Seorang pemuda biasa bernama Satria pemilik sebuah bengkel, bernasib mujur. bisa di bilang begitu karna
Ia mendapat tawaran dari seorang pelanggan nya untuk menikahi anak gadisnya yang cantik jelita.
Sang ayah berharap Satria bisa merubah watak putrinya yang arogan dan susah diatur.
Dengan imbalan yang menggiurkan.
Yasmin, terpaksa menerima tawaran ayahnya karna takut di usir dari rumahnya.
Setelah menikah, Satria mulai membatasi ruang gerak Yasmin, termasuk uang bulanan yang dia jatahkan.
Yasmin yang terbiasa hidup mewah merasa tidak tahan dan akhirnya memutuskan menggadaikan suaminya tersebut pada seorang pengusaha cantik yang kaya raya bernama Kirana.
Hal itu membuat Satria ingin memberi pelajaran pada Yasmine.
Suatu hari Yasmine baru menyesal saat melihat kebahagiaan suaminya dengan dengan istri barunya. Ia baru menyadari mulai menyukai Satria.
Yasmin semakin terpuruk saat mengetahui siapa Arya. sebenarnya.
Bagaimanakah akhir kisahn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Semakin hari, kelakuan Yasmin semakin menjadi. Ia sering pulang larut malam karena menghabiskan waktu bersama Kirana.
Satria sudah kehilangan,akal untuk menasehatinya.
"Yasmin, aku sudah kehilangan kesabaran menghadapi mu." kata Satria suatu saat, namun Yasmin menjawabnya acuh
"Lepaskan aku, selesai, kan?"
Satria memandangnya lurus.
"Kau pikir semudah itu melepaskan sesuatu yang sudah terikat? aku sudah berjanji pada almarhum ayahmu, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Tapi kenyataannya kita tidak saling mencintai, buat apa bertahan? seandainya papa masih hidup juga pasti akan mengerti keadaan kita."
"Lalu apakah kau punya seseorang yang kau cintai?"
Yasmin terdiam. Ia sama sekali tidak punya orang dekat selama ini selain Satria sendiri.
"Belum, sih. tapi aku yakin akan segera menemukannya." jawab Yasmin pasti.
"Sebenarnya aku hanya ingin kau bersabar lagi sedikit saja, kau akan tau yang sebenarnya." kata Satria.
"Apa maksudmu sebentar lagi?"
Satria tidak menjawabnya.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan mengijinkan mu pergi dari sini, titik!"
ucap Satria tegas.
"Kalau aku tidak mau? kalau aku memaksa?"
teriak Yasmin kalap. Namun Satria sudah masuk kedalam kamarnya.
Yasmin memandangnya dengan penuh kebencian.
"Yang sabar Nak Yasmin, hidup berumah tangga memang banyak cobaan." nasehat pak Karim.
"Tapi kami tidak saling mencintai, pak?"
"Ya, bapak mengerti. tapi seperti kata Satria, tidak segampang itu memutuskan sebuah ikatan suci seperti pernikahan!"
"Lihat saja, saya akan buat dia membenci saya, lalu dia akan memutuskan ikatan ini!"
ancam Yasmin.
Pak Karim hanya bisa mengurut dada.
Malam harinya,
Satria duduk di dekat pak Karim dengan wajah murung.
"Apa salah keputusan ku untuk menikahinya, Pak?"
Pak Karim mengangkat wajah pemuda itu.
"Kau tidak salah, situasi lah yang salah.
Niatmu Mulya, dan setiap perbuatan Mulya itu pasti ada cobaannya."
Satria merebahkan kepalanya di pangkuan pak Karim.
"Tapi dia mau berpisah, Pak. bukan kah aku akan lebih berdosa kalau aku menahan dan membuatnya terkekang?"
Saat itu Yasmin tak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Kau tidak salah, Nak Yasmin hanya tersesat, dia butuh orang yang membimbingnya untuk kembali. Lagi pula bapak tau, kau mencintainya, kan?"
Mendengar itu Yasmin tercekat.
Begitu pula Satria.
Ia mendongak menatap Pak Karim.
Orang tua itu mengangguk bijak.
Satria termenung. Apakah benar dia mencintai Yasmin si gadis manja itu?
Diam-diam Yasmin masuk kamarnya. Dia merenungi ucapan pak Karim tentang Satria yang mencintainya.
"Tidak mungkin, masa sih dia mencintaiku?
tapi kalau itu benar?"
Yasmin gelisah sendiri.
Ia kembali terbayang wajah pemuda itu, wajah yang serius, jarang tertawa dan selalu berteriak padanya.
Tapi tak jarang pula Satria menunjukkan perhatiannya, seperti ia akan sangat marah kalau Yasmin sampai telat makan. Ia juga akan sangat murka kalau ada yang berani melecehkannya. Satria juga sangat tidak setuju saat dirinya berhenti kuliah, alasannya adalah pendidikan adalah jembatan masa depannya, dia sangat perduli dengan hal-hal kecil yang berkaitan dengan dirinya.
Tapi apakah semua itu bisa di simpulkan kalau dia mencintai dirinya?
Yasmin berbaring dengan gelisah.
Pikirannya menerawang jauh.
Walaupun pikirannya terbebani dengan pertanyaan tentang perasaan Satria, namun ketika Kirana menjauh darinya atas perintah Satria, Yasmin tidak tahan. lalu ia teringat tawaran Kirana tempo hari.
"Beri aku seratus miliar, maka Satria jadi milikmu!"
Kirana menatapnya serius.
"Kau tidak bercanda, kan?"
Yasmin menggeleng pasti.
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Kirana ragu.
Yasmin mengangguk lagi.
"Kita akan buat surat perjanjiannya. kau akan mendapatkan apa yang kau mau, dan aku pun akan mendapatkan Satria."
"Tapi aku ingatkan, berpikirlah sekali lagi. karna sesuatu yang sudah menjadi milikku, tidak akan bisa kembali lagi!"
"Aku tidak ingin berpikir lagi, aku butuh uang banyak, aku juga sudah bosan hidup susah!"
"Lalu bagaimana dengan Satria sendiri?" tanya Kirana ragu.
"Itu urusanmu, kau harus berjuang mendapatkan hatinya."
Kirana merasa heran, semudah itu Yasmin memutuskan sesuatu yang yang sangat besar dalam hidupnya.
"Ok, kita akan mengurusnya di notaris. tapi kau harus ingat, kau akan kehilangan Satria."
Yasmin hanya tersenyum. tekatnya sudah bulat.
Malam harinya, Satria benar-benar murka dengan keputusan Yasmin.
"Kau anggap aku apa? barang yang bisa
kau gadaikan semaunya?"
Yasmin hanya terdiam.
"Kalau kau tidak setuju, lepaskan aku!" teriaknya lantang.
"Baiklah, kau sangat menguji kesabaran ku.
Aku tetap tidak akan menceraikan mu! aku akan bersama Kirana, tapi kau juga akan tetap serumah dengan kami.
Aku bersumpah, akan membuatmu menangis darah karena menyesal atas apa yang telah kau lakukan ini." ucap Satria dengan wajah kecewa.
Bisa-bisanya Yasmin memberikan dirinya pada Kirana dengan imbalan uang dan kekayaan.
"Tunggu saja, suatu saat kau akan mengemis untuk kembali padaku." ketusnya lalu meninggalkan Yasmin yang masih terbengong sendirian.
"Kenapa dia harus semarah itu, dia ,kan tidak mencintaiku? dasar orang aneh. pikir Yasmin.
Walau dengan hati hancur, Satria bersedia menikah dengan Kirana. Bukannya karna ia mencintai Kirana, tapi karna ingin membalas perbuatan Yasmin semata.
Kini Yasmin dan Kirana bertukar posisi.
Kirana tinggal di rumah sederhana milik Satria, sedangkan Yasmin pindah kerumah mewah milik Kirana.
Yasmin sangat puas, ia bisa membeli apa saja dengan uangnya. Tiap hari ia menikmati hidup barunya dengan suka cita.
Sedang Kirana menikmati peran barunya sebagai istri Satria.
Pagi hari dia sudah terbangun, langsung pergi ke dapur untuk memasak.
Ia tidak membawa uang sepeserpun, apalagi mobil. Kirana benar-benar berbaur dengan kehidupan Satria yang sederhana.
Kirana juga sangat maklum kalau Satria belum bisa menerima dirinya seutuhnya.
Ia terus bersabar dan bersabar.
"Sat, ayo makan lah, nanti kau sakit " bujuk Kirana pada Satria yang tidak mau makan seharian.
Satria tidak menjawab.
Ia malah masuk ke kamarnya.
Kirana juga masuk kedalam kamarnya.
"Aku maklum, Sat. semua butuh proses. begitupula dengan kita." ucapnya seolah pada diri sendiri.
Pukul lima pagi, Satria suda bangun, ia berangkat ke musholla di belakang rumah nya. Kebiasaan yang belum pernah di sadari oleh Yasmin.
Sepulang sholat, Satria melewati meja makan. Iseng dia buka tudung saji di meja makan.
Masakan Kirana masih utuh.
Memang di rumah itu hanya tinggal mereka berdua saja, pak Karim memilih pulang kampung untuk beberapa hari.
"Karna aku tidak makan dia terpaksa tidak makan juga.." pikir Satria.
Tanpa pikir panjang lagi. Satria menuju kamar Kirana.
Benar saja, gadis itu sedang duduk memegangi perutnya.
"Kau kenapa? karna aku belum makan kau juga ikut-ikutan?" bentak Satria.
Kirana hanya meringis.
"Ayo keluar..!" Kirana mengikuti langkah Satria ke meja makan.
"Jangan bodoh! kalau kau tidak makan kau akan sakit." omelnya sambil mengambilkan nasi untuk Kirana.
"Kalau kau sendiri kelaparan, mana bisa aku tidur dengan perut kenyang." celetuk Kirana, membuat Satria tertegun.
"Aku tau, apa yang terjadi ini salah. Tapi sampai kapan kau akan menyiksa diri sendiri?" Kirana menatap wajah Satria yang mendung.
Satria menyendok nasi ke piring, dan mulai memakannya.
"Lihat, aku sudah makan, kau makanlah!" ujarnya singkat.
Kirana tersenyum. walau dengan mata yang membasah, ia mulai menyuap makanannya.
"Aku tau, semua ini sangat menyakitkan buatmu, Sat. Aku janji akan mengobati lukamu itu." bathin Kirana.
Saat itu juga Yasmin datang dengan membawa banyak makanan di tangannya.
"Kebetulan sekali, aku bawa makanan banyak. kalian makanlah!" ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
*biang kerok konflik novel ini adalah Yasmin, bukan nya minta maaf, dan berjuang untuk satria tapi Yasmin malah sok paling benar sok paling tersakit, selalu bersikap semaunua, sikap selalu melukai satria, novel sama sekali tidak ada perjuangan dari Yasmin tapi merasa paling berjuang, dia biang kerok masalah tapi merasa paling tersakiti,
*satria korban keegoisan dan kemunafikan Yasmin tapi kiria author memutar balik fakta seolah satria yang salah dan satria yang dibuat mengemis dan berjuang untuk Yasmin
dan parah author membela semua kelakuan Yasmin (cerminan diri author)
*ku tantang kau Thor kau survey sejuta lelaki mana pun, aku yakin 100% lelaki lebih memilih Kirana jadi istri dari pada Yasmin lebih baik memilih wanita kayak Kirana yang mau berjuang dan bertahan selama bertahun-tahun dan mau berkorban untuk kita dari pada wanita kyak Yasmin yang munafik