Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Lucien perlahan menerima cangkir plastik itu dari tangan Eliana. Dengan ragu-ragu, ia menurunkan sedikit masker hitam yang menutupi bagian bawah wajahnya, lalu menyesap cairan hijau pekat itu lewat sedotan.
Seketika, kombinasi rasa pahit yang khas, manis yang pas, serta tekstur creamy dari susu langsung meledak di indera pengecapnya. Rasa segar yang belum pernah ia rasakan dari teh-teh mahal kerajaan mendadak menyeruak, memberikan sensasi menenangkan yang begitu asing di tenggorokannya.
Lucien terdiam sejenak. Enak, batinnya jujur. Namun, ego dan gengsinya sebagai pewaris takhta Kerajaan Valdoria terlalu tinggi untuk mengakui hal itu di depan seorang pelayan.
Ia kembali memasang raut wajah dingin dan datar, lalu berdehem pelan. "Biasa saja. Rasanya terlalu aneh untuk lidah bangsawan," ucapnya berpura-pura tidak terkesan, meski tangannya tetap menggenggam erat cangkir matcha tersebut dan kembali menyesapnya pelan.
Eliana yang melihat itu cuma bisa menyunggingkan senyum geli. "Halah, gengsi gede banget! Itu buktinya disedot terus sampai mau habis," cibir Eliana dalam hati, yang tentu saja langsung terngiang amat jernih di kepala Lucien.
DZZZZ... DZZZZ...
Getaran nyaring dari saku hoodie Lucien memecah suasana. Pangeran Mahkota itu merogoh ponselnya. Di layarnya, tertera nama pembayar pajak paling berpengaruh sekaligus pejabat paling senior di kerajaan: Perdana Menteri Oberon.
Lucien mengangkat telepon itu dan menempelkannya ke telinga.
"Ada apa, Perdana Menteri?" tanya Lucien dengan suara berat.
Dari seberang telepon, suara Perdana Menteri Oberon terdengar begitu berat, tegas, namun terselip nada desakan yang halus. "Yang Mulia Pangeran Mahkota, mohon segera kembali ke Istana Utama sekarang. Dewan Tertinggi Kerajaan dan Ayahanda Raja telah berkumpul di Ruang Rapat Agung. Kita harus segera meresmikan dan menandatangani dokumen percepatan pewarisan takhta hari ini juga demi stabilitas kerajaan."
Lucien memicingkan matanya. "Hari ini? Bukankah jadwal peresmiannya masih bulan depan?"
"Kondisi politik sedang memanas, Yang Mulia. Kita tidak bisa menundanya lagi," potong Oberon dengan nada berwibawa yang seolah tak menerima bantahan.
Eliana, yang berdiri hanya dua jengkal di sebelah Lucien, menahan napasnya rapat-rapat saat menyerap percakapan tersebut. Ingatan tentang babak klimaks paling berdarah di novel Tahta & Darah Valdoria mendadak melintas liar di kepalanya.
Dada Eliana berdebar kencang. Rasa ragu dan dilema yang amat sangat mendadak menghimpit hatinya.
"Aduh... gimana ini?" batin Eliana panik. Matanya menatap profil wajah Lucien dari samping pria yang tampak begitu kokoh di luar, namun sebenarnya terus dikepung oleh orang-orang paling licik yang paling ia percayai. "Harus gak ya gue bantu dia? Gue kan cuma mau selamat dan hidup tenang... Tapi kalau dibiarin, cerita novel ini bakal sad ending parah buat semua orang! Keluarga kerajaan dibantai, Althea bunuh diri, Lucien mati mengenaskan..."
Rasa kasihan yang mendalam mengalahkan niat egois Eliana untuk angkat kaki.
"Gimana caranya gue bilang ke dia..." ratap Eliana dalam batinnya, menyusun kalimat ketakutan yang meluncur mulus tanpa hambatan ke dalam otak Lucien. "Gimana caranya gue harus kasih tahu Pangeran kalau Perdana Menteri Oberon itu monster yang sebenarnya?! Dia yang nyusun skenario dari dulu biar Pangeran dilatih secara keras dan tidak manusiawi sejak kecil! Dan yang paling gila... Oberon itu adalah otak sekaligus tangan kanan di balik kasus pembunuhan ibu kandung Pangeran Lucien sendiri!"
PRANG!
Suara keras benda plastik dan kaca yang menghantam lantai batu mendadak mengejutkan area jalanan yang sepi itu.
Ponsel canggih bernilai ratusan juta di tangan Lucien terlepas begitu saja dari genggamannya, jatuh tersungkur ke atas trotoar dengan layar yang mendadak retak seribu.
Seluruh persendian tubuh Lucien mendadak kaku. Napasnya terhenti total di tenggorokan, dan manik mata birunya yang biasa sedingin es kini membelalak sempurna, memancarkan guncangan dan rasa shock yang paling dahsyat sepanjang hidupnya.
Suara dari telepon masih samar-samar terdengar memanggil nama sang Pangeran dari lantai, namun Lucien sudah tidak mendengarnya lagi. Tatapannya yang bergetar hebat perlahan bergeser, terkunci sepenuhnya pada wajah Eliana menatap gadis pelayan itu dengan gabungan rasa tidak percaya, ketakutan, dan kehancuran mendalam yang membuat jiwanya serasa dihantam badai.
Lina menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap sedih ke arah ponsel Lucien yang hancur berantakan di atas tanah. Rasa prihatin yang amat sangat kembali meletup di dalam hatinya, dan setiap patah kata dari jeritan batinnya terus mengalir lancar masuk ke dalam pikiran Lucien yang sedang membeku.
"Gila... kalau dipikir-pikir lagi, Pangeran Lucien ini bener-bener ditipu habis-habisan sama semua orang di istana," ratap Lina dalam batinnya, menggelengkan kepala pelan. "Sepanjang hidupnya, dia cuma tahu kalau ibu kandungnya Sang Ratu terdahulu meninggal secara alami karena sakit parah. Padahal kenyataannya kelam dan menjijikkan banget!"
Lina menelan ludahnya yang terasa pahit, mengingat detail sejarah kelam keluarga kerajaan yang ditulis di bab-bab pertengahan novel Tahta & Darah Valdoria.
"Ratu yang asli itu bangsawan murni pemilik darah tahta tertinggi. Sementara Ayahnya Raja yang sekarang dulu cuma rakyat biasa yang dinaikkan derajatnya karena pernikahan politik," lanjut Lina dalam hatinya, menceritakan kebenaran pahit yang tak pernah tercatat di buku sejarah mana pun. "Tapi bukannya tahu diri, si Raja malah berani bawa selingkuhannya masuk ke lingkaran dalam istana! Pas Sang Ratu tahu dan mengancam bakal mencabut seluruh kekuasaannya, si Raja yang panik dan haus tahta itu dibantu sama Perdana Menteri Oberon malah nekat membunuh Sang Ratu secara diam-diam dan merekayasa kematiannya seolah-olah karena sakit parah!"
Garis rahang Lucien mengetat hingga rasanya mau pecah. Seluruh badannya gemetar hebat. Kenyataan bahwa ibu kandung yang sangat ia rindukan tewas di tangan ayah kandungnya sendiri akibat rasa serakah dan perselingkuhan membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Dan yang paling bikin miris..." tambah Lina lagi, menatap wajah Lucien yang makin pucat pasi dari balik kupluk hoodie-nya. "Ibu suri yang dia panggil 'Ibu' sekarang wanita selingkuhan yang akhirnya diangkat jadi Ratu baru itu sama sekali gak ada sayang-sayangnya sama Lucien! Dia cuma pura-pura baik di depan publik demi mempertahankan posisi anaknya sendiri, sementara di belakang, dia ikut ngerancanain hal-hal buruk buat nyingkirin Pangeran."
Lina menghela napas panjang, menatap pria tegap di hadapannya yang kini tampak bagaikan sosok paling kesepian dan paling malang di seluruh dunia.
"Kasihan banget Pangeran Lucien... Dikelilingi orang-orang yang dia kira keluarga, padahal semuanya cuma serigala berbulu domba yang nunggu waktu buat makan dia hidup-hidup."