“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
“Pakai ini besok!”
Tiara terkejut dan refleks menangkapnya.
Ia menatap Haikal yang berdiri beberapa langkah di depannya.
“Apa ini, Mas?”
“Pakaian baru.”
Tiara mengernyit. Ia membuka tote bag itu dan melihat sebuah kotak pakaian di dalamnya.
“Untuk apa?”
“Besok kita diundang ke acara pesta ulang tahun ibu dari mantan bosmu.”
Tiara langsung mengangkat wajah.
“Pak Permana?”
“Iya.”
Haikal kemudian duduk santai di sofa.
“Besok ibunya ulang tahun tujuh puluh tahun. Sekalian ada acara tasyakuran karena baru pulang haji dan perayaan pembukaan cabang bank baru.”
Tiara mengangguk pelan.
“Lalu?”
“Pakai pakaian itu. Dandan yang cantik. Aku tidak mau kamu terlihat lusuh dan jelek.”
Nada bicara Haikal terdengar seperti sedang memberikan perintah kepada bawahannya.
“Dan jaga sikapmu. Jangan sampai membuat malu aku di sana.”
Tiara menatap suaminya beberapa detik.
“Aku selalu menjaga sikap, Mas.”
“Bagus kalau begitu.”
Belum sempat Tiara menjawab, Rumi masuk kedalam rumah dengan langkah angkuh.
“Ibu diundang juga kan?”
Haikal menoleh.
“Iya, Bu. Kita semua diundang.”
Rumi tersenyum senang.
“Wah, berarti keluarga kita memang sudah dianggap dekat oleh Permana.”
Haikal tersenyum bangga.
“Tentu saja.”
“Intan ikut?”
“Intan juga akan ikut bersama kita.”
Rumi langsung terlihat semakin bersemangat.
“Bagus. Kalau begitu kita harus tampil cantik.”
Ia menatap Haikal.
“Kau juga beli baju baru untuk Ibu dan Intan?”
Haikal mengangguk.
“Sudah.”
Rumi tersenyum puas.
“Mana?”
“Sebentar lagi.”
Kemudian Haikal melirik tote bag yang masih dipegang Tiara.
“Aku memperlakukan kalian semua dengan adil. Aku belikan kalian semua pakaian baru."
Rumi tampak senang.
“Benarkah?”
“Iya.”
Haikal kemudian menambahkan dengan nada penuh kebanggaan.
“Baju untuk Ibu dan Intan lebih bagus dan lebih mahal daripada punya Tiara.”
Senyum Rumi langsung melebar.
Sementara Tiara membeku.
Ia perlahan menatap suaminya.
“Kenapa kamu membedakan baju kami, Mas?”
Haikal mengerutkan kening.
“Kenapa dipermasalahkan?”
“Aku ini istrimu. Sedangkan Intan belum sah menjadi istrimu.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Haikal menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Lalu?”
“Setidaknya hargai aku sebagai istrimu.”
Haikal menghela napas.
“Tiara, jangan mulai lagi.”
“Aku hanya bertanya.”
“Intan itu cantik. Bodinya bagus. Dia pantas memakai pakaian bagus.”
Tiara terdiam.
Haikal melanjutkan tanpa menyadari bahwa setiap perkataannya semakin melukai hati istrinya.
“Sedangkan kamu…”
Tatapan Haikal menyapu tubuh Tiara.
“Kamu gendut. Mana ada baju bagus untuk orang gendut?”
Wajah Tiara seketika memerah.
Rumi yang mendengar perkataan itu justru menahan senyum.
“Mas…”
Tiara menggenggam tote bag itu erat.
“Jadi kamu sengaja memberikan aku pakaian yang lebih murah dan lebih buruk?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu bilang pakaian Intan lebih bagus dan lebih mahal.”
“Memangnya salah?”
“Mas!”
Suara Tiara meninggi.
“Apa kau sengaja membuat aku terlihat lebih buruk daripada Intan di sana nanti?”
Haikal berdiri.
“Berhenti berprasangka kotor kepada suami sendiri!”
“Prasangka kotor?”
Tiara menahan air mata.
“Aku hanya tahu bagaimana kamu memperlakukan Intan. Kamu membelikannya rumah, mobil, pakaian mahal, sementara aku sebagai istrimu malah dibanding-bandingkan dengan dia.”
“Sudahlah!”
Haikal mengangkat tangan.
“Aku tidak mau ribut.”
“Tapi kamu yang memulai!”
“Aku capek!”
Haikal mengambil napas panjang.
“Aku baru pulang kerja. Aku tidak ingin mendengar pertengkaran seperti ini.”
"Mas," keluh Tiara.
Haikal mengabaikannya, malah memberikan perintah baru.
“Sebaiknya kamu siapkan air panas untuk aku mandi. Malam ini, aku sama ibu mau menginap dirumah ini."
Tiara mengepalkan tangan.
“Mas…”
“Apa lagi?”
“Kenapa kamu selalu menganggap perasaanku tidak penting?”
Haikal berhenti sejenak.
Namun bukannya menjawab, ia justru berkata dingin, mengalihkan topik pembicaraan tanpa ekspresi wajah berdosa.
“Besok aku ingin kau tampil sempurna. Jangan membuatku malu.”
Setelah itu Haikal masuk ke kamar.
Tiara tetap berdiri di ruang tengah.
Air matanya akhirnya jatuh.
Ia melihat tote bag di tangannya.
Perlahan ia mengeluarkan pakaian yang dibelikan Haikal.
Sebuah pakaian sederhana dengan model yang menurutnya biasa saja.
Tiara mengusap kain tersebut.
Selama ini ia tidak pernah mempermasalahkan harga pakaian.
Ia bahkan tidak pernah meminta Haikal membelikannya barang mahal.
Yang membuatnya sakit adalah kenyataan bahwa suaminya sengaja membandingkan dirinya dengan wanita lain.
Apalagi wanita itu adalah calon istri kedua Haikal.
Rumi mendekatinya.
“Jangan terlalu mendramatisir keadaan.”
Tiara menghapus air mata.
“Ibu tidak mendengar apa yang Mas Haikal katakan? Dia menghinaku Bu!"
“Tapi memang kenyaanya kamu seperti itu, intan jauh lebih cantik dan menarik daripada kamu!”
“Ibu..!"
Tiara menatap Rumi.
“Berhenti menangis, dasar cengeng! Air matamu itu, tidak akan mengubah apapun. Kau tetap jadi istri yang tak berguna." Rumi membalik badan dan pergi meninggalkan Tiara.
Tiara kemudian membawa pakaian itu ke kamarnya.
Namun sebelum memasukkannya ke dalam lemari, sesuatu jatuh dari kantong kecil di dalam tote bag.
Sebuah kartu kecil.
Tiara memungutnya.
Awalnya ia mengira itu kartu ucapan dari toko.
Namun setelah membacanya, alisnya berkerut.
Di kartu itu tertulis nama sebuah butik ternama.
Dan di bawahnya terdapat harga pakaian yang membuat mata Tiara membesar.
Ternyata pakaian yang diberikan Haikal kepadanya bukan hanya pakaian murah, tapi juga diskon enam puluh persen.
“Pakaian ini, ternyata pakaian model lama yang tersimpan lama ditoko dan diobral agar terjual. Pria itu memang keterlaluan!" Tiara mendengus kesal. Ia melempar bandrol harga baju itu ke lantai.
"lihat saja besok, Mas. Akan aku tunjukan siapa yang tampil lebih menarik dipesta, aku atau gundik kesayanganmu itu!"
Bersambung ....