Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9_Pertemuan yang tidak terduga

Aku langsung terbangun di sebuah ruangan yang gelap. Udara nya dingin dan pengap, hanya ada gema napasku sendiri yang berat.

*Hah... hah...*

_dimana aku?? Bagaimana caraku bisa ada di tempat ini_

Tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilku dari kegelapan. Suaranya datar, rendah.

"hei.. kai, apa yang kau lakukan disini??"

Seorang pria yang sedang duduk di kursi muncul perlahan dari gelap. Rambutnya yang putih tergerai, dan mata merahnya yang tajam sedang melihat diriku lekat-lekat.

Entah kenapa badanku langsung gemetar, jantung ku berdetak kencang setelah melihat pria itu. Wajahku memucat seketika.

_orang ini.. berbahaya!! Auranya bukan main!!_

Dia langsung mengangkat kakinya dengan santai dan bertanya kepadaku, matanya menyipit serius.

"kai?? Apa yang kau lakukan disini??" sambil menatapku dengan tatapan menusuk.

Badanku masih belum berhenti gemetar, keringat dingin mengucur di pelipisku, namun aku mencoba memberanikan diri dengan cara menampar keras kedua pipiku dengan tanganku.

*Plak! Plak!*

"aku tidak tahu kenapa aku juga bisa berada di tempat ini?? Dan tolong jawab aku.. Tempat apa ini sebenarnya?? Siapa kau sebenarnya?? Dan kenapa bisa mengetahui namaku??" Suaraku bergetar, mataku membelalak.

Dia tersenyum tipis setelah mendengar pertanyaan ku, sudut bibirnya terangkat.

"kau terlalu banyak bertanya, tapi... Baiklah aku akan jawab pertanyaan mu satu persatu" Wajahnya tenang, tapi matanya dingin.

Aku menatapnya dengan serius walaupun seluruh badanku tidak bisa bergerak karena masih gemetar ketakutan, rahangku mengeras menahan gugup.

Dia langsung berdiri dan berjalan ke hadapan ku. Lantainya tidak bersuara saat dia melangkah, ringan seperti bayangan.

"tempat ini adalah penjara dimensi yang diciptakan khusus untuk menahan ku"

Dia menjetikan jarinya.

*Tik!*

Seketika seluruh ruangan gelap itu berubah. Cahaya redup muncul perlahan. Kini di sekeliling ada banyak sekali jam dengan jarum yang berdetak tidak sinkron, dan di belakangnya terdapat sebuah tangga yang mengarah ke suatu tempat yang bersinar terang di ujungnya.

*Tik... tak... tik... tak...*

Keringatku mulai bercucuran deras, aku langsung jatuh berlutut karena tidak percaya dengan apa yang kulihat disini. Wajahku pucat pasi, mataku terbelalak.

*Duk!*

_oii.. jika dia ditempatkan ditempat seperti ini, artinya dia bukan orang sembarangan_

Dia langsung kembali ke tempatnya dan duduk kembali seakan-akan sudah terbiasa dengan tempat ini, lalu dia tersenyum kecil, wajahnya datar.

"tadi kau bertanya siapa aku kan?? Aku adalah dewa kehancuran, puncak dari kebijaksanaan dalam ilmu sihir"

"Dia adalah.. dewa kehancuran" Mataku membelalak, napasku tercekat.

Aku langsung mengepalkan tanganku erat sampai bergetar, dan pedang mana tadi muncul kembali di tanganku. Udara di sekitarku bergetar pelan.

*Wung...*

"jadi kau" Mataku menatap tajam ke arahnya, merah karena amarah, alisku berkerut dalam dan tanpa pikir panjang aku langsung berlari untuk menyerangnya.

"yang menghancurkan HIDUPKU!!"

Dia menghela nafasnya pelan, wajahnya terlihat bosan.

"huhh... Sebaiknya kau dengarkan pembicaraan orang sampai akhir"

Dia langsung memegang pedangku dengan tangannya yang berubah, seakan-akan digantikan oleh mana hitam yang berdenyut di dalam tubuhnya.

*Grep!*

Aku langsung berusaha mencabut pedang ku yang masih berada di genggamannya dengan sekuat tenaga, wajahku meringis, urat di leherku menonjol, tapi percuma. Pedangku tidak bergerak sedikitpun, dan dia terlihat sangat santai melihat perjuangan ku, matanya setengah terpejam.

"Sebe-nar-nya si-apa kau ini??"

Dia langsung menyerap pedangku ke dalam tubuhnya. Ada suara berdesir pelan seperti air disedot.

*Sruuutt...*

Aku pun terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat, mulutku terbuka. _dia menyerap pedangku??_ lalu aku menyadari sesuatu. Wajahku menegang.

_orang ini seluruh tubuhnya adalah terbuat dari mana_

Dia tersenyum ke arahku, matanya menyipit puas.

"dari reaksi mu, sepertinya kau sudah mengerti tentang kekuatan ku"

"Baiklah akan ku jawab pertanyaan terakhir mu, kenapa aku bisa mengetahui namamu?? Karena kau dan aku memiliki takdir yang sama"

Mataku menatap tajam ke arahnya sembari menggertakkan gigiku karena marah, rahangku mengeras.

"sama katamu?? Mana mungkin itu terjadi!! Wajahku memerah menahan emosi.

Dia langsung memunculkan sebuah kursi lagi untukku. Kursinya muncul tanpa suara, dari bayangan.

"sebaiknya kau duduk saja, karena pembicaraan ini... Akan sangat lama" sambil menatap dengan tatapan yang tajam dan dalam.

Tanpa pikir panjang aku pun langsung duduk di kursi itu. Dingin menusuk punggungku.

"hmm.. kenapa kau sangat yakin bahwa kita memiliki takdir yang sama??" Suaraku masih gemetar.

"Karena aku juga... Tidak bisa menggunakan sihir" dia menjawab dengan santai, wajahnya datar tanpa beban.

Aku sudah tidak terkejut lagi karena semua yang dia ucapkan sebelumnya, mataku hanya berkedut.

"ehh.. jadi maksud mu kau dan aku itu pada dasarnya sama??"

"Itu benar sekali.. tapi sebagai gantinya kita memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan batas kenormalan dunia ini" Matanya berbinar tipis.

Tenggorokanku terasa tercekat, keringat ku bercucuran, napasku pendek.

"maksudmu Mana Eater??"

"Benar sekali.. Kekuatan itu memungkinkan kita untuk menyimpan mana di dalam tubuh kita... Tanpa batasan" Dia menyandarkan punggungnya, tersenyum.

[INGATAN MASA LALU]

Aku mengingat saat pertama kali mengeluarkan pedang saat melawan orc tersebut

[AKHIR INGATAN MASA LALU]

"Jadi semua kekuatan yang aku punya adalah..."

Dia menganggukkan kepalanya pelan.

"itu adalah salah satu dari kekuatan Mana Eater. Pada dasarnya kekuatan ini tidak memungkinkan dirimu untuk menggunakan sihir karena seluruh mana di dalam sihirmu akan diserap, tapi sebagai gantinya kau bisa melancarkan serangan yang dibentuk baik oleh mana di luar tubuhmu atau didalam tubuhmu"

"Hebat... Tapi dengan kekuatan sehebat itu kenapa kau menjadi penjahat??" Alisku berkerut bingung.

"Penjahat?? Ahh.. aku mengerti" Wajahnya sedikit menyeringai kesal "nampaknya selain mengkhianati ku dia sengaja menyebarkan berita palsu agar aku dibenci semua orang"

Aku terkejut mendengar apa yang dia bicarakan, mataku melebar.

"apa maksudmu?? Bukankah kau yang menyerang para Dewa terlebih dahulu, dan pada akhirnya berakibat peperangan yang memunculkan ras iblis"

"Lebih tepatnya aku lah yang membuat ras iblis" Jawabnya datar.

Aku mulai kebingungan dengan semua jawabannya, kepalaku pusing.

"tunggu-tunggu, tolong jangan membuat ku bingung dengan semua jawabanmu"

"Ahh.. apakah kau belum tahu, pada dasarnya kami para dewa menciptakan berbagai ras untuk menghindari dunia ini hancur."

"Yang pertama dewa perang (Hermes), dia menciptakan dwarf yang menguasai sihir penguatan."

"Yang kedua dewi roh (Sylvia), dia menciptakan elf yang menguasai sihir roh."

"Yang ketiga Dewi kehidupan (Olyver), dia menciptakan dark elf yang menguasai sihir pelindung."

"Yang keempat dewa alam (Gaia), dia yang menciptakan Beastkin yang menguasai sihir Qi."

"Yang kelima dewi kasih sayang (Luciel), dia menciptakan manusia yang memiliki bakat untuk menggunakan sihir ras lain."

"Lalu ada aku dan vain, karena kamu berdua adalah dewa yang paling kuat diantara mereka semua jadinya kami memutuskan untuk membuat ras kuat yang dapat melindungi ras lain"

Aku pun mulai mengerti dengan apa yang dia ucapkan sekarang, wajahku serius menyimak.

"dan itu adalah ras iblis?? Lalu bagaimana dengan dewa vain?? Apa yang dia ciptakan?? Mungkinkah itu Naga??"

Dia tampak sedikit terkejut setelah aku bertanya seperti itu, alisnya terangkat tipis.

"aku tidak tahu.. bahkan para dewa lainnya pun kemungkinan tidak mengetahuinya, karena pada awalnya pembuatan ras yang kami ciptakan bersifat rahasia. Tapi aku sedikit tertarik dengan Naga yang kau sebutkan"

"Ehhh.. mungkinkah kau tidak mengetahuinya??"

Dia diam dan berpikir sejenak sambil sedikit bergumam, matanya menatap jam-jam yang berdetak.

"mungkinkah karena hal itu.."

Aku pun langsung bertanya kepadanya karena penasaran dengan apa yang dia gumamkan, wajahku mendekat.

"jadi.. apa kau mengetahui nya??"

"Sepertinya itu adalah karena ku juga, mungkin saja makhluk itu tercipta akibat ledakan dari serangan yang aku buat ketika melawan vain di masa lalu" Wajahnya tetap tenang.

_hoii.. seekor makhluk yang dapat meratakan satu kerajaan tercipta karena serangan yang dilakukan orang ini!?_ Mataku membelalak tidak percaya.

Dia langsung menatap ku dan berdiri perlahan. Suasana jadi makin sunyi dan berat.

"sepertinya waktu pertemuan kita sudah habis"

Aku pun langsung berdiri dengan panik.

"apa maksudmu??"

Tiba-tiba ada gerbang yang muncul di belakangku. Gerbang itu berpendar pelan dan terasa seperti menghisap, angin tertarik ke dalamnya.

*Wuuung...*

"gerbang apa ini?? Kenapa tubuhku seperti seakan sedang ditarik??" Tubuhku condong ke belakang, tanganku mencoba berpegangan.

Dia langsung mendorongku ke dalam gerbang itu sambil berkata. Wajahnya tersenyum tipis, matanya lembut untuk pertama kalinya. Cahayanya menelan suaranya.

"suatu hari nanti jika kau sudah menemukan jalan takdirmu sendiri.. Aku yakin kita akan bertemu lagi"

*Fwoosh...*

kata-kata itu menghilang bersamaan dengan diriku yang terus dihisap ke dalam ujung gerbang ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!