Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.
Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Kutub Utara
Nathan hanya melangkah pelan di tepi jalan. Tampak keringat membasahi sebagian besar wajahnya. Pandangannya kosong, entah jiwanya sedang melalang buana jauh tak bersama raganya saat ini atau hanya efek kelelahan semata. Sudah hampir satu setengah jam berlalu sejak ia memulai larinya.
"Aku sadar aku bukan pusat alam semesta, aku tahu itu. Tapi, kenapa kau selalu saja mengitariku, selalu tak pernah jauh... selalu. Tanpa sebab dan alasan yang bahkan sampai sekarang masih terus ku pertanyakan. Dirimu... terlalu berbeda."
Nathan terus berlalu dalam diamnya. "Apa aku emang merindukanmu? Atau hanya merindukan saat-saat indah bersamamu? Atau mungkin tidak keduanya?"
Sesuatu tiba-tiba menyadarkan Nathan dari lamunannya. Seorang cewek yang berlari terburu-buru tanpa sengaja menabrak bahunya dari arah berlawanan. Mereka tak sampai terjatuh, hanya sedikit goyah kehilangan keseimbangan.
"Ah. Maaf, maaf. Aku lagi buru-buru," ucap cewek itu dengan napas yang terengah-engah sembari mengambil topinya yang jatuh, lalu kembali berlari tergesa-gesa.
Nathan hanya menatapnya tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia tak terlalu ambil pusing dan melanjutkan langkahnya seakan baru saja tidak terjadi apa-apa, menguap begitu saja dari pikirannya.
Bayang-bayang mulai memendek saat Nathan sampai di depan kos. Ia mendorong pintu pagar sembari menenteng satu kantong plastik belanjaan. Keringat masih sedikit menghiasi wajahnya, sisa dari lari pagi yang belum sepenuhnya hilang.
Ia membuka pintu kos perlahan, mengira Riki masih terjaga di sofa. Namun, dugaannya salah. Pintu kamarnya sudah tertutup rapat dan tak terdengar suara apa pun dari dalam. Saat Ia mencoba untuk membukanya, gagangnya terkunci. Pada akhirnya, Nathan hanya meletakkan kantong titipan itu di atas meja ruang tamu.
Setibanya di kamar, Nathan meraih handuk kecil yang menggantung di balik pintu. Ia menyeka sisa keringat di wajahnya sebelum duduk sejenak di tepi kasur, menarik napas panjang menikmati suasana tenang kamarnya. Baru saja ia hendak merebahkan diri, ponselnya berdering nyaring menampilkan satu panggilan masuk.
"Halo?" ucap Nathan dengan nada datar.
"Nath, nanti bisa datang lebih awal gak? Ada sesuatu yang mau aku obrolin denganmu."
"Hal penting?" tanya Nathan singkat.
"Penting pake banget ini."
"Hmm..." Nathan berkedip pelan, diam sejenak sebelum menjawab. "Ya, nanti aku usahakan."
Tawa kecil terdengar samar dari seberang telepon. "Thank you, Nath. Sampai ketemu nanti. Bye."
Begitu panggilan telepon ditutup, Nathan menaruh kembali ponselnya di atas meja. Kali ini ia berhasil merebahkan diri dan membiarkan ketenangan kamar menyelimutinya. Hanya terdengar samar suara anak-anak yang sedang bermain di luar. Nathan menghela napas pelan sejenak sebelum memejam mata.
"Nathan..."
"Nathaan... Nathaaan..."
Bisikan samar itu membangunkan Nathan yang tanpa sadar tertidur. Ia terdiam sejenak, lalu melirik ke arah jam dinding.
Hampir setengah jam, ya, batinnya.
Nathan bangkit dari tempat tidur dan melangkah dapur yang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari Minggu di sela waktu menuju siang. Tujuannya bukan untuk memasak nasi ataupun menumis sayur, melainkan hanya memanggang dua potong roti beroles mentega serta satu telur mata sapi di atas teflon.
Tanpa perlu usaha berarti, dalam hitungan menit, sandwich telur pun siap disajikan. Satu menu simpel yang sudah lebih dari cukup untuk melengkapi kebutuhan energi Nathan sebelum berangkat latihan judo.
Nathan duduk sendirian di kursi dapur, menatap lesu sandwich di tangannya sesaat sebelum menggigitnya. Entah mengapa rasanya tak pernah lagi sama jika dibandingkan dengan yang dulu, padahal bahan dan cara buatnya tak pernah berubah. Terbersit di benaknya, mungkin beda tangan memang beda pula hasilnya.
Memasak apa pun adalah perkara mudah bagi Nathan, bahkan tanpa mengetahui resepnya pun ia bisa. Baginya, itu adalah salah satu kemampuan dasar bertahan hidup yang harus dikuasai siapa pun. Namun, jika sudah berhubungan dengan membuat kue, ada satu pengecualian penting.
Jika diingat-ingat lagi, sudah hampir tiga tahun Nathan tak pernah menyentuh adonan kue. Pada percobaan terakhirnya pun, bahkan berakhir sebagai sebuah kegagalan total yang hasilnya jauh dari kata layak untuk disebut sebuah kue.
Dalam beberapa gigit saja, Nathan sudah menghabiskan sandwich-nya tanpa sisa. Ia lalu membersihkan alat masak yang digunakan dan merapikannya ke tempat semula tanpa banyak suara. Sebelum beranjak, ia kembali melirik jam dinding di dapur.
Hmm, masih ada cukup waktu, ujarnya dalam hati.
Langkahnya berlanjut menuju kamar mandi. Air dingin yang mengguyur sekujur tubuhnya seketika menyapu bersih hal-hal yang masih mengganjal di pikirannya. Usai bersiap, Nathan sekali lagi memeriksa isi tas untuk memastikan tak ada barang yang tertinggal, seperti handuk kecil, botol minum, serta seragam latihannya.
Nathan beranjak dari kamar untuk berangkat. Namun, langkahnya terhenti sejenak sesaat sebelum membuka pintu kos. Dari balik pintu kamar yang setengah terbuka, Riki dengan mata yang masih setengah terpejam bertanya kepadanya. "Mana pesananku? Jangan bilang kalo beneran lupa."
Nathan tak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah kantong plastik di atas meja ruang tamu.
"Oh..." ucap Riki sembari mengangguk pelan setengah sadar. "Makasih. Duitnya ntar aja, ya. Masih ngantuk aku mau lanjut tidur lagi."
Pintu kamar Riki perlahan tertutup kembali, bersamaan dengan langkah Nathan yang keluar dari kos.
Tidak ada kata yang lebih tepat selain 'menyengat' untuk menggambarkan kondisi jalanan siang ini. Ditambah lagi, tak sedikit lampu lalu lintas yang berdurasi cukup lama, padahal volume kendaraan terhitung lengang.
Nathan tiba di dojo tempatnya berlatih dalam kurang dari lima belas menit. Motornya terparkir di bawah pohon beringin rindang yang tumbuh besar di halaman samping. Ia berdiri menepi seraya menurunkan setengah ritsleting jaketnya, lalu melirik jam di pergelangan tangan kiri. Jarum panjangnya masih berada di angka delapan.
Masih ada dua puluh menit, ya, batinnya.
Suasana dojo dari luar tampak masih cukup sepi. Hanya sesekali terdengar samar-samar suara dari dalam. Mungkin beberapa temannya yang sudah datang lebih awal dari dirinya.
Nathan mengganti pakaiannya dan langsung melakukan peregangan serta pemanasan sendiri di sudut ruangan. Ia menstabilkan pernafasan sembari menunggu seseorang yang sudah hampir lima belas menit tak kunjung datang.
Ia kemudian menoleh ke arah pintu saat mendengar derap langkah kaki tergesa-gesa. Tak lama, muncullah Elena di ambang pintu dengan rambut terkuncir tinggi dengan ekspresi panik.
"Ahh... Sorry, sorry, Nath. Padahal tadi aku yang minta kamu buat datang lebih awal, tapi malah akunya sendiri yang telat," ujar Elena dengan napas terengah-engah.
Nathan bahkan tak perlu mendongak dari pemanasannya. "Macet?"
"Y-ya lumayan sih. Tapi bukan karena itu alasannya."
"Terus?"
"Ada urusan mendesak tadi. Terus juga aku lupa kalo kemaren aku laundry baju latihan dan baru ingat tadi pas sebelum berangkat kesini. Jadinya ya, gitu deh. Sorry banget lho ya, Nath," keluh Elena, merapatkan kedua tangannya di depan dahi sambil cengengesan.
Nathan tersenyum tipis. "Alasan klasik."
Elena mendecak pelan, lalu segera beranjak untuk ganti baju. Tak lama kemudian, ia sudah berdiri di samping Nathan dan mulai ikut melakukan pemanasan ringan. "Serius deh, Nath. Berhubung udah kayak gini, gimana kalo nanti abis latihan kita ngobrol di cafe atau kita ke cake shop aja yang lagi viral akhir-akhir ini?"
Nathan hanya mengangguk pelan menanggapi Elena, sebelum kembali fokus menyelesaikan pemanasannya.
Saat sesi latih tanding dimulai, semua anggota mengambil pasangan masing-masing, begitu pun dengan Nathan.
Meskipun masih menyandang sabuk cokelat, kali ini ia harus berhadapan dengan lawan di tingkat Dan 1. Sepanjang laga, Nathan tampak lihai mengantisipasi berbagai teknik serangan dari lawan dan mampu melakukan serangan balik dengan presisi.
Kendati tingkatannya berada di bawah sang lawan, Nathan berhasil mendesaknya hingga tak berkutik. Para anggota lain yang menyaksikan pertarungan itu sama sekali tak kaget, seolah kemenangan Nathan sudah menjadi pemandangan biasa.
Namun, tepat saat Nathan hendak mengeksekusi teknik pamungkasnya, matanya menangkap sosok yang tak asing. Seseorang yang persis seperti di dalam mimpinya tampak duduk di antara para anggota , memperhatikan dirinya.
Fokus Nathan buyar seketika. Memanfaatkan celah singkat itu, sang lawan dengan cepat berhasil memutarbalikkan keadaan. Nathan terbanting keras ke atas matras dan dinyatakan kalah.
Nathan kembali duduk di samping Elena yang langsung melempar tatapan penuh tanya.
"Heh, tadi kenapa, Nath? Udah hampir menang lho tadi padahal. Kayaknya semuanya juga udah mikir kamu bakal menang lagi dengan mudah. Kepikiran sesuatu?"
Nathan sempat terdiam sejenak, benaknya masih tertuju pada sosok yang menyaksikannya dari tepi matras tadi. "Gak kepikiran apa-apa. Mungkin cuman kehilangan fokus aja. Wajar juga kan aku bisa kalah, lawanku kan lebih senior," alibinya.
Elena menatap Nathan, lalu memalingkan wajahnya yang jelas tidak percaya begitu saja dengan alasan tersebut.
Latihan judo berlangsung selama lebih dari dua jam. Dimulai dari pemanasan, latihan inti, randori, pendinginan hingga penghormatan penutup. Semua anggota dojo saling membungkuk dan memberi hormat. Meski peluh masih membasahi wajah masing-masing, raut puas terpancar jelas usai menyelesaikan latihan hari ini.
Nathan menarik napas panjang, lalu menyeka keringat di tengkuknya menggunakan handuk kecil yang ia ambil dari dalam tas.
Latihan hari ini nyaris sama seperti minggu-minggu sebelumnya, tetapi ada satu hal yang terasa berbeda.
Pelatih menghampiri Nathan saat anggota lainnya sudah bubar. "Latihanmu sudah sangat sangat konsisten dan hampir semua teknik sudah kamu pelajari dengan baik. Beberapa kali saya sudah memberimu saran itu. Kamu sendiri pastinya juga sudah sadar dan merasa bahwa sebenarnya kamu sudah layak untuk lebih dari tingkat sabukmu saat ini, kan?" ucapnya serius, tetapi tetap hangat.
Nathan menunduk, menyeka keringat di dahi dengan ujung handuknya, lalu menjawab pelan. "Saya sangat berterima kasih atas penilaian Sensei. Tapi, saya rasa... saat ini masih belum waktunya."
Pelatihnya menghela napas pelan, menatap Nathan dengan tatapan tajam.
"Mungkin sebentar lagi. Mohon kasih saya waktu sedikit lagi, Sensei," tambah Nathan.
"Kamu bukan anak baru lagi, Nathan. Kamu harus tahu itu. Dan juga, teknikmu sudah jauh diatas rata-rata, mungkin setara dengan satu atau dua tingkat di atasmu. Bahkan dia pun, yang sudah masuk tingkat nasional juga sangat mengapresiasi dan mengakui kemampuanmu. Ini bukan lagi hanya tentang sabuk semata, namun juga tentang mengakui perjalananmu sejauh ini."
"Saya paham, Sensei. Saya hanya perlu waktu sedikit lagi."
Pelatihnya hanya memberi saran, meski tersirat sedikit desakan di dalamnya. Beliau hanya mengangguk paham lalu menepuk bahu Nathan. "Baiklah, kalau kamu memang masih butuh waktu. Namun, jangan terlalu lama berdiri di tempat yang sama. Nanti kamu akan kehilangan makna yang sebenarnya sedang kamu cari."
Satu per satu anggota mulai meninggalkan dojo. Nathan berjalan menuju area parkir yang kian lengang. Terik matahari sore masih terasa menyengat di kulit, tetapi hembusan angin dari pepohonan di sekitar dojo membuat terasa cukup lega.
Rupanya Elena sudah sedari tadi menunggu Nathan sambil duduk di atas motornya. Ia melirik Nathan dan bertanya penasaran. "Tadi, Sensei nanyain soal itu lagi?"
"Hmm..."
"Udah berapa kali kamu nolak? Tiga? Atau empat kali?" tanya lagi Elena sambil menyipitkan mata, mencoba membaca ekspresi Nathan.
"Aku masih merasa belum membutuhkan itu semua. Tak ada yang perlu ku buktikan dan... aku masih belum punya alasan."
Elena menatap Nathan selama beberapa saat dan menyadari mimik muka cowok itu perlahan berubah. Ia kemudian mengangguk pelan, seakan memahami sesuatu yang tak perlu dijelaskan lebih lanjut.
"Yaudah deh. Ayo berangkat. Nanti tempatnya keburu makin rame."
Nathan dan Elena bersama-sama keluar dari area dojo, menempuh perjalanan singkat menuju arah pusat kota. Suasana sore mulai terasa meski matahari belum sepenuhnya condong ke ufuk barat, disertai lalu lintas yang terhitung cukup padat.
Begitu sampai di tempat yang dimaksud Elena, mereka langsung memarkirkan motor.
"Nah. Ini tempat yang aku maksud, Nath. Keren, kan?"
"Ohh..." jawab Nathan singkat.
"Katanya tempat ini lagi viral akhir-akhir ini, Nath. Liat tuh, jam segini aja parkirannya udah rame banget. Pokoknya cozy banget deh tempatnya kata orang-orang," ucap Elena dengan penuh semangat.
Mereka tiba di sebuah cake shop bernuansa kekinian dengan papan nama yang elegan. Lokasinya memang tak jauh dari pusat kota, sangat strategis bagi karyawan, anak sekolah maupun orang-orang yang sedang menghabiskan waktu di daerah ini.
Nathan sedikit menahan senyumnya. "Alleria cake shop, ya."