Mobil yang dikemudikan Rafli melesat cepat menerobos jalanan yang padat. Beberapa kali ia hampir menabrak kendaraan di depan ketika berusaha menyalip. Rafli tak peduli apapun lagi, yang ia inginkan hanya menemukan Aika dan juga Arumi, dan membawa mereka pulang ke rumah.
"Aku tahu kau sedang buru-buru, tapi tolong jangan gila!" ucap Evan sambil mengetatkan pegangan. Karena kegilaan Rafli, ia harus beberapa kali terbentur ke jendela mobil.
"Jangan banyak bicara! Kau mengganggu konsentrasiku!"
Bukannya mengindahkan peringatan Evan, Rafli malah semakin menggila. Menginjak pedal gas dalam hingga mobil melaju cepat bak hembusan angin.
"Setidak nya aku harus ada saat anakku lahir. Aku tidak mau mati karena kekonyolanmu ini!" Lagi, Evan bersuara. Laki-laki itu agak trauma berkendara dengan kecepatan di atas rata-rata. Sebab beberapa bulan lalu ia mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak bisa berjalan dalam waktu yang cukup lama.
Osman yang duduk di belakang ikut merasakan ketegangan. Ia agak menyesal mengapa tadi membiarkan Rafli yang menyetir. Padahal ia tahu betul bagaimana laki-laki itu saat sedang panik.
"Itu benar! Kalian berdua enak, sudah punya anak. Aku masih sendiri sampai sekarang," tambah Osman meratapi kejombloan-nya.
"Kenapa kalian berisik sekali sejak tadi?" Rafli melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan di depan. Dia sudah cukup terganggu dengan ocehan Evan dan Osman.
"Bukan kami yang berisik, tapi kau! Apa kau tidak sadar kalau perbuatanmu ini bisa membahayakan orang lain?" gerutu Evan.
"Aku tidak peduli!"
Sebuah jawaban singkat yang berhasil membungkam Evan. Sejenak ia menoleh ke belakang. Osman terlihat sedang berpegangan pada kursi dengan raut wajah tertekuk.
*
*
Jarak tempuh yang normalnya satu jam hanya ditempuh dalam 20 menit, karena Rafli mengemudi dengan kecepatan penuh, hingga membuat Evan dan Osman merasa mual.
"Oh perutku mual sekali," keluh Evan sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Begitu mobil terhenti, Rafli bergegas turun men…
Wanita Samaran Untuk Dokter
Kita Akan Pergi Ke Tempat Yang Baru
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 70 Episodes
Comments
Nisa Nisa
dgn membeli tiket pesawat itu bukan melarikan diri Arumi apalagi dgn identitas asli itu sama saja hanya main kejar-kejaran dgn seorang Rafli.. haduh ini Arumi terlalu polos apa bodoh
2025-05-10
0
febby fadila
hmmm klw mau melarikan diri harusnya kamu pakai identitas palsu juga arumi astaga
2026-04-02
0
Yunerty Blessa
sabar saja Osman dan Ewan 🤣🤣
2025-05-01
0