Bab 05. MJ

...~•Happy Reading•~...

Mendengar ucapan Enni, dr Kirana jadi tersenyum dalam hati. Dia sendiri sudah lapar, sebab sepanjang malam hanya sempat minum kopi instan. Jadi dia telah minta perawat membawa sarapan ke kamar Enni.

"Tunggu, ya. Sebentar lagi sarapan akan diantar ke sini. Sementara menunggu, saya mau ingatkan, jangan sampai semua lukamu basah. Terutama yang di kaki, supaya lekas sembuh. Jadi kalau mau ke kamar mandi, panggil suster." Dr Kirana berkata setelah memeriksa kaki Enni yang terluka karena berlari tanpa alas kaki.

"Iya, dokter, trima kasih." Enni berkata dengan suara bergetar dan mata mulai tergenang. Dia sangat terharu, merasakan perhatian tidak terduga dari seorang dokter yang tidak dia kenal dan juga tidak mengenalnya. Cara Dr Kirana memperlakukan dia lebih dari seorang pasien, seperti keluarga sendiri membuat hatinya penuh, meluap dan ingin menangis.

"Tidak baik, sedih di pagi hari. Mulai sekarang harus kuat dan semangat, agar semua luka ini bisa lekas sembuh." Dr Kirana berkata tanpa melihat ke arah Enni. Dia tahu Enni sedang sedih dari getaran suaranya, jadi menyemangatinya.

Dr Kirana ingin Enni lekas sembuh, agar bisa tahu apa yang bisa dia lakukan buat hidupnya dan juga buat orang yang sudah menyakitinya.

"Ayo, sarapan. Suster, tolong rapikan posisi pasien untuk makan." Ucap dr Kirana kepada suster yang sudah mengantar sarapan untuk mereka dan melihat Enni agak kesulitan duduk.

Suster membantu Enni, lalu segera mendorong meja makan pasien ke arah Enni yang sudah duduk untuk sarapan. Dr Kirana juga sudah duduk di sofa yang ada dalam ruangan untuk sarapan bersama Enni.

"Ada lagi yang mau dibantu, Dok." Tanya suster, pelan dan sopan. Dia mengira pasien adalah keluarga dr Kirana, sebab dr Kirana mau makan bersama dengannya di kamar pasien.

Selain itu suster tahu, pasien belum terdaftar di ruangan mawar. Jadi makin menguatkan dugaannya, pasien adalah keluarga dr Kirana. Jadi mungkin masuk dan dirawat di bagian itu lewat jalur khusus.

"Nanti saya ke ruangan untuk bicara dengan suster kepala." Ucap dr Kirana setelah selesai sarapan, lalu meletakan bekas perangkat makan di meja.

"Baik, Dok." Suster segera merapikan perangkat makan Enni dan dr Kirana, lalu keluar meninggalkan mereka berdua.

"Masih bisa duduk?" Tanya dr Kirana, sambil berjalan mendekati ranjang Enni setelah suster menutup pintu di belakangnya.

"Iya, dok. Masih ingin duduk." Jawab Enni pelan, lalu bersandar ke kepala ranjang. Dr Kirana mengambil bantal, lalu letakan di punggung Enni agar dia bisa lebih nyaman bersandar. Lalu menaikan bagian kepala ranjang.

"Kau benar bernama Enni?" Tanya dr Kirana sambil duduk di samping ranjang Enni. Dr Kirana ingin tahu untuk meyakinkan dirinya, mana yang benar. Sebab asisten suaminya mengatakan dia bernama Winda.

"Iya, dok, benar. Dari mana dokter tau nama saya?" Tanya Enni bingung, sebab nama itu sudah tidak pernah digunakan sangat lama dan hampir terlupakan.

"Dari kau sendiri. Kau lupa, pernah mengatakan namamu padaku tadi malam? Tepatnya, dini hari." Dr Kirana bertanya, tapi mulai mengerti, Enni mengatakan namanya tanpa dia sadari.

Enni menggeleng sambil berpikir, kapan dia mengatakan namanya. Dia sendiri tidak tahu bahwa sudah pindah ruangan. Semuanya terasa sama baginya.

"Ooh, dari saya. Maaf, dokter. Saya tidak ingat pernah bilang itu." Ucap Enni pelan sambil mengingat-ingat, tapi tidak ingat sama sekali.

"Iyaa, kau katakan namamu saat baru siuman. Kau dalam keadaan pingsan saat dibawa ke sini. Ada yang mau kau tanyakan?" Dr Kirana bertanya, sebab melihat Enni agak bingung melihat ruangan dia dirawat.

"Dok, boleh tahu, ini tahun berapa?" Enni tiba-tiba bertanya, sebab dia baru pernah melihat semua yang ada di sekitarnya. Ada televisi berlayar datar di dalam kamar yang baru pernah dilihatnya.

Dia melihat juga, dr Kirana berbicara dengan orang lewat bendah pipih di telinga. Semua itu menarik perhatian dan rasa ingin tahunya.

Sedangkan dr Kirana melihatnya dengan alis bertaut sambil bertanya-tanya dalam pikirannya. 'Apa sebenarnya yang terjadi dengan Enni? Suatu pertanyaan yang tidak biasa.' Rasa penasaran membuat Dr Kirana menyebutkan tanggal, bulan dan tahun kepada Enni sambil melihat reaksinya dengan serius.

"Ooh, makasih, dokter. Jadi sekarang saya hampir berusia 30 tahun." Enni mengingat usia terakhir saat dia sedang kuliah. Dia baru melewati usia 19 tahun, lalu diperkosa oleh Bargani.

Dia menarik nafas panjang, mengingat masa mudanya, masa-masa indah menurut kata orang dan buku cerita terlewati begitu saja. Sepuluh tahun lebih usianya sangat sia-sia.

Semua yang telah berlalu kembali terbayang di ingatannya. Masa indah saat kuliah, hidup bersama kakak dan adiknya. Kejadian diperkosa oleh Bargani, ikut bersama Lusina. Dijual oleh Lusina kepada Mami Sinna, kemudian dijual lagi oleh Mami Sinna kepada Barry.

Semuanya berputar dalam ingatannya, tanpa dia sadari. Hanya perubahan tubuhnya yang dia rasakan sesuai pertambahan usia. Dia lebih tinggi dari saat masih kuliah.

Enni jadi menyadari, sudah sepuluh tahun hidup bersama orang-orang barbar. Hal itu membuat air matanya mengalir tanpa bisa dicegah.

"Apa maksudmu? Selama ini kau tidak tahu tahun-tahun berlalu? Apa kau pernah mengalami amnesia?" Tanya dr Kirana, heran. Dia teringat ucapan pria kekar, bahwa istri bossnya sakit dan suka mengamuk.

'Apakah benar, Enni sakit, sehingga tidak tahu waktu telah berlalu?' Dr Kirana terus membatin sambil melihat Enni dengan serius. Dia jadi berpikir untuk memeriksa kesehatan mental Enni setelah luka-lukanya sembuh.

"Tidak dokter. Hanya saya tidak pernah melihat kalender, jadi tidak tahu pergantian waktu." Jawaban Enni membuat dr Kirana bingung, seakan Enni berada di dunia yang tidak sama dengan dirinya. Sebab dia melihat waktu setiap saat, secara otomatis dengan fasilitas yang tersedia.

Dr Kirana mengalihkan topik pembicaraan, agar bisa mengerti kesehatan pikiran dan mental Enni. "Kau tahu, siapa wanita yang bernama Winda?" Tanya dr Kirana lagi, sekaligus untuk konfirmasi. Dia mau memastikan hubungan Enni dengan pria kekar yang mencarinya.

"Itu juga, nama saya, dokter." Jawab Enni, kembali dengan suara bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Nama itu mengingatkan dia pada kehidupan kelamnya bersama orang-orang yang menyanderanya.

"Nama keduamu, Winda?" Tanya dr Kirana serius.

"Bukan, dokter. Itu nama yang diberikan oleh seorang Mami saat saya dijadikan wanita penghibur." Enni menjawab makin pelan dan menunduk malu. Dia tidak berani memandang wajah dr Kirana saat menyebutkan profesinya.

Ucapan Enni membuat dr Kirana terhenyak. Semua hal tentang Enni yang ada dalam pikirannya buyar seketika. Sikap dan mata Enni tidak mencerminkan bahwa dia adalah seorang wanita yang bergelut di bidang itu.

Lalu semua luka-luka yang ada pada tubuhnya ini, akibat dari profesinya? Tiba-tiba dr Kirana menutup mulut dengan tangan kanannya sambil melihat Enni dan berpikir ke berbagai arah.

'Apa yang membuat dia bertahan lakukan profesi itu dan mau saja menerima diperlakukan kasar oleh para lelaki jahat? Apakah uang yang jadi motivasi, hingga dia terus bertahan?' Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak dr Kirana.

...~▪︎▪︎▪︎~...

...~●○¤○●~...

Terpopuler

Comments

Gendhis

Gendhis

saking lama nya di sekap oleh berry, untuk di jadikan budak pemuas nafsu,

2024-12-26

1

☠ႦαRAkudA

☠ႦαRAkudA

berdoa lah, Krn usaha tanpa doa bagai sayur tanpa garam

2024-09-06

1

💋ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ🤎•§¢•🦢🍒

💋ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ🤎•§¢•🦢🍒

Jalur langit sus 🤭

2024-05-27

1

lihat semua
Episodes
1 01. Menghapus Jejak (MJ)
2 Bab 02. MJ
3 Bab 03. MJ
4 Bab 04. MJ
5 Bab 05. MJ
6 Bab 06. MJ
7 Bab 07. MJ
8 Bab 08. MJ
9 Bab 09. MJ
10 Bab 10. MJ
11 Bab 11. MJ
12 Ban 12. MJ
13 Bab 13. MJ
14 Bab 14. MJ
15 Bab 15. MJ
16 Bab 16. MJ
17 Bab 17. MJ
18 Bab 18. MJ
19 Bab 19. MJ
20 Bab 20. MJ
21 Bab 21. MJ
22 Bab 22. MJ
23 Bab 23. MJ
24 Bab 24. MJ
25 Bab 25. MJ
26 Bab 26. MJ
27 Bab 27. MJ
28 Bab 28. MJ
29 29. MJ 29.
30 Bab 30. MJ
31 Ban 31. Keluarga Mathias.
32 Bab 32. Keluarga Mathias 2.
33 Bab 33. Keluarga Mathias 3.
34 Bab 34. Keluarga Mathias
35 Bab 35. MJ
36 Bab 36. MJ
37 Bab 37. MJ
38 Bab 38. MJ
39 Bab 39. MJ
40 Bab 40. MJ
41 Bab 41. MJ
42 Bab 42. MJ
43 Bab 43. MJ
44 Bab 44. MJ
45 Bab 45. MJ
46 Bab 46. MJ
47 Bab 47. MJ
48 Bab 48. MJ
49 Bab 49. MJ
50 Bab 50. MJ
51 Bab 51. MJ
52 Bab 52. MJ
53 Bab 53. MJ
54 Bab 54. MJ
55 Bab 55. MJ
56 Bab 56. MJ
57 Bab 57. MJ
58 Bab 58. MJ
59 Bab 59. MJ
60 Bab 60. MJ
61 Bab 61. MJ
62 Bab 62. MJ
63 Ban 63. MJ
64 Bab 64. MJ
65 Bab 65. MJ
66 Bab 66. MJ
67 Ban 67. Keluarga Emily
68 Bab 68. Keluarga Emily
69 Bab 69. Keluarga Emily
70 Bab 70. MJ
71 Bab 71. MJ
72 Bab 72. MJ
73 Bab 73. MJ
74 Bab 74. MJ
75 Bab 75. MJ
76 Bab 76. MJ
77 Bab 77. MJ
78 Bab 78. MJ
79 Bab 79. MJ
80 Bab 80. MJ 73.
81 Bab 81. MJ
82 Bab 82. MJ
83 Bab 83. MJ
84 Bab 84. MJ
85 Bab 85. MJ
86 Bab 86. MJ
87 Bab 87. MJ
88 Ban 88. MJ
89 Bab 89. MJ
90 Bab 90. MJ
91 Bab 91. MJ
92 Bab 92. MJ
93 Bab 93. MJ
94 Bab 94. MJ
95 Nab 95. MJ
96 Bab 96. MJ
97 Bab 97. Keluarga Mathias
98 Bab 98. Keluarga Mathias
99 Bab 99. MJ
100 Bab 100. MJ
101 Bab 101. MJ
102 Bab 102. MJ
103 Bab 103. MJ
104 Bab 104. MJ
105 Bab 105. MJ
106 Bab 106. MJ
107 Bab 107. MJ
108 Bab 108. MJ
109 Bab 109. MJ
110 Bab 110. MJ
111 Bab 111. MJ
112 Bab 112. MJ
113 Bab 113. MJ
114 Bab 114. MJ
115 Bab 115. MJ
116 Bab 116. MJ
117 Bab 117. Persidangan.
118 Bab 118. Persidangan
119 Bab 119. Persidangan
120 Bab 120. Persidangan
121 Bab 121. Persidangan
122 Bab 122. Persidangan
123 Bab 123. Persidangan
124 Bab 124. Persidangan
125 Ban 125. Persidangan
126 Bab 126. Persidangan
127 Bab 127. Persidangan
128 Bab 128. Persidangan
129 Bab 129. Persidangann
130 Bab 130. Persidangan
131 Bab 131. Persidangan
132 Bab 132. Persidangan
133 Bab 133. Persidangan
134 Bab 134. Persidangan
135 Bab 135. Persidangan
136 Bab 136. Persidangan
137 Bab 137. Persidangan
138 Bab 138. Persidangan
139 Bab 139. Persidangan
140 Bab 140. Persidangan
141 Bab 141. Persidangan
142 Bab 142. Persidangan
143 Bab 143. Persidangan
144 Bab 144. Persidangan
145 Bab 145. Persidangan
146 Bab 146. Persidangan
147 Bab 147. Persidangan
148 Bab 148. Persidangan Akhir
149 Bab 149. Persidangan Akhir
150 Bab 150. Persidangan Akhir
151 Bab 151. Persidangan Akhir
152 Bab 152. Persidangan Akhir
153 Bab 153. Persidangan Akhir
154 Bab 154. Persidangan Akhir
155 Ban 155. Persidangan Akhir
156 Bab 156. Persidangan Akhir
157 Bab 157. Persidangan Akhir
158 Bab 158. Akhir
159 ︎Ekstra Part ︎
Episodes

Updated 159 Episodes

1
01. Menghapus Jejak (MJ)
2
Bab 02. MJ
3
Bab 03. MJ
4
Bab 04. MJ
5
Bab 05. MJ
6
Bab 06. MJ
7
Bab 07. MJ
8
Bab 08. MJ
9
Bab 09. MJ
10
Bab 10. MJ
11
Bab 11. MJ
12
Ban 12. MJ
13
Bab 13. MJ
14
Bab 14. MJ
15
Bab 15. MJ
16
Bab 16. MJ
17
Bab 17. MJ
18
Bab 18. MJ
19
Bab 19. MJ
20
Bab 20. MJ
21
Bab 21. MJ
22
Bab 22. MJ
23
Bab 23. MJ
24
Bab 24. MJ
25
Bab 25. MJ
26
Bab 26. MJ
27
Bab 27. MJ
28
Bab 28. MJ
29
29. MJ 29.
30
Bab 30. MJ
31
Ban 31. Keluarga Mathias.
32
Bab 32. Keluarga Mathias 2.
33
Bab 33. Keluarga Mathias 3.
34
Bab 34. Keluarga Mathias
35
Bab 35. MJ
36
Bab 36. MJ
37
Bab 37. MJ
38
Bab 38. MJ
39
Bab 39. MJ
40
Bab 40. MJ
41
Bab 41. MJ
42
Bab 42. MJ
43
Bab 43. MJ
44
Bab 44. MJ
45
Bab 45. MJ
46
Bab 46. MJ
47
Bab 47. MJ
48
Bab 48. MJ
49
Bab 49. MJ
50
Bab 50. MJ
51
Bab 51. MJ
52
Bab 52. MJ
53
Bab 53. MJ
54
Bab 54. MJ
55
Bab 55. MJ
56
Bab 56. MJ
57
Bab 57. MJ
58
Bab 58. MJ
59
Bab 59. MJ
60
Bab 60. MJ
61
Bab 61. MJ
62
Bab 62. MJ
63
Ban 63. MJ
64
Bab 64. MJ
65
Bab 65. MJ
66
Bab 66. MJ
67
Ban 67. Keluarga Emily
68
Bab 68. Keluarga Emily
69
Bab 69. Keluarga Emily
70
Bab 70. MJ
71
Bab 71. MJ
72
Bab 72. MJ
73
Bab 73. MJ
74
Bab 74. MJ
75
Bab 75. MJ
76
Bab 76. MJ
77
Bab 77. MJ
78
Bab 78. MJ
79
Bab 79. MJ
80
Bab 80. MJ 73.
81
Bab 81. MJ
82
Bab 82. MJ
83
Bab 83. MJ
84
Bab 84. MJ
85
Bab 85. MJ
86
Bab 86. MJ
87
Bab 87. MJ
88
Ban 88. MJ
89
Bab 89. MJ
90
Bab 90. MJ
91
Bab 91. MJ
92
Bab 92. MJ
93
Bab 93. MJ
94
Bab 94. MJ
95
Nab 95. MJ
96
Bab 96. MJ
97
Bab 97. Keluarga Mathias
98
Bab 98. Keluarga Mathias
99
Bab 99. MJ
100
Bab 100. MJ
101
Bab 101. MJ
102
Bab 102. MJ
103
Bab 103. MJ
104
Bab 104. MJ
105
Bab 105. MJ
106
Bab 106. MJ
107
Bab 107. MJ
108
Bab 108. MJ
109
Bab 109. MJ
110
Bab 110. MJ
111
Bab 111. MJ
112
Bab 112. MJ
113
Bab 113. MJ
114
Bab 114. MJ
115
Bab 115. MJ
116
Bab 116. MJ
117
Bab 117. Persidangan.
118
Bab 118. Persidangan
119
Bab 119. Persidangan
120
Bab 120. Persidangan
121
Bab 121. Persidangan
122
Bab 122. Persidangan
123
Bab 123. Persidangan
124
Bab 124. Persidangan
125
Ban 125. Persidangan
126
Bab 126. Persidangan
127
Bab 127. Persidangan
128
Bab 128. Persidangan
129
Bab 129. Persidangann
130
Bab 130. Persidangan
131
Bab 131. Persidangan
132
Bab 132. Persidangan
133
Bab 133. Persidangan
134
Bab 134. Persidangan
135
Bab 135. Persidangan
136
Bab 136. Persidangan
137
Bab 137. Persidangan
138
Bab 138. Persidangan
139
Bab 139. Persidangan
140
Bab 140. Persidangan
141
Bab 141. Persidangan
142
Bab 142. Persidangan
143
Bab 143. Persidangan
144
Bab 144. Persidangan
145
Bab 145. Persidangan
146
Bab 146. Persidangan
147
Bab 147. Persidangan
148
Bab 148. Persidangan Akhir
149
Bab 149. Persidangan Akhir
150
Bab 150. Persidangan Akhir
151
Bab 151. Persidangan Akhir
152
Bab 152. Persidangan Akhir
153
Bab 153. Persidangan Akhir
154
Bab 154. Persidangan Akhir
155
Ban 155. Persidangan Akhir
156
Bab 156. Persidangan Akhir
157
Bab 157. Persidangan Akhir
158
Bab 158. Akhir
159
︎Ekstra Part ︎

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!