Di depan ruang IGD, tepatnya di ruang tunggu, seorang pemuda duduk dengan hati yang bercampur aduk. Takut, khawatir, sedih, sekaligus bahagia—semuanya melebur menjadi satu.
Pemuda itu sangat mencemaskan keadaan gadis yang sedang ditangani oleh dokter. Pasalnya, sebelum gadis itu dibawa masuk ke ruang IGD, ia sempat melihat sebuah kalung yang sangat familiar dan begitu melekat dalam ingatannya.
Kalung yang dulu ia pasangkan sendiri ke leher kecil sang adik.
Kalung yang secara khusus dipesan oleh keluarganya.
Sejak tadi, pemuda itu terus merapalkan doa kepada Tuhan, berharap gadis tersebut baik-baik saja.
Pemuda itu adalah William Orlando Pratama.
Air mata terus menetes tanpa disadari William. Pemandangan tersebut tentu membuat tiga remaja yang baru saja tiba di ruang tunggu merasa bingung sekaligus terkejut. Mereka tak pernah menyangka akan melihat abang sulung mereka menangis.
Terakhir kali mereka melihat William menangis adalah ketika adik perempuan mereka satu-satunya menghilang setelah diculik oleh pesaing bisnis keluarga mereka.
Ketiga remaja itu hanya bisa terdiam. Mereka memperhatikan sang abang tanpa tahu harus melakukan apa.
Dua jam telah berlalu, tetapi dokter yang menangani Queen belum juga keluar.
William bahkan sejak tadi terus mondar-mandir di depan pintu IGD tanpa tujuan yang jelas.
Padahal, gadis itu hanyalah seseorang yang baru saja ia temui. Bahkan, William sama sekali tidak mengenalnya.
Namun, mengapa ia merasakan ikatan yang begitu kuat dengan gadis tersebut?
Segala tingkah laku William diperhatikan oleh ketiga adiknya yang duduk tak jauh darinya.
"Bang Will kenapa, ya, Bang? Sepertinya khawatir banget sama gadis tadi," tanya salah satu dari mereka, Kennard Reksa Pratama, kepada saudaranya yang duduk di sebelahnya.
Kennedy Abraham Pratama hanya mengangkat bahu sebagai tanda tidak tahu. Namun, rasa penasarannya tetap ada. Tatapannya bahkan tak pernah lepas dari sang abang sulung.
"Tapi, Bang, kalau diperhatikan lebih dekat, mata Bang Will kayak habis nangis," ujar Kenzie Aksa Pratama.
Kennedy dan Kennard mengangguk, membenarkan ucapan Kenzie.
Akhirnya, Kennedy memberanikan diri untuk mendekati William. Ia hendak menanyakan sesuatu tentang gadis yang tanpa sengaja mereka tabrak tadi.
"Bang..." panggil Kennedy.
William menoleh ke arahnya.
Namun, sebelum Kennedy sempat melanjutkan perkataannya, pintu IGD di hadapan mereka tiba-tiba terbuka.
Seorang dokter keluar dari dalam ruangan.
William yang melihat dokter tersebut segera berjalan menghampirinya. Hampir dua jam lebih dokter itu berada di dalam untuk menangani Queen.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya William dengan wajah cemas.
"Anda siapanya pasien?" Dokter itu justru balik bertanya.
"Saya pengemudi yang tidak sengaja menabraknya, Dok. Jadi, bagaimana keadaan gadis tersebut?" William menjelaskan.
Dokter itu menarik napas sebelum mulai menjelaskan.
"Pasien mengalami pendarahan yang cukup parah. Selain itu, terdapat sedikit keretakan pada tulang tengkoraknya. Pasien juga membutuhkan transfusi darah. Sayangnya, stok darah dengan golongan yang sama saat ini tidak tersedia di rumah sakit karena golongan darah pasien sangat langka."
Wajah William semakin panik.
"Apakah kondisinya buruk, Dok? Dan gadis itu memiliki golongan darah apa? Siapa tahu golongan darah saya sama dengan dia."
"Saya belum bisa memastikan kondisinya sebelum pasien mendapatkan transfusi darah. Semoga saja malam ini pasien dapat melewati masa kritisnya."
Dokter itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Untuk golongan darahnya, pasien memiliki Rh-null atau Rhesus-null, yang biasa disebut golden blood. Golongan darah ini sangat langka. Pemiliknya dapat mendonorkan sel darah merahnya kepada pasien dengan golongan darah Rh negatif."
Deg!
William dan Kennedy terdiam.
Mereka saling menatap.
Golongan darah tersebut bukanlah sesuatu yang asing bagi keluarga mereka.
Sebab, di keluarga mereka hanya ada beberapa orang yang memiliki golongan darah Rh-null.
Papah Hendra.
Aldino.
Dan...
"Rh-null, Dok?" tanya Kenzie dan Kennard hampir bersamaan.
Keduanya tampak terkejut mendengar informasi tersebut.
"Betul. Pasien memiliki golongan darah Rh-null. Apakah di antara kalian ada yang memiliki golongan darah tersebut? Pasien sangat membutuhkan donor darah secepatnya."
Kenzie menatap William dengan penuh tanda tanya.
"Bang, ini maksudnya apa? Kenapa gadis itu memiliki golongan darah yang sama dengan Papah Hendra, Aldino, dan... 'dia'?"
William masih terdiam.
Ia seperti baru saja mendapatkan kepingan terakhir dari sebuah teka-teki yang selama ini tidak pernah mampu mereka pecahkan.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan Kenzie, William justru segera mengambil ponselnya. Ia berjalan sedikit menjauh sebelum menghubungi seseorang yang memiliki golongan darah sama dengan gadis tersebut.
Tak lama kemudian, sambungan telepon tersambung.
"Halo, Pah."
William terdiam mendengarkan suara di seberang telepon.
"Pah, bisa datang ke rumah sakit keluarga kita sekarang?"
Kembali hening.
"Bukan, Pah. William nggak bisa menjelaskannya lewat telepon sekarang. Nanti William jelaskan setelah Papah datang ke rumah sakit."
William kembali mendengarkan.
"Iya, Pah. William tunggu."
Panggilan itu berakhir.
William memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian berjalan kembali menghampiri dokter dan ketiga adiknya.
"Abang kenapa telepon Papah? Siapa gadis itu, Bang? Kenapa golongan darah gadis itu sama dengan milik 'dia'?" Kenzie membombardir William dengan berbagai pertanyaan.
Pertanyaan itu seolah mewakili rasa penasaran ketiga adiknya.
William tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap dokter dengan serius.
"Saya sudah menghubungi keluarga saya yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis di dalam, Dok. Tapi sebelumnya, saya ingin meminta tes DNA terhadap gadis itu. Apakah bisa dilakukan dengan adik saya ini?"
William menunjuk Kennedy.
Ucapan tersebut justru membuat ketiga remaja itu semakin penasaran sekaligus khawatir terhadap fakta yang mungkin akan terungkap sebentar lagi.
Kennedy menatap William dengan tatapan penuh harap.
"Bang... apakah gadis di dalam itu 'dia'?"
William terdiam beberapa saat.
"Abang nggak tahu, Ken. Abang juga nggak yakin."
Tatapannya beralih ke pintu IGD.
"Tapi sebelum kita melakukan tes DNA, kita nggak akan pernah tahu kebenarannya."
Kennedy menelan ludah.
Sementara itu, di dalam hati mereka bertiga, sebuah harapan yang selama ini mereka kubur perlahan mulai muncul kembali.
Bagaimana jika gadis yang sedang terbaring di balik pintu IGD itu benar-benar...
Adik perempuan mereka yang selama ini mereka yakini telah hilang?
...........................................
Mansion Pratama
Di sebuah kamar di Mansion Pratama, Mahendra baru saja menerima panggilan telepon dari William, putra sulung kakaknya, Aryan.
William memintanya datang ke rumah sakit milik keluarga mereka.
Mahendra merasa bingung dengan permintaan mendadak tersebut. Namun, tanpa banyak bertanya, ia segera bersiap dan mengganti pakaiannya.
Zailine yang melihat sang suami berganti pakaian di tengah malam tentu merasa heran.
Ia menoleh ke arah jam dinding.
Pukul sebelas malam.
Mau ke mana suaminya keluar malam-malam begini?
Batin Zailine.
"Mau ke mana, Mas?" tanyanya, membuat Mahendra yang sedang bersiap di depan meja rias menoleh.
"Lho, Sayang? Kamu bangun?" Mahendra berjalan mendekati tempat tidur. "Ini masih malam. Lebih baik kamu istirahat lagi, ya."
Zailine menggeleng.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Mas. Kamu mau ke mana malam-malam begini?"
Mahendra menghela napas.
Ia tahu dirinya tidak akan bisa membohongi sang istri.
Akhirnya, dengan sabar Mahendra menjelaskan bahwa William baru saja menelepon dan memintanya datang ke rumah sakit Pratama.
Mendengar penjelasan sang suami, Zailine tentu saja langsung memaksa untuk ikut.
Dan pada akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi bersama.
Tanpa mereka sadari, malam itu akan menjadi awal dari terungkapnya sebuah rahasia besar yang selama bertahun-tahun terkubur dalam keluarga Pratama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
anisa f
la aldino ini dimna
2024-11-03
0
Mamah Kekey
masih nyimak
2024-06-26
0
Shela Ila
samankaya di fizo
2024-06-12
0