Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Kabar dari Jakarta
Di teras belakang rumah Ibu Sandra yang asri, angin sore kawasan Sleman berembus pelan, menggoyangkan dedaunan pepohonan mangga yang rimbun. Arunika duduk di atas kursi kayu panjang sambil menikmati segelas teh jahe hangat buatan Bibi Sumi yang aromanya menenangkan. Di sampingnya, Anggita sedang telaten memotong buah-buahan segar untuknya. Gadis itu baru saja pulang dari kampus untuk menyelesaikan tugas akhir. Berbeda dengan Arunika yang sudah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Anggita masih sibuk dengan skripsinya.
Tidak jauh dari mereka, Mas Anggoro sibuk merapikan tanaman hias di sudut halaman dengan tatapan protektif. Hari ini dia pulang kerja lebih cepat karena Ibu Sandra ada jadwal mengajar sore. Sejak Arunika tinggal bersama mereka, sebisa mungkin Ibu Sandra, Anggita, dan Mas Anggoro tidak meninggalkan Arunika sendirian di rumah. Meskipun ada Bibi Sumi, wanita paruh baya yang membantu pekerjaan Ibu Sandra sehari-hari, tapi keberadaan salah satu dari mereka bertiga untuk menemani Arunika jauh lebih efektif untuk memberikan rasa nyaman dan aman bagi Arunika.
Sedia payung sebelum hujan. Karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Meskipun Mas Anggoro sudah menyiapkan beberapa orang untuk menjaga rumah dan sekitarnya, Saka bisa saja datang dengan tiba-tiba, mengingat kekuasaan yang pria itu miliki.
Dan benar saja, kebersamaan dan ketulusan keluarga sepersusuannya yang sederhana namun penuh kehangatan ini memberikan kedamaian yang tidak pernah Arunika rasakan selama empat tahun terakhir ini, tepatnya setelah sang ayah, Bagus Wiranata tutup usia. Dia lebih sering menghabiskan waktunya sendiri, meskipun kepala pelayan di rumah mewah milik Saka itu sering menemaninya berbincang.
Keakraban dan kehangatan sore itu terusik oleh ponsel Arunika yang berada di atas meja kayu tiba-tiba bergetar. Nama Dinda tertulis dengan jelas di layarnya. Arunika tersenyum melihat nama itu. Jika di Jogja ada keluarga sepersusuannya yang menjaganya, maka di Jakarta ada Dinda yang terus memberikan informasi terbaru tentang Jakarta, terutama perkembangan proses cerainya.
Arunika segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan gawai itu ke telinganya. "Halo, Assalamualaikum, Din," sapa Arunika lembut.
"Waalaikumsalam, Nika! Aku punya banyak laporan baru dari Jakarta," suara Dinda terdengar bersemangat di seberang telepon, menyalurkan energi positif yang instan. "Sidang perceraian kamu dan Saka kemarin sukses besar. Pengacaramu bilang majelis hakim sudah mulai jengah melihat tim hukum Saka yang terus-menerus mengelak dengan alasan ingin mempertahankan rumah tangga. Bukti forensik digital tentang perselingkuhan Saka dan Valerie mutlak dan tidak bisa dibantah! Ketok palu cerai tinggal menghitung hari!"
Arunika tersenyum tipis, satu tangannya secara refleks mengusap perutnya yang mulai terasa sedikit mengencang seiring usia kandungan yang menginjak bulan keempat. "Alhamdulillah, Din. Semua berjalan sesuai jalur hukum. Lalu, bagaimana dengan pergerakan Saka di luar persidangan?"
Suara Dinda berubah agak serius di seberang sana. "Dia sudah seperti orang gila yang kehilangan arah, Nika. Dua hari lalu, dia nekat mendatangi perusahaan Mama. Sepertinya dia tahu aku membantu Mama di perusahaan sambil menunggu wisuda. Suamimu itu... eh, calon mantan suamimu menghadangku di parkiran bawah tanah dengan penampilan yang sangat kusut, matanya merah, dan napasnya memburu. Dia memohon-mohon, menanyakan di mana kamu berada sekarang. Dia sangat yakin kalau aku orang yang membantu kamu pergi dari rumahnya dan menyembunyikanmu di suatu tempat di Jakarta. Memang betul sih."
Terdengar tawa Dinda di seberang sana. Arunika ikut tertawa, setelah itu dia mengerutkan keningnya. "Lalu apa yang kamu katakan padanya?"
"Tentu saja aku pura-pura tidak tahu apa-apa!" Dinda terkekeh puas, mengingat momen kemenangan kecil itu. "Aku menatapnya dengan pandangan muak lalu bilang, 'Mana saya tahu, Tuan Saka? Bukankah Anda dan ibu Anda sendiri yang sangat yakin kalau Arunika adalah wanita lemah yang butuh kemewahan yang Anda berikan selama ini untuk bertahan hidup? Mungkin sekarang dia sedang berjuang sendirian di luar sana karena suaminya terlalu sibuk selingkuh.' Kamu tahu, Nika? Wajahnya langsung pucat pasi mendengar kalimatku. Kelihatan sekali kalau egonya terpukul telak."
Dinda menarik napas dalam sejenak sebelum menaikkan nada suaranya, bersiap membagikan berita yang paling memuaskan. "Oh, ada satu lagi hal yang paling luar biasa, Nika. Karena buntu tidak bisa mendapatkan informasi satu pun dariku, Saka pergi mendatangi kampus lamamu kemarin siang. Dia berjalan terburu-buru ke bagian administrasi rektorat, berniat mencari alamat barumu, berkas pengajuan alumni, atau petunjuk apa pun yang bisa menuntunnya kepadamu. Dan di sana, dia mendapatkan kejutan besar yang menghancurkan kesombongannya."
Arunika menaikkan alisnya, tertarik dengan kelanjutan cerita sahabatnya. "Kejutan?"
"Iya! Saka syok berat saat petugas administrasi kampus memberi tahu bahwa kamu sudah menyelesaikan sidang komprehensifmu dan resmi dinyatakan lulus sebagai sarjana tepat satu minggu sebelum kamu pergi dari rumahnya! Dia sepertinya baru sadar kalau lemari khusus di kamarmu kosong bukan karena kamu merajuk, melainkan karena kamu sudah mengemas seluruh hidupmu untuk mandiri." Dinda menjeda kalimatnya, memberikan penekanan emosional.
"Petugas kampus itu kebetulan kenalan dekat Mamaku, Nika. Dia bilang, Saka berdiri mematung di koridor rektorat seperti orang linglung selama beberapa menit. Lembaran berkas alumni yang dia pegang sampai bergetar. Saka baru sadar hari itu, bahwa wanita yang selama empat tahun ini dia remehkan dan dia anggap sebagai 'gadis penurut lulusan SMA yang miskin', ternyata diam-diam adalah sarjana berotak encer yang selalu melangkah beberapa jengkal di depan egonya. Dia menyadari seluruh rencana pelarianmu disiapkan dengan kecerdasan yang tidak pernah dia duga."
Arunika menarik napas dalam-dalam, merasakan gelombang kelegaan yang luar biasa menjalar di dalam dadanya. Bayangan Saka yang berdiri linglung dan tak berdaya di koridor kampusnya memberikan sebuah kepuasan yang elegan. Saka yang gila hormat kini harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya telah ditaklukkan oleh langkah sunyi seorang wanita yang selalu dia abaikan.
"Biarkan dia tetap meraba-raba ketakutannya di Jakarta, Din," ucap Arunika dengan nada suara yang sangat tenang namun berwibawa, matanya menatap langit sore yang mulai berubah warna jingga. "Dia sibuk mencari hantu di Jakarta, sementara aku di sini sedang fokus mempersiapkan diri menghadapi ujian seleksi pascasarjana UGM minggu depan."
"Betul sekali! Fokus saja pada masa depanmu, kuliah S2-mu, dan kesehatan calon keponakanku di dalam rahimmu, Nika. Biar urusan Jakarta menjadi medan perang hukumku dan pengacaramu," sahut Dinda penuh komitmen sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.
Arunika meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Anggita yang sejak tadi menyimak potongan percakapan itu langsung menyodorkan piring berisi potongan apel segar. "Mbak Nika hebat sekali. Biarkan mantan suamimu itu pusing dengan kebodohannya di Jakarta. Di sini, Mas Anggor dan aku siap mengawal Mbak ke kampus UGM kapan pun pendaftaran ujiannya dimulai."
Mas Anggoro yang sedang memegang gunting tanaman menoleh, mengangguk dengan sorot mata penuh komitmen untuk melindungi. "Benar, Nika. Kamu tidak usah cemas atau memikirkan Jakarta lagi. Fokus saja pada studimu dan kesehatan bayimu di Jogja."
Melihat ketulusan keluarga sepersusuannya yang begitu hangat, Arunika tersenyum sangat tulus. Di Jakarta, Saka mungkin sedang menghadapi awal dari runtuhnya topeng kesombongan dan kestabilan perusahaan Daniswara Group, sementara di Yogyakarta, di bawah perlindungan support system yang kokoh dan bayang-bayang masa depan akademis UGM, langkah sunyi Arunika telah membimbingnya menuju kemerdekaan yang seutuhnya.
yang pastinya mau balikan agar bisa jadi orang kaya lagi 🤣🤣🤣🤣
d kira gmpng gt buat ktmu sm nika.....🙄🙄🙄
stlh mnyesal krna udh mnykti arunika,sbntr lg bkln d ksih kjutan yg lain dr istri trcnta.....🙄🙄🙄
senengnya kalo arunika tetap di kelilingi org2 baik ,,
gx perlu km ketemu lgi dg saka ,, biar laa dy hdup yg telah di pilih ny ,,
slain kluarga,ada jg mas mahen yg diam2 prhtian....mnimal yg onoh ga bkln brani ngusik lg....
Lanjut thor👍👍