Indonesia
NovelToon NovelToon
Hati Samudera

Hati Samudera

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mike Simons

Bajak Laut, Bocah Duyung dan Belati Bintang Jatuh. Kisah seru dan menegangkan Kapten Bob Barry dan rekan-rekannya awak kapal jasa penyelaman profesional "The Promise Land" dalam menemukan koper berisi bahan radio aktif yang mana membuat mereka menemukan satu penemuan luar biasa serta terlibat satu petualangan yang dahsyat dan mendebarkan di dasar lautan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mike Simons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Flaminggo Bodoh

Maikel Stefen menatap anggrek putih dihadapannya dengan pandangan seakan tidak percaya. Dipegang dan dielusnya dengan hati-hati helai demi helai kelopak bunganya, bahkan kemudian diendusnya dalam-dalam mahkota bunga berbentuk unik tersebut dengan penuh antusias.

“Bukan main! The Ghost Orchid! Mereka bahkan memiliki spesies Anggrek Hantu dalam koleksi taman gantung mereka..!” seru sang pemuda bertopi kupluk dengan penuh decak kagum. Bunga yang sedang dilihat dan diperhatikan oleh salah satu kru kapal The Promise Land ini adalah salah satu anggrek langka yang hanya tumbuh di wilayah barat Florida, Amerika Serikat, Kuba dan kepulauan Karibia. Nama botani tanaman anggrek berdaun putih yang memiliki bentuk seperti orang bergantung ini adalah Dendrophylax Lindenii dan masuk dalam klasifikasi keluarga Polyrrizza.

Nama Lindenii sendiri diambil dari nama sang penemu yaitu Jean Jules Linden, seorang kolektor tanaman dari Belgia. Karena kelangkaan dan keunikannya, bunga anggrek yang bunganya sepintas mirip orang atau ada yang mengatakan mirip katak ini bahkan pernah diangkat ke dalam sebuah novel berjudul “The Orchid Thief” Karya penulis terkenal Susan Orlean.

Rupanya sang pemuda bertopi kupluk ini selain suka sekali menyelam, ternyata pula memiliki hobi dan ketertarikan di bidang botani. Sebuah taman kecil lengkap dengan peralatan lampu ultraviolet yang tertata rapi dalam kabin kapal The Promise Land adalah salah satu pekerjaan tangannya.

“Yang benar saja…!?! ini bukannya bunga Gibraltar Campion? Oh daratan! Ini benar-benar Si cantik Silene Tomentosa! Tapi bukannya tanaman ini hanya tersisa di Almeda Gibraltar Botanic Gardens dan London Botanic Gardens? Bagaimana bisa disini juga ada!” seru sang pemuda tiba-tiba sambil beranjak dari tempat tanaman Anggrek Hantu dan berjalan cepat menuju kesatu sisi ruang taman gantung tersebut.

Namun sayang belum juga kakinya melangkah lebih dekat kearah pot gantung tanaman berbunga lembayung yang menarik perhatiannya tadi, tiba-tiba ada satu tangan menarik dirinya menjauh.

“Konsen Bro… konsen…! Kita datang nih buat masalah kerjaan! Bukan buat wisata kembang..!” ucap satu suara sambil menarik Maikel menjauhi area taman gantung.

Ditarik-tarik sedemikian rupa kontan membuat pemuda bertopi kupluk ini langsung naik darah!

“Suee loe co! Gak bisa lihat orang senang dikit…”semprot sang pemuda.

Siapa lagi yang punya pekerjaan kalau bukan si bengal Marco Ferdinand?

“Seneng apaan kayak gitu? lagian apa bagusnya sih ngeliat taneman? Aneh-aneh aja loe Kel! Yang mesti kudu dilihat ntuh cewek Broo... Ceweeek.. Hareeem..!”

“Atau jangan-jangan… ente ini punya kelainan? Napsunya cuma sama bangsa-bangsanya Lengkeng sama Mengkudu!”” sambung si bengal sembari terkekeh geli dan kemudian menjulurkan lidahnya yang kontan saja membuat Maikel Stefen jengkel dan kemudian langsung berusaha memiting jatuh anak nakal satu ini!

Alhasil tak lama kemudian keduanya pun terlihat saling bergulat dan saling mengunci piting-memiting tumpang tindih diatas lantai granit mewah berkilat!

Hal ini kontan membuat sang Kapten yang berada tidak jauh disekitar tempat itu sampai menepuk jidat melihat kelakuan kedua rekannya tersebut.

“Kalian bisa serius tidak? Kalian sadar sedang berada dimana sekarang?” ucap sang Kapten sembari membembeng keatas kedua telinga dua rekannya tersebut yang sontak saling melepaskan pitingan dan berkoak-koak kesakitan!

“Ampuun Kept…! Noh Marco yang duluan…!” ucap Maikel seraya memegang telinganya yang kesakitan karena dijewer sang Kapten.

“Duluan nenek loe kiper? Yang ngilang tiba-tiba duluan dari pandangan itu siapa? Enak aja nyalah-nyalahin gue! Sampai jontor nih dengkul nyariin loe tahu!” balas sengit Marco tidak terima disalahkan.

“Hik.hik.hik.. kalian lucu sekali..” Satu suara merdu terdengar di belakang mereka,

Suara merdu tersebut sontak membuat Bob Barry dan kedua rekannya kemudian memutar tubuh masing-masing.

Dihadapan mereka kini terlihat seorang wanita cantik berkacamata sedang tertawa sembari menutup mulut kecilnya.

Sang wanita bertubuh tinggi langsing bak seorang model ini, terlihat mengenakan sebuah Blazer resmi kantoran berwarna hitam. Wajahnya yang putih bersih dengan senyuman menawan serta potongan rambut yang dicepol keatas membuat penampilan sang wanita terlihat sangat mewah dan elegan. Sebuah tablet canggih pun terlihat tak pernah lepas dari genggaman tangan kirinya.

“Selamat datang di Perusahaan Langit Corporation! Maafkan ketidak sopanan saya barusan, nama saya Cella Natalia dan saya adalah Sekretaris tuan Jefri Kalangit...” ucap sang sekretaris sembari tersenyum manis.

Manis sekali, bahkan sampai membuat mulut Maikel Stefen terbuka lebar!

“Psst, yang ini Lengkeng apa Mengkudu Bro…?” bisik nakal Marco ke telinga rekannya yang masih terpana dengan mulut terbuka ini.

“Le.. Lengkeeeng…”ucap pelan sang pemuda bertopi kupluk tanpa sadar.

Ucapan tersebut kontan membuat Marco dan sang gadis sekretaris saling pandang sesaat dan kemudian tertawa lepas. Derai tawa keduanya pun sontak menarik kembali kesadaran diri Maikel Stefen yang langsung memerah wajahnya dan tiba-tiba berlari bersembunyi ke belakang pundak sang Kapten sembari sesekali mengintip malu-malu kearah sang gadis!

Duh Imutnya…!

“Apaan sih? seperti anak-anak saja…!”bentak Bob Barry melihat tingkah kedua rekannya yang konyol ini.

“Harap maafkan kelakuan dan ketidak sopanan rekan-rekanku ini nona, tadi pagi saya memang lupa kasih mereka jatah minum obat cacing… ya jadinya seperti ini..” Ucap Bob Barry setelah sebelumnya memandang dengan mata besar kearah kedua rekannya dan mengangkat kepalan tinjunya tinggi-tinggi!

Kembali sang gadis terlihat menutup mulutnya dengan telapak tangannya guna menahan tawa mendengar penuturan pemuda didepannya ini.

“Oh Ya!, Kami sudah punya janji bertemu dengan Tuan Kalangit, apa bisa kami bertemu sekarang..?” ucap Bob Barry setelah beberapa saat

“Tentu saja bisa! Karena itulah saya turun kemari untuk langsung menjemput rombongan Kapten Barry…” ucap sang gadis sembari kembali terseyum manis

“Bob, panggil saja Bob… dan mereka berdua… ah sudahlah… gak penting! Mereka berdua cuma kameramen dan figuran pemeran pengganti dalam cerita ini! jadi tidak perlu repot-repot diperkenalkan…” ucap santai sang Kapten yang tentu saja langsung berbuah protes keras dan omelan panjang pendek dari keduanya.

Ucapan sang Kapten dan tingkah konyol kedua rekannya ini tentu saja kembali sukses membuat sang gadis kembali tertawa lepas beberapa saat.

“Sudahlah, aku sudah tak sanggup tertawa lagi.. Mari ikut aku keatas Tuan-tuan, Tuan Kalangit sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kalian.” Ucap sang gadis sekretaris sembari memandu Bob Barry dan rekan-rekannya berjalan memasuki Lift kristal kaca tembus pandang yeng berada di salah satu bagian gedung megah Langit Tower ini.

Seperti yang diceritakan pada bab sebelumnya. Selepas berpisah dengan kelompok Perompak Somalia pimpinan Mahmood Ali Djibril di Puntland, kru kapal The Promise Land ini secara tidak terduga didatangi oleh seorang pria bule misterius yang menawarkan pekerjaan penyelaman kepada mereka.

Setelah akhirnya mereka menyanggupi untuk melakukan pekerjaan tersebut, Kapal the Promise Land pun langsung bertolak meninggalkan Somalia dan berlayar menuju Indonesia. Setelah beberapa hari berlayar maka sampailah mereka di Jakarta dan berbekal Kartu nama berlapis emas putih yang diberikan oleh sang pria bule misterius, Bob, Maikel dan juga Marco pun langsung menuju ke alamat yang tertera di kartu nama tersebut.

Dan kini dari atas lift yang bergerak naik, ketiga kru kapal The Promise land ini memandang seantero isi gedung Langit Tower dengan pandangan penuh takjub. Bukan sedikit tempat-tempat megah dan bangunan-bangunan terkenal serta indah diseluruh belahan dunia pernah di datangi oleh Bob Barry dan rekan-rekannya, namun tempat yang mereka kunjungi kali ini cukup membuat mereka berdecak kagum.

Dari atas lift yang bergerak dapat dilihat tiga buah kolam renang megah yang terdapat di tiga lantai yang berbeda. Kolam-kolam itu keseluruhannya bahkan sampai ke lantainya terbuat dari kaca tembus pandang sehingga orang yang berenang di dalamnya bisa melihat sampai tembus ke dasarnya. Di lima lantai yang lain termasuk di lantai dasar terlihat pula lima buah taman gantung dengan tanaman-tanaman yang tertata rapi dan cukup beragam. Disebut taman gantung karena sebagian besar tanaman yang ditanam disitu memang ditanam secara vertikal dan menggunakan sistem hidroponik modern. Tidak sembarang tanaman di tanam disitu, hampir semua tanaman yang terdapat di lima taman gantung tersebut adalah tanaman eksotis atau tanaman langka yang jarang bisa ditemukan di sembarang tempat.

Jika kolam renang dan taman gantung saja sudah menimbulkan decak kagum, ini belum ditambah dengan sebuah aquarium raksasa yang berada ditengah-tengah bangunan gedung! Aquarium raksasa berbentuk silinder dengan air yang jernih dan berisi berbagai biota laut yang menyejukkan mata terbukti mampu menyihir pandangan ketiga kru kapal The Promise Land ini untuk beberapa saat!

“Maaf nona Cella, boleh saya bertanya satu hal?” ucap Bob Barry seraya memperhatikan aquarium air laut raksasa di depannya.

“Silahkan Kapten Barry, oh maaf maksudku Mr. Bob..”

Sang pemuda nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Panggil saja Bob, tidak usah pakai ditambah Mister-misteran segala…”

“Saya tidak berani tuan…”ucap sang gadis sembari tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya.

“Atau bagaimana kalau saya panggil saja seperti panggilan semula? Pangilan Kapten Barry nampaknya memang jauh lebih cocok disematkan kepada anda dibanding panggilan lainnya…” lanjut sang gadis dengan nada riang

Bob Barry terlihat menarik nafas panjang sambil menggaruk kepalanya dan Setelah beberapa saat, sang pemuda kemudian kembali membuka suara.

“Begini nona, sepengetahuanku gedung ini jaraknya cukup jauh dari laut maupun pantai, lalu bagaimana caranya gedung ini mengatur pasokan air laut untuk aquarium sebesar ini?”

“Pertanyaan bagus! Kapten Barry tentunya tahu kalau kota Jakarta adalah salah satu kota yang sering sekali mengalami masalah banjir. Oleh karena hal tersebut, Tuan Kalangit kemudian memberikan bantuan kepada pemerintah daerah setempat dengan cara membangun tujuh saluran kanal banjir bawah tanah yang salah satunya berada di dekat sini.”

“Nah, di salah satu kanal banjir yang berada dekat dengan bangunan inilah turut dibangun pula terowongan air bawah tanah yang langsung terhubung dengan laut lepas dan akhirnya digunakan sebagai sarana pemasok air laut untuk aquarium raksasa ini” tutup sang gadis.

“Hei... bukankah itu hiu putih raksasa? (Charcharodon carcharias) The Great White Shark! Bagaimana bisa kalian menaruh Monster seperti itu dalam aquarium? bukankah ini adalah sesuatu yang illegal dan sangat berbahaya! Tidak ada yang sukses menangkarkan hiu itu sebelumnya!” ucap Marco sembari menunjuk bayangan putih raksasa yang nampak bergerak cepat hilir mudik di dalam aquarium.

“Untuk masalah itu saya juga kurang begitu mengerti. yang saya tahu, ada beberapa orang ahli dan peneliti yang dibayar oleh Tuan Kalangit untuk melakukan beberapa eksperimen yang ternyata berhasil menjinakkan kawanan hiu putih tersebut hingga akhirnya bisa ditempatkan ke dalam aquarium.”

“Ka… Kawanan? jadi bukan hanya satu ekor?” tanya Maikel dengan ekspresi terkejut.

Sang gadis menjawab pertanyaan tersebut dengan menganggukkan kepalanya.

“Kalau saya tidak salah hitung, ada sekitar tujuh ekor ikan hiu jenis itu di tempatkan dalam Aquarium ini…”

“Mereka pasti menanam implan atau melakukan rekayasa genetik pada hiu-hiu malang tersebut…” dengus Bob Barry menunjukkan rasa ketidak senangannya.

“Alam akan menemukan jalannya sendiri, tak peduli sekuat apapun batasan yang dibuat manusia! Tak peduli dengan implan maupun rekayasa genetik seperti apapun, Hiu-hiu itu suatu saat pasti akan kembali ke insting dan naluri asli mereka karena itu memang adalah sesuatu yang alami dan kodrati..”

“Dan jika hal itu sampai terjadi, aku pun ragu dan tidak yakin kalau Aquarium ini mampu menahan keganasan dan amarah mereka akan kebebasan mereka yang terenggut selama ini…”tutup Bob Barry

Sunyi sesaat terasa di dalam lift tersebut. Semua orang nampak tenggelam dalam alam pikiran mereka masing-masing selepas mendengar penuturan sang Kapten muda.

Lift pun kemudian tanpa terasa berhenti pada lampu yang menunjuk angka lima puluh

“Kita sudah sampai..” ucap Cella Natalia memecah kesunyian.

Sang gadis kemudian berjalan keluar dari lift diikuti Bob Barry dan kedua rekannya. Mereka berjalan beberapa saat melewati satu koridor yang di kiri kanannya terdapat beberapa patung dan arca dengan model patung-patung prajurit dan dewa-dewi romawi kuno.

Diujung koridor terdapat satu pintu putih berukir dengan gagang pegangan yang bersalut emas. Sang gadis nampak mengetuk pintu putih tersebut sebanyak tiga kali sebelum akhirnya membuka pegangan pintu yang bersalut emas itu.

“Silahkan masuk tuan-tuan, Tuan Kalangit sudah menunggu anda di dalam..” ucap sang gadis seraya mempersilahkan Bob dan kedua rekannya untuk masuk kedalam ruangan.

Bob Barry dan kedua rekannya pun langsung beranjak masuk kedalam ruangan dan mendapati satu ruangan kerja yang sangat mewah dan luas. Disekeliling ruangannya hampir sebagian besar terdiri dari kaca tembus pandang, sehingga pemandangan kota Jakarta dapat dilihat dan dinikmati dengan lega dan sempurna.

Sang gadis kemudian menutup pintu dan pergi meninggalkan mereka bertiga di dalam ruangan yang bukan lain adalah ruang kerja sang miliarder Jefri Kalangit ini.

“Kapten Barry! Senang akhirnya bisa bertemu dengan mu…” ucap seorang pria perlente berkumis lebat yang mengenakan setelan jas ungu tua dan sesekali nampak menghembuskan asap cerutu dari mulutnya.

Siapa lagi kalau bukan sang miliarder terkenal Jefri Kalangit?

Pria ini kemudian berjalan menghampiri dan langsung menjabat tangan Bob Barry dan kemudian mempersilahkan Kapten kapal itu beserta rekan-rekannya untuk duduk. Ketiga kru kapal ini pun kemudian berjalan dan mengambil tempat duduk disebuah sofa di tengah ruangan.

Bob memperhatikan dengan saksama pria berkumis dan berjanggut lebat yang selama ini hanya dikenal dan diketahuinya dari media koran dan televisi ini. Ada satu kesan yang timbul saat melihat pria satu ini, dan Bob tidak tahu apa itu, namun yang jelas itu bukanlah suatu kesan yang baik menurut hati kecilnya.

“Selama ini aku hanya melihat aksi kalian di layar televisi dan itu sungguh sangat menakjubkan! sangat luar biasa bagiku melihat aksi kalian di Fukushima dan Palung Mariana… hebat, sungguh hebat!”

“Tuan terlalu banyak memuji, apa yang kami lakukan hanyalah kewajiban yang sudah sepatutnya kami laksanakan. Bukan suatu hal yang harus dibesar-besarkan…”

“Muda dan rendah hati… benar-benar patut diacungi jempol!” kekeh Sang miliarder sembari menyalakan sebuah cerutunya.

“Tuan, ada baiknya jika kita langsung saja membahas masalah pekerjaan… Saya tidak biasa disanjung-sanjung seperti ini…” ucap Bob Barry risih.

“Baiklah kalau begitu, saya juga bukan tipe orang yang suka bertele-tele… Kau tentunya sudah mendengar permasalahan yang kami alami melalui tangan kananku Mario, bukan begitu?”

Bob Barry dan kedua rekannya nampak menganggukkan kepala.

“Kami sudah mendengar bahwa ada satu paket bahan Radioaktif milik tuan yang terjatuh di ceruk Serena. Kami telah berembug dan akhirnya kami memutuskan bersedia untuk melakukan penyelaman untuk mengangkat bahan tersebut dari dasar laut. Namun sebagai bahan informasi tambahan kami memerlukan detail tentang bahan radioaktif yang terjatuh itu agar kami bisa menetapkan langkah-langkah yang tepat dan efisien dalam pekerjaan penyelaman nantinya…” ucap Bob Barry.

Jefri Kalangit nampak menghembuskan asap cerutunya keras-keras dan nampak berpikir sesaat.

“Sebenarnya alasan ku memanggil kalian adalah karena masalah ini adalah masalah yang benar-benar rahasia. Aku benar-benar tidak ingin ada media yang tahu akan masalah ini karena akan langsung mempengaruhi reputasi dan saham perusahaan kami Kapten Barry… Oleh karenanya terlebih dahulu aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian bisa aku percaya…?”

Wajah Bob Barry tanpa diduga tiba-tiba terlihat berubah memerah mendengar pertanyaan tersebut!

“Tuan Kalangit! Jika tuan tidak bisa mempercayai kami, maka kami pun tidak bisa melakukan pekerjaan ini lebih jauh! Tanpa adanya rasa saling percaya diantara kita, lalu apa gunanya lagi kami berada di tempat ini?” ucap keras Bob Barry seraya bangkit berdiri!

Benar-benar Kapten muda yang berdarah panas!

“Selain itu Tuan Kalangit, jujur saja untuk melakukan penyelaman yang berkaitan dengan pengangkatan bahan radioaktif, kami tidak bisa melakukannya seorang diri! Kami setidaknya butuh seorang ahli biologi kelautan yang mendampingi kami dalam proses penyelaman tersebut! Oleh karenanya kami memerlukan semua informasi dan sumberdaya yang ada! Bukannya seperti ini! belum apa-apa sudah menyinggung-nyinggung soal kepercayaan!” sambung sang Kapten dengan nada agak meninggi.

“Sabarlah dulu Kapten Barry, duduklah dulu… tenangkan hatimu jangan emosi begitu…”ucap sang miliarder berusaha menenangkan Bob Barry

“Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung dengan mengatakan bahwa aku tidak mempercayai kalian, tidak! Tidak seperti itu! Aku mengatakan hal diatas adalah bermaksud meminta kepada kalian untuk merahasiakan operasi penyelaman kali ini dari media massa! Tidak lebih! Hal ini selain dikarenakan masalah radioaktif, juga mengenai nilai dari barang itu sendiri. Aku khawatir jika sampai hal ini bocor maka akan ada banyak orang-orang tidak bertanggung jawab yang akan berlomba-lomba untuk saling berebut mengambil barang kami yang terjatuh tersebut..” keluh Sang miliarder

Mendengar penuturan Jefri Kalangit, emosi sang Kapten pun mulai mereda. Perlahan Bob Barry Pun kembali duduk pada tempatnya semula.

“Untuk masalah seperti ini seharusnya tuan tidak perlu meragukan kredibilitas kami. Kami bukan tipe orang yang suka berkoar-koar di media massa maupun tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain dengan membuka mulut kesana-kemari! Tidak tuan Kalangit! Tidak Seperti itu cara kerja kami. Buat kami kepercayaan dan kepuasan klien adalah urutan pertama!” ucap sang Kapten.

“Kau benar Kapten Barry, mungkin perkataanku tadi membuatmu tersingung, oleh karenanya aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Kuharap hal ini tidak akan mempengaruhi masalah pekerjaan kita…”

“Permintaan maafmu ku terima Tuan Kalangit, tenang saja kami tetap akan melaksanakan pekerjaan penyelaman tersebut. Namun untuk kedepannya, baiknya tidak usahlah kita bahas mengenai masalah tidak penting seperti ini. Cukup fokus saja di masalah pekerjaan..”

Jefri Kalangit nampak menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Bob Barry.

“Terima kasih atas pengertianmu Kapten Barry, Baiklah mungkin kita langsung saja ke masalah pekerjaan, Mengenai masalah pendampingan ahli biologi kelautan yang tadi kau sampaikan, hal ini pun sudah aku sadari dan aku pikirkan sejak jauh-jauh hari… dan untuk masalah satu itu, aku pun sudah mempersiapkan seorang ahli biologi kelautan yang akan bekerja sama dengan kalian.. ” sambung sang miliarder sembari menekan salah satu tombol diatas meja kerjanya. Setelah beberapa saat terdengar suara ketukan dari balik pintu.

“Masuklah…” ucap Sang Miliarder diikuti oleh pandangan mata ketiga kru kapal The Promise Land ke arah pintu.

Pintu putih bergagang lapis emas itu pun perlahan mulai terbuka dan seorang gadis nampak berjalan memasuki ruangan. Sang gadis berwajah cantik manis, bertubuh tinggi langsing dengan rambut panjang tergerai. Sang gadis kala itu nampak memakai jeans dan pakaian kasual, dan begitu masuk ke dalam ruangan, pandangan matanya langsung menyorot tajam kearah Bob Barry!

“Me.. Me.. Melodie…?” ucap sang Kapten dengan suara terbata dan mata melotot besar!

Sang gadis terlihat tersenyum manis sekali kearah sang Kapten dan berjalan mendekat lalu tiba-tiba…

“Plak…!!!” satu tamparan keras mendarat di pipi Bob Barry!

“Astaga…!!” seru Marco dan Maikel bersamaan. Mereka berdua tak pernah menyangka kalau ada juga wanita yang berani menampar Kapten mereka yang terkenal galak menakutkan tersebut.

Sang gadis setelah menampar wajah sang Kapten Kapal The Promise Land ini, kemudian langsung duduk di sudut sofa dengan wajah datar seolah tidak pernah terjadi apa-apa!

“Wah rupanya kalian sudah saling mengenal! Mudah-mudahan insiden tadi tidak mempengaruhi masalah pekerjaan ini nona Melodie... walaupun jujur saja, saya cukup menyayangkan hal tersebut anda lakukan…” ucap Jefri Kalangit sembari menatap tajam kearah gadis bernama Melodie ini.

“Tenang saja tuan Kalangit… Saya percaya tamparan saya tadi tidak akan berasa apa-apa buat lelaki sesempurna Kapten Barry… Bukan begitu Mister gak peka?” ejek Melodie sembari melirik sinis kearah Bob yang masih tercengang sembari memegang pipinya yang merah memanas!

“Psst, gadis ini pasti salah satu mantannya Kapten… Aku memang sudah menyangka kalau Kapten kita ini dulunya pasti seorang Playboy! tapi tak kusangka kalau Kapten kita bisa sampai digaplok seperti itu...” bisik Marco yang dibalas anggukan kepala oleh Maikel Stefen.

“Karma Bro.. itu namanya Karma..” bisik balas Maikel yang diamini langsung oleh Marco Ferdinand.

“Apa katamu…?! Kau lupa siapa orangnya yang selama sebulan lebih seorang diri menemani penelitianmu di Galapagos..? Dari nyaris dimakan Paus Orca, sampai rela memakai rok Tutu konyol merah jambu demi menyamar jadi seekor Flamingo bodoh..! Itu aku Mel! Setelah semua pengorbananku itu dan kau masih bilang aku ini gak peka…?” kali ini Bob Barry yang tiba-tiba meradang!

“Ro.. Rok Tutu…?” Marco dan Maikel saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya meledak tertawa sampai nyaris terguling-guling! Sungguh tak pernah terlintas dalam pikiran mereka kalau Kapten mereka yang galaknya melebihi bini-nya Fir’aun ini, pernah menyamar menjadi burung Flamingo sambil memakai rok tutu yang biasanya hanya dipakai oleh para penari balet itu.

Merah jambu pula!

“Diaaaaammmm…!!!!” Bentak Bob Barry dan Melodie serempak sembari menunjukkan wajah bengis mereka kearah Marco dan Maikel yang sontak terdiam.

Tawa mereka berdua langsung hilang lenyap seketika bagai direnggut hantu banci bertaring panjang penghuni taman lawang!

* * *

1
Mas Wid Ganang
nice Mike .. tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!