Lexa sudah siap di dalam mobil, hendak diantar menuju tempat abadi. Langit mulai menghitam kini, suara gemuruh saling bersahutan. Langit sudah tak sabar ingin menangis rupanya. Apa langit juga ikut sedih karena kepergian Lexa?
Erick menatap langit dengan gagah berani. Seperti ingin memberi tahu kepada langit agar cepat menurunkan hujan. Erick ingin semua orang yang ada disini pergi. Semua orang yang hanya menyia-nyiakan waktu Lexa.
Sejak Lexa di keluarkan dari sekolah secara sepihak, Erick sudah merasa kesal kepada sekolahnya. Sekolah yang menjadi tempat untuk menuntut ilmu bagi siapapun, berubah menjadi tempat yang pandang bulu.
Apa salahnya jika Lexa ingin bersekolah? Itu hak mutlak bagi seorang anak. Apa salah juga, jika Lexa sakit? Bukankah sakitnya tidak menular hanya dengan bertatapan mata? Bukankah selama ini juga Lexa selalu berusaha menjaga jarak kepada mereka?
Lexa paham betul sakitnya akan mendatangkan bencana, maka dari itu dia membuat benteng sendiri untuk dirinya dengan orang lain. Lagi pula, bukan salah Lexa juga dia sampai sakit seperti ini. Pikiran Erick seketika mulai dipenuhi emosi jika memikirkan hal-hal menyangkut Lexa.
Erick melirik Angga, dia memberi isyarat kepada Angga agar segera membawa Lexa pergi dari sini. Sudah sangat lama Irma berbasa-basi kepada Ratih. Belum lagi Ratih harus menyalami satu persatu teman-teman Lexa, akan sangat memakan waktu.
Angga paham maksud Erick. Dia langsung mengangguk sebagai tanda persetujuan atas isyarat dari Erick itu.
"Mohon maaf, Ibu Guru Lexa... Kami harus segera pergi. Tidak baik jika kami berlama-lama membiarkan Lexa." Pinta Angga dengan sangat hormat.
"Oh ya, Pak... Silahkan! Sekali lagi saya minta maaf atas segala kesalahan kami baik yang disengaja ataupun tidak disengaja untuk Lexa dan Bu Ratih tentunya. Maaf Bu, mudah-mudahan Bu Ratih berkenan memaafkan kami." Ucap Irma yang sedari tadi menggenggam tangan Ratih.
Ratih hanya menjawab dengan senyum seadanya.
"Baiklah, ayo Pak kita berangkat!" Perintah…
Don'T Leave Me
Tanah Merah
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 80 Episodes
Comments