Indonesia
NovelToon NovelToon
Talakmu, Kebebasanku

Talakmu, Kebebasanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.

Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.

Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.

Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.

Mia terpuruk.

Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.

"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Malam itu kembali meninggalkan luka yang sulit dijelaskan oleh Mia. Ia terbaring membelakangi Edo, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kamar kontrakan yang sempit terasa begitu sunyi, meskipun suara napas Edo terdengar jelas dari sebelahnya.

Mia menatap dinding dalam diam. Ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada suaminya. Tentang rasa sakitnya. Tentang perasaannya yang selama ini sering diabaikan. Tentang bagaimana ia ingin diperlakukan bukan sekadar sebagai seorang istri yang harus selalu memenuhi keinginan suami.

Namun, setiap kali mencoba bicara, Mia selalu berakhir mengurungkan niat. Sebab Edo hampir tidak pernah benar-benar mendengarkannya. Lelaki itu hanya memikirkan dirinya sendiri.

Mia mengusap sudut matanya yang basah. "Kenapa kamu semakin berubah, Do?"

Dulu, Edo tidak seperti ini. Dulu, lelaki itu begitu perhatian kepadanya. Ketika Mia kelelahan bekerja, Edo akan bertanya apakah ia sudah makan. Ketika Mia sakit, lelaki itu bahkan pernah rela tidak masuk kerja demi mengantarnya berobat.

Namun, semua itu terasa seperti kenangan dari kehidupan yang berbeda.

Kini, Mia justru lebih sering merasa sendirian meskipun tidur di samping suaminya sendiri. Ia menarik napas panjang. "Apa aku sudah tidak berarti lagi buat kamu?" Tidak ada jawaban.

Edo sudah tertidur pulas. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Mia perlahan bangkit dari tempat tidur. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian kembali ke kamar dengan langkah pelan. Ia tidak ingin membangunkan Edo.

Setelah kembali berbaring, Mia menatap langit-langit kamar. "Ya Allah..." bisiknya nyaris tanpa suara. "Beri aku kekuatan." Ia memejamkan mata. Besok ia harus bekerja lagi. Ia tidak boleh larut dalam kesedihan.

Masih ada cicilan motor yang harus dibayar. Masih ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Masih ada impian ingin segera punya rumah yang harus ia wujudkan. Dan sebagai seorang istri, Mia merasa dirinya harus tetap bertahan.

Bagaimanapun juga, Edo adalah suaminya. Lelaki yang dulu ia pilih untuk menjadi teman hidupnya. Mia kembali mengusap pipinya. "Mungkin suatu hari nanti Edo akan berubah," gumamnya. "Allah Maha membolak-balikan hati. Dan aku yakin... Allah pasti akan membolak-balikan hati Edo juga. Dia pasti akan menjadi Edo yang dulu lagi. Yang mencintaiku dengan sepenuh hati." Dengan pikiran itu, akhirnya Mia mencoba memejamkan mata.

________

"Mi, mana duit yang seratus teh?"

Mia yang baru selesai memakai kerudung menoleh pada Edo yang sudah siap dengan seragam kerjanya. "Ada."

"Sini, buruan. Aku mau berangkat sekarang," desak lelaki itu.

"Iya." Mia memanjangkan tangan guna meraih tasnya. Mengambil dompet dan menarik dua lembar uang lima puluh ribuan dari sana. "Tapi beneran kamu bakal transfer uang yang Mama Dedah minta?"

"Beneran." Edo mengangguk mantap. "Kamu nggak usah mikirin itu," lanjutnya. "Aku berangkat ya."

"Iya."

Sebelum benar-benar pergi, Edo melirik Mia lagi. "Nanti malam aku nggak akan pulang. Aku mau menginap di rumah Ohang."

"Ada urus-"

"Jangan banyak tanya!" sela Edo menyerobot. "Aku nggak mau berdebat terus setiap pagi!"

Bibir Mia yang tadi terbuka, perlahan terkatup lagi.

"Aku pergi sekarang." Edo benar-benar keluar dari kamar.

"Huh! Sabar, Mia. Sabar..." Mia mengusap dadanya sendiri.

Beberapa menit kemudian, ia juga keluar dari kontrakan. Dan seperti kemarin, Rifki kembali menyapanya. "Mau berangkat, Teh?"

"Iya, A." Mia membalas sapaan itu. "A Iki mau berangkat juga?"

"Iya, Teh." Mulut Rifki sudah bersiap melontarkan perkataan lagi, tapi keburu terpotong oleh seruan dari seorang penghuni kontrakan yang baru pulang shift pagi.

"Teh Mia, kalau mau ke pabrik, mending jangan naik angkot!"

Mia dan Rifki menoleh serentak ke arah suara. "Memangnya kenapa A Jamal?" tanya Mia heran.

"Ada kecelakaan beruntun di depan, Teh. Angkot sama bus, terus nabrak dua mobil pribadi," jelas Jamal.

"Innalillahi!" Mia dan Rifki sontak memekik secara bersamaan, kemudian saling melirik.

"Ada korban, nggak?" tanya Rifki mengalihkan pandangan lagi pada Jamal.

"Banyak, Ki. Makanya macet. Polisi dan ambulans datang silih berganti. Belum lagi para warga yang melihat."

"Ya Allah..." Lagi-lagi dua orang itu berkata kompak.

"Teh Mia mending naik ojek saja," saran Jamal. "Kalau pakai motor kan masih bisa lewat jalan pintas. Nggak perlu ikut terjebak macet di jalur utama."

Mia tersentak kecil. "Ojek?" Pikirannya langsung tertuju pada isi dompet yang tinggal seratus dua puluh ribu. Hanya itu uang yang tersisa setelah tadi ia memberikan seratus ribu kepada Edo.

Kalau sebagian uang itu dipakai untuk ongkos ojek, belum tentu cukup sampai gajian minggu depan.

Mia terdiam cukup lama. Di satu sisi, ia takut terlambat masuk kerja. Namun, di sisi lain, ia juga tidak mungkin menghabiskan uang yang tinggal sedikit itu.

Rifki angkat bicara. "Teh, kita berangkat bareng saja, ya?" Mia langsung menoleh. Rifki tersenyum ramah. "Daripada Teteh naik ojek. Harus nunggu lama, ini juga udah siang. Nanti Teteh telat."

Mia menggigit bibir bawahnya. Selama ini, ia selalu menolak setiap kali Rifki menawarkan tumpangan. Bukan karena tidak percaya kepada lelaki itu, melainkan karena ia ingin menjaga batas sebagai perempuan yang sudah bersuami. Ia tidak mau menjadi bahan pembicaraan penghuni kontrakan.

Namun, melihat keadaan sekarang, Mia benar-benar berada dalam posisi sulit.

"Mending begitu, Teh." Jamal memberikan komentar. "Bareng saja sama Iki. Lagian pabrik kalian kan masih satu kawasan. Daripada Teteh telat."

Rifki mengangguk. "Iya, Teh. Itu pun kalau Teteh bersedia."

Mia menatap jalanan sejenak, akhirnya, ia menghela napas. "Ya sudah, A. Aku ikut."

Rifki tampak lega. "Sip!" Lelaki berjaket hitam itu buru-buru masuk kembali ke kontrakannya. Tidak lama kemudian, ia keluar sambil membawa sebuah helm berwarna biru muda. Helm itu masih terlihat mengilap, seolah jarang digunakan. "Pakai helm ini, Teh."

Mia menerima helm tersebut dengan sedikit canggung. "Terima kasih, A."

"Sama-sama."

Mia memasang helm itu di kepalanya. Meski sudah mengambil keputusan, hatinya masih diliputi rasa waswas. Semoga tidak ada yang berpikiran macam-macam. Ia hanya menumpang karena keadaan. Tidak lebih.

Sementara itu, Rifki sudah duduk di atas motornya. Mesin kendaraan tersebut dinyalakan. "Naik, Teh." Mia mendekat. "Bisa nggak naiknya?"

"Bisa, A." Mia memegang ujung jok dengan hati-hati.

"Sudah, Teh?"

"Sudah, A." Mia menyahut pelan.

"Pegangan ya, Teh. Supaya nggak jatuh," titah Rifki hati-hati.

"Iya, A." Mia mengangguk kecil, memegang ujung jaket yang dipakai Rifki. Namun, sebelum motor Rifki benar-benar bergerak, ia sempat menoleh ke arah kontrakannya. Entah kenapa, perasaan tidak enak tiba-tiba muncul di dadanya. Ada rasa cemas yang menyelinap. "Semoga semuanya baik-baik saja. Semoga hal ini tidak menimbulkan fitnah."

1
Talnis Marsy
Edo..tipe Laki" Gaya elit ekonomi SULIT.... wkwkwkwk
Talnis Marsy
edo tipe laki" Gaya elit ekonomi SULIT....wkwkwk
Dartihuti
Astafurullah...gila di tempat gk pantas rumah terbengkalai?moga ada yg lihat biar nyaho lgsg di nikahkan...
Nice1808
kapan kapok mu do🤣moga ketauan org kampung dan diarak keliling kampung, atau kena penyakit kelamin🤣🤣🤣
Ma Em
Edo dan Ohang sama sama manusia laknat itu kelakuan nya minus , Edo pede banget kamu Mia mau balikan sama kamu , jgn harap Mia akan mau rujuk dgn Edo lelaki lain saja sdh lama menunggu Mia jadi janda .
Dartihuti
Duuuh ...anak durhakim👹sok"an pingin👊orang kampung sok bilang kampung diih...ma ortu gk ada dikit segan atau malu adanya malah berlagak...PD amat mikir Mia ingin balik pimpi kali lo...malah udah ada yg nunggu lbh dr lo MOKONDO
Dartihuti: Ikut eredi kita ingin👊😡👹Authour pinter mancing emosi ...💪😍
total 2 replies
EmakKece
Othoooor, aku pengen bejek2 si Ohang ini! hiiiih ... pokoknya 👊🏻👊🏻👊🏻
Ama Apr: Haha tonjok aja smpai giginya rontok, Teh🤣
total 1 replies
EmakKece
oow dasar anak tak tau diuntung! ga punya adab. klo aku jd orangtuanya udah kulempar itu telur ke mukanya 😡
Ama Apr: Betul kk🤣
total 1 replies
merry
selingkuh dgn ank sekolah tu bela msh sekolh dh tay jdi pelakor moga viral biar malu gk bs sekolh dan di DO dr sekolah y,,, trs biar bela tau klo yg dia jdiin selingkuhan tu ternyta cwo makondo
Ama Apr: lanjut kk
total 1 replies
Ma Em
Mia pokok nya kamu jgn mau lagi ditipu si Edo , semoga Mia makin sukses setelah berpisah dgn benalu dan uang Mia bertambah banyak karena sdh tdk ada yg porotin lagi .
Ama Apr: Aamiiin🫰
total 1 replies
Dartihuti
Sok kaya sok kereeen...eeeee gak tahunya kereee...😁😁😁pusing gk ....pusing gak...kapok lo...makan tu gantengmu🤭
Ama Apr: Wkwkwk
total 1 replies
✨Kayla Rane✨
baru nyadar kan 🤭😆
Ama Apr: Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sangat berharga🤣🤣
total 1 replies
Nice1808
mia lagi mia lagi🤭menyesalkan skrg kau edo gk bisa byar cicilan motor, tmpt tinggal pun numpang di rumah ohang🤣🤣
Ama Apr: mampooos kau 🤣
total 1 replies
merry
laki bajingann 😆😆😆😆blm kena batu nya tu
Ama Apr: santai, pelan2 tp menyakitkan🤣
total 1 replies
Ma Em
Lebih baik Edo tdk datang kerumah Mia daripada nanti bikin ribut lbh baik dititip saja sama orang , semoga Mia cepat dapat pengganti Edo lelaki yg baik bertanggung jawab serta cinta dan sayang pada Mia tdk menyakiti Mia .
Ama Apr: Aamiin🫰
total 1 replies
nunik rahyuni
iliiiih laki kodel apa ksmu tu doooo....
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅
Ama Apr: Iya, tinggal sm pengecut sukanya dlaman cangcut🤭
total 1 replies
Thewie
orgtua Dajjal kau bah setan keparat
Ama Apr: 😉😉😉😉😉
total 5 replies
Thewie
ya Allah kapanlah si Edo penjahat kelamin itu kena karma
Thewie
jangan mau kau di tiduri Mia. suami kau penjahat kelamin. takutnya ketularan penyakit pula kau
Ama Apr: Semoga sj tdk
total 1 replies
Asphia fia
mokondo pengecut gk ada akhlak
Ama Apr: mokondo kan emang bgt
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!