"Semua orang memiliki kisahnya sendiri dengan Dia yang menjadi tokoh utamanya. Kita adalah tokoh utama dalam cerita kita. Namun, Kita juga adalah tokoh tambahan atau bahkan antagonis dalam cerita orang lain."
Benarkah begitu?
Amaline Dwi Cahya Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indigo Name, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Kepercayaan
Biasanya Amaline berangkat sekolah dengan motor sendiri. Jarak dari rumah ke sekolah memang relatif jauh. Sekitar 30 menit naik motor normal.
Hari itu jam 5 pagi ayah Amaline sudah mengeluarkan motor bebeknya dan menyalakan agar mesinnya panas. Meskipun suaranya kacau namun setidaknya Kami tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
"Kamu tidak boleh telat" ucap Ayahnya segera menyuruh Amaline naik.
Ini adalah yang kedua kalinya Amaline ikut Olimpiade karena dari tahun lalu Ia tetap di ekskul ini. Entah kenapa semangat kedua orang tuanya terus saja membara.
Amaline yang sudah tahu hasilnya hanya diam saja dan terus tersenyum.
"Bapak nanti saat Lin pulang masakkan Ketang balado kesukaan Aku!" Ucap Amaline berpesan kepada Ayahnya.
Ayahnya tersenyum tipis dan mengiyakan. Padahal Ia tahu bahwa anaknya sudah tahu jelas pagi-pagi Ibunya berangkat kepasar membeli setengah kilo kentang. Untuk siapa lagi jika bukan untuk putri sulungnya tersebut.
Perjalanan pagi-pagi seperti itu tentu masih terasa dingin. Ayah Amaline memakai jaket hitam yang tebal. Begitu pula Amaline, Dia tidak memiliki jaket sama sekali. Ayahnya ingat tahun kemarin Dia berangkat kedinginan. Oleh karena itu sebelumnya mereka membelikan jaket pink kepada anaknya tersebut. Amaline sangat menyukai apapun itu dan ayahnya tahu bahwa Ibunya tahu apa yang disukai Amaline.
Pagi itu kabut masih mengganggu pandangan para pengendara. Memang jika kesekolah Amaline harus naik. Karena rumah Amaline terletak di bagian bawah. Sedangkan Boyolali kota saja sudah hampir mendekati gunung Merapi.
Ayah Amaline sengaja berangkat pagi agar mereka bisa berangkat santai dan tidak terburu-buru. Tiba-tiba saja Ayah Amaline semakin pelan dan mengurangi laju geraknya. Dalam jalanan yang sempit kendaraan kecil seperti mereka harus mengalah pada kendaraan besar yang hendak melintas.
Mobil hitam yang tidak asing menyalip mereka dan membunyikan klakson.
Ayah Amaline hanya membalas sapaan tersebut dengan senyum yang ramah. Berharap tuan di balik mobil tersebut melihatnya dari kaca spion kiri.
Amaline menenggelamkan kepalanya dan sedikit mendekapkan kedua tangannya yang kedinginan. Melihat senyum Ayahnya yang begitu tulus pada siapapun itu.
Dibalik jaket hitam tersebut sesekali Amaline memandang punggung kokoh yang mulai merenta tersebut. Rasanya begitu berat, seperti jika Amaline hendak membantu menopangnya Ia akan kesulitan walaupun sedikit. Mengapa orang baik selalu identik dengan senyuman seperti ini?
"Aditya juga ikut lomba ini?" Tanya Ayah Amaline.
"Iya" ucapnya singkat.
"Bapak yakin Kamu tidak akan kalah!" Lanjut Ayahnya terus tersenyum, kebanggaan dan kepercayaan terpancar dari sebilah sisi yang terlihat di kaca spion.
Amaline tersenyum, walaupun Ia tahu kenyataannya bagaimana. Namun yang jelas ada kenyataan lain lagi.
Bahwa kepercayaan yang dimiliknya ini adalah nyata dan begitu indah.
...****************...
Amaline turun dari motor dan berpamitan kepada Ayahnya tersebut.
"Hati-hati Bapak!!" ucap Amaline terus melambaikan kedua tangannya hingga Ayahnya benar-benar sudah tidak terlihat didepan matanya untuk memastikan bahwa Ayahnya akan pulang dengan selamat.
Dengan langkah penuh percaya diri dan senyumannya yang cerah Amaline memegang erat tas punggungnya dan berlari menuju rombongan Bus didepan sekolah.
Ternyata sudah ramai yang datang mungkin Amaline lah yang terakhir. Mereka sudah berbaris rapi untuk mendengarkan pesan serta wasiat kepala sekolah sebelum berjuang dimedan tempur.
Amaline langsung ikut berbaris di belakang dengan menggendong ranselnya. Walaupun baru datang dan tidak paham apapun. Ia tetap berusaha dan bersandiwara seolah memahami semuanya.
"Jangan gentar jika sebelah kalian adalah seragam SMAN 1 Boyolali!" pesan terakhir beliau sebelum mereka berangkat dan dibubarkan.
Bukannya langsung naik Bus Amaline malah menoleh-noleh seperti kebingungan dan mencari sesuatu.
"Lin!!" Teriak Devi melambaikan tangan.
Amaline langsung bergegas dan naik bersama Devi yang sudah berada di sekolah sejak subuh tadi.
"Hei bukankah ini terlalu pagi" ucap Devi langsung duduk dan menunjukkan kursi mereka.
Amaline dengan memangku tasnya duduk dan menjawabnya setuju. Seperti tahun kemarin, mereka membuang waktu di lapangan hanya menunggu waktu pelaksanaan Olimpiade. Para Guru terlalu bersemangat.
Kira-kira perjalanan menuju lokasi Olimpiade yang tahun ini diselenggarakan di SMAN 1 Boyolali dari sekolah mereka SMA Taruma Bangsa hanyalah 30 menit.
Devi yang sifatnya 11 12 dengan Amaline tersebut tiba-tiba tertidur pulas dalam 10 menit perjalanan. Entah kenapa Dia seperti terburu-buru untuk tidur padahal perjalanan sangat singkat.
Tapi Amine tahu pasti Devi belajar mati-matian untuk Olimpiade kali ini. Dia memang anak yang pintar, walaupun Ia bukan dari peringkat sepuluh besar dikelasnya. Namun, Dia selalu mendapat lima besar nilai tertinggi Matematika wajib satu angkatan.
Menurut Amaline Dia memang hebat. Dia pintar tapi tidak pernah mengatakan pada dunia bahwa Dia seperti itu. Berbeda dari anak-anak MIPA 1 lain yang tersebar di ekskul Olimpiade dengan segala kecongkakan mereka.
Amaline sangat ingat ketika bertanya alasan Devi mau ditransfer ke Astronomi. Ia mengusulkan dirinya sendiri dengan tiba-tiba hanya karena tidak ingin terus bersama orang-orang yang menyebalkan dikelasnya. Yah, walaupun akhirnya bertemu sibrengsek Galang juga.
"Hei!" suara yang tidak asing mengejutkan Amaline saat bersamaan kepalanya merasa terpukul. Amaline memegang kepalanya dan berbalik melihat kursi belakangnya.
"Haha" seringai Galang yang bersama Aditya disampingnya. Ia benar-benar fokus pada pekerjaan didepannya berbeda dengan Galang yang fokus sana sini. Saat matanya yang cantik fokus pada simbol-simbol rumit di lembaran buku, saat itulah Ia terlihat sempurna.
Amaline langsung berbalik dan berusaha menampar dirinya sendiri yang hampir kelepasan. Ia tidak boleh terlena sedikitpun, sebentar lagi Ia akan berperang tidak perlu memikirkan hal-hal lain yang membuatnya tidak fokus.
Amaline menarik nafas panjang dan membuka ranselnya. Mengeluarkan beberapa buku dan catatan dari dalamnya.
Suara lentingan resleting ransel itu terdengar oleh Aditya walaupun suaranya kecil. Matanya yang tadi fokus pada catatannya terhenti dan melirik kebangku depan sedikit. Terlihat dari celah Amaline dengan beberapa kertas kecil yang penuh catatannya.
Perasaan familiar muncul dibenak Aditya, perasaan pembenci kepada pemberontak yang berusaha mengubah nasibnya untuk sepersekian kali. Untuk seorang keras kepala yang benar dikenalnya. Perasaan yang tidak bisa menganggap seseorang remeh sama sekali.
Aditya membuang pikiran buruknya dan kembali fokus pada tugasnya. Galang yang sibuk dengan ponselnya benar-benar terasa menyebalkan namun Ditya sudah terbiasa. Hanya perlu menganggap temannya ini lenyap walaupun dengan suara dan gerak yang kehadirannya dapat mengganggu ketenangan dunia.
"Hei! Anak Pisikaa! Selamat berjuang!" Ucap Galang sedikit meledek dan menyiku Ditya. Ditya tersenyum menanggapinya, temannya memang konyol. Padahal Ditya tahu beberapa hari lalu Galang memaksanya untuk mencari satu buku di perpustakaan. Hanya satu judul buku yang menurutnya sangat diperlukan bisa membuatnya hampir gila jika tidak menemukannya. Aditya tersenyum tipis dan melanjutkan belajarnya.
"Ah! Jadi titik Aries itu saat melewati 0 derajat bumi dengan simbol ini!" Amaline 2019.
Dan Alhamdulillah semua sudah selesai dan Author minta dukungannya untuk Short Movie yang Author buat yah. Judulnya Glasses cek di ig/ae.rhyu, makasih banget buat yang mau mampir dan nonton. Cuma kalian yang selalu setia mendukung Author sejauh ini🤗❤️