersenyum.
Regan mengambil ponselnya, menelpon tante Dina dan mengatakan kabar gembira ini. Tante Dina mengucapkan selamat. Besok dia akan datang ke rumah untuk menengok Sarah.
Setelah menelpon tante Dina, Regan menelpon papanya. Reaksi yang sama diberikan oleh papa, dia sudah tidak sabar untuk segera menimang cucu. Papa berjanji akan datang secepatnya menemui Regan dan Sarah.
❤️❤️❤️
Regan baru saja sampai ke rumah. Dari dalam mobil dia membawa bungkusan berisi rujak ulek. Sebelum pulang kerja Sarah menelponnya, minta dibawakan rujak ulek. Regan masuk ke dalam rumah. Sarah sedang duduk menonton televisi ditemani bi Parmi. Semenjak Sarah hamil, Regan meminta bi Parmi datang ke rumah setiap hari untuk menemani Sarah dan jangan dulu pulang sebelum dia sampai ke rumah.
Regan langsung menghampiri Sarah.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Sarah dan bi Parmi bersamaan.
Sarah menyambut Regan dengan senang. Apalagi setelah tahu suaminya membawa rujak pesanannya. Regan memberikan rujak pada bi Parmi untuk dipindahkan ke piring. Sedang dia langsung naik ke atas.
Bi Parmi memberikan piring yang berisi rujak pada Sarah. Setelah itu dia pamit pulang. Sarah langsung memakan rujak yang sudah didambakannya sejak siang tadi. Tak berapa lama Regan datang, ikut duduk di sampingnya.
“Enak ga rujaknya?”
“Enak.. cuma kurang pedes.”
“Jangan pedes-pedes, nanti sakit perut.”
“Mau ga?” tanya Sarah. Regan mengangguk, lalu Sarah menyuapinya.
“Mas.. aku kan udah mau mulai usaha WO sama Debby. Tapi berhubung kita belum punya cukup modal buat sewa tempat, boleh ngga kalau untuk sementara aku buka kantornya di sini?”
“Boleh dong... nanti kamar tamu bisa kamu pakai buat ruangan kamu. Oh iya, senior di kampus mau nikah, nanti mas kenalin ya biar dia jadi klien pertama kamu.”
“Bener mas?” tanya Sarah antusias, matanya tampak berbinar-binar.
“Bener, tapi jangan terlalu cape ya. Inget sekarang kan kamu lagi mengandung anak mas,” ucap Regan seraya mengelus perut Sarah.
“Anak aku juga.”
“Iya.. anak kita.”
Sarah tersenyum. Dia melanjutkan makannya, tak lupa untuk menyuapi Regan.
❤️❤️❤️
Desember 2008
Papa Regan dan tante Dina menunggu dengan cemas di depan ruang persalinan. Di dalam kamar, Regan dengan setia mendampingi Sarah yang sedang berjuang melahirkan anak pertama mereka. Setelah pergulatan panjang akhirnya Sarah melahirkan seorang bayi laki-laki. Seketika tangis sang bayi pecah setelah keluar dari rahim sang bunda. Regan langsung mengucap syukur dan mengecup kening Sarah. Begitu pula Sarah, segala rasa sakit yang dirasakannya seketika menguap melihat bayi mungilnya.
Suster menyerahkannya pada Regan. Dia langsung mengumandangkan adzan di telinga kanan anaknya. Setelah itu dia memberikan anaknya kembali kepada suster untuk dimandikan.
Tak berapa lama pintu terbuka, Lukman dan Dina masuk.
“Selamat ya Sarah, kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang,” ucap Dina.
“Makasih tante,” jawab Sarah pelan.
“Selamat ya nak,” ucap papa pada Regan seraya memeluknya. Rasa haru langsung menyeruak dalam hati Regan, matanya nampak berkaca-kaca.
Suster telah selesai memandikan dan memakaikan baju. Kemudian menyerahkan bayi pada Sarah inisiasi dini. Papa mengajak Regan keluar ruangan, sedang Dina tetap di dalam menemani Sarah. Segala perasaan berkecamuk dalam dada Sarah ketika dia menggendong bayinya, dia mencium pelan anaknya ini kemudian mulai memberikan asi. Airmatanya mengalir, matanya tak henti memandangi anaknya yang tengah menyusu. Ada rasa tak percaya sekaligus bahagia akan kehadiran buah hati pertamanya.
Sementara itu papa dan Regan kembali duduk di depan ruang bersalin. Setelah terdiam sebentar, papa mulai berbicara.
“Sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah. Papa harap kamu bisa menjadi ayah yang baik untuk anakmu, jangan seperti papa,” papa tidak melanjutkan ucapannya. Dia terdiam sejenak, mengambil nafas sebentar lalu kembali berkata,
“Maafin papa karena selama ini belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kamu.”
Regan menoleh ke arah papanya, menatapnya lekat-lekat.
“Buatku, papa adalah yang terbaik.”
Papa menggeleng mendengar ucapan anaknya.
“Papa cuma seorang pengecut yang tidak bisa menerima kenyataan. Setelah kepergian mamamu, harusnya papa tetap ada di samping kamu, bukannya pergi menjauh.”
“Aku tau, papa bukan menjauh. Papa cuma membutuhkan tempat yang berbeda untuk melanjutkan hidup.”
Lukman menatap anak semata wayangnya ini. Semenjak kepergian istrinya delapan tahun yang lalu, hidupnya terasa tak berarti. Perasaan bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nyawa istri tercinta terus menghantui dirinya. Hingga setahun setelah kepergian istrinya dia memutuskan untuk pergi ke daerah terpencil, mengabdikan dirinya menolong orang-orang yang berada jauh dari fasilitas kesehatan. Dia berharap pengabdiannya ini dapat sedikit menghilangkan rasa bersalahnya.
“Apapun yang terjadi harusnya papa tetap berada di samping kamu, bukannya pergi dan menjadikanmu seperti anak yatim piatu. Harusnya papa sadar saat itu kalau kamu juga sama sedihnya seperti papa, harusnya kita menghadapi semua bersama-sama. Maafin papa.”
Wajah papa tertunduk, airmata menggenang di kedua matanya. Regan terdiam, dia terbayang peristiwa tujuh tahun lalu.
Flashback on
Papa sedang membereskan bajunya dan mengepaknya ke dalam koper. Regan yang baru saja pulang kuliah segera menghampiri papa di kamarnya.
“Papa mau kemana?”
“Papa sudah mendaftar sebagai dokter relawan untuk orang-orang yang membutuhkan di daerah terpencil. Maafin papa karena tidak membicarakan ini sebelumnya, tapi papa benar-benar harus melakukan ini.”
Regan terkejut mendengarnya, baru setahun lalu mama meninggalkan dirinya dan kini papa juga ingin pergi darinya.
“Papa sudah menitipkan kamu pada tante Dina, semua aset papa sudah papa alihkan atas nama kamu. Tante Dina dan om Firman yang akan mengatur keuangan kamu sampai kamu bisa mengelolanya sendiri, sekali lagi maafin papa.”
Regan masih terdiam, dia belum bisa percaya papa bisa setega itu meninggalkan dirinya seorang diri. Papa sudah selesai membereskan pakaiannya, dia menutup dan mengunci kopernya lalu berjalan keluar kamar sambil menarik kopernya.
“Kenapa papa mutusin ini sendirian? Kenapa papa gak tanya Regan dulu, apa pendapat Regan ngga penting atau keberadaan Regan ngga berarti buat papa?” tanya Regan, suaranya terdengar bergetar.
Papa menghentikan langkahnya, membalikkan badannya dan menatap Regan lekat-lekat.
“Maafin papa, tapi ini adalah hal terbaik yang bisa papa lakukan untuk kamu. Sebatang benalu harus dibuang agar pohon dapat terus tumbuh dan berkembang. Saat ini papa hanyalah sebuah benalu dalam hidup kamu, jadi papa harus pergi supaya kamu bisa bernafas dan tumbuh dengan lebih baik.”
“Apa karena mama? Kepergian mama bukan kesalahan papa, tolong papa jangan pergi, papa itu bukan benalu dan Regan butuh papa,” ucap Regan memelas. Namun papa hanya menggeleng.
“Apa ngga bisa kita hadapi ini sama-sama?” Regan kembali berkata. Papa menghela nafas, dia menghampiri Regan lalu memeluknya dengan erat seraya berbisik.
“Maafin papa.”
Papa melepaskan pelukannya dan beranjak pergi, tapi suara Regan lagi-lagi menahannya.
“Setidaknya kasih satu alasan kenapa papa harus pergi.”
Papa menatap Regan lekat-lekat kemudian berkata,
“Karena papa ingin hidup, di sini papa gak bisa bernafas dengan lega, leher papa terasa tercekik. Karenanya papa harus pergi supaya papa bisa tetap hidup dan bisa melihat kamu lagi”.
Regan terdiam mendengarnya, tenggorokannya serasa tercekat. Akhirnya dia membiarkan papanya pergi dan terus memandanginya dengan mata berkaca-kaca.
Flashback off
“Kamu harus lebih baik dari papa, jika di kemudian hari kamu menghadapi masa-masa sulit, maka yang terbaik adalah menghadapinya bersama-sama dengan keluargamu, anak dan istrimu, jangan lari dan meninggalkan mereka di belakang, tetap bergandengan tangan, jangan jadi pengecut seperti papa.”
Suara papa membuyarkan lamunannya. Yang diucapkannya kini berbanding terbalik dengan yang terjadi tujuh tahun lalu.
“Waktu datang dan berlalu dengan cepat. Seharusnya kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu sebagai ayah dan anak. Tapi lihat sekarang, kamu sudah menjadi ayah dan papa menjadi kakek,” papa terdiam sebentar, lalu kembali berkata,
“Papa harap kamu bisa menjadi ayah yang jauh lebih baik dari papa.”
Lukman merangkul pundak Regan. Tak bisa menahan rasa harunya, Regan memeluk papa dan menangis dalam pelukan papa. Airmata papa mengalir deras, sejuta penyesalan yang dirasakannya tertumpah saat ini. Dia menepuk-nepuk punggung Regan kemudian perlahan melepas pelukannya. Menghapus airmatanya dan kembali tersenyum pada anaknya.
“Kamu sudah punya nama buat anak kamu?” tanya papa.
Regan menggeleng pelan. Sebenarnya dia sudah mempunyai nama pilihan untuk anaknya tapi yang mampu dia lakukan saat ini adalah menggeleng.
“Boleh papa sumbang satu kata untuk namanya?” tanya papa lagi, dan kini Regan mengangguk.
“Rakan.. artinya kemuliaan. Ini doa dari papa, semoga anak kamu akan memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat.”
“Aamiin..” jawab Regan lirih.
“Sisanya kamu yang tambahin ya,” ujar papa sambil tertawa kecil. Regan kembali mengangguk sambil tersenyum.
Perbincangan mereka terhenti ketika suster keluar dari kamar bersalin sambil mendorong ranjang Sarah. Sarah dan bayinya akan dipindahkan ke ruang perawatan. Regan dan papa segera berdiri, mereka berjalan mengikuti ranjang Sarah.
“Sudah siapin nama buat anak kalian?” tanya tante Dina. Sarah melihat ke arah suaminya. Lalu Regan menjawab dengan mantap.
“Namanya Rakan Putra Vaughan.”
Semua tersenyum bahagia mendengar jawaban Regan.
❤️❤️❤️
Ayo terus baca. Bab selanjutnya lebih seru. Jangan lupa like, comment dan vote nya🥰🤗