Indonesia
NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 08

Sedikit mengeluh tidak akan membuat jiwa berhenti dari tanggung jawabnya. Dan lelah pun juga menjadi hal biasa singgah pada sukmanya. Tersenyum kecil melihat keluar jendela, untuk menghirup udara malam hari. "Tidak terlalu buruk."

Teriakan dari bawah membuat Yuman tersenyum masam, moodnya perlahan hilang. "Kenapa aku tidak bisa hidup tenang di rumah ini?"

Dengan langkah malas, Yumna keluar dari kamarnya. Ia menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu, hingga menimbulkan suara lirih di setiap pijakannnya. Begitu sampai di bawah, aroma lezat yang mengunggah selera napsu makan. Membuat sudut bibir itu tersungging. Berjalan mendekati sang ibu yang tengah sibuk mengaduk isi panci di atas kompor.

"Yum__" belum juga panggilan itu selesai. Suara Yumna lebih dulu terdengar, membuat sang ibu spontan membalikkan tubuhnya. Menatap Yumna berada dengan napas sedikit gusar, karena ada rasa terkejut di batinnya.

"Aku ada disini." Ujar Yumna tidak terlalu keras. Telah duduk di kursi makan dengan handphone yang dia simpan di atas meja. Raut wajah Yumna tidak bisa menyembunyikan rasa lelahnya, dan energinya pun belum sepenuhnya pulih.

"Jika kamu sudah selesai mandi dan berpakaian, seharusnya kamu langsung turun. Ibu tidak mau melihat mu sakit karena telat makan." Penuh kekhawatiran yang terselip disetiap kata yang keluar dari mulut sang ibu. Membuat kepala Yumna mengangguk pelan.

"Makanlah lebih dulu, ibu harus menghubungi kakak mu." Pinta sang ibu, sembari mematikan api yang menyala di kompor itu.

"Aku akan mengirimnya pesan." Tidak begitu cepat, Yumna mengatakannya. Meraih benda pipih itu untuk membuka ruang obrolannya bersama saudara kandungnya.

"Dia bilang akan pulang terlambat malam ini." Adu Yumna, meletakkan handphonenya. Dan memilih untuk menyumpal mulutnya dengan makanan di hadapannya.

"Lagi!" Seru sang ibu, yang hanya bisa membuang napas. Jika pun hal itu bukan kali pertamanya, tapi rasa khawatir seorang ibu tidak bisa di sembunyikan.

"Jika ibu tahu resikonya bekerja di bawah pengawasan Tirtha, seharusnya ibu tidak lagi terkejut akan hal itu." Yumna menelan makananya lebih dulu. "Dan mungkin, ibu harus menyiapkan mental ibu lagi. Jika suatu saat nanti aku juga tidak pulang kerumah karena sebuah pekerjaan."

"Tirtha tidak akan membiarkan mu bermalaman di perusahaannya." Keraguan itu ada didalam benak sang ibu.

"Hari ini ibu harus melihatnya sebagai contoh. Di hari pertama ku bekerja. Aku pulang tidak tepat pada waktunya, seperti apa yang Tirtha katakan sejak awal padaku." Sedikit menekankan perkataannya. Yumna kembali menikmati makanannya.

"Tapi sisi lain, aku harus mensyukuri hal itu. Karena aku mendapat pekerjaan, tanpa harus susah payah mencarinya." Sambung Yumna dengan seyumannya. Mampu membuat kelegaan singgah pada sang ibu. "Dan... Aku tidak perlu meminta uang pada ibu, untuk membeli barang yang aku suka."

Diam sejenak, Yumna meletakkan sesok di tangannya. Bukan berarti napsu makananya hilang. Hanya saja, Yumna ingin mengobrol lebih dengan ibunya untuk mengurangi unek-uneknya dalam benak.

"Aku mendapat bagian yang tidak begitu buruk, atasan ku pun juga sangat ramah." Itulah Yumna, dia akan mengatakan apapun pada ibunya. Karena Yumna juga tidak mau menyimpannya sendiri. Entah itu senang atau sedih, entah itu menyusahkan atau tidak. Yumna pasti akan membagi hal itu pada ibunya.

Karena sejak dulu Yumna sering mendapat peringatan dari sang kaka, 'jika ada masalah sekecil apapun itu. Kau harus tetap mengatakannya pada ibu. Karena hanya dia yang mampu mendengar keluh kesah mu.'

"Terus bagaimana dengan teman-teman kerja mu?" Sekilas sang ibu melihat Yumna, dan kembali fokus pada pisau di tangannya yang mengupas kulit buat apel.

"Emmm, tidak begitu buruk juga." Kepala Yumna mengangguk kecil, dengan kepala yang mengingat bagaiman sikap teman-temannya di tempat kerja.

"Tanpa aku meminta bantuan mereka, mereka lebih dulu mengajukan diri. 'Apa yang tidak bisa kau kerjakan?' itu yang sering mereka katakan." Berkata jujur bukanlah hal sulit bagi Yumna.

"Jika pun sikap mereka acuh tidak acuh. Tapi mereka benar-benar baik padaku. Aku juga tidak bisa jika tidak menyukai mereka. Karena aku ingin berteman dengan mereka." Pengakuan dari lebih anti Yumna, semakin membuat lengkungan itu terlihat jelas.

"Dan__" gantung Yumna, menatap lurus makanannya. Senyum itu tidak luntur sedikit pun. Karena bayangan hangat itu singgah di kepalanya.

Sedangkan sang ibu kini mengerutkan keningnya, menatap Yumna penuh tunggu. Karena begitu ingin tahu apa yang ingin di katakan Yumna.

Saat kedua pasang mata itu bertemu, Yumna menggelengkan kepalanya dengan senyumnya. "Sepertinya aku tidak perlu mengatakannya saat ini." Malu Yumna. Semakin membuat ibunya penasaran.

Tapi sebisa mungkin, wanita setengah paruh baya itu menahannya. Karena ia tahu, Yumna pasti akan mengatakan hal itu padanya. Mungkin saat ini bukan waktu yang tepat, Yumna membisikan kalimat indah itu.

"Habiskan lah makanan mu, setelah itu pergilah tidur. Kamu harus bangun pagi esok hari." Ucap sang ibu, sembari menyodorkan wadah sedang yang berisi beberapa potongan buah apel.

Kepala Yumna menggeleng sebentar, seperti tidak menyetujui apa yang dikatakan ibunya. "Aku tadi sempat bertemu dengan Tirtha. Dia bilang waktu kerja di mulai pukul 9 pagi, jadi aku tidak perlu bangun terlalu pagi."

Suara pintu yang terbuka dari luar, membuat ibu dan anak itu menoleh kearah pintu. Walaupun ada dinding yang menghalangi, tapi mereka tetap menunggu siapa tamu itu.

Dan saat tahu, Yumna dengan kesadaran penuh membuang napas masam. Kembali memasukan potongan apel itu ke dalam mulutnya. Tapi berbeda sang ibu yang tersenyum lebar, menyambut kedatangan anak pertamanya.

"Yumna bilang kamu akan pulang terlambat, tapi bagi ibu ini lebih cepat dari biasanya." Riang sang ibu, yang mendapat senyum hangat dari orang itu.

"Benarkah, kamu bilang seperti itu pada ibu?" Dengan gemas tangan kekar itu mengacak sedikit kepala Yumna, hingga beberapa helaian rambutnya menutupi wajahnya.

Yumna meniup udara, dengan kesal yang mulai menyelimuti tubuhnya. "Jauhkan tangan kotor mu dari kepala ku!" Tajam Yumna menata saudaranya penuh peringatan

"Tidak mau!!" Tanpa memperdulikan apa yang terjadi pada dirinya. Pria itu kembali mengacak-acak rambut milik Yumna.

"Ku bilang berhenti!!" Seru Yumna, sembari mendorong tubuh kakaknya yang tidak bergerak sama sekali.

"Kenapa aku tidak bisa mengalahkan mu?" Raut wajah sedih Yumna tampilkan, yang malah menbuat pria itu tertawa kecil melihat ekspresi Yumna.

"Karena kamu begitu penakut untuk melawan." Rendah sang pria, yang semakin membuat Yumna tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.

Sedangkan sang ibu yang melihat keakuran kedua anaknya itu tersenyum hangat. Sangat-sangat bersyukur karena bisa membesarkan dengan baik.

"Ibu akan mengambilkan piring untuk mu." Rendah sang ibu yang langsung beranjak dari duduknya, untuk menyembunyikan air matanya yang hampir saja membobol benteng pertahanannya.

Hal itu membuat anak pertama mengalihkan pandangannya. Menatap lembut ke arah punggung sang ibu dengan sorot mata penuh arti. Tapi pria itu dengan cepat menyunggingkan senyum tipisnya, agar adik kecilnya tidak melihat kesedihan yang terselip pada jiwanya.

1
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!