Gadis yang mengidap penyakit mental sepertiku tidak akan bisa menjadi pelukis, dan pria buta warna seperti dirimu? Entahlah, kubur saja impian itu!
Arumi, seorang pelukis yang tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki penyakit mental. Gadis itu mengidap psikosis, membuat imajinasi Arumi hidup dan mulai mengambil alih kewarasannya.
Universitas MILA mempertemukan dirinya dengan Sagaras. Pria buta warna yang ingin sekali menjadi pelukis.
Mampukah mereka berdua melengkapi satu sama lain, Arumi dengan penyakit mental nya, dan Sagaras yang buta warna. Atau mungkin sosok seniman dingin yang mulai menaruh perhatian pada Arumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HibVii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter Nine - Nerds Couple
Decitan ban kendaraan yang beradu dengana aspal masih terdengar jelas, walaupun sudah ditutup oleh kaca transparan yang cukup tebal. Dua cangkir kopi susu sudah tersajikan di atas meja, dengan dua orang gadis yang sedang duduk saling berhadapan.
Flora masih sibuk dengan ponsel dan akun instagram miliknya, sementara itu Arumi menopang dagunya dan memperhatikan mobil dan motor yang lewat. Menunggu sesosok pria yang belum mengisi kursi kosong di samping meja.
Namun pandangan nyaris kosong itu kembali terisi penuh disaat suara tarikan bangku terdengar dari samping wajah. Pria cukup tinggi hadir dan menarik bangku hingga suara gesekannya terdengar sampai ujung caffe.
"Tumben telat, biasanya lo yang paling perfeksionis soal waktu." Flora langsung mencoba mengambil rasa emosi Alby yang baru saja datang. "Urusan sebentar, lagian belum sampe sepuluh menit." Alby menyisir helai rambutnya dengan sela-sela jari yang diangkat keatas mengikuti lekuk kepala.
"Tapi bener lho kata Flora, kamu tumben banget telat. Padahal tadi yang keluar kelas lebih dulu itu kamu lho Alby." Tambah Arumi yang juga menaruh rasa penasaran kepada pria didepannya.
Alby perlahan dipenuhi keringat yang satu persatu mulai menetes dari balik rambutnya, padahal suhu didalam caffe cukup dinging yang membuat dua gadis manis didepannya semakin bertanya-tanya. Dirinya tentu tidak bisa terus terang memberitahu kedua sahabatnya kalau dia baru saja menghajar Sagaras tadi.
Namun pandangan Arumi semakin dalam menatap bola mata Alby. Pria itu seolah tidak bisa menepis pandangan tajam itu. Kelopak mata Arumi terlihat indah bagaikan bunga mawar yang cerah habis diterpa matahari. "Kalian berdua tuh kepo banget sih jadi orang." Ujar Alby sambil memamerkan wajah triplek ikoniknya, datar seperti karakter animasi yang sekarang digandrungi para remaja. Flora dan Arumi menatap satu sama lain sebelum keduanya tertawa kecil.
***
Jarum jam sudah menunjukan pukul lima sore, namun Arumi masih terlihat di pinggir jalan alih-alih dirumah seperti biasanya. Gadis itu duduk manis di bangku trotoar sembari melihat kumpulan mobil yang melewatinya bagaikan kerumunan semut yang sedang berkumpul.
Di lengan nya hanya terdapat tablet gambar yang selalu dia bawa kemana-mana. Lirikan matanya memperhatikan lalu lalang aktivitas senja manusia, para pedagang, orang-orang kantor yang baru saja pulang.
Perlahan lengannya mulai mengambil pena hitam pekat yang menempel di samping tablet.
Kepalanya turun dan naik. Melihat sekitar kemudian melihat tablet gambar. Goresan garis mulai disilangkan, warna hitam tipis perlahan memenuhi layar.
Garis tipis yang semakin tebal seiring Arumi mulai menghubungkan semua sisi ujung, membuat sebuah sketsa pemandangan kota di sore hari. Bangku yang cukup lebar dikuasai dirinya seorang.
Tas biru cukup besar yang diisi oleh alat-alat gambar dan juga beberapa botol pil obat yang rutin Arumi konsumsi setiap sore. Arumi memang sudah memberitahu kakaknya Serena kalau dirinya akan pulang malam untuk hari ini.
Gadis itu akan menghabiskan berjam-jam mengelilingi dan mengamati area stasiun Juanda. Memperhatikan kehidupan disana untuk diterjemahkan kedalam lukisan digital yang akan dia serahkan di ujung bulan Mei.
Mungkin belum banyak yang tahu mengenai "Coretan Asa". Event nasional yang diadakan setahun sekali. Dimana semua seniman bisa mempublikasikan karya terbaik mereka didalam ruangan super luas untuk dilihat jutaan pasang mata.
Tahun ini event itu akan diadakan dalam rangka antar Universitas.
Semua seniman muda dari Universitas di seluruh Indonesia akan dikumpulkan menjadi satu.
Arumi sedang menyiapkan karya terbaiknya untuk itu, kesempatan yang hanya datang satu tahun sekali tidak bisa dia lewatkan. Semua orang akan melihat karya lukisan terbaiknya. Impian Arumi untuk menjadi pelukis sebenarnya sudah ada didepan matanya.
Semangat keluar deras setiap Arumi mengingat tentang event Coretan Asa. Rasa gembira memuncak hingga gadis itu tersenyum sendiri didalam kerumunan manusia dan kendaraan yang mengerumuni dirinya.
Gigi putih dan bibir sedikit merahnya terlihat menggemaskan, gadis dengan rambut sebahu itu semakin lancar menggores layar tablet nya dan membentuk berbagai macam bentuk sketsa. Pandangan nya diisi oleh jalan raya yang dipenuhi mobil, tetapi itu semua berubah.
Hamparan mobil itu kini berubah menjadi sesosok tubuh pria tinggi yang menghadap tepat ke arah Arumi. Gadis itu sontak memalingkan tablet gambar dan mengumpulkan cahaya matanya.
"Sagaras!" seru Arumi sembari melambaikan kedua lengan nya bak tukang parkir. Sagaras perlahan menghampiri Arumi dengan wajah penuh senyuman. Pria itu tertawa sendiri melihat tingkah Arumi.
"Sore gini emang enaknya ngelukis." Sagaras duduk disamping Arumi sembari menatap langit sore yang masih cukup terang. "Iyah, makanya aku disini. Lihat deh Saga, view nya cakep banget kan kayak kota metropolitan tahun 90an."
Arumi menunjuk beberapa bangunan tua yang berjejer panjang. Sagaras menatatapi Arumi, gadis itu murah senyum dan selalu tertawa dimanapun Sagaras bertemu dengan nya.
Belum pernah Sagaras melihat raut wajah Arumi tanpa senyuman. Senyuman manis itu selalu mengikuti Arumi dimana dan kapanpun. "Kayak kemarin, walaupun masih sketsa tapi kecantikan gambarnya udah kelihatan." Sagaras kembali memainkan tatapan matanya dengan secercah tawa di sela-sela tatapan matanya.
"Oh iya, kamu lagi apa disini Saga?"
"Aku lagi iseng aja jalan di daerah sini, terus aku ngeliat gadis cantik yang lagi ngarahin kanvas digital nya." Arumi sontak tersipu malu mendengar hal itu. Kalimat pujian itu membuat jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kamu udah makan? Mau makan malem bareng?" Sagaras menaruh semua tatapan matanya di wajah Arumi yang terlihat kaget dengan pertanyaan itu. DINNER? Arumi langsung membuang pikiran random nya itu.
"Aku yang bayar, kita pesen meja nya di lantai dua, jadi view kota nya masih keliatan." Jantung Arumi kembali berdetak kuat, ini adalah pertama kali seorang pria mengajaknya makan malam bersama. Tanpa sadar Arumi mengangguk kecil yang membuat Sagaras tertawa senang.
"Yaudah yuk kesana, biar aku bantuin beresin peralatan lukis kamu." Ujar Sagaras sembari menepuk kepala Arumi pelan. Semar kemerahan langsung memuncak dan memenuhi pipi gembul Arumi.
Gadis itu menatap Sagaras yang masih mengemasi alat gambar miliknya, tidak lama pria itu membawa tas biru Arumi dan berjalan menyusuri trotoar jalan yang cukup ramai. "Ih Saga kok kamu yang bawa tas aku sih." Arumi sedikit memajukan bibir nya.
"Biar kayak di film gitu, si cowok yang bawain barang ceweknya." Arumi kembali menatap Sagaras dengan tatapan aneh, Sagaras langsung mengusap kening nya. Tanpa sadar dirinyamengucapkan kalimat tadi yang membuatnya salah tingkah sendiri.
Arumi hanya tersenyum kecil saat perjalaan menuju restoran. Kedua manusia itu melangkahkan kakinya beriringan, melewati padatnya kehidupan di sore hari, langit jingga perlahan menghilang, lampu jalan beriringan menyala.
Lantunan angin dingin menyapa keduanya yang tengah menyantap hidangan malam di atas ruangan sebuah restoran.