Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murid Bermasalah

Hari pertama Reyhan mengajar berakhir dengan kekacauan yang bahkan tidak sempat dia bayangkan semalam.

Ia mencoba memulai pelajaran matematika dengan cara paling konvensional yang dia tahu menulis rumus di papan tulis, menjelaskan pelan-pelan, lalu memberi soal latihan. Hasilnya nihil.

Sepuluh menit pertama, separuh kelas masih sibuk mengobrol. Menit kelima belas, kertas terbang dari belakang ke depan, entah siapa yang melempar. Menit ketiga puluh, Reyhan menyerah mencoba menertibkan kelas dengan suara keras dan malah duduk di kursi guru, memijat pelipisnya sendiri.

Bu Retno benar. Kelas ini istimewa dalam arti yang paling buruk.

Tapi di tengah kekacauan itu, mata Reyhan mulai menangkap sesuatu yang lebih detail.

Bukan sekadar tiga puluh murid yang ribut tanpa alasan, tapi tiga puluh murid dengan pola masing-masing. Dan seperti biasa, kebiasaan lamanya sebagai kurir mengamati rute, mencari pola tercepat, membaca kondisi jalan sebelum melintas tanpa sadar mulai bekerja lagi, hanya saja objeknya sekarang bukan jalanan, melainkan manusia.

 Yang pertama menarik perhatiannya adalah anak laki-laki yang tidur di barisan tengah sejak awal kelas dimulai.

Namanya, menurut absen yang ditunjukkan Bu Retno tadi pagi, adalah 'Dimas'. Uniknya, Dimas tidak tidur karena malas begitu bel istirahat berbunyi, dia langsung terbangun, mengemasi tasnya dengan cepat, dan hampir berlari keluar kelas.

Reyhan penasaran. Ia mengikuti dari kejauhan, cukup jauh supaya tidak ketahuan, dan melihat Dimas berjalan cepat menuju gerbang sekolah, lalu naik angkot menuju arah yang kebetulan familiar bagi Reyhan daerah itu salah satu rute pengantarannya minggu lalu sebagai kurir.

Rasa penasaran itu terbawa sampai jam pulang sekolah. Reyhan, alih-alih langsung pulang ke kosnya, memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar area itu.

Dan benar saja, tak jauh dari gang kecil yang pernah dia lewati saat mengantar paket minggu lalu, dia melihat Dimas sudah berganti baju kaos oblong lusuh, sedang sibuk mengangkat kursi plastik dan menyusun meja di depan sebuah warung kecil bertuliskan "Warung Pak Wibowo".

Reyhan berhenti, mengamati dari seberang jalan. Dimas bergerak cekatan, jelas sudah terbiasa. Ia menata dagangan, menyalakan kompor, membantu seorang pria paruh baya mungkin ayahnya mengiris bawang. Tidak ada raut mengantuk di wajahnya sekarang, berbeda jauh dengan Dimas yang tertidur di kelas tadi pagi.

Reyhan tidak menyapa. Ia hanya berdiri sebentar, mengingat-ingat, lalu berjalan pulang dengan pikiran yang mulai berputar.

Yang kedua adalah 'Nadia', anak perempuan yang duduk sendirian dekat jendela.

Sepanjang jam pelajaran, dia satu-satunya murid yang diam total tidak ikut ribut, tapi juga tidak mendengarkan. Bukunya terbuka di halaman yang sama sejak awal kelas sampai akhir, tidak pernah berpindah halaman.

Saat Reyhan mencoba melempar pertanyaan sederhana ke seluruh kelas dan tidak ada yang menjawab, dia iseng menunjuk Nadia. "Kamu, coba jawab. Ini soal gampang kok."

Nadia menoleh pelan, menatap Reyhan dengan tatapan datar yang aneh bukan tatapan tidak tahu jawaban, tapi tatapan orang yang sudah lama berhenti peduli apakah dia tahu jawabannya atau tidak.

"Nggak tahu, Pak," jawabnya singkat, lalu kembali menatap keluar jendela.

Beberapa murid di belakang terkekeh pelan. Reyhan tidak memaksa lebih jauh, tapi dari cara Nadia menjawab datar, cepat, seolah ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan itu bukan soal kemampuan akademis.

Sepulang sekolah, saat Reyhan mampir sebentar ke ruang guru untuk mengambil beberapa berkas, dia mendengar dua guru senior berbincang pelan di sudut ruangan, tidak sadar Reyhan lewat di dekat mereka.

"...Nadia itu, dulu rangking dua paralel lho. Sekarang anjlok jauh. Katanya orang tuanya lagi ada masalah di rumah," kata salah satu guru sambil menyesap kopi.

"Kasian ya. Padahal potensinya bagus," sahut yang lain, lalu topik berganti ke urusan lain.

Reyhan tidak sengaja mendengar itu, tapi cukup untuk membuatnya paham kenapa Nadia terlihat seperti sudah lama berhenti berharap pada apa pun di sekolah.

Yang ketiga, tentu saja, 'Bimo' anak yang duduk di atas meja di hari pertama, yang meremehkannya di depan seisi kelas.

Bimo bukan tipe murid pendiam seperti Nadia atau punya alasan tersembunyi seperti Dimas.

Bimo justru sangat vokal, sangat terlihat, dan jelas-jelas jadi pusat perhatian kelas bukan karena ditunjuk siapa pun, tapi karena teman-temannya secara alami mengikuti apa pun yang dia lakukan.

Kalau Bimo tertawa, sekelas ikut tertawa. Kalau Bimo memutuskan tidak mengerjakan tugas, separuh kelas ikut tidak mengerjakan.

Ada semacam otoritas informal yang dipegang Bimo, jenis kepemimpinan yang tidak diberikan lewat SK atau jabatan, tapi lewat rasa segan yang entah bagaimana caranya dia bangun sendiri.

Reyhan memperhatikan ini dengan saksama di sela-sela kekacauan kelas.

Ada insting yang mulai tumbuh dalam dirinya insting yang sama yang membuatnya, minggu lalu, bisa membaca rute tercepat hanya dengan melihat pola jalan sekali lewat.

Sekarang insting itu mengarah ke pola yang berbeda: kalau dia bisa "menaklukkan" Bimo bukan dengan kekerasan atau otoritas kosong, tapi dengan cara yang membuat Bimo hormat separuh masalah kelas ini mungkin selesai dengan sendirinya.

Tapi bagaimana caranya, dia belum tahu.

Malam harinya, di kamar kos yang sempit, Reyhan duduk di lantai dengan laptop tua di pangkuannya, mencoba menyusun rencana untuk besok. Di sampingnya, layar holografik sistem masih menyala pelan, menampilkan progres misi.

> [Progres Misi: 0/5 murid mencapai target kenaikan nilai.]

> [Sisa waktu: 6 hari.]

Reyhan menatap angka nol itu lama-lama. Enam hari, dan dia bahkan belum berhasil membuat kelas duduk diam lebih dari sepuluh menit, apalagi membuat nilai mereka naik dua puluh poin.

Tapi ada sesuatu yang berbeda dari rasa putus asa yang dia rasakan minggu lalu saat pertama kali jadi kurir dan tersesat di jalanan asing.

Kali ini, dia sudah mulai melihat pola Dimas yang capek karena bantu jaga warung, Nadia yang berhenti peduli karena rumah yang berantakan, Bimo yang punya pengaruh besar tapi tidak tahu mau dipakai untuk apa. Tiga masalah yang sangat berbeda, tapi entah kenapa, Reyhan merasa ketiganya bisa jadi kunci satu sama lain.

Ia membuka buku catatan kosong yang dibelinya tadi sore dalam perjalanan pulang, menulis tiga nama di halaman pertama **Dimas. Nadia. Bimo.** Di bawahnya, dia mulai mencoret-coret ide-ide kasar bukan rencana mengajar biasa, tapi sesuatu yang lebih personal, lebih menyentuh masalah nyata mereka masing-masing.

"Kalau soal jalan aja aku bisa cari rute tercepatnya," gumamnya sambil menulis, "masa soal orang aku nggak bisa cari caranya."

Di luar jendela kosnya, lampu jalan berkedip pelan, menemani malam yang akan jadi awal dari perubahan besar bukan hanya untuk tiga muridnya, tapi juga untuk cara Reyhan sendiri memahami apa artinya benar-benar peduli pada orang lain, bukan sekadar menyelesaikan misi demi reward.

Ia belum tahu bahwa besok pagi, semua rencana rapi yang dia susun malam ini akan langsung berantakan begitu dia menginjakkan kaki di depan kelas.

1
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!