Jiayi terjebak didalam tubuh Li Xiu, gadis berusia 10 tahun yang tinggal di pedesaan kecil.
Li Xiu tumbuh tanpa sosok Ibunya, Ayah. Orang tua tersisa pada keluarga Li kecil. Justru tidak bisa di andalkan! Ah,... Nasib nya sungguh malang, mengapa Jiayi harus terjebak pada tubuh ringkih kecil?
Hidup bagaikan binatang ternak tak terurus, tidur di atas papan kayu berselimut tipis dalam gudang belakang rumah. Ayah tak berguna, hanya tau menyiksa anak, bermain, dan bersenang-senang.
Di kehidupan sebelumnya, Mingyun nya juga buruk, itu artinya. Jiayi harus mulai dari nol lagi! Arghh.... Mengapa harus ia merasuki tubuh Li Xiu dari keluarga miskin?
Setidaknya, tolonglah... langit, harus berbelas kasih padanya untuk menjadi kaya, dan mengubah Ayah nya yang tak berguna, menjadi lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carrot_Line, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan
Suasana makan malam masih terasa canggung. Li Enlai menaruh potongan daging ayam diatas nasi milik Li Xiu. Gadis itu menatap Li Enlai sejenak, mengangguk kecil tidak membuka suara. Linglu terlihat lebih dekat dengan Li Enlai.
"Ayah... Aku mau paha ayam yang itu," menunjuk paha ayam berukuran besar malu-malu.
Paha ayam berukuran besar kini berpindah ke atas nasi milik Linglu. Sorakan kesenangan memecahkan keheningan yang canggung. Li Xiu sedikit mengernyit, entah apa yang dilakukan Li Enlai. Mampu membuat Linglu dekat dengan Li Enlai.
"Linyi. Li Xiu, mengapa diam saja? Makan lah, nanti nasinya tidak hangat lagi."
Li Enlai memecahkan lamunan Linyi. Gadis itu tersentak kaget. Ia segera memakan makanannya, masih belum terbiasa dengan sikap baik Li Enlai.
"Sebenarnya, mengapa Ayah begitu baik akhir-akhir ini? Apa Ayah memiliki niat buruk dibalik semua ini?" Li Xiu akhirnya menanyakan hal yang selama ini dia pikirkan.
Tidak ada ketakutan dalam sorot matanya yang tegas, awal-awal gadis itu memang selalu terlihat takut. Tapi akhir-akhir ini juga Li Xiu mulai terbiasa dengan tubuh nya Li Xiu asli. Tidak ada lagi gemetar atau suara ketakutan yang mencicit bak tikus.
Mendengar pertanyaan Li Xiu. Linyi hampir tersedak, dia buru-buru minum dan menutup mulut Li Xiu sebelum adiknya mulai berbicara lagi.
"Ayah, jangan marah. Adik hanya belum mengerti apapun. Dia... dia masih kecil," ucap Linyi panik, berusaha mencari alasan logis tapi otaknya tak bisa berkompromi.
Li Enlai tidak langsung menjawab, dia meletakkan potongan jamur di mangkuk Li Xiu.
"Tidak apa-apa."
"Akhir-akhir ini ... Ayah sadar, semua yang ayah lakukan itu salah. Ayah hanya ingin menebus semua kesalahan yang telah ayah lakukan. Mungkin, sulit bagi kalian memaafkan ku. Tapi, yang perlu kalian tau. Sekarang ayah tidak akan lagi melukai kalian."
Ketiga puteri nya terdegun mendengar alasan dibalik sikap Li Enlai akhir-akhir ini terlihat lebih baik. Seakan mereka sedang bermimpi, melihat Li Enlai tersenyum hangat. Memasak di dapur, membelikan camilan atau hal lain.
"Luka yang Ayah buat tidak bisa langsung sembuh dan menghilang. Ayah tahu tidak? Saat Ayah melubangi sebuah dahan pohon, meskipun lubang yang dibuat oleh Ayah mengering tidak mengeluarkan getah. Lubang itu tidak akan berubah sampai kapanpun. Sama halnya saat Ayah melukai kami, kalaupun lukanya bisa sembuh. Akan tetapi bekasnya masih ada."
Suasana semakin terasa berat. Li Enlai tanpa sadar mengepalkan tangannya. Dia sadar, kata maaf saja tidak cukup sampai kapanpun. Li Xiu memerhatikan ekspresi wajah Li Enlai, perkataan barusan darinya. Berharap Li Enlai mengerti, tidak mudah untuk memaafkan seseorang yang sudah membuat banyak luka.
"Ayah tahu tidak mudah untuk memaafkan ayah. Akan tetapi, ayah akan berusaha untuk memperlakukan kalian lebih baik." Li Enlai mencoba berbicara lembut.
Linyi menatapnya tak percaya, ada keraguan bersinar di netra jernihnya. Manusia makhluk yang mudah berubah-ubah, kalau hari ini Ayah mereka begitu baik. Tidak menjamin esok hari tetap seperti malaikat, bisa saja berubah menjadi iblis kembali.
"Sekali ini saja... "bisik nya pelan.
Ada keinginan untuk mempercayai, bisakah Linyi mempercayai nya sekali ini saja? Keraguan masih terlukis di wajahnya. Li Xiu menggenggam tangan Linyi lembut. Seakan membisikkan kata 'tidak apa-apa' tanpa suara.
Li Enlai mengangguk senang, meskipun begitu hanya ada sedikit kelembutan diwajahnya. Sulit bagi wajah galak seperti nya untuk terlihat ramah.
"Sekali ini saja. Ayah tidak akan mengecewakan kalian." Li Enlai menatap ketiga Puteri nya penuh kesungguhan.
'Bisakah?' satu pertanyaan muncul di benak Linyi dan Linglu. Meskipun ada keraguan dibenak mereka berdua. Namun, pada akhirnya Linyi mengangguk kecil. Dan Linglu memeluk Li Enlai erat, suara Isak tangis kecil terdengar lirih.
Li Enlai mengecup dahi Linglu beberapa kali, kecupan lembut penuh kehangatan. Serta penyesalan yang menggelantung dibahu Li Enlai. Setidaknya kehidupan kali ini, dia tidak ingin semuanya berakhir buruk.
Li Xiu memandangi mereka, masih sulit menerima mereka adalah keluarganya sekarang. Hatinya masih enggan mengakui, dia juga perlu menerima fakta bahwa sekarang mereka adalah keluarganya.
'aku akan mencobanya... Mencoba menerima mereka, menerima keluarga Li xiu," bisik Li Xiu dalam hati.
Suara Linglu menjerit kesenangan terdengar nyaring saat bungkusan cokelat kertas di buka. Aroma manis menguar dari dalam bungkusan. Manisan buah Hawthorn terlihat sangat menggoda. Linyi menatap manisan itu hampir tak berkedip.
Sebuah tangan kurus terulur mengambil satu manisan buah Hawthorn. Li Xiu memakannya membuat Linyi terkejut, apa Li Xiu tidak takut dimarahi oleh Li Enlai. Memakan tanpa meminta izin lebih dulu.
"Makanlah, mengapa kamu hanya melihat saja?" Li Enlai meminta Linyi mencoba manisan itu.
Bahkan Linglu tanpa sungkan mengambil dan memakannya. Linyi akhirnya mengambil satu manisan buah Hawthorn, memakannya pelan. Dia terdiam cukup lama, ada rasa manis dibagian luar karena lapisan gulanya lalu bagian dalamnya terasa asam segar sedikit sepat.
Matanya memerah, bulir-bulir bening tergantung di pelupuk mata. Linyi terus mengunyah, sambil menahan air matanya pecah. Ini pertama kalinya... Pertama kalinya dia memakan manisan Hawthorn. Dari kecil dia berharap bisa membeli manisan buah Hawthorn atau tanghulu lain. Akan tetapi uangnya selalu dipakai untuk kebutuhan rumah dan adik-adiknya.
Dia ingin egois, akan tetapi sadar kalau dia adalah kakak dari dua adik perempuannya. Apa yang sekarang dia makan itu ada harganya ? Menatap Li Enlai takut. Takut kalau setelah makan malam kali ini, ada sesuatu yang buruk menanti.
"Makan lebih banyak, ayah membelikan nya untuk kalian." Li Enlai tersenyum kecil.
Tidak sadar kalau semua yang dia berikan belum cukup, mendapatkan keyakinan dan kepercayaan anak-anaknya. Malam itu berlalu dengan penuh pertanyaan dan keraguan di hati Linyi. Sementara Li Xiu dan Linglu tidur nyenyak tanpa memikirkan lebih jauh.
sehat sehat selalu thor