Kisah seorang menantu yang dibenci oleh mertuanya karena mertuanya tidak setuju, sang anak menikah dengan orang biasa.
Sudah bosan dikerjain dan anggap babu di rumah yang sebenarnya milik suaminya karena pemberian dari Kakeknya Wisnu, Mika akhirnya melawan dan membalas semua perlakuan Ibu dan juga adik iparnya.
Nah apakah Mika berhasil mengatasi tingkah menyebalkan mertuanya yang sok iyeh? Yuk kepoin kisahnya biar kagak penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Saudara Jauh Ibu
"Ahhhh, akhirnya kenyang juga. Alhamdulillah. Enak juga ayam kecap buatanku ini, walaupun nasi dan ayamnya sudah dingin, tapi enak dan tidak bau anyir," ucapnya bersyukur setelah Mika selesai melaksanakan sholat Maghrib. Mika makan nasi yang dibungkus dengan plastik transparan tadi siang bersama ayam kecapnya.
Tidak berapa lama Wisnu masuk, untung saja Mika telah menyudahi makan nasi bungkus yang dia kemas sendiri tadi.
Enam bulan kemudian
"Sayang, sepertinya malam minggu ini Abang tidak jadi ngajak kamu jalan, soalnya Ibu tiba-tiba menyuruh Abang menjemput saudara jauh ibu dari kota sebelah," lapor Wisnu dengan wajah penuh sesal. Mika terkejut lalu menoleh ke arah suaminya dengan muka yang kecewa.
"Kenapa jam segini, Bang? Kenapa Ibu tidak dari sore tadi nyuruh Abang jemput? Padahal, Abang Sabtu libur dan ada di rumah," tanya Mika khawatir.
"Abang tidak tahu kenapa Ibu tidak nyuruh dari tadi sore, mungkin saudara Ibu dari kota sebelah berangkatnya sore, jadi tiba di terminal menjelang malam," duga Wisnu.
"Di mana Abang menjemputnya? Kenapa malam-malam begini? Terus saudara jauh Ibunya nenek-nenek atau masih muda?" tanya Mika mencecar.
"Kata Ibu sih masih muda seumuran sama Abang. Abang menjemputnya di terminal Cikuya," jawab Wisnu jujur sesuai dengan apa yang disampaikan ibunya tadi.
"Kenapa Abang mau?"
"Kan itu perintah Ibu."
"Kalau Abang disuruh selingkuh sama Ibu apakah Abang mau?" tanya Mika lagi sedikit terdengar sendu.
"Apa sih, Sayang, kok pertanyaannya ngawur begitu? Ya, tidak, dong. Abang ini cuma disuruh ibu untuk menjemput saudara jauh ibu, bukan mau menjemput selingkuhan yang dikirimkan ibu." Wisnu menepis dengan muka yang terlihat kesal.
"Aamiin," balas Mika cepat. "Mika catat, ya, semua omongan Abang, dan semoga didengar oleh Tuhan," tukasnya.
"Iya, dong. Abang juga tidak mau selingkuh, sebab Abang takut sama Kak ...." Wisnu tidak melanjutkan ucapannya, dia hampir keceplosan menyebutkan kakeknya. "Maksudnya, Abang kalau selingkuh takut sama Allah," ralatnya cepat sembari memakai jaket kulitnya yang tergantung di balik pintu.
"Maksud Abang, Abang tidak akan selingkuh karena takut sama kakek? Lalu kalau tidak ketahuan Abang tidak takut?" sindir Mika menebak maksud suaminya.
"Ti~tidak. Abang tidak akan selingkuh. Kamu jangan khawatir, ya. Kalau malam ini Abang menjemput saudara jauh ibu itu semata-mata bakti Abang sama ibu. Jadi, kamu tenang saja, ya," yakin Wisnu sedikit membuat Mika lega.
"Ya, sudah, hati-hati di jalanya. Awas, duduknya jangan rapat-rapat. Kalau saudara ibu mau pegangan, bilang saja pegangan pada besi belakang motor," pesannya sebelum Mika beranjak dari kamar.
"Wisnu, cepat dong, keburu malam. Nanti pulangnya sekalian belikan martabak manis sama asin untuk nyuguhin tamu ibu yang spesial itu," ucap Bu Rumi meminta dibelikan martabak kepada Wisnu.
"Iya, Bu. Kalau begitu aku pergi dulu, ya." Wisnu pamit sembari mengucap salam. "Assalamualaikum."'
'Wa'alaikumsalam," balas Bu Rumi dan Mika, tapi Mika hanya mampu menjawab dengan pelan seraya menatap punggung suaminya yang menaiki motor.
Jam delapan tiba, suara motor Wisnu baru terdengar. Mika bangkit dari pembaringan. Tadi setelah sholat Isya dia sejenak membaringkan tubuhnya dan ketiduran karena terlalu lama menunggu Wisnu. Mika membuka pintu kamarnya dan melihat ke depan untuk menyambut suaminya. Namun di ruang tamu sudah ada ibu mertuanya yang sepertinya sengaja menunggu.
"Assalamualaikum," salam Wisnu dan perempuan yang dijemput Wisnu bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Rumi gembira menyambut tamunya. Seorang wanita tinggi semampai nan cantik mengikuti Wisnu dengan wajah yang berseri menyalami Bu Rumi.
"Selamat malam tante," ujarnya sambil menyalami tangan Bu Rumi. Bu Rumi membalasnya lalu mengusap kepala perempuan itu dengan rasa kasih sayang, sementara pada Mika boro-boro seperti itu, disalami tangannya saja menepis.
"Wah, wah, calon mantu ibu sudah datang. Selamat datang, Sayang. Ayo masuk," ajaknya sambil menggandeng tangan perempuan yang diperkirakan dua tahun lebih tua dari Mika. Mika mendadak lemas mendengar ibu mertuanya menyebut perempuan yang baru datang itu calon menantu.
"Tega banget ibu bilang seperti itu di depan menantunya sendiri, sakit rasanya hati ini." Mika berbicara di dalam hatinya sangat sedih. Lantas dia segera beranjak ke kamar pura-pura tidak tahu.
"E, eh, tunggu, jangan masuk kamar dulu. Kalau ada tamu itu tolong disuguhi, jangan ditinggal dan dicuekin. Kan tamu adalah raja, betul bukan?" tahan Bu Rumi, Mika paham sindiran itu ditujukan untuk dirinya meskipun ibu mertuanya tidak menyebutkan namanya secara langsung. Mungkin sudah malas juga untuk sekedar memanggil nama Mika saking bencinya.
Disela-sela ibu mertuanya sibuk menyambut tamunya, tiba-tiba Ciki pulang dengan wajah yang suntuk dan lelah. Tanpa basa-basi dia langsung menuju kamarnya di loteng. Mika sekilas menatap adik iparnya dengan iba.
"Sayang, ambilkan minum buat tamu Ibu," perintah Wisnu yang melihat Mika sedang tertegun. Mika nampak enggan. Namun Mika terpaksa beranjak menuju dapur lalu membuat minuman dan mengambil piring saji untuk alas martabak tanpa disuruh, sebab Mika sudah bisa menebak, Ibu mertuanya pasti akan menyuruhnya kembali ke dapur untuk mengambil piring.
Mika meletakkan dua buah cangkir berisi minuman dan satu piring saji di meja ruang tamu. "Oh, iya, perkenalkan ini Cimi saudara jauh ibu sekaligus calon ...."
"Bu, sini aku tuangkan martabaknya ke wadah. Sayang, tolong ambilkan wadah satu lagi untuk martabaknya," suruh Wisnu pada Mika yang saat itu nampak sedih, memotong ucapan Ibunya dengan cepat. Wisnu sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Ibunya di hadapan Mika istrinya. Mika segera ke dapur dan kembali ke ruang tamu lalu meletakkan piring saji di atas meja makan. Setelah itu Mika segera beranjak ke kamar dengan hati kecewa.
Tidak berapa lama, Wisnu menyusul ke kamar yang sudah mulai temaram karena Mika sudah mematikan lampu utama. Wisnu tahu Mika belum tidur, perlahan Wisnu mengusap punggung istri yang dicintainya. Dia sadar, Mika marah karena cemburu melihat kedatangan Cimi perempuan yang katanya dari kota sebelah.
Mika tidak menyahut dan hanya diam saja, yang terdengar kini hanya isakan tangis yang berusaha dia tahan. Wisnu merasa bersalah dengan keadaan ini, dia pun sebetulnya tidak ingin berada di posisi seperti ini, terlebih setelah tadi Cimi sepanjang jalan bercerita bahwa dia merupakan perempuan yang akan dijodohkan oleh Ibunya dengannya.
Besok menjelang, sikap Mika pada Wisnu masih sama. Mika tidak mau menegur Wisnu duluan. Sementara ibu mertuanya sudah berisik memanggil Mika untuk segera membuatkan sarapan pagi untuk semua termasuk tamunya. Dengan malas Mika segera bangkit dan bergegas ke dapur lalu membuat sarapan pagi pesanan ibu mertuanya.
Wisnu mengikuti Mika yang mendadak mendiamkannya. Kalau bukan gara-gara ibunya, mungkin Mika tidak akan mendiamkannya begini. Wisnu menarik nafasnya panjang, dia kini merasa serba salah dengan situasi ini.
"Hoammm, tanteeee, mana sarapannya?" teriak Cimi tamu ibu mertuanya, dari arah loteng dengan muka yang masih ngantuk.
"Hahhh, ini yang dimaksud calon menantunya ibu?" kaget Mika menatap ke arah Cimi yang masih nguap karena baru bangun tidur.
sat set..n happy ending