Tak pernah terbayang dalam benak Jihan Fariha, hidupnya yang sudah sulit bertambah rumit setelah pertemuannya dengan Pradika Nugraha.
Jihan harus menuruti keinginan Dika menjadi kekasihnya untuk menggantikan posisi Ayra, tunangannya yang menghilang karena tak bisa membayar ganti rugi setelah motor yang dikendarainya menabrak Dika hingga membuat laki-laki itu terluka dan ponsel mahal miliknya hancur.
Sesuai kesepakatan, Jihan harus berperan sebagai Ayra di depan semua orang. Satu hal yang dilupakan Dika, ia bisa ubah penampilan fisik Jihan tapi tak bisa mengubah karakternya yang berbanding terbalik dengan Ayra.
Perubahan sikap Ayra alias Jihan membuat keluarga Dika terkesan dan semakin sayang. Saat semuanya terungkap, akankah sikap mereka tetap sama sementara Dika sudah terlanjur jatuh cinta dengan kekasih kontraknya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Mohon kerja samanya, Tuan.
Lelaki ini memiliki senyum yang menakjubkan, dan bicaranya terdengar lembut. Sikapnya pun begitu manis pada nenek. Pantas saja ia bisa dengan mudah menaklukkan hati nenek dan membuatnya percaya dengan semua ucapannya, pikir Jihan.
Jihan membereskan sisa makan malam mereka, lalu pura-pura sibuk mengatur barang-barang milik neneknya ke dalam rak lemari rumah sakit. Setelah itu ia duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur nenek berada, mencuri pandang pada Dika yang setia menemani nenek bicara.
Wajah nenek tampak berseri, tak jarang nenek tertawa geli mendengar cerita lucu dari Dika. Lelaki itu tampak luwes membantu nenek minum obat, dan dengan sigap bergerak cepat saat nenek minta diambilkan sesuatu padanya. Jihan pun urung berdiri, dan hanya memperhatikan saja interaksi keduanya dari tempat duduknya.
Tiba-tiba saja Jihan merasa takut, karena telah berbohong tentang hubungannya dengan Dika pada neneknya. Ia takut kalau nenek tahu yang sebenarnya, pasti akan sangat berpengaruh pada kesehatannya dan berakibat fatal untuk jantungnya.
Mereka sudah selesai makan malam sejak tadi, namun Dika belum beranjak pergi dari sana. Masih betah menemani nenek bercerita, meski Jihan menyuruh nenek untuk segera beristirahat karena sudah lewat jam delapan malam.
“Sudah malam, sebaiknya sekarang Nenek istirahat. Biar cepat sembuh.” Dika bangkit berdiri karena melihat Jihan dengan sengaja menguap di depan mereka.
Jihan tersadar dan segera menutup mulutnya. “Maaf, Aku lelah sekali.”
Dika mengangguk dan segera berpamitan pada nenek. Jihan mengantarnya sampai di pintu, tapi nenek memanggil Dika lagi dan meminta laki-laki itu mengantar Jihan pulang.
“Jihan akan tidur di sini menemani Nenek, biar besok pagi saja Jihan pulang ke rumah.” Tolak Jihan, tak ingin merepotkan Dika lagi dan meninggalkan neneknya sendirian di rumah sakit.
“Pulang dan beristirahatlah di rumah malam ini, Kau terlihat lelah sekali. Tidak usah cemas memikirkan nenek lagi. Karena malam ini ada perawat yang akan menemani Nenek di sini,” kata nenek. Dan benar saja, tak berapa lama kemudian ada perawat datang dan memeriksa kondisi nenek.
Perawat itu membenarkan ucapan nenek, kalau ia akan terus memantau kondisi nenek setiap satu jam sekali. Jadi Jihan bisa pulang dan beristirahat dengan tenang di rumahnya.
Jihan menurut, dan Dika pun setuju mengantar Jihan pulang. Mereka berpamitan, dan Denis yang setia menunggu di luar meski dengan wajah terkantuk-kantuk langsung bergerak cepat mengambil mobil di area parkir rumah sakit.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Jihan, Dika menggunakan kesempatan itu untuk menjelaskan tentang pesta di rumahnya yang harus Jihan datangi besok.
“Besok malam, dan pesta itu diadakan di rumahmu?” tanya Jihan.
Dika mengangguk. “Besok Aku sendiri yang akan menjemputmu pagi-pagi. Kita akan ke mal dan salon untuk ubah penampilanmu, Kau harus tampak seperti Ayra.”
“Dan setelah Aku berubah menjadi seorang Ayra, Aku juga harus berperan sebagai kekasihmu bukan?”
Dika mengangguk lagi, “Orang tuaku akan mengumumkan pertunangan kita, dan Aku tidak ingin mengecewakan mereka.”
Jihan tersenyum mendengarnya, itu sebabnya Dika meminta bantuannya dan menjadikan dirinya kekasih kontrak untuk menggantikan posisi Ayra.
“Aku tahu, Kau sudah mengatakannya padaku sebelumnya.” Jihan menatap wajah tampan di hadapannya itu. “Tapi bagaimana caranya agar Aku bisa terlihat wajar saat berpura-pura sedang menjalin hubungan denganmu, sementara kita baru bertemu beberapa jam yang lalu dan Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang dirimu?”
Dika tertegun sesaat, ucapan Jihan mengingatkannya pada kata-kata terakhir Ayra. Sekian lama menjalin hubungan, tapi sedikit sekali yang ia ketahui tentang pasangannya. Begitu pula sebaliknya, Dika beranggapan kalau semua hanya buang-buang waktu saja karena tak ada rasa cinta di hatinya pada Ayra.
Tapi kali ini berbeda, ia tak mau gegabah mengulang kesalahan yang sama dan membuat kacau semua rencananya. “Denis akan memberikan catatan padamu apa-apa saja hal yang perlu Kau ketahui tentang diriku, dan Kau akan menerimanya sebagai pesan pertama saat ponsel milikmu berdering esok pagi.”
“Pasti bukan bacaan yang menyenangkan untuk dilihat,” kata Jihan keceplosan dan langsung melipat bibir memalingkan muka begitu Dika menoleh padanya.
“Kenapa harus Aku yang melakukannya, bukankah Kau ...” sergah Denis tak terima, tapi hanya sedetik saja dan ia langsung menghentikan bicaranya begitu Dika mendelik padanya. Ia pun mengangguk meski dengan muka ditekuk. “Baiklah Tuan muda Pradika Nugraha yang paling tampan seantero jagat raya, Saya siap melaksanakan perintah Tuan.”
“Begitu lebih baik. Tenang saja, akan ada bonus besar untukmu asalkan Kau lakukan semua perintahku.” Kata Dika membuat mata Denis seketika melebar, ia langsung menjentikkan jarinya dan tersenyum lebar. “Itu baru adil, Tuan bisa tenang dan Saya pun ikut senang.”
Dika meringis mendengarnya, ia menoleh pada Jihan lagi dan kembali tertegun saat matanya bertemu dengan mata Jihan yang tampak sendu.
Jihan mencoba tersenyum, “Tenang saja, Aku akan mempelajari semua materi tentang dirimu dengan baik.” Katanya kemudian, sambil memainkan jemarinya.
Dika punya uang dan kuasa, ia dapat dengan mudah memberi perintah pada anak buahnya yang tampak jelas tidak bisa menolak keinginannya. Apalah dirinya yang sangat tidak sebanding, tak ada yang bisa dibanggakan selain kepintarannya dalam hal memasak. Itu pun belum teruji pada kalangan kelas tinggi macam Dika dan keluarganya.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di depan halaman rumah Jihan, Dika ikut turun dari mobilnya sementara Denis tetap berada di dalam mobil dan langsung menyiapkan materi tentang Dika yang akan segera dikirimkannya pada Jihan.
“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” kata Jihan tulus. “Terima kasih juga untuk semua yang telah Kau lakukan pada nenekku.”
Dika mengangguk dan hanya berdiri menatapnya dengan kedua tangan berada di dalam saku celana panjangnya.
“Sudah malam, sebaiknya sekarang Kau pulang. Bukankah Kau harus menjemputku pagi-pagi? Oh, seperti mimpi rasanya. Siang tadi Aku bertemu denganmu, dan besok malam Aku dan Kau menjadi pasangan kekasih.”
Jihan kembali tersenyum sebelum berlalu dari hadapan Dika, ia melangkah maju dan dengan tangan gemetar berusaha membuka kunci pintu rumahnya. Ia tak ingin berlama-lama terus berada di dekat laki-laki itu, yang mengingatkannya kembali pada semua kebaikan yang telah dilakukannya pada neneknya.
“Jihan!” seru Dika memanggil namanya. Jihan berbalik, urung masuk ke dalam rumahnya.
“Ya,” jawab Jihan. “Apa Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?”
“Aku tahu apa yang Kau rasakan saat ini. Meski Kau sudah mengarang cerita bohong pada nenekmu tentang hubungan kita, tapi janjiku padanya untuk menjagamu dengan baik bukanlah omong kosong belaka.” Kata Dika berterus terang, ia mengatakan hal yang sebenarnya dan akan memenuhi janjinya pada nenek gadis itu.
Jihan tertawa mendengar ucapan Dika padanya. “Mohon kerja samanya, Tuan. Itu akan sangat berarti buat kami.”
Dika terpana melihat tawa manis Jihan, begitu lepas dan tulus. Ia terlihat begitu cantik di bawah sinar rembulan yang menyinari tempat itu.
Sementara itu, Jihan bersandar di balik pintu rumahnya. Pipinya memerah dan dadanya berdesir aneh, senyum tampak menghiasi wajahnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎