Bab 3

"Apa maksudmu memanggil namaku keras-keras?! Semua orang di luar kelas bisa mendengarnya, tahu!" teriak seorang gadis berambut merah dengan gaya ponytail sambil melangkah gusar ke arah kami berdua.

"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Chaca yang berjalan mengekor di belakang gadis itu. "Benar, suaramu terdengar sampai ke koridor, Reon. Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan?"

Gadis berambut merah itu ikut melayangkan tatapan menuntut yang sama kepada kami.

"T-Tidak ada apa-apa kok, Rissa..." jawab Reon dengan wajah gugup, lalu tersenyum cengengesan.

Rissa, gadis yang beberapa saat lalu kami bicarakan, kini menatap Reon dengan penuh curiga. "Benarkah?" selidiknya dengan tatapan tajam.

"I-Iya... benar. Tanya saja pada Clift kalau tidak percaya, hehehe," sahut Reon, mencoba mencari tameng.

"Ya sudahlah. Aku malas memperpanjang masalah ini. Hujannya sudah reda, ayo pulang," ajak Rissa sembari menarik tangan Reon. Ia kemudian menoleh ke arah kami. "Kalau begitu, kami berdua pulang duluan ya. Sal, Clift, sampai jumpa lagi!" Rissa melambaikan tangannya sebelum menuntun Reon keluar dari kelas.

"Iya."

"Sampai jumpa juga, Ris," ujar kami berdua bersamaan.

Suasana seketika berubah hening. Kini, hanya tersisa aku dan Chaca di dalam kelas.

"Jadi... mau pulang sekarang?" tanya Chaca, memecah kecanggungan.

"Tunggu sebentar," jawabku. Aku kembali ke bangkuku, mengambil tas sekolah, lalu menyampirkannya di bahu sebelum menghampirinya lagi. "Ayo pergi."

"Mhm." Chaca mengangguk-angguk kecil sembari mengulas senyum.

Setelah melewati gerbang sekolah, kami berjalan beriringan sambil membicarakan berbagai hal seputar kegiatan harian, baik di rumah maupun di sekolah. Kecuali tentang obrolanku dengan Reon sebelumnya. Chaca tidak tahu apa pun. Meski sempat bertanya, aku hanya menjawab bahwa itu adalah hal yang memalukan, sehingga dia memilih untuk berhenti mendesakku.

"Apa kamu ada kegiatan sore ini?" tanya Chaca tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depan kami.

"Aku tidak punya agenda apa pun. Memangnya kenapa?" tanyaku balik.

"Bisakah kamu menemaniku ke pusat kota? Aku ingin membeli sesuatu..." pintanya dengan ekspresi wajah memohon.

"Boleh saja. Kapan kita pergi?"

"Benarkah? Kalau begitu, sekarang saja!" ucapnya dengan mata berbinar-binar gembira.

Pusat kota, atau yang lebih dikenal sebagai pusat perbelanjaan, adalah tempat masyarakat di negara ini berburu barang kebutuhan mereka. Bagi kami yang tinggal di kota ini, akses ke sana terbilang mudah. Jarak dari wilayah kami ke area perbelanjaan itu hanya sekitar satu kilometer. Bagi kami yang sudah terbiasa berjalan kaki sejak kecil, jarak sejauh itu sama sekali tidak terasa jauh.

Kami pun berbelok ke arah kanan, melangkah menuju area perbelanjaan. Di sepanjang perjalanan, kami kembali hanyut dalam obrolan acak; mulai dari film yang sedang tren hingga keseharian kami berdua.

Beberapa saat kemudian, kami akhirnya tiba di depan gerbang kompleks pertokoan tempat gedung-gedung mal berdiri tegak. Kami berdua melangkahkan kaki melewati gerbang tersebut.

GONGGGGG!!!!!! GONGGG!!! GONGGGG!!!!

Tiba-tiba, suara dentuman yang sangat keras menggema dari langit. Aku dan Chaca refleks menutup telinga rapat-rapat demi melindungi gendang telinga kami dari suara memekakkan tersebut.

Sinar matahari jingga yang semula menyelimuti bumi mendadak lenyap, digantikan oleh hamparan awan hitam yang sangat pekat. Kabut asap tipis muncul entah dari mana, mengaburkan pandangan kami. Sesaat kemudian, saat kabut mulai menipis, seluruh warga kota menghilang begitu saja secepat kedipan mata.

"Ada apa ini sebenarnya...?" gumamku, merinding.

Ketika pandangan kami kembali bersih, apa yang tersaji di depan mata benar-benar menyerupai sebuah kota mati yang kosong melompong. Jalanan yang beberapa detik lalu masih dipadati oleh lalu-lalang mobil dan sepeda motor kini lengang seketika.

"Kenapa kota ini mendadak sepi sekali, Clift?" bisik Chaca dengan suara bergetar akibat rasa bingung dan takut yang menjalar.

"A-Aku juga tidak tahu..." jawabku terbata.

Situasi abnormal ini membuatku linglung. Secara naluriah, aku merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel, dan mencoba menghubungi nomor Reon.

"Clift... kamu menelepon siapa?" tanya Chaca saat melihatku menempelkan ponsel ke telinga.

"Reon. Aku mencoba menghubunginya, tapi tidak ada nada sambungan sama sekali. Jaringan internet di sini juga mendadak buruk," ucapku, menatap layar ponsel yang kehilangan sinyal.

"Apa kita harus ke kantor polisi sekarang?" usul Chaca.

"Menurutku itu tidak akan berhasil," balasku ragu.

"Kenapa?"

"Kalau polisi masih ada di sekitar sini, kota ini pasti sudah riuh oleh raungan sirene mobil mereka."

"Benar juga... Jadi kita harus pergi ke mana lagi, Clift?" Chaca menatapku dengan wajah cemas.

"Sepertinya kita harus masuk ke dalam gedung mal itu dulu. Mungkin ada beberapa orang yang bernasib sama seperti kita. Lagipula, entah mengapa instingku mengatakan ada sesuatu di dalam sana," ujarku, mengarahkan pandangan ke gedung mal yang sejak awal menjadi tujuan kami.

Tok! Tok! Tok!

Aku mengetuk pintu kaca yang terkunci rapat. Seperti dugaanku, aliran listrik di kota ini telah padam total. Itulah alasan mengapa pintu sensor otomatis mal ini sama sekali tidak berfungsi.

"Sepertinya kita tidak bisa masuk, Clift... Kita harus mencari cara lain," ucap Chaca pasrah.

"Tunggu sebentar," kataku. Aku melangkah beberapa meter menjauhi pintu, lalu mulai memunguti beberapa bongkahan batu yang berceceran di halaman depan mal.

Besar atau kecil aku tak peduli.... Aku memasukkan semuanya ke dalam tas.

"Clift! Apa yang kamu lakukan?!" tanya Chaca terkejut saat melihatku memasukkan batu-batu kecil itu ke dalam tas sekolah.

"Kita harus masuk ke dalam mal ini, bagaimanapun caranya," sahutku tanpa menoleh.

Aku kembali mendekati pintu masuk mal dengan mencengkeram erat tas sekolahku yang kini terasa jauh lebih berat karena berisi bebatuan.

"Hanya ini satu-satunya cara agar kita bisa masuk. Chaca, mundur!"

Mendengar perintahku yang tegas, Chaca secara spontan memundurkan langkahnya dan menjauh dari area pintu. Setelah memastikan posisi Chaca aman, aku mengambil ancang-ancang, berlari sekuat tenaga, lalu melemparkan tasku sekuat mungkin ke arah pintu kaca mal tersebut.

KRAKKK... PRANGGGG!!!!

Kaca tebal itu seketika pecah berkeping-keping, menyisakan lubang besar yang membuka jalan bagi kami.

"Sepertinya sudah bisa. Ayo masuk!" ajakku pada Chaca.

"Iya..." Jawab Chaca, langsung menggenggam erat tanganku yang gemetar.

Begitu berhasil menyusup ke dalam, aku memungut kembali tasku, membersihkannya dari sisa pecahan kaca, lalu kami mulai menjelajahi lantai satu mal yang sunyi senyap.

"Sepertinya di sini juga tidak ada apa-apa ya..." bisik Chaca cemas.

"Untuk sekarang, fokus kita adalah bertahan hidup. Aku tidak tahu fenomena gila apa ini, tapi yang jelas, kita harus tetap hidup," ucapku mantap, mencoba menguatkan hati kami berdua.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!