Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH KITA MEMILIH

SETELAH KITA MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.

Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita boleh bahagia

“Baru pulang, Bang?” Tanya Kale begitu melihat Ardan turun dari mobil.

Mendengar itu, Ardan hanya menoleh sekilas ke arah Kale sebelum menjawab dengan gumaman. Begitu pintu mobil tertutup, ia berjalan menuju teras rumah sembari menenteng kresek putih yang di dalamnya berisi dua kotak martabak manis.

Ardan kemudian duduk di kursi kosong di samping Kale dan meletakkan kresek makanan itu di atas meja yang menjadi penghalang di antara kedua kursi. Di sebelahnya, Kale masih duduk santai sambil sesekali menghisap rokok, matanya terus tertuju pada ponsel di tangannya.

“Kusut banget tuh muka,” kata Kale begitu menyadari kakaknya sudah duduk di sampingnya.

Ia mematikan ponselnya lalu meletakkannya di atas meja. Pandangannya beralih pada Ardan yang sejak tadi hanya bersandar dengan wajah lelah.

Dari sudut matanya, Ardan melihat Kale masih menatapnya. Tanpa menanggapi pernyataan adiknya, ia mengeluarkan sebungkus martabak dari dalam kresek dan mendekatkannya ke arah Kale.

“Nih, gue beli martabak, buat lo sama Mommy. Mommy udah tidur?”

“Lihat jam, bro,” kata Kale santai. Ia langsung membuka kardus martabak, mengambil sepotong, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. “Tumben banget beli ginian,”

“Tadi Resa nitip. Yaudah, sekalian aja beli dua.”

Ardan menjawab datar. Punggungnya kembali bersandar pada kursi, sementara tatapannya terpaku pada halaman teras rumah yang dipenuhi pepohonan dan kolam ikan.

Begitu mendengar nama Naresa disebut, Kale langsung teringat kejadian siang tadi. “Btw, istri lo mantan atlet?”

Ardan langsung menoleh ke arah Kale dengan raut kebingungan. Salah satu alisnya terangkat, seolah tidak mengerti kenapa pertanyaan semacam itu tiba-tiba muncul.

“Your wife is very CRAZY!” Kata Kale heboh penuh antusias. “Masa tadi dia ngangkat 4 koper! Dari rumah lo ke rumah ini. Terus juga dia bawa koper yang segede gaban itu ke lantai atas. Gila, kan? Untungnya gue keluar kamar. Jadi tadi gue bantu bawa 3 sisa koper. Seriously! Badan gue sampai pegel-pegel.”

Kale terus saja nyerocos, masih tidak habis pikir dengan kejadian tadi siang. Namun, di tengah ceritanya, ia tiba-tiba berhenti ketika menyadari ekspresi Ardan sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Kakaknya bahkan terlihat tenang, seolah cerita yang baru saja Kale sampaikan bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

“Apa itu udah biasa?” Kale menggeleng-gelengkan kepala tak menyangka. “Gila! Bisa-bisanya lo santai aja sebagai suami.”

Kale kembali menyuapkan martabak ke mulutnya sebelum menambahkan dengan nada seolah sedang menghakimi kakaknya sendiri, “Papi aja dulu nggak gitu.”

Ardan hanya menghela napas panjang. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke halaman sebelum akhirnya menjawab.

“Jelek banget pikiran lo sama Abang sendiri,” Ardan kembali menoleh ke arah Kale. “Resa tuh orangnya emang gitu. Kalau dia udah keukeuh, pasti dia lakuin sendiri. Gue juga udah bilang buat nunggu, tapi dianya ngeyel. Gue juga nggak bermaksud biarin, tapi gimana? di perusahaan lagi hectic-hectic nya.”

Kale mendengus kecil. “Yee, itu kan pilihan lo.” Semprot Kale cepat. “Udah tahu konsekuensinya jadi bagian Dhaneswara berarti mengabdi seumur hidup. Ya itu artinya lo harus siap merelakan jiwa dan raga lo buat perusahaan itu.”

Bagaimanapun, Kale tahu betul bagaimana keluarga mereka bekerja. Sekali memilih untuk masuk ke Dhaneswara Architects, Ardan bukan cuma membawa dirinya sendiri sebagai seorang profesional, tetapi juga membawa nama dan tanggung jawab keluarganya. Jadi, kalau sebagian besar waktunya habis di perusahaan sampai harus pulang tengah malam, Kale rasa itu memang harga yang harus dibayar Ardan.

“Yaudah lah, gue masuk dulu,” kata Ardan akhirnya.

Ia bangkit dari kursinya, mengambil kresek putih berisi martabak, lalu masuk ke dalam rumah. Ardan berharap Naresa masih belum tidur, meski ia tahu jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Istrinya bukan tipe yang terbiasa begadang, jadi kemungkinan besar perempuan itu sudah lebih dulu terlelap.

“Nggak istri, nggak suami gampang banget ngambeknya,” ujar Kale pada dirinya sendiri. Ia ditinggalkan begitu saja padahal bicaranya bahkan belum selesai.

...…...

Ardan membuka pintu kamar dengan perlahan. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu tidur di sisi ranjang. Ia bahkan menahan gagang pintu saat menutupnya kembali agar tidak menimbulkan suara. Namun, baru saja pintu itu tertutup, suara serak Naresa terdengar dari arah ranjang.

“Kak Ardan?”

Ardan mengembuskan napas pelan. Sudah sehati-hati itu pun Naresa masih terbangun.

“Maaf, sayang. Ganggu tidur kamu.” Ia meletakkan kresek berisi martabak di atas nakas di samping pintu, lalu menoleh ke arah Naresa yang kini sudah duduk bersandar pada kepala ranjang dengan mata yang masih berat.

Setelah melepaskan sepatu, ia berjalan mendekati ranjang. Begitu sampai di hadapan Naresa, tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala istrinya sebelum tubuhnya sedikit membungkuk dan bibirnya mendarat di kening Naresa.

“Martabaknya mana?”

Pertanyaan itu langsung menghentikan Ardan. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Naresa yang justru sudah menunggu jawaban.

“Kok yang ditanyain malah martabaknya?”

“Mana?”

Ardan terkekeh geli. “Iya, iya.”

Ia kembali berdiri, mengambil kresek di atas nakas, lalu membawa kotak martabak itu ke ranjang dan menyerahkannya kepada Naresa sebelum duduk di samping istrinya.

“Tumben banget mau nyemil malem?”

“Lagi mau aja.” Naresa membuka tutup kardus martabak yang masih menyisakan sedikit hangat. Aroma manis gurih langsung tercium. “Ini kejunya dibanyakin, kan?” Naresa mengalihkan pandangan kepada Ardan.

“Iya. Spesial itu buat istriku tercinta.” Senyum Ardan langsung mengembang. Seharian bekerja membuat tubuhnya terasa berat, tetapi melihat Naresa masih terjaga dan bisa duduk di sampingnya seperti ini membuat rasa lelah itu seakan berkurang begitu saja.

“Aku bersih bersih dulu, ya.” Ardan bangkit dari duduknya. Sebelum pergi, tangannya kembali mengusak puncak kepala Naresa sekilas.

“Iya.” Naresa mengeluarkan sumpit dari dalam kresek, lalu mengambil sepotong martabak keju dan menyuapkannya ke mulut. Ia mengunyah perlahan, kemudian mengangguk-angguk kecil dengan mata yang sedikit menyipit, seolah rasa martabak itu benar-benar sesuai dengan keinginannya.

Tidak lama kemudian, Ardan keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Ia hanya mengenakan boxer hitam selutut, sementara sebuah handuk tergantung di lehernya dan rambutnya masih basah hingga beberapa tetes air jatuh membasahi bahunya.

“Segarnya~” Ardan mengusap rambutnya menggunakan handuk sembari berjalan mendekati lemari.

“Bajunya belum aku siapin.”

“Gapapa, biar aku ambil sendiri.” Ardan membuka lemari dan memperhatikan deretan pakaian yang sudah tersusun rapi di dalamnya.

“Keramas kok malem-malem sih?” Omel Naresa dari belakang.

“Biar seger.”

Tangannya meraih pakaian seadanya. Baru saja hendak menutup pintu lemari, suara Naresa kembali terdengar.

“Kayaknya aku nggak bisa tidur lagi deh.”

Ardan hanya tersenyum kecil. Ia mengenakan bajunya dengan asal, kemudian kembali mendekati ranjang.

“Ya gapapa, kan ada aku yang nemenin.”

Ardan naik ke atas ranjang dan duduk berdempetan dengan Naresa. Matanya langsung tertuju pada martabak yang masih berada di atas pangkuan istrinya.

“Aaa…” Ardan membuka mulut lebar-lebar. “Suapin.”

Naresa menatapnya sebentar, tetapi tidak banyak protes. Ia mengambil sepotong martabak dengan sumpit lalu menyuapkannya ke mulut suaminya. Ardan langsung melahapnya dengan wajah puas.

Setelah sesi suap-menyuap itu berakhir. Naresa mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambut Ardan. Lelaki itu kini berbaring dengan kepala bertumpu di paha istrinya, kedua matanya terpejam, sementara suara dengung alat pengering rambut memenuhi kamar.

“Capek banget, ya, Kak.”

“Iya. Capek banget. Rasanya mau disayang-sayang terus sama istriku ini,” Ardan membuka mata dengan senyuman yang tak pudar sejak tadi ia datang ke rumah. Ia mendongak, menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh damba.

“Benar-benar, ya, kamu ini nggak ada salting-saltingnya,” kata Ardan begitu tak mendapat respon apa pun dari Naresa.

“Ya emang aku harus gimana? Guling-guling gitu?”

Tawa Ardan langsung pecah begitu saja. “HAHA.”

“Kebiasaan ih. Apa coba yang lucu?” Naresa menggeser kepala Ardan dari pahanya, lalu mengubah posisi duduk.

“Udah beres. Aku mau tidur.” Ia menarik selimutnya yang sejak tadi tertindih tubuh Ardan, kemudian berbaring di sisi kiri ranjang yang biasanya ditempati suaminya. Selimut itu ditariknya sampai menutup kepala.

“Heyy, kok marah?”

Ardan ikut berbaring di belakangnya. Tubuhnya mendekat hingga dadanya menyentuh punggung Naresa, lalu kedua tangannya melingkari tubuh istrinya. “Besok, kita jalan-jalan.”

Naresa yang semula sudah memejamkan mata langsung membuka selimut dan berbalik menghadap Ardan. Jarak mereka kini begitu dekat sampai wajah keduanya hanya dipisahkan beberapa inci. “Jalan-jalan?”

“Iya.”

“Emang nggak kerja?”

“Aku udah luangin waktu buat kita.” kata Ardan tersenyum tulus. “Maaf, ya. Akhir-akhir ini aku sibuk terus.”

Naresa menatapnya beberapa saat sebelum menggeleng kecil. “Kenapa minta maaf? Gapapa kali. Aku paham kok kalau Kak Ardan lagi sibuk.” Ia terdiam sejenak. Tatapannya turun sebelum kembali bertemu dengan mata suaminya.

“Emang… gapapa kalau sekarang kita jalan-jalan? Maksudnya… kan Papi baru aja pergi.”

“Ya gapapa.” Ardan menjawabnya dengan tenang. Tangannya masih mengusap punggung Naresa perlahan. “Lagipula, Papi juga pasti nggak mau aku terus berlarut dalam kesedihan. Kita bahagia sekarang bukan berarti kita lupa sama Papi. Kehilangan seseorang bukan berarti kita harus berhenti menikmati hidup cuma supaya kelihatan kalau kita masih berduka.”

“Wah… Kak Ardan itu emosinya stabil banget, ya. Beda jauh sama aku,” Naresa mengembuskan napas kecil.

Pikirannya kembali pada masa ketika ibunya meninggal. Saat itu, ia begitu tenggelam dalam kesedihannya sendiri sampai tidak mampu memikirkan apa pun selain kehilangan itu. Bahkan setelah mereka menikah, masih ada banyak hal yang belum sanggup ia berikan kepada Ardan. Bukan karena ia tidak menyayangi suaminya, tetapi karena ada bagian dari dirinya yang masih membutuhkan waktu untuk merasa benar-benar siap.

“Maaf, ya. Aku belum bisa jadi istri yang baik buat Kak Ardan.”

“Gapapa, sayang. Kita belajar saling memahami aja. Karena bentuk duka setiap orang, kan berbeda.”

Ia mendekatkan kepalanya, lalu mengecup kening Naresa sekali lagi. “Sekarang kita tidur, ya.”

“Hm. Selamat malam, Kak Ardan.” Kali ini Naresa membalas pelukan suaminya. Lengannya perlahan melingkar di tubuh Ardan, membiarkan dirinya berada dalam dekapan lelaki itu.

Ardan sedikit tertegun. Usapan tangannya di punggung Naresa pun sempat terhenti sebelum kembali bergerak perlahan.

1
tak tahu
kale bawelnya minta ampun
tak tahu
modus?
tak tahu
aku pun begitu tau, kek GK enggeh sama lingkungan sekitar
tak tahu
kale jailnya minta ampun
tak tahu
gila sih, si Ardan kuat bener nahannya 🤣
Yavarnie: Ardan kan laki-laki Sholeh 🤭
total 1 replies
tak tahu
giliran sama orang gaenakan, sama istri seenaknya🙄
Yavarnie: kebanyakan gitu, tapi Ardan enggak kok😍
total 1 replies
tak tahu
hati seorang istri itu luas bgt
Yavarnie: seluas samudera
total 1 replies
tak tahu
nah iya aku pun penasaran, why?
tak tahu
hah? serius?
tak tahu
bener
Yavarnie
apakah Ardan ingin mempunyai istri 2👀
tak tahu
ini mah kesukaan nya si ardan🤭
tak tahu
si Ardan tuh manja bgt ya sis
tak tahu
pewaris pun ada enak gak enaknya ya
tak tahu
ya jangan dibiarin atuh
tak tahu
mantan atlet gak tuh? wkwk🤣🤣
tak tahu
nah bener tuh, bisa sendiri kerjain sendiri
tak tahu
suami kalo di minta tolong emang suka dinanti nantikan
tak tahu
strong women njh ceritanya
tak tahu
ayok kak semangat terus💪 lanjutin ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!