Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Tanjakan Desa Kenanga

Misteri Tanjakan Desa Kenanga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Spiritual / Horor
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Astuti

Seorang siswi SMK bersama teman-temannya yang sering mendapat teror dari tanjakan sebrang desa sekolahnya karena sebuah kisah kelam terjadi di tempat itu.
Beberapa kali bahkan orang-orang yang melewati tempat tersebut di waktu tertentu mengalami gangguan supranatural dan mendapati kejadian naas.
Akhirnya penduduk sekitar memutuskan untuk memanggil orang pintar atau seorang dukun yang dipercaya dapat mengusir roh jahat. Karena pada saat itu masyarakat masih kental dan percaya pada hal-hal mistis.
Akankah orang pintar yang diminta oleh warga sebrang desa Kenanga dapat mengusir roh jahat yang dipercaya selalu mengganggu aktivitas para penduduk sekitar?
Yuk simak ceritanya yang penuh ketegangan disini😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Astuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Kota

Tepat pukul dua belas siang nanti Hanum harus segera konfirmasi lagi ke resepsionis untuk check-out.

Hanum keluar untuk mencari sarapan di pinggir jalan. Saat sedang menikmati sarapannya ia tak sengaja melihat poster lowongan kerja.

"Office girl, aku coba dulu lah daripada luntang-lantung" pikir Hanum.

Ia buru-buru menghabiskan bubur ayam yang dipesannya kemudian langsung mencari alamat kantor tersebut.

"Wah besar sekali kantornya, kantor berita harian. Bismillah semoga saja" gumam Hanum.

Hanum kemudian masuk ke dalam kantor dan langsung menanyakan perihal loker tersebut kepada seorang staf kantor.

"Office boy kami sedang sakit parah kemudian keluarganya meminta untuk resign. Kami sangat membutuhkan staf bagian tersebut. Kamu boleh bekerja mulai hari ini. Kami menyediakan fasilitas tempat tinggal dan kami harap kamu bisa bekerjasama dengan baik. Berapa usiamu?" tanya staf kantor.

"Saya tujuh belas tahun Bu" jawab Hanum sambil mengikuti staf tersebut.

"Muda sekali, panggil saja Mba Nung. Siapa namamu?" tanya Mba Nung.

"Nama saya Hanum Mba" jawab Hanum.

"Orang tua mu tahu kamu bekerja?" tanya Mba Nung lagi sambil mengambilkan seragam untuk Hanum.

"Engga Mba" jawab Hanum pelan.

Makklunting..

"Hanum maaf ya Mba tinggal dulu, ini kamarmu dan cepat pakai bajunya ya!" ujar Mba Nung sambil menatap layar ponselnya.

"Oh iya Mba terima kasih" ucap Hanum.

Sebelum bekerja Hanum di briefing terlebih dahulu setelah itu baru ia memulai pekerjaannya. Tugasnya mulai pagi pukul enam sampai sore jam lima.

"Aku harus mengerjakannya semaksimal mungkin, aku tidak boleh menyia-nyiakan pekerjaan ini" gumam Hanum sambil mengelap peluhnya yang mengalir di wajah.

Tak hanya bagian bersih-bersih kadang Hanum juga diminta untuk membuatkan minum para karyawan kantor. Tak ada keluh di wajahnya, hanya saja ia masih teringat dengan semua yang sudah terjadi.

"Ibu, sedang apa ya sekarang aku kangen sama Ibu. Maafin Hanum pergi tanpa pamit, tunggu Hanum pulang ya Bu" ucap Hanum melamun.

"Han nanti malam temani Mba Nung lembur yuk sekalian kita lanjutin obrolan yang tadi!" pinta Mba Nung.

"Ooh iya Mba boleh" kata Hanum.

"Ya sudah kamu lanjutkan pekerjaanmu jangan melamun nanti kesambet loh" ledek Mba Nung.

_______

Jam menunjukkan pukul lima sore seharusnya ini waktu Hanum untuk istirahat.

"Han kamu gak keberatan kan kalau Mba ajak lembur?" tanya Mba Nung sambil mengetik komputer.

"Engga Mba, Hanum ga keberatan ko" jawab Hanum.

"Memangnya kamu darimana Han?" tanya Mba Nung lagi.

"Hanum tinggalnya di pelosok Mba di desa, namanya desa Anom. Masih serba ketinggalan, belum begitu terjamah teknologi" kata Hanum.

"Mba ada yang bisa Hanum bantuin. Hanum ngerasa ga enak kalau cuma ngelihatin Mba Nung" tambah Hanum.

"Udah Mba Nung bisa kok, Mba cuma pengen ada yang nemenin lembur aja lagian juga jam kerjamu sudah selesai" cetus Mba Nung.

"Ga papa lah Mba, em..ini ya Hanum bantu rapihin koran-korannya" ucap Hanum.

"Makasih ya Han baik banget nanti Mba traktir makan malam deh. Kamu mau makan apa?" tanya Mba Nung.

"Eh engga Mba ga usah Hanum nanti pesan nasi goreng aja di depan" kata Hanum.

"Ya sudah deh kalau ga mau" ujar Mba Nung.

Lima menit kemudian.

"Mba ini pesanannya" kata seorang pria yang memakai apron memasak sambil membawa satu kantong plastik.

"Ok Mang terima kasih ya" kata Mba Nung mengulurkan beberapa lembar uang kertas.

"Han ayo makan dulu mumpung masih hangat. Ini Mba pesannya banyak loh kalau makan sendiri bisa begah sampai besok. Jangan sungkan anggap aja ini ucapan terima kasih karena kamu sudah temani dan bantuin Mba lembur" ujar Mba Nung.

"Mba makasih ya, makanannya enak" lirih Hanum.

"Iya Han sama-sama ya udah cepat habisin lalu mandi, istirahat" ujar Mba Nung menatap Hanum.

"Mba, Hanum mau tanya kalau mau laporkan seseorang ke polisi itu memang harus ada bukti kejahatannya ya?"tanya Hanum.

"Iya dong Han. Harus ada bukti kuat, para saksi. Kenapa memangnya, ada yang jahat ya sama kamu?" ucap Mba Nung sambil mengunyah.

"Oh ya kamu tadi bilang berasal dari desa Anom ya, kalau ga salah manager kita Pak Burhan asalnya dari desa sebelah tempat kamu tinggal loh. Desa apa ya Mba Nung lupa, sedikit aja tahu tentang Pak Burhan waktu itu Mba ga sengaja dengar" jelas Mba Nung.

"Maksud Mba desa Kenanga?" tanya Hanum.

"Nah betul desa Kenanga, teman-teman kantor sih banyak yang bilang itu desanya orang mati tapi entahlah Mba juga ga begitu menanggapi" ujar Mba Nung.

"Kira-kira Hanum bisa ga ya Mba ketemu sama Pak Burhan?" tanya Hanum penasaran.

"Boleh, besok pagi Mba antar ke ruangannya ya. Oh ya ga kerasa udah jam delapan nih Mba Nung pulang ya! Sampai ketemu besok Han" kata Mba Nung bangkit dari tempat duduknya.

Hanum langsung kembali ke kamarnya. Setelah membersihkan diri ia menjatuhkan tubuhnya di kasur.

"Mungkin Pak Burhan tahu sesuatu aku akan coba bertanya besok. Untunglah ketemu Mba Nung disini baik banget" gumam Hanum.

Tak sampai hitungan jam Hanum sudah terlelap.

"Lepaskan aku Pakde, kakiku sakit. Sebenarnya apa mau Pakde kenapa membunuh banyak orang apa salah kami? Tidak Pakde lepaskan aku sakit..tolong..tolong"

Gubrakk..

"Aduh sakit sekali rupanya aku bermimpi" rengek Hanum yang jatuh dari atas ranjang.

Tiba-tiba saja diluar terasa angin bertiup kencang.

"Masih jam dua belas. Kencang sekali anginnya, mungkin mau hujan" kata Hanum sambil melirik kearah jam dinding.

"Han.. Hanum..buka pintunya ini Mba Nung" teriak seseorang dari balik pintu kamar Hanum.

"Mba Nung mau apa malam-malam begini" cetus Hanum.

Klik..(suara kunci terbuka)

"Mba Han ayo ma..aaahhhh Pakde Wiro. Pergi! Pergi lepaskan Hanum biarkan Hanum hidup Pakde" teriak Hanum.

_______

Tok..tok..tok

"Han, buka pintunya ini Mba Nung!" teriak Mba Nung.

Tok..tok..tok

"Astaghfirullah.." Hanum kaget kemudian segera bangun.

"Han..kamu belum bangun ya?" teriak Mba Nung lagi.

"Mba Nung itu beneran Mba ya?" teriak Hanum dari dalam kamar.

"Iya Han tolong buka pintunya sebentar!" ujar Mba Nung.

"Maaf ya Mba sudah nunggu lama ya, ko pagi-pagi sekali kesini Mba ada apa?" tanya Hanum.

"Maaf sebelumnya bukan maksud Mba menyinggung. Kebetulan Mba punya beberapa stel baju yang sekali dua kali pakai ini buat Hanum gonta-ganti" kata Mba Nung mengulurkan satu buah paper bag berukuran sedang.

"Wah kebetulan sekali makasih banyak ya Mba" ucap Hanum sumringah.

1
Rezha Aulia
kenapa peran utama lemah,,swharus nya ad gitu istimewa nya
miftah
seru juga cerita'y
Bunda Silvia
setidaknya sampe hanum sama mas ardi nikah thor
Pik Pin
👍
erny
semangat Hanum yg jahat pasti kalah, mas arsi semoga menemukan jalan keluar nya
erny
semangat Hanum dkk☺️
Suci Fatana
waah gk rela q
Suci Fatana
sampe deg deg an q
Indah Astuti: Makasih ya Ka udah mampir di novel aku 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!