Kisah cinta pertama memang tak pernah bisa dilupakan begitu saja meskipun hubungan itu sudah lama berlalu. Novel ini menceritakan tentang kisah cinta manis semasa sekolah menengah atas yang harus berakhir dengan karena campur tangan pihak ketiga. Cinta yang sedang berputik itu harus kandas setelah Maya dan Sekhal sama-sama menyudahi pendidikan mereka. Maya mengatakan sesuatu yang membuat Sekhal marah besar. Sekhal akhirnya pergi jauh meninggalkan Maya dan cintanya dan tidak pernah kembali lagi. Kedua insan itu kembali dipertemukan di sebuah perusahaan besar ibukota. Cinta yang tidak pernah mati itu mekar kembali menyatukan hati yang sempat terbelah. Sekhal melakukan berbagai cara untuk membuat Maya menyerah dan menjauh dari hidupnya namun kegigihan sang gadis justru membuat Sekhal semakin jatuh hati pada cinta pertamanya itu.
Untuk yang kedua kalinya mereka bertemu dengan status yang sudah berbeda. Mampukah cinta pertama yang sudah tertanam kokoh menyatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Etrora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Baru
Maya terhenyuh dan semakin yakin dengan feelingnya. Dibalik sikap dingin Sekhal selama ini, pria itu masih menyimpan rasa untuknya. Seperti bunga yang ditetesi hujan, perasaannya yang sempat layu tadi kini mekar kembali.
Maya menghambur lepas ke dalam pelukan pria yang sangat dicintainya itu. "Aku merindukan kamu" ucapnya mengalungkan tangan di belakang punggung lebar sang pria.
Sekhal membeku sesaat. Meskipun sempat ragu, ia akhirnya merangkul tubuh hangat gadis yang lebih dulu memeluknya. Jauh di lubuk hatinya, ia pun juga sangat merindukan gadis itu. Nyaman dan menenangkan, inilah yang Sekhal rasakan saat tubuh kekarnya berada dalam dekapan Maya. Dan rasa itu sudah lama tidak ia dapatkan dari siapapun, termasuk ibu kandungnya sendiri. Namun anehnya tetap ada yang menjanggal dibenaknya. Dan perasaan itu terpatri jelas di raut mukanya yang tampak datar.
"Kenapa aku merasa takut?" batin Sekhal gelisah.
Sekhal melepaskan pelukannya, diikuti Maya yang juga menarik diri. Keduanya saling memandang dalam diam, tidak ada yang mau memulai pembicaraan.
Dengan lembut, Sekhal membelai mesra jari-jari lentik Maya lalu menuntun gadis itu ke lantai dua dimana kamarnya berada. Timbul pertanyaan besar di kepala Maya sembari mengekori pria di depannya, apa yang akan terjadi dengannya setelah ini?
Tibanya di depan kamar, Maya semakin gugup hingga pelipisnya sedikit berkeringat. Selang detik kemudian, hawa panas menyergap sampai ke persendiannya takkala sepasang tangan panjang berotot menyentuh kedua bahunya.
Cup~
Satu cumbuan mematikan melesat tepat di bagian telingannya. Maya semakin deg-degan luar biasa. Telinga merupakan salah satu area sensitifnya yang apabila disentuh apalagi digigit, tentunya akan membangkitkan birahinya dengan cepat. Perlahan namun pasti, tangan yang menekan pundaknya turun ke bawa lalu kesepuluh jari keras masuk ke sela-sela jemarinya. Refleks Maya memejamkan mata meresapi sentuhan halus yang menyerang sekujur tubuhnya.
"Se...khal...aahh...
Maya tidak mampu menahan lagi suara seksinya. Desisan pertama lolos begitu saja dari bibir menggodanya. Beberapa waktu berikutnya, keadaan menjadi senyap. Sentuhan-sentuhan itu berhenti tiba-tiba.
Maya pun membuka mata. Ia kaget dan heran. Sekarang tubuhnya sudah ada di atas kasur. Entah sejak kapan itu terjadi. Seingatnya tadi masih berdiri di depan kamar.
Sementara itu, Sekhal yang setengah duduk di atas tubuh Maya langsung tersenyum tipis melihat reaksi kaget gadisnya. Itu menggemaskan baginya, membuatnya semakin tidak sabar.
"Kamu sudah siap?" bisik Sekhal dengan suara berat yang khas.
Maya tidak berkutik sama sekali. Mulutnya seperti direkatkan lem hingga tidak mampu berkata-kata. Entah bagaimana menjelaskan debaran yang memenuhi dadanya saat ini. Ia wanita dewasa. Dan tentu saja mengerti maksud pertanyaan pria yang sedang menindih tubuhnya. Itu bukanlah pertanyaan, lebih tepatnya sebuah ajakan.
Di dalam ruangan berukuran cukup besar itu Maya merasa sesak. Ia tidak mengerti mengapa mendadak sulit mengambil nafas.
Ini gila~
Maya meracau dalam hati. Matanya spontan terpejam begitu Sekhal tiba-tiba merendahkan wajah dan sedikit lagi menyentuh bibirnya.
"Aku akan melakukannya pelan-pelan" ucap Sekhal berbisik seksi.
Mendengar itu, dada Maya semakin bergemuruh. Ia merasakan darahnya berdesir-desir seperti ditiup angin. Jantungnya juga berdetak lebih kencang layaknya pelari yang baru saja sampai di garis finish.
"Tumben kamu banyak bicara?" ucap Maya akhirnya berani bersuara.
Sekhal hanya diam dengan sudut bibir kiri tertarik ke atas. Mata indahnya menangkap ketakutan di raut wajah Maya meskipun gadis itu berusaha tetap tenang.
Menit berlalu tanpa terasa. Sekhal melucuti satu persatu pakaian yang dikenakan. Hal itu membuat Maya semakin berdebar juga penasaran.
Dan wow...
Bentuk tubuh yang sangat sempurna. Dada bidang, perut rata kotak-kotak, Maya tidak berkedip memandang keindahan fisik dari mantan kekasihnya itu. Padahal ini bukan pertama kalinya ia melihat Sekhal telanjang dada, hanya saja kali ini bisa melihat semua itu secara terang-terangan, tidak perlu mengintip lagi.
"Jangan Maya...jangan lakukan" gumamnya berperang batin.
Sial!
Maya terlanjur tergoda. Tangannya tidak tahan ingin menyentuh dada polos di hadapannya. Dan benar saja, jari-jarinya bergerak tanpa dituntun meraba perut datar pria di atasnya. Maya merasa matanya terkena sindrom sehingga hanya bisa memandang ke satu objek saja yaitu Sekhal.
"Sekhal, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya gugup setengah mati.
"Menurut kamu? Dua orang berlainan jenis di atas kasur yang sama. Apa yang akan...
Belum selesai Sekhal bicara, secepat kilat bibirnya disapu bersih oleh gadis di bawanya. Detik berikutnya, permainan dan pertukaran saliva tak terelakkan. Nafas yang memburu dan energi yang masih penuh, sepasang insan itu bercumbu tanpa mengenal jeda. Sesekali keduanya saling menggigit liar untuk menciptakan rasa dan sensasi yang berbeda. Tak terhitung berapa kali keduanya bertukar posisi tanpa melepaskan pautan bibir. Baik Maya apalagi Sekhal terlihat sudah sangat mahir mengantisipasi pergerakan yang tak terduga. Dengan sendirinya, tubuh keduanya mengatur posisi yang tepat untuk mendapatkan spot bercumbu yang pas.
Sekhal menjulurkan lidahnya yang langsung disambut antusias oleh Maya layaknya orang yang sedang kelaparan. Bunyi kecapan khas dari persatuan basah itu memenuhi seisi ruangan. Keduanya benar-benar brutal tidak kenal lelah. Sayangnya di tengah-tengah kecupan yang semakin memanas, mendadak Sekhal menguarai diri dan langsung berdiri. Hal itu membuat Maya kebingunan.
Sekhal pun tersenyum sinis melihat raut frustasi gadis yang berbaring di kasurnya. "Jangan terlalu senang. Saya tidak terpikir menyentuh kamu" ucapnya sembari memungut bajunya yang berserakan di lantai lalu memakainya.
Sontak mimik wajah Maya berubah masam. Ia bangun dan duduk di tepi kasur seraya memperhatikan Sekhal yang sedang mengancing kemeja. "Maksud kamu?" tanyanya tersulut emosi.
Sekhal tersenyum licik lalu menarik ujung dagu Maya. "Pikirkan baik-baik ucapan saya. Jika saya lapar, saya akan melakukannya lagi" ucapnya sebelum kembali ke kantor.
Pria brengsek itu sudah pergi. Sedangkan Maya masih termenung sendirian di kamar. Ia menyisir rambut berantakannya dengan lima jarinya yang masih lemas. Panas di wajahnya masih begitu terasa. Amarahnya di dadanya belum juga turun. Maya betul-betul tidak mengerti perasaan Sekhal padanya saat ini. Pria itu terlalu misterius.
"Jadi tadi hanya sentuhan pelampiasan kemarahannya saja? Sekhal melakukan itu bukan karena dia sudah menerimaku kembali?" batinnya frustasi.
Maya turun ke dapur untuk memasak sesuatu di sana. Setelah makanan jadi, ia mulai menata nasi dan lauk pauk ke dalam kotak bekel yang sebentar lagi akan dibawanya ke kantor.
Sepanjang perjalanan, Maya merasa resah. Sentuhan lembut Sekhal beberapa jam lalu masih dapat ia rasakan. Namun bukan hanya itu saja yang membuatnya gelisah.
Gadis itu!
Maya penasaran dengan gadis yang Sekhal sebut tunangan itu. Apalagi tadi Sekhal sempat merangkul punggung gadis yang memiliki tubuh aduhai itu. Ya, meskipun hanya rangkulan tapi tetap saja Maya tidak tenang. Ditambah lagi, Sekhal lebih membela tunangannya. Hal itu membuat Maya jadi tidak percaya diri.
"Dia pasti tahu kalau aku tidak salah tapi kenapa masih saja membelanya?" sesal Maya gondok dengan sikap Sekhal yang tutup mata dalam menyikapi pertengkarannya dengan gadis pagi tadi.
Tibanya di kantor, waktu sudah menunjukkan pukul 02.15 pm. Maya masuk ke ruangan Sekhal tanpa mengetuk pintu. Ia sudah terbiasa masuk tanpa izin.
Hemm~ "Aku bawa makanan. Kamu sudah makan siang?" tanyanya seraya duduk di sofa.
"Jam berapa ini? Saya bisa mati kelaparan jika menunggu kamu" balas Sekhal ketus tanpa melihat lawan bicaranya.
Hahhh~
Maya menghela nafas lelah. Sebenarnya ia pun tidak mau datang ke sini, hatinya masih terlalu kecewa dengan ucapan Sekhal setelah bercumbu dengannya tadi tapi dirinya tetap harus profesional. Ia kerja dan digaji jadi harus tetap dalam jalur tugas yang seharusnya.
Dan sekali lagi sang pria mengabaikannya. Maya tidak dapat membalas perlakuan tidak menyenangkan itu. Ia sadar, dirinya yang telah merubah Sekhal dari pria hangat menjadi dingin seperti sekarang ini. Jika saja dulu ia tidak tergiur dengan uang, mungkin saja saat ini dirinya dan Sekhal sudah menjadi pasangan suami istri.
Maya duduk mematung sambil mengingat ucapan Sekhal dulu yang sempat berujar ingin menikahinya. Namun semua itu sudah berlalu. Maya yakin mantan kekasih tidak mungkin ingat lagi.
"Kamu sudah makan?" tanyanya tersenyum getir.
"Silakan kamu keluar. Saya tidak punya tugas untuk kamu" sahut Sekhal yang terlihat sedang sibuk mengecek sesuatu di layar komputer.
Begitu Maya pergi, Sekhal beranjak dan berdiri di balik dinding kaca. Dari posisi ini ia dapat melihat orang di bawa sana termasuk jika Maya berjalan meninggalkan kantor. Dengan sabar Sekhal menunggu namun lewat 10 menit, asistennya itu belum terlihat juga.
"Kemana dia?" Karena penasaran dan khawatir, Sekhal tanpa ragu meninggalkan semua pekerjaannya.
Sekhal mencoba menelpon tapi panggilannya justru di reject. Kaki panjangnya kembali mengitari kantor. Dan tibanya di sudut yang jarang sekali dilewati karyawan, Sekhal akhirnya menemukan sang gadis. Ia kemudian mendekat perlahan. Ketika hampir sampai, Sekhal buru-buru bersembunyi saat melihat Maya bersama orang lain.
"Jadi kamu belum satu bulan kerja di sini? Pantas saya belum pernah lihat kamu" ucap Satria yang merupakan manager bagian fungsional di perusahaan yang bergerak di bidang distribusi itu.
"Iya" balas Maya singkat. "By the way, makanannya enak gak pak?"
Sontak Satria terdiam sebentar mendengar kata yang tidak formal itu. "By the way?" ulangnya dengan ekspresi aneh.
"Oh...maaf pak saya tidak sopan. Saya ulangi saja. Bagaimana rasa makanannya pak? Enak tidak?" timpal Maya merasa tidak enak hati.
Hah...hahh~ Satria tertawa lepas. "Kamu lucu" ucapnya tersenyum manis. "Santai saja. Bicaralah seperti itu saat kita sedang berdua. Lagian saya juga tidak suka dengan bahasa yang terlalu baku" lanjutnya setelah menghabiskan makanan buatan Maya.
Maya tersenyum lega. Ia pikir tadinya mau disemprot dengan cacian. "Sini saya saja yang beresin pak"
Lagi-lagi Satria tersentuh dengan sikap Maya yang hangat dan ramah. Baru pertemuan pertama tapi hatinya sudah merasa ada kecocokan.
"Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?" batin Satria merasa konyol.
"Terima kasih untuk makan siangnya. Ini enak sekali" puji Satria suka cita rasa dari masakan gadis di sampingnya.
"Terima kasih juga karena pak Satria mau makan masakan saya" timpal Maya.
Sekhal kembali ke ruangannya. Punggungnya dihentakan kasar di sofa. Kepalanya menengadah lalu menghela nafas. Sanubari terdalamnya merasakan lagi perasaan yang sudah lama hilang. Rasa tidak suka saat Maya berdekatan dengan pria lain.
"Tidak mungkin aku cemburu. Hah...kenapa ruangan ini panas sekali?" gumamnya sambil mengibas kerah baju.
lanjut thor makin seru ceritanya bikin penasaran