Ella, gadis bernama lengkap Putri Cinderella, seorang siswi di SMA Cahaya Bangsa menyembunyikan jati dirinya yang pemberani dan periang dibalik penampilannya yang cupu hanya demi bisa bertahan di antara para anak orang kaya di sekolah itu.
Dan ketenangan hidupnya mulai terusik, saat Prince Dandyaksa, putra pemilik sekolah itu mengatakan bahwa pria itu mencintainya di hadapan seluruh siswa.
Satu persatu masalah menimpa Ella, tapi Prince selalu berhasil mengatasi dan melindunginya. Hingga suatu hari, Prince gagal dan menyebabkan hidup mereka berubah drastis.
Ella terpaksa pergi dan menjauh. Sementara itu, Prince berusaha mencari gadis itu, namun usahanya tidak membuahkan hasil.
Lima tahun kemudian, mereka dipertemukan dalam situasi yang berbeda. Masih dengan Prince dan Cinderella yang sama. Masih dengan perasaan yang sama pula.
Ikuti kisah mereka di Bukan Pangeran dan Cinderella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fie F.s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Masalah Selesai
Prince membuat Ratu tidak bisa berkutik lagi saat ia meminta guru BP untuk menyita ponsel gadis itu. Dan benar saja, Ratu belum menghapus akun fake itu dari ponselnya.
"Ratu, dengan berat hati kamu diskors selama 3 hari."
Ratu tidak berkata apapun lagi karena di ruangan itu, ada beberapa orang guru BP yang membantu menyelesaikan masalah ini. Ia tidak bisa memohon meski kepala sekolahnya adalah papanya sendiri.
"Dan kamu, saya hukum membersihkan halaman sekolah setelah jam pelajaran selesai, selama tiga hari."
Faisal memberi hukuman lebih ringan pada Prince karena Faisal mengakui bahwa kesalahan ada pada putrinya.
"Sedangkan kamu. Saya minta maaf atas kelakuan Ratu."
"Jika dia melakukan hal yang sama lagi, silakan laporkan saja pada bapak atau ibu guru. Jangan takut."
Ella mengangguk.
"Dan urusan pribadi kalian, jangan kalian bawa ke sekolah. Pacaran atau tidak, itu urusan kalian. Tapi, jangan lakukan di sekolah." Faisal kembali memperingatkan Prince dan Ella.
Ella bisa bernafas lega karena ia tidak mendapat hubungan apapun. Ia bahkan merasa tidak enak hati karena Faisal memaksa Ratu untuk menjabat tangannya sambil mengucapkan kata maaf.
Selama jam pelajaran berlangsung, Ella tidak bicara apapun pada Prince. Ia masih sangat kesal pada pria itu.
Saat Ella menuruni anak tangga, ia melihat Prince membawa keranjang sampah dan mulai memunguti sampah-sampah yang berserakan di halaman sekolah.
Hujan yang mengguyur kawasan itu membuat dedaunan gugur sehingga hukuman yang Prince jalani cukup menguras tenaga.
Prince menyeringai saat melihat Nara datang membawa sapu dan sekop sampah.
"Kalau caranya begitu, sampai matahari tenggelam juga gak akan selesai, Bang!" Protes Nara yang melihat Prince mengambil satu persatu daun yang berada di tanah.
Nara membantu Prince dengan menyapu dan mengumpulkan daun-daun yang ukurannya kecil. Akan lebih mudah dibanding dengan mengambilnya satu persatu.
Kalau masalah sampah bungkus permen dan makanan ringan, tidak perlu khawatir karena murid-murid sudah sangat disiplin dengan membuangnya langsung ke tempat sampah.
"Pulang sana!" Prince malah mengusir Nara yang menurutnya malah menjadi perusuh.
"Sok banget. Jangan gengsi. Aku juga malas, tapi demi bisa..."
"Apa?" Prince menatap Nara yang tersenyum lebar dan pasti ada maunya.
"Mau numpang nih pasti!" lanjut Prince kesal.
"Hehehe... tau aja, Abang!" jawab Nara tersenyum malu.
"Jangan genit!" ucap Prince kesal.
Nara cemberut. "Astagfirullah, Abang! Siapa juga yang genit?"
Nara meletakkan asal sekop sampahnya dan memberikan sapu lidi itu kepada Prince dengan kasar. "Sapu sendiri. Aku tunggu di mobil!"
Nara pergi begitu saja membuat Prince kelabakan. "Nara ... Nara .... Kamu gak jadi bantuin abang?"
"Enggak!" sahut Nara yang sudah menjauh.
"Dih, dia ngambek!" Prince mencebikkan bibir menatap punggung Nara yang mulai menjauh.
"Berikan padaku!"
Prince terkejut saat sesorang mengambil sapu dari tangannya.
"Eh, tidak perlu." Prince berusaha merebut kembali sapu itu, tapi Ella sudah membawanya menjauh berserta sekop sampah yang Nara bawa.
"Cinderella," ucap Prince menarik tangan Ella.
Keduanya saling diam selama beberapa detik ketika tatapan mata mereka saling bertemu.
Prince merasa jantungnya berdebar tak karuan sedangkan Ella juga merasakan hal yang sama tapi seketika segera ditepis olehnya.
"Biar aku bantu."
Prince melepaskan tangan Ella yang sudah di tarik oleh gadis itu. Ia melihat Ella yang dengan cekatan membantunya.
"La ..."
"Jangan banyak bicara, Prince. Atau ini tidak akan selesai sampai malam."
Prince menuruti apa yang Ella katakan. Ia berhasil menyelesaikan hukumannya selama satu jam.
"Pulang denganku!" Prince menarik tangan Ella saat keduanya baru saja mencuci tangan.
"Prince!" Ella terkejut dan sedikit berteriak.
"Aku akan pulang sendiri."
"Tidak. Ikut denganku! Akan ku antar sampai ke rumah kamu."
Ella tak bisa mengelak karena Prince terus menarik tangannya.
"Aku akan teriak, Prince!"
"Teriak saja. Aku akan menciummu!" balas Prince tak takut sedikitpun.
Ella membulatkan matanya. Pengakuan Prince saja sudah membuat heboh seisi sekolah ini. Apa lagi kalau sampai pria itu menciumnya? Pasti akan lebih meledak lagi. Walaupun sudah jam pulang, tapi masih ada saja murid-murid yang berada di sekolah. Entah untuk kerja kelompok, ekstra kulikuler atau hanya untuk duduk-duduk saja.
"Masuklah!" Prince membukakan pintu untuk Ella.
"Aku dibelakang!"
"Tidak. Kamu di depan. Dan biarkan Nara di belakang sendirian."
Nara tak memperdulikan Prince. Kakinya sudah pegal menunggu abang sepupunya itu menyelesaikan hukuman.
"Masuk saja, Kak. Aku sudah lapar."
Prince melajukan mobilnya dan tiba-tiba ....
"Bang, traktir dong. Gak capek apa, membersihkan halaman seluas itu? Makan minum dulu, boleh kan?" Nara minta traktir.
"Aku saja yang menunggu merasa haus."
"Kamu mau makan?" tanya Prince.
Nara mengangguk berkali-kali. "Tentu. Yang enak ya ..."
Prince membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang sangat terkenal dan tidak asing bagi mereka berdua.
"Yaaaa .... kok ke Arumi Resto, Bang ...." Protes Nara karena resto ini milik keluarga mereka. Pemiliknya adalah kakak perempuan dari papanya, yaitu Zoya.
"Mau makan, gak?"
Nara berdecak kesal. "Mau lah. Ayo masuk! Dari pada enggak sama sekali."
"Aku disini ...."
"Kamu ikut!" potong Prince sebelum Ella selesai bicara.
"Tapi, aku..." Ella tidak ingin ikut masuk. Ia ingin menunggu di mobil saja.c
"Ayo ikut, kak. Sudah ada tukang parkir. Jadi, kakak gak perlu menjaga mobil ini." Nara berjalan di depan.
"Hilang juga gak masalah. Bang Prince hanya perlu merengek, dan om Rion menghadirkan mobil baru dalam sekejap mata," gumam Nara yang masih bisa Prince dengar.
Padahal, tidak seperti itu juga. Ia tidak serta merta mendapat hadiah mobil dari papanya. Ia harus menyelesaikan beberapa tugas yang menurutnya cukup menguras fikiran.
Ia harus les privat dengan ayahnya sendiri mengenai masalah bisnis. Jadi, jika kelak Prince memilih melanjutkan pendidikan yang tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis, tidak akan jadi masalah karena Prince sudah mengerti tentang bisnis dari ayahnya.
Mereka makan siang menjelang sore itu dengan begitu tenang. Prince makan tanpa gugup sama sekali meski dihadapan gadis yang ia sukai.
Inilah yang ia suka dari Ella. Gadis itu tidak pernah memandangnya dengan tatapan takjub karena silau dengan fisik dan ketampanannya.
"Gak gugup, Bang? Makan di depan pacar?"
Prince menatap Nara sekilas lalu beralih menatap Ella yang sedang menatap Nara. Prince merasa, mungkin Ella terkejut dengan pertanyaan gadis yang sedang menggigiti sisa daging di paha ayam yang ia pegang.
"Untuk apa? Justru aku nyaman."
"Biasanya kalau rasa cinta, pasti ada perasaan gugup, Bang!"
"Sok tahu. Kamu aja gak pernah jatuh cinta," ejek Prince.
"Aku memang gak pernah jatuh cinta. Karena ..."
"Karena gak ada yang mau." Potong Prince.
Nara nyengir kuda. "Tau aja."
"Taulah! Kamu pre-man begitu. Masih bersiul aja, sudah kamu kasih kepalan tangan."
Nara tertawa. "Ya, siapa suruh kurang ajar begitu, Bang!"
"Tapi, papa aku sih dukung-dukung aja. Katanya bagus, bisa melindungi diri dari laki-laki gak bener."
Prince mencebikkan bibir. "Suka bersiul bukan berati gak bener, Nara."
"Ah, anggap saja begitu, Bang! Mana ada cowok baik tapi genit sama cewek!"
Ella hanya bisa menahan senyum dan tawanya mendengar obrolan mereka berdua.
Prince memang terlihat berbeda.Terlihat dengan jelas kalau pada orang yang dia kenal baik, Prince tidak akan menggunakan bahasa formal. Ia akan lebih santai bahkan bisa bercanda. Sangat berbeda dengan Prince si pria cool yang duduk di pojokan kelas.
klo Queen gimana ya? banyak mikir kah Kaisar?