Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Aku tahu, aku hanya cadangan dalam kisah cintamu. Ketika figuran utama hadir, kamu akan meninggalkan aku. Seperti lilin yang menjadi penerang di tengah kegelapan, lalu ditinggalkan saat lampu menyala kembali. Aku kehilangan sosok manusia yang tadi menyeru, hanya tersisa bayangan di akhir langkahnya. Namun di balik ujian ini, aku sadar ada hikmahnya.

~ Shari Maleyha ~

Sesungguhnya kehilangan hanya untuk seseorang yang merasa memiliki. Hati kita milik Allah, dan banyak dari lelaki menggunakan logika. Ketahuilah, kalau berjodoh pasti kita bertemu kembali.

~ Irul Mirganhata ~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

Ibu Aima masuk ke dalam kelas, memeriksa catatan siswa dan siswinya. Semua lengkap, kecuali Cekka dan teman-teman sejawatnya.

"Cekka, mana tugas yang Ibu suruh?" tanya ibu Aima.

Cekka nyengir. "Heheh... tidak ada Bu."

"Senyum terus, Ibu tidak butuh kamu unjuk gigi. Ini bukan iklan odol, cepat perlihatkan tugasmu." Ibu Aima kesal, namun tetap sabar membimbingnya.

"Aku tidak membuatnya Bu." Cekka menoleh ke arah teman-temannya, sambil cengar-cengir.

"Nanti aku kumpulkan Bu." Cekka dengan entengnya mengatakan hal demikian.

"Ibu tunggu di kantor." jawab ibu Aima.

Ibu Aima kembali ke materi. "Tidak semua jurnal penyesuaian harus dibuat jurnal pembalik, pada periode berikutnya. Pada awal periode berikutnya menghasilkan akun reel baru, yang belum ada pada neraca saldo. Kita harus menganalisa di mana saldo, yang memunculkan akun reel baru. Jika akun reel baru tersebut muncul, maka kita harus membuat jurnal pembalik pada periode awal berikutnya. Misalnya PT. Tunggal Wibawa membuat jurnal penyesuaian pada Desember 2022, artinya membuat jurnal pembalik di bulan berikutnya Januari 2023." Ibu Aima menjelaskan panjang dan lebar, lalu menulis di papan tulis. "Tanggal, nama akun, kode referensi ini ditulis, setelah jurnal pembalik di posting ke buku besar."

Jam istirahat tiba, Qusna mengajak Shari membeli sosis. Maria dan Shari bergandengan tangan, menghampiri gerobak. Shari tersenyum melihat Yuli, padahal dalam hatinya sedih.

"Shari, kamu mau kemana?" tanya Yuli.

"Mau beli sosis." jawab Shari.

"Ayo kita bareng saja." ujar Yuli.

"Iya Yuli." jawab Shari, dengan ramah.

Mereka memegang bungkus plastik berisi sosis, pada tangan masing-masing. Shari mulai makan, setelah membaca doa terlebih dulu. Shari membuka ponsel Nokia, lalu menulis sebuah caption.

"Hujan hari ini menyerang ku bertubi-tubi, bagaikan perasaanku yang sakit tidak berdarah. Melihatmu genggam tangannya, membuatku sadar dan segera menyingkir."

Gugus dan teman-temannya semakin meronta-ronta penasaran. Bahkan, teman terdekat Shari sibuk bertanya-tanya.

"Siapa orang yang kamu maksud di Facebook Shari?" tanya Maria.

"Biasa, hanya status kok." jawab Shari.

"Tidak mungkin, aku rasa memang ada seseorang yang kamu suka." Qusna menggigit sosis yang ada di genggaman jari jemarinya.

"Sudahlah, jangan kepo! Bukankah, kamu juga sering menulis caption di sosial media." Shari menyebutkan kebiasaan Qusna.

"Aku menulisnya untuk mantanku, padahal sudah punya pacar." Qusna lucu sendiri.

"Genit Qusna ini, biasalah Shari banyak laki-laki yang disukainya." jawab Maria, dengan candaannya.

Irul melihat Nikna yang berlarian bersama Ratia, lalu hujan turun dengan deras. Irul menutupi kepala Nikna dengan jas, lalu Shari berjalan di tengah hujan dengan mata berkaca-kaca. Dia kembali ke kelas lebih dulu dari Qusna dan Maria.

"Shari, kami berdua bermain hujan." ujar Irul.

Shari menyembunyikan rasa cemburunya. "Oh."

Mata Nikna kejatuhan debu, dan merasa ada yang mengganjal. Irul membantu meniupnya, dengan perhatian serius. Shari berdiri tidak jauh dari mereka, dengan mematung diam seribu bahasa.

"Hayo, mengapa kamu diam saja? Apa adegan yang disajikan telah membuatmu terluka." ujar Gugus, yang tiba-tiba mengejutkannya.

"Apaan si, biasa saja kali." jawab Shari, dengan ketus.

Dia segera masuk ke dalam kelas, malas melihat Irul bermesraan dengan temannya sendiri. Nikna dan Irul pandang-pandangan, lalu tertawa secara bersama.

"Dunia terasa milik berdua, yang lainnya ngontrak hahah..." Nikna tertawa.

"Heheh... tidak juga, ingat jangan lupa salat." jawab Irul.

"Terima kasih Irul, karena telah mengingatkan aku." ujar Nikna.

"Iya, sama-sama." jawab Irul.

Ibu Mihayu masuk ke dalam kelas, lalu menyuruh siswa dan siswi memungut sampah di depan kelas. Irul memperlihatkan cacing ukuran jumbo, hingga Nikna berteriak lantang. Tidak lama kemudian Ratia tertawa, begitupula dengan yang lainnya.

"Meski pun melihatmu seperti huruf ikhfa yang samar, namun rasaku padamu seperti huruf Izhar, sungguh jelas." Shari bergumam-gumam lirih, dan siapa pun tidak mendengar.

"Nikna, lihat cacing ini di mana matanya?" tanya Irul, dengan mata berbinar-binar.

"Tidak kelihatan jelas, dia imut seperti pacarku." Nikna tersenyum tulus.

Shari buru-buru pergi ke toilet, sambil membuang sampah yang sudah dimasukkan ke dalam tong. Pintu telah ditutup rapat, dan dikunci dari dalam. Tanpa terasa cairan bening menetes dari pelupuk matanya, tidak tahu mengapa dia benar-benar cemburu.

1
Kaila
Kasian Shari
Rhiy
Berikan komentarnya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!