Langkah kaki mereka berat, bukan karena medan—tapi karena pikiran. Setelah lolos dari cermin-cermin batin yang hampir menelan mereka, Flavio, Naoki, dan Sibilon tiba di sebuah padang luas tanpa batas. Tidak ada langit biru, tidak ada matahari, hanya kabut tipis dan angin yang berhembus pelan seperti bisikan.
“Di mana kita sekarang?” tanya Naoki sambil menggenggam erat gagang senjatanya.
Sibilon menyipitkan mata. “Dimensi ini… aneh. Energinya tidak stabil. Seolah-olah segala sesuatu di sini hanya ilusi.”
Flavio menunduk dan menyentuh tanah. “Tapi ini terasa nyata.”
Tiba-tiba, angin berhenti. Suara denting lonceng terdengar sekali lagi. Tapi kali ini, bukan menyeramkan. Dentingnya ringan… manis… memikat.
Dari tengah kabut, perlahan muncul bentuk—bangunan, menara, jendela kaca patri berwarna-warni. Jalan berbatu, pepohonan mungil dengan daun keperakan, bahkan aroma harum seperti vanila bercampur kayu manis.
Sebuah kota.
“Kita harus masuk,” kata Flavio, matanya tak berkedip.
“Tidak. Ini bisa jebakan,” tegas Sibilon.
Namun Flavio melangkah lebih dulu, seolah ada sesuatu yang memanggilnya dari dalam.
Begitu melewati gerbang tak terlihat, dunia berubah.
Warna langit berubah menjadi ungu keemasan, suara musik ringan mengalun dari udara. Orang-orang berjalan santai dengan senyum tenang di wajah mereka. Anak-anak berlarian sambil tertawa, seolah tak ada ancaman dunia di luar sana.
Naoki memandangi sekeliling. “Apakah ini… nyata?”
Seseorang menghampiri mereka. Seorang wanita tua dengan keranjang berisi bunga biru bercahaya.
“Selamat datang di Arvenelle, kota yang tidak terlupakan,” ucapnya lembut.
Flavio memiringkan kepala. “Tidak terlupakan?”
“Siapa pun yang pernah menginjak tanah ini akan terus mengingatnya. Entah dalam mimpi… atau dalam mimpi buruk.”
Naoki tersentak. “Apa maksudmu?”
Namun wanita itu hanya tersenyum samar, lalu berlalu seperti kabut yang tertiup.
Mereka mulai berjalan lebih dalam. Kota ini seperti potongan surga: semua orang ramah, bangunan bersinar, makanan…
Perjalanan Dewa NPC Ke Berbagai Dimensi
KOTA ILUSI
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 52 Episodes
Comments