Hai..
Tulisan ini bisa jadi tidak menarik buatmu. Aku hanya sedang curhat melalui karya. Dan tentunya sedang berusaha sok keren aja. Jika kau ingin tau seperti apa curhatanku. Silahkan baca. Jika tidak, aku ga akan maksa.
Tapi, biarkan aku tau jika diantara kalian ada yang tidak suka. Berikanlah masukan agar aku bisa bercerita dengan lebih baik. Buat yang sudah suka, silahkan apresiasi dengan gayamu sendiri. Aku tidak akan keberatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yahhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh
"Ran, aku udah kirim contoh musiknya.."
"Kamu coba rekam dulu sendiri bisa?"
Pesan dari Sandi terlihat serius. Sedikit berbeda dari biasanya. Aku pun menanggapi dengan serius juga. Aku bilang aku hanya punya handphone sebagai alat rekam. Apakah tidak masalah? Yang aku takutkan adalah kualitas suara yang dihasilkan tidak akan bagus. Lagipula, biasanya hasil rekamnya akan sedikit berisik. Sandi sedikit perfeksionis. Oh tentu saja dia hanya ingin mendapatkan hasil terbaik. Tapi dia tidak pernah memaksakan dan menyudutkanku. Yang selalu dia lakukan hanyalah mendukungku.
"Kita coba dulu menggunakan handphone yang ada.."
"Nanti pas ngerekam, Hp nya jangan dipegang ya.."
Kamu tarok aja, dialasin bantal dan jangan sampai tergeser.."
Sandi menjelaskan panjang lebar. Pagi hari setelah Rosi pergi sekolah, aku mencoba merekam suaraku. Tapi selalu saja ada penjual yang lewat dan meneriakkan dagangannya. Aku memang tinggal di kontrakan dalam gang sempit gitu. Jadi apapun kegiatan di luar akan sangat terdengar dari dalam rumah. Bahkan jika ada tetangga yang sedang ngobrol biasa pun juga terdengar.
Aku mendengarkan hasil rekaman, Tapi tiba-tiba ada teriakan penjual buah. Meneriakkan berbagai nama buah yang dijualnya. Mangga manis, jeruk manis, pepaya, pisang. Suara bapak itu bahkan lebih lantang dari nyanyianku.
Percobaan kedua pun tidak kalah gagal. Bahkan kali ini ada pedagang baso pentol dan sol sepatu yang saling bersahutan. Mereka sudah seperti paduan suara yang berusaha melengkapi nyanyianku. Sayangnya, paduan suara mereka tidak masuk ke konsep yang aku dan Sandi inginkan. Mendengarkan suara-suara tak diundang itu membuatku tertawa sendiri.
Aku sudah mencoba setidaknya lima kali. Dan selalu saja ada yang lewat. Seperti tidak pernah diberi kesempatan untuk sendiri saja. Bahkan ada dua ibu-ibu yang baru pulang dari pasar, sedang bergosip riang pun juga ikut terekam. Tidak ingin merasa konyol sendirian, aku membagi pengalaman ini pada Sandi. Sekaligus ku kirimkan salah satu contoh rekaman paling lucu.
"...Hadapi dengan senyuman semua yang terjadi biar terjadi..."
"...Hadapi dengan ... Siomaaayyy..."
Aku memutar rekaman lucu itu sekali lagi. Aku menunggu tanggapan Sandi. Dia pasti lagi berjibaku dengan komputer dan dokumen apalah. Aku tidak memburu-buru Sandi agar segera menjawab chat-ku. Tapi sepertinya dia tidak terlalu sibuk. Atau memang sengaja menyempatkan menjawab chat-ku. Entahlah.
"Hahaha... Apakah semua hasil rekamannya begitu?"
"Ya... Kurang lebih..."
"😄"
Kami berbasa-basi dan tertawa-tawa melalui chat. Menanggapi bagaimana beberapa rekaman juga gak kalah lucu. Membahas kira-kira kapan waktu yang pas untuk merekam. Hingga akhirnya kami berdua harus mengakhiri perbincangan kami karena pekerjaan masing-masing yang sudah menunggu.
***
Sore hari setelah Rosi pulang sekolah dan dia tertidur, aku merasa suasana sedikit hening. Tidak banyak pedagang yang lewat. Jadi kuputuskan untuk mencoba merekamnya kembali.
"...Hadapi dengan tenang jiwa..."
"....Semua kan baik-baik saja..."
"...Bila ketetapan Tuhan, sudah ditetapkan, tetaplah sudah... "
"....Tak ada yang bisa...Aaaaaahahahahaha... sukuriinnnn..."
Setelah mendengarkan hasil rekaman yang terbaru, aku menghela nafas frustasi. Di luar terdengar anak-anak sedang bermain. Mereka teriak, tertawa, ngobrol, kejar-kejaran, gaduh sekali. Aku ga merasa kesel sama mereka. Hanya saja, aku merasa sangat sia-sia melakukan rekaman di rumah ini.
"Apakah jika malam hari bisa berhasil?"
Sandi menanggapi ceritaku sore ini. Dia juga sudah mendengar hasil rekamanku yang terbaru. Aku merasa, mungkin saja malam hari akan lebih hening. Tapi suaraku tidak akan leluasa keluar. Pasti akan ada perasaan takut mengganggu tetangga yang mungkin sudah akan tidur. Menanggapi kekhawatiranku, Sandi menjelaskan untuk mencobanya dahulu. Lagian tidak ada nada yang terlalu tinggi. Mungkin tidak akan terlalu masalah. Bahkan Sandi menambahkan candaan dengan mengatakan suara indahku akan menjadi nina bobok mereka. Aku tertawa mendengar pujiannya yang disampaikan dengan tak langsung itu. Aku membalas, "Ada-ada saja kau..."
***
Sembari nonton tv, aku bercerita pada Rosi tentang proses rekaman yang terjadi seharian ini. Aku menambahkan, "Kayaknya kalo malem sepi sih ya.." Rosi menyuruhku untuk mencobanya saja sekarang. Kali ini memang tidak banyak suara dari luar. Kami mematikan tv dan aku menyiapkan properti rekaman. Ya hanya bantal dan handphone saja. Rosi mengamatiku. Aku sedikit malu ditonton begini. Tapi aku tidak ingin melewatkan saat-saat sepi begini. Selesai menyiapkan properti rekamnya, aku langsung merekam suaraku.
Belum selesai bernyanyi, ku dengar ketukan pintu di luar. Sepertinya Mas Bahri pulang cepat malam ini. Rosi berlari untuk membukakan pintu. Aku mengembalikan bantal ke kamar. Aku memutuskan untuk tak melanjutkan rekamannya malam ini.
"Bagaimana?"
Itu pesan dari Sandi. Ku ceritakan bagaimana semesta seperti tidak mengizinkan aku untuk merekamnya hari ini. Seperti biasa, sambil bercanda, Sandi menyemangati aku. Dia memintaku untuk tidak menyerah.
"Hei... Kau sibuk sekali ya.."
Terlihat pesan dari orang lain selain dari Sandi. Itu Raffi.
"Aku belum cerita ya? Aku memang sedikit sibuk sekarang.."
Aku membalas pesan Raffi sembari ngebatin, "Aku sibuk pedekate sama Sandi". Eh sekali lagi kutegaskan bukan pedekate sebagai pacar. Ini untuk membangun chemistry saja. Demi project duet.
Akhirnya malam ini kuhabiskan untuk chatting dengan Sandi dan Raffi hingga tertidur. Lupakan proses rekamnya. Aku dan keterbatasanku hanya bisa menunggu solusi yang akan ditawarkan Sandi.
***
Seminggu berlalu tanpa hasil. Akhirnya Sandi memutuskan untuk ke Solo. Artinya, kita akan bertemu secara langsung. Sandi bertanya dia harus naik transportasi apa dan lain sebagainya. Hingga akhirnya kami sepakat untuk bertemu pada hari sabtu nanti.
Selama menunggu sabtu datang, aku mules. Aku gugup. Setiap hari dan hampir setiap saat aku bersih-bersih. Aku tak membiarkan setitik debu pun hinggap bahkan dipojokan tersempit sudut rumah. Aku berencana. Aku berpikir. Apa yang akan ku lakukan nanti. Aku harus bersikap bagaimana nanti. Apakah aku akan excited atau aku berusaha biasa saja. Apakah aku akan blak-blakan jika aku sangat gugup. Atau aku harus menutupinya?
Melihatku tidak tenang selama beberapa hari terakhir, Rosi bertanya ada apa denganku. Aku mengatakan padanya jika Sandi akan datang. Dia juga sudah beberapa kali ngobrol dengan Sandi di telfon. Rosi ikut senang. Sebenernya, Rosi juga cukup dekat dengan Sandi. Terlihat Rosi menyukainya. Biasanya Rosi tidak mudah untuk akrab dengan temanku. Disamping karena perbedaan umur, biasanya Rosi juga tidak terlalu tertarik dengan pergaulan yang terlalu ramai. Dia lebih senang menghabiskan hari dalam dunia-nya sendiri. Atau jika harus berinteraksi, Rosi akan memilih teman sebaya atau yang se-frekuensi dengannya.
"Kak, apakah kita akan jalan-jalan juga sama Kak Sandi?"
"Mungkin tidak"
"Dia kesini untuk merekam suaraku"
"Kau ingin jalan-jalan?"
"Ga juga.."
"Hanya Mungkin cukup menyenangkan"
"Baiklah, nanti kita tanyakan pada Kak Sandi, Gimana?"
"Yeaaayy.."
Terlihat Rosi juga sangat antusias menunggu hari sabtu tiba. Aku harap semua akan baik-baik saja dan semua berjalan menyenangkan. Begitu batinku.
***
Bagi kalian yang sedang mencari novel dengan plot anti mainstream. Coba deh baca cerita ini :) Judul: Kebangkitan Bangsawan Luca
Genre :
Fantasi, petualangan.
Theme :
Perang dan pemberontakan
Yuk kita saling Boom Like+ rate 5
Mampir cerita aku...
" Hello seoul"