Tap... tap... tap...
Beberapa langkah kaki terdengar tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit, menuju sebuah ruangan setelah salah satu anak laki-laki mereka menelepon dan meminta mereka datang dengan segera.
Ya, beberapa orang yang berjalan tergesa-gesa itu adalah Mahendra, Aryan, Zailine, dan Priscillia.
Sebelumnya, saat Mahendra dan istrinya hendak berangkat menuju rumah sakit, sang kakak, Aryan, dan istrinya, Priscillia, yang sedang bersantai di ruang keluarga, menghentikan langkah mereka dan menanyakan ke mana mereka hendak pergi malam-malam seperti ini. Mahendra pun menjelaskan semuanya.
Dan sekarang, mereka semua berada di sini. Berjalan menuju sebuah ruangan yang disebutkan William melalui telepon. William adalah putra sulung Aryan Pratama.
Di dalam benak mereka semua dipenuhi berbagai pertanyaan.
Mengapa William menyuruh papahnya datang ke rumah sakit dengan segera?
Atau jangan-jangan ada salah satu anak mereka yang terluka?
Rombongan keluarga Pratama akhirnya melihat keempat putra mereka sedang berdiri di depan ruang IGD. Pemandangan itu justru membuat para tetua keluarga Pratama semakin bingung.
Jika keempat putra mereka berada di sana, lalu siapa yang terluka dan sedang berada di dalam IGD?
"William..." panggil Mahendra kepada salah satu keponakannya.
"Pah, ayo ikut William dulu."
William segera menarik lengan papah Mahendra yang telah berdiri tepat di hadapannya.
"Tapi, Nak..."
"Kita nggak punya banyak waktu, Pah." William kembali menarik tangan papahnya.
"Okay. Papah ikut kamu. Tapi setelah ini, kamu ceritakan semuanya kepada kami tanpa alasan apa pun."
William mengangguk tanda mengerti.
Segera setelah itu, papah Mahendra dan William masuk ke dalam IGD. Di sana, Queen sedang ditangani oleh tim dokter yang sibuk memeriksa kondisinya.
Sekilas, papah Mahendra melihat ke arah tempat Queen terbaring. Tubuh gadis itu dipenuhi luka dan darah.
Papah Mahendra sontak terkejut.
Seorang anak perempuan.
Namun bukan itu yang membuatnya terkejut.
Wajah gadis itu...
Sangat mirip dengan wajah sang istri ketika masih muda.
Mahendra segera menoleh ke arah William yang saat itu sedang berdiri berhadapan dengan seorang dokter.
William menyadari tatapan papahnya dan segera menghampirinya.
"William tahu apa yang mau Papah tanyakan. Nanti William akan jelaskan semuanya di hadapan semua orang."
"Papah tunggu penjelasan kamu, Nak."
---
Sementara itu, di luar IGD, seluruh keluarga Pratama menunggu dengan gelisah karena papah Mahendra dan William masih belum keluar.
"Sebenarnya ada apa ini, Ken? Kenapa papah kamu dan kakak kamu masuk ke dalam sana?" tanya mamah Zailine kepada putra sulungnya sambil menunjuk ruangan di hadapan mereka.
"Ken sendiri nggak mengerti, Mah. Tadi, sewaktu kami dalam perjalanan pulang ke mansion, Bang William secara tidak sengaja menabrak seorang anak perempuan. Ternyata anak perempuan tersebut terluka parah dan kehilangan banyak darah. Sedangkan darah yang dibutuhkan anak perempuan itu cukup langka, sama seperti golongan darah yang dimiliki sebagian besar anggota keluarga kita, terutama Papah."
Penjelasan Ken membuat mamah Zailine terduduk lemas.
"Ja... jadi, di dalam sana ada anak perempuan yang membutuhkan transfusi darah dengan golongan yang sama seperti darah papah kamu, Ken?"
Ken mengangguk membenarkan pertanyaan sang mamah.
Mamah Zailine sangat ingat bahwa orang yang memiliki golongan darah sama dengan sang suami hanyalah si kembar bungsu mereka. Salah satunya bahkan masih menghilang hingga detik ini.
Mamah Zailine menggeleng, seakan tidak mempercayai pikirannya sendiri. Kemudian, ia menoleh ke arah Priscillia, sang kakak ipar, yang berdiri di sampingnya sambil menggenggam erat tangannya, seolah memberikan kekuatan.
"Kita berdoa sama-sama, ya, Aline. Semoga anak perempuan yang ada di dalam sana bukan Queen seperti yang ada di pikiran kita saat ini," hibur mamih Priscillia.
Sebisa mungkin Priscillia berusaha menenangkan Zailine agar kondisi kesehatannya tidak kembali drop seperti yang sering terjadi selama hampir belasan tahun terakhir akibat kehilangan permata keluarga mereka.
"Ta... tapi, Mbak..."
Belum sempat Zailine menyelesaikan ucapannya, terdengar suara pintu terbuka.
Kreeek...
Papah Mahendra dan William keluar dari dalam ruangan IGD, diikuti oleh tim dokter yang berjalan di belakang mereka.
"Saya harap permintaan tes DNA tadi segera dilaksanakan. Dan segera kabari kami begitu hasil tesnya keluar," pinta papah Mahendra kepada salah seorang dokter.
"Baik, Tuan Hendra. Akan kami lakukan secepat mungkin. Hasil tes DNA kemungkinan bisa keluar dalam empat puluh delapan jam ke depan," ucap Dokter Eshwar, selaku kepala Rumah Sakit Medika Pratama, yang langsung turun tangan begitu mengetahui sang pemilik rumah sakit berada di IGD.
"Apa hasil tes tersebut tidak bisa dipercepat, Dok?" tanya William. Ia berharap proses tes DNA antara papah Mahendra dan anak perempuan yang diduga sebagai adik bungsunya itu bisa dilakukan lebih cepat.
Dokter Eshwar menggeleng.
"Maaf, Tuan William. Empat puluh delapan jam adalah prosedur tercepat yang bisa kami usahakan agar hasil tes DNA tersebut keluar."
Papah Mahendra menepuk bahu William dan berkata dengan suara sendu,
"Nggak apa-apa, Son. Kita ikuti saja prosedur yang ada sambil menunggu anak perempuan itu sadar. Papah yakin sekali kalau anak tersebut adalah princess kita yang hilang."
Dokter Eshwar kemudian pamit masuk kembali ke dalam IGD untuk mengawasi proses penanganan anak perempuan yang diduga sebagai putri bungsu pemilik rumah sakit tempat dirinya mengabdi.
Sementara itu, keluarga Pratama yang mendengar ucapan papah Mahendra kepada kepala rumah sakit mereka masih kebingungan.
Namun tidak dengan mamah Zailine.
Entah mengapa, sejak awal dirinya sudah memiliki firasat tentang sesuatu yang akan disampaikan sang suami.
Sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan permata hati mereka yang telah menghilang selama tiga belas tahun.
Papah Mahendra dan William berjalan mendekati tempat seluruh keluarga Pratama berkumpul.
"Ada apa sebenarnya, Son?" tanya Kakek Arnawama Pratama, sang kepala keluarga Pratama. "Ayah tadi mendengar kamu meminta Dokter Eshwar melakukan tes DNA. Kamu hendak melakukan tes DNA kepada siapa, Son?"
Huft...
Papah Mahendra membuang napas perlahan.
Ia harus menyampaikan sebuah kabar yang akan membuat keluarganya bahagia sekaligus hancur.
Kabar bahagia karena kemungkinan besar permata yang selama ini mereka cari telah ditemukan.
Namun di sisi lain, ada kabar menyedihkan karena permata mereka ditemukan dalam kondisi kritis akibat kecelakaan yang dialaminya.
"Jadi, Hendra punya dua kabar untuk kita semua, Yah."
"Kabar apa, Hen? Jangan buat kami penasaran! Cepat beritahu!" potong papih Aryan tak sabar.
"Sabar, Aryan. Biarkan adikmu menyampaikan kedua kabar itu terlebih dahulu," ujar Kakek Arnawama, menenangkan anak sulungnya yang memang terkadang tidak sabaran.
Mahendra menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka suara.
"Kabar yang pertama... kemungkinan princess kita sudah ketemu, Yah."
Deg... deg...
Seluruh anggota keluarga Pratama terkejut mendengar ucapan papah Mahendra.
Princess mereka.
Permata kesayangan keluarga yang telah mereka cari selama bertahun-tahun...
Ada kemungkinan telah ditemukan.
Hanya mamah Zailine yang tidak sepenuhnya terkejut karena sejak awal dirinya sudah menduga apa yang akan disampaikan sang suami.
Namun, ketakutan justru semakin memenuhi hatinya ketika mengingat kabar kedua yang kemungkinan berkaitan dengan kecelakaan anak perempuan yang tadi membutuhkan donor darah dari Mahendra.
"Mas..." Zailine mencengkeram erat lengan sang suami. "Jangan bilang kabar kedua yang mau Mas sampaikan itu berkaitan dengan anak perempuan yang membutuhkan donor darah dari Mas tadi."
Papah Mahendra mengangguk pelan.
Tatapannya menatap sendu sang istri.
"Iya, Sayang. Kemungkinan anak perempuan itu adalah princess kita."
Mahendra menarik napas panjang.
"Untuk memastikan semuanya, tadi aku sudah meminta Dokter Eshwar melakukan tes DNA."
Tubuh Zailine seketika melemas.
Bruk!
"MAMAHHH!"
"SAYANGGG!"
"YA TUHAN, ALINE!"
Tubuh Zailine ambruk di pelukan orang-orang terdekatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
jeje_😎
singgah bentaran ka..ke karya aku CINTA PERTAMA...HEHEHE Masih pemula 🙏🙏🙏
2024-07-23
0
bunga naga
mampir juga ka, ke karya aku "perjalanan gadis desa" masih pemula🙏🙏
2024-06-07
0
inayah machmud
semoga Queen cepet sembuh
2024-05-30
2