Bertahun- tahun Arini berusaha menjadi istri yang baik buat Ilham. Dan menantu yang penurut untuk Bu Lastri.
Atas permintaan Ilham. Arini terpaksa melepas posisinya yang cukup bagus di sebuah perusahaan swasta. alasanya Ilham ingin Arini menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Namun seiring waktu, karier Ilham yang terus melejit membuat perubahan sikap mertuanya. Arini masih bernafas lega, karna Ilham selalu membelanya.
Puncaknya ketika sebuah rahasia terungkap. Ilham telah mengkhianatinya. Dia berselingkuh dengan Anita, sahabatnya sendiri. Alasannya sepele, yaitu Arini yang tak kunjung hamil. Berbagai konflik mulai terjadi.
Ilham yang berbakti menjadi buta hatinya. Ia selalu menuruti apapun yang di katakan ibunya.
Di tengah keterpurukannya, Denis datang sebagai penyelamat.
Akankah Arini memperjuangkan Ilham? ataukah memilih Denis menjadi partner hidupnya?
Kita ikuti kisah selengkapnya yuuk!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Seperti hari itu, Anita datang dengan mobilnya.
Bu Lastri berdecak kagum dengan penampilan Anita.
Dulu, Bu Lastri sering menghina Anita karena penampilannya yang dekil dan ketinggalan jaman menurutnya. Tapi lihatlah kini.
Mata Bu Lastri tak pernah lepas dari sosok Anita.
"Kau hebat sekali Nit, semula ibu tak percaya saat Arini menceritakan tentang dirimu yang katanya sudah banyak berubah, tapi setelah menyaksikan sendiri, ibu baru percaya!" ucapnya bersemangat.
"Ah biasa saja kok Bu!" jawab Anita merendah.
"Beneran, kau itu manglingi!" serunya lagi.
Bu Lastri memanggil Arini dan Ilham yang masih di dalam.
"Ilham, lihat siapa yang datang!" teriak Bu Lastri dari ruang tamu.
Arini dan Ilham menghampiri ibunya.
"Siapa tamunya Bu?" Arini merasa penasaran.
Mukanya berubah ceria saat tau yang datang adalah Anita
"Hai..!" ucapnya menyambut Anita dengan pelukan hangat.
"Hai Nit, gimana kabar?" sapa Ilham datar.
"Baik Mas, kau sendiri?" Anita balik bertanya.
"Aku juga baik." jawabnya singkat.
Tak ada pujian atas perubahan Anita, jangankan pujian, bertanya kerja dimana pun tidak.
Tak seperti bayangan Arini sebelumnya.
Ia sudah bayangkan keseruan yang terjadi bila Ilham melihat Anita.
Tapi yang terjadi justru berbalik.
Ilham terkesan biasa saja. Seolah dia sudah sering melihat Anita.
Arini semakin bingung. "Apa mas Ilham tidak pangling melihat penampilan sahabatnya sekarang?" bathin Arini.
Arini mencoba mencairkan suasana.
"Nit, sejak saat itu kau tidak pernah berkabar. kemana saja?" tanyanya membuka percakapan.
"Aku ada kesibukan di luar kota Rin, maaf ya, aku belum bisa memenuhi janjiku untuk mengajakmu jalan-jalan!" ucapnya merasa bersalah pada Arini, tapi matanya melirik ke arah Ilham.
"Rin, kenapa bengong? ayo duduk di sini!" ujar Ilham, sambil menepuk kursi di sebelahnya.
"Ah iya...!" Arini tergagap.
"Kenapa dengan suamiku? seolah ia ingin menunjukkan pada Anita bahwa hubungan rumah tangga mereka sangat bahagia.
"Ambilkan minum Rin!" perintah Bu Lastri.
"Iya, hampir lupa. tunggu sebentar ya!"
ucapnya ke arah Anita.
"Iya santai saja Rin." kata Anita malu-malu.
Sedangkan Ilham sibuk dengan ponsel di tanganya. Tak ada basa-basi lagi kepada Anita.
Anita lebih banyak berinteraksi dengan Bu Lastri. ketimbang Ilham.
Arini kembali menoleh kearah mereka.
Arini pikir, Ilham merasa tidak nyaman beramah tamah dengan sahabatnya itu karena ada dirinya disana. Tapi nyatanya saat Arini pergi kedapur meninggalkan mereka pun
masih tetap sama, Ilham sibuk sendiri.
Arini jadi merasa bersalah pada Anita.
"Rin, masak yang enak hari ini! ajak Anita makan siang disini!" perintah Bu Lastri.
"Iya, Bu!" jawab Arini singkat.
Iya sempat merasa heran juga. kenapa mertuanya begitu bersemangat.
Arini kembali kedepan, dimana Ilham Anita dan Bu Lastri sedang duduk. percakapan di dominasi oleh suara Bu Lastri. Hanya sesekali saja Ilham menanggapi dengan kata iya dan tidak. Terlihat sangat kaku.
"Ayo di cobain Nit, enak lho, aku sendiri yang buat.!"
Anita tersenyum dan mencicipi makanan di meja.
"Memang enak banget!" seru Anita.
"Kalian lanjutin ngobrolnya ya! aku mau masuk kamar." kata Ilham seraya bangkit.
"Iya, mas. istirahat saja!" jawab Arini.
Anita hanya memandang aneh ke Ilham.
Arini maklum, sangat mungkin kalau Anita merasa tersinggung karna sikap suaminya yang cuek.
Kekakuan itu tak berlangsung lama. karna Arini dan Anita terlibat dalam obrolan yang serius sambil memasak di dapur.
kadang suara tawa mereka sampai ke telinga Ilham yang memang sedang diam-diam memantau mereka.
"Ngapain sih Anita berlama-lama disini? bersama Arini pula!" Ilham mengeluh dalam gelisah.
"Rin, tanya Ilham. jadi nggak ngajak ibu jalan -jalan sore ini?" suara Bu Lastri menghentikan keseruan mereka sejenak.
"Iya, Bu!" jawab Arini.
"Ibu, minta di ajak jalan-jalan oleh mas Ilham.
maklum, putranya baru dapat fasilitas mobil dari kantornya" jelas Arini.
"Ooh, begitu?" Anita memandangi punggung temannya itu.
"Menantu idaman! kalau aku, bisa di pastikan tidak akan bisa seperti dia" gumamnya tersenyum.
"Oh, ya Nit. kamu ikut saja bersama kami!" tawar Arini bersemangat.
Anita sudah hampir mengangguk, tapi ia mengurungkan niatnya.
Kenapa?"" Arini penasaran.
"Aku tidak enak sama mas Ilham, kayaknya dia kurang suka dengan kehadiranku disini!" ucap Anita pelan.
Arini menghela nafas panjang.
"Aku juga tidak mengerti Nit, kenapa mas Ilham bersikap seperti itu. aku sudah membayangkan keseruan yang terjadi kalau kalian bertemu pertama kali, tapi ini tidak. seolah kalian sudah sering bertemu sebelum ini!" ucap Arini pelan.
Namun ucapan Arini mampu membuat Anita tersedak.
"Uhuk uhuk..!"
Pelan pelan minumnya."
Arini menepuk nepuk punggung temanya.
"Kau pasti gugup karna sikap mas Ilham. jangan di ambil hati ya!"
Anita mengangguk.
Namun mukanya meringis kearah lain.
"Tenang saja aku akan berusaha mendekatkan kalian lagi seperti dulu!" Senyum Anita mengembang mendengar janji Arini.
"Makasih ya Rin, dari dulu sampai sekarang kau tetap sahabat yang paling bisa mengerti aku!" Anita memeluk Arini.
Arini berjanji dalam hati, akan mengembalikan keadaan seperti dulu.
Anita berhak mendapatkan kebahagiaan walau hanya dengan sahabat-sahabatnya."
***
Sore itu, Ilham membawa Ibu dan istrinya jalan-jalan mencoba mobil dinasnya.
Karna desakan Arini dan Bu Lastri, Anita pun turut serta.
"Kalian duduk di belakang. Ibu di depan bersama Ilham!" tukasnya.
Arini tidak mempermasalahkannya.
Justru ia merasa senang karna dapat kesempatan bercengkrama dengan Anita di belakang.
Setelah lelah muter-muter, Bu Lastri merasa lapar. Ia minta Ilham berhenti di sebuah rumah makan yang cukup ramai.
Mereka duduk mengelilingi meja.
"Kalian pesan saja! aku mau ke toilet sebentar!" ucap Ilham sambil beranjak pergi ke toilet.
Tak berapa lama berselang, Anita yang sedang minum air putih tak sengaja tumpah di bajunya.
"Yaah basah deh!" keluhnya kecewa.
"Aku ke toilet dulu, mau keringkan ini!" kata Anita menunjuk bajunya yang basah.
"Ya, baiklah! mau aku pesankan?" tawar Arini sumringah
"Boleh!" ucapnya tergesa.
Bu Lastri menekan-nekan lututnya.
"Lutut ibu kumat lagi?" tanya Arini.
"Iya, Ibu terlalu bersemangat sampai lupa kalau usia sudah lanjut." ucapnya sedih.
"Nanti aku pijatin di rumah!"
Arini merasa heran karna Ilham belum juga kembali.
"Mas Ilham kemana, makanannya keburu dingin!"
"Tunggu saja, paling juga sebentar lagi muncul" ucap Bu Lastri.
Terdengar suara ponsel berbunyi.
Arini celingukan mencari asal suara.
"Anita meninggalkan tasnya disini, ponselnya berbunyi." gumam Arini sambil terus memandang kearah pintu.
"Angkat saja! siapa tau telpon penting." kata Bu Lastri.
Arini memberanikan diri membuka tas Anita untuk mengambil ponselnya.
"Eeh, baru mau di angkat kok mati." desah Arini.
Ia memasukkan kembali ponsel itu ke tempatnya. tapi Arini tertegun sejenak. Ia melihat kalung yang sama yang di beri Ilham tempo hari padanya.
"Kalung ini sama persis dengan kalung yang di belikan mas Ilham untuk ku." ia bergumam sendiri.
"Ah mungkin hanya kebetulan saja!" pikirnya menghibur diri.
"Kenapa Rin?" tanya Bu Lastri saat melihat Arini tertegun.
"Tidak ada apa-apa Bu." ucapnya berbohong.
💞Mohon dukungan like dan komentarnya ya!🙏🙏