Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Dia Selingkuh, Aku Tidur dengan Sahabatnya

Setelah Dia Selingkuh, Aku Tidur dengan Sahabatnya

Status: tamat
Genre:Konflik Rumah Tangga-Pembalasan dendam / Balas Dendam / CEO / Selingkuh / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Dua tahun pacaran, Livia pikir Dimas adalah satu-satunya. Sampai malam itu — saat dia menemukan bukti perselingkuhan Dimas dengan Nadia, perempuan yang selama ini Livia anggap sahabat sendiri.

Hancur? Iya. Menangis? Tidak.

Yang Livia lakukan justru menghubungi orang terakhir yang seharusnya dia hubungi — Rayhan Wijaya, sahabat terdekat Dimas. Pewaris Wijaya Group. Cowok paling playboy di circle mereka. Si Jago yang tinggal di vila mewah PIK dan mengendarai Range Rover.

"Kak, aku nggak tidur sama cewek teman sendiri."

"Sebentar lagi aku bukan ceweknya."

Niat awal cuma balas dendam. Satu malam, selesai, lupakan.

Tapi Rayhan bukan cowok yang bisa dilupakan. Sentuhannya membakar. Candaannya bikin Livia ketawa di saat paling hancur. Dan cara dia menatap Livia... seolah Livia bukan sekadar tubuh di ranjangnya, tapi seseorang yang sudah lama dia tunggu.

"Aku nggak pernah pergi. Aku cuma... nggak rela pergi."

Semakin dalam Livia tenggelam, semakin berbahaya permainan ini. Dimas mulai curiga. Nadia mulai kehilangan kendali. Dan di balik senyum santai Rayhan, tersimpan rahasia yang sudah dia pendam selama bertahun-tahun — rahasia yang bisa mengubah segalanya.

Karena ternyata, malam itu bukan pertama kalinya takdir mempertemukan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Jejak di Balik Layar

Ponselku tidak menyala oleh nama Rayhan.

Yang menyala justru nama Mega.

`Liv, masih hidup?`

Aku menatap pesan itu saat makan siang di kantor, di antara aroma ayam goreng kantin dan suara printer yang tidak berhenti mengerang.

`Secara administratif, iya.`

Balasannya datang cepat.

`Jawaban orang mau mati. Ada apa?`

Aku tersenyum kecil. Mega selalu begitu, langsung menusuk tanpa pemanasan. Ia temanku sejak awal kerja, sekarang sudah menikah dan punya anak dua tahun yang suka memanggil semua orang Tante, termasuk kurir paket.

`Cuma capek.`

`Capek kerja atau capek pacaran?`

Aku berhenti mengetik.

Di meja seberang, Rina sedang tertawa dengan tim finance. Di layar laptopku, file presentasi terbuka. Hidup tampak normal dari luar. Hanya aku yang tahu ada bangkai kebohongan di bawah karpet.

`Dimas agak nyebelin akhir-akhir ini.`

`Agak? Kalau kamu pakai kata agak, berarti parah.`

Aku tidak membalas.

Mega menelepon.

Aku mengangkat sambil berjalan ke tangga darurat. "Aku lagi kerja."

"Dua menit. Kamu kenapa?"

Suara anak kecil terdengar di belakangnya, disusul bunyi mainan jatuh. Mega menghela napas. "Noel, jangan masukin sendok ke mobil-mobilan. Liv, jawab."

Aku bersandar di dinding. "Aku cuma lagi nggak enak sama Dimas."

"Berantem?"

"Bisa dibilang begitu."

"Dia macam-macam?"

Pertanyaan itu terlalu dekat.

Aku menatap anak tangga turun yang dingin dan abu-abu. Mulutku terbuka, tapi tidak ada kata keluar. Kalau aku mengatakannya, semuanya akan menjadi nyata di dunia orang lain. Mega akan marah. Mega akan menyuruhku pergi. Mega akan melihatku sebagai perempuan yang diselingkuhi dan mungkin, kalau suatu hari ia tahu soal Rayhan, perempuan yang juga bersalah.

"Belum tahu," jawabku akhirnya.

Mega diam sesaat. "Kalau kamu butuh tempat, datang ke rumah. Noel senang punya korban baru buat disuruh lihat dia lompat-lompat."

Aku tertawa pelan. "Nanti weekend aku ke sana."

"Beneran ya. Jangan cuma bilang nanti terus hilang."

"Iya, Bu Mega."

"Bagus. Makan yang bener. Suaramu kayak orang kekurangan darah dan kasih sayang."

"Dan jangan lindungi laki-laki cuma karena kamu telanjur lama sama dia," tambah Mega, kali ini lebih pelan.

Aku terdiam.

"Aku tidak bilang Dimas jahat," lanjutnya. "Aku cuma bilang, kadang perempuan paling pintar pun bisa berubah jadi pengacara gratis untuk orang yang menyakitinya."

"Mega."

"Oke, oke. Aku diam. Tapi kamu tahu rumahku di mana."

Setelah telepon ditutup, aku berdiri beberapa lama di tangga darurat. Kekurangan darah mungkin tidak. Kasih sayang, sayangnya, mungkin iya.

Sore itu aku membeli kopi di kafe bawah kantor dan memotretnya tanpa niat. Gelas plastik dengan embun air, laptop di belakangnya, langit Sudirman yang mulai mendung. Foto biasa. Tidak ada wajah. Tidak ada caption penting.

Aku mengunggahnya ke IG Story hanya karena jariku butuh melakukan sesuatu selain membuka chat Rayhan.

`Still alive. Barely.`

Lima menit kemudian, aku melihat daftar viewers.

Rina.

Mega.

Sari.

Lalu satu nama yang membuat jantungku tersandung.

Rayhan Wijaya.

Aku menatap layar, memastikan tidak salah baca. Namanya ada di sana. Bukan Sari yang membuka lalu memperlihatkan padanya. Bukan akun palsu. Rayhan sendiri.

Ia melihat story-ku.

Orang yang tidak pernah posting apa pun, yang akunnya seperti rumah kosong dengan foto kucing, ternyata membuka Instagram dan melihat kopi murahan di meja kantorku.

Aku keluar dari daftar viewers, lalu masuk lagi.

Namanya masih ada.

Sial.

Hanya satu nama bisa membuat tubuhku bereaksi seperti habis minum tiga gelas espresso. Telapak tanganku berkeringat. Aku membuka profilnya. Masih privat. Masih kosong.

Tapi ada sesuatu yang baru kusadari.

Di bawah nama profilnya, tertulis `Following you`.

Aku membeku.

Rayhan mengikutiku.

Kapan?

Aku tidak ingat mendapat notifikasi. Mungkin tertimbun promo, DM spam, atau aku terlalu sibuk pura-pura kuat. Aku membuka daftar followers-ku dan mengetik namanya. Ada. Rayhan Wijaya, dengan kucing kecil itu, berada di antara ratusan akun lain seolah ia tidak baru saja mengacaukan napasku.

Aku tidak follow balik.

Artinya ia yang datang duluan.

Aku menutup ponsel, lalu membukanya lagi seperti orang bodoh. Story-ku hanya kopi. Tidak ada apa pun yang menarik. Tapi pikiran yang muncul justru lebih berbahaya.

Berapa story-ku yang ia lihat selama ini?

Apakah ia melihat fotoku di KRL minggu lalu? Apakah ia melihat repost meme bodoh soal pacar red flag? Apakah ia melihat saat aku upload langit malam dari balkon apartemen Dimas?

Dan kalau ia melihat, kenapa ia tidak bilang apa-apa?

Malam itu Dimas tidak pulang.

Alasannya masih sama, meeting. Aku tidak lagi membuka lokasi. Aku tidak punya tenaga untuk melihat titik biru menuju tempat yang sama. Apartemen terasa terlalu luas untuk dua orang, terlalu sempit untuk satu orang yang sedang menahan amarah.

Aku duduk di lantai ruang tamu dengan lampu dimatikan. Di luar jendela, lampu kota berkedip. Ponsel di tanganku menampilkan profil Rayhan.

Foto kucing kecil itu membuatku kesal.

"Kenapa kamu lihat story aku?" gumamku pada layar, seperti orang tidak waras.

Tentu saja ia tidak menjawab.

Aku membuka chat kosong kami. Setelah kuhapus, tidak ada jejak apa pun. Seolah malam PIK dan hotel tidak pernah terjadi. Seolah bekas gigitan di dadaku hanyalah ruam alergi dari sabun baru.

Jariku mengetik.

`Kamu follow aku kapan?`

Kuhapus.

`Sari bilang justru karena aku. Apa maksudnya?`

Kuhapus juga.

Aku meletakkan ponsel di lantai, lalu berbaring menatap langit-langit. Suara AC berdengung. Dari kamar mandi, tidak ada suara shower Dimas. Dari dapur, tidak ada suara mug. Hanya sunyi yang bersih dan kejam.

Aku teringat malam di hotel, ketika Sari menyetir Range Rover dan berkata Rayhan tidak seperti yang orang kira. Dapat beasiswa. Bangun startup. Membiarkan orang salah paham.

Mungkin aku juga salah paham.

Atau mungkin justru aku mulai memahami terlalu banyak.

Pukul sebelas lewat, Dimas mengirim pesan.

`Jangan tunggu aku ya, Babe. Aku tidur di tempat Kevin, habis meeting lanjut ngobrol.`

Aku tertawa.

Kevin bahkan baru saja mengunggah story main biliar di Kelapa Gading dengan lokasi jelas. Kalau Dimas mau berbohong, setidaknya pilih nama orang yang tidak aktif di media sosial seperti Rayhan.

Aku tidak membalas.

Aku justru membuka IG lagi.

Story kopiku masih ada. Rayhan masih di daftar viewers. Bodohnya, melihat namanya di sana membuat malamku tidak terasa sesepi sebelumnya.

Aku membenci fakta itu.

Weekend, aku benar-benar pergi ke rumah Mega. Apartemennya di Jaksel tidak besar, tapi hangat. Noel langsung berlari menyambutku dengan mobil-mobilan di tangan.

"Tante Liv! Lihat! Mobil jatuh!"

Ia menjatuhkan mobil plastik ke lantai dengan bangga.

"Wah, dramatis sekali," kataku.

Mega muncul dari dapur, rambut dicepol asal, kausnya sedikit basah karena bekas susu atau air, aku tidak bertanya. Ia memelukku sebentar, lalu mundur dan menatap wajahku.

"Kamu kurusan."

"Semua orang bilang begitu. Harusnya aku mulai monetisasi penderitaan."

"Jangan bercanda terus."

Aku menunduk, mengusap kepala Noel. "Kalau tidak bercanda, nanti nangis."

Mega tidak memaksa. Ia hanya membuatkan teh panas dan membiarkanku duduk di sofa sementara Noel memaksaku menonton mobil plastiknya mengalami kecelakaan berulang kali.

Untuk beberapa jam, aku hampir merasa normal.

Hampir.

Saat hendak pulang, Mega menggenggam tanganku di depan pintu. "Liv, kalau kamu suatu hari perlu pergi dari apartemen itu, jangan mikir dua kali. Datang saja."

Aku menatapnya. "Kenapa kamu bilang begitu?"

"Karena matamu seperti orang yang sudah tinggal terlalu lama di tempat yang menyakitkan."

Dadaku sesak.

Aku mengangguk.

Malamnya, di kamar yang kembali sunyi, aku mengunggah story kedua. Bukan kopi. Hanya foto mobil plastik Noel yang terbalik di karpet.

Caption-nya: `Kecelakaan paling jujur minggu ini.`

Tiga menit kemudian, Rayhan melihat.

Aku menatap namanya.

Jantungku berdebar seperti orang baru saja menerima pengakuan cinta, padahal ia hanya menekan layar.

Tapi di dunia tempat Dimas berbohong setiap hari, satu jejak kecil yang diam-diam konsisten terasa seperti tangan yang mengetuk pelan dari luar pintu.

Aku belum membukanya.

Tapi untuk pertama kalinya, aku mulai menunggu ketukan berikutnya.

1
Risya Rizqi
/Smile/
Desy Cuan
singkat padat dan jelas... I LIKE IT/Tongue//Tongue//Tongue/
EkaYulianti
alur santai kayak di pantai /Rose/
Anonim
Bertele2 bgt karakter
Adi Burhadi
Livia plin plan
EkaYulianti
banyak ruam di leher biasanya
Yuen
Binal jg ya, baru pacaran sudah begitu pantas sih dapatnya Dimas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!