Aku Menjaga Harga Dirimu, Tapi Kau Melukai Hatiku
Wajah Andin menyiratkan kepedihan yang teramat sangat. Ia berdiri terpaku di sudut dapur yang senyap, berjuang keras menahan desakan air mata yang mendesak di pelupuk matanya. Pandangannya menerawang kosong pada ruangan sempit berbau uap masakan, tempat di mana ia telah menghabiskan sebagian besar usianya selama tiga tahun terakhir sebagai saksi bisu atas hari-hari yang ia lewati dalam kesendirian.
Bagi Andin, dapur itu bukan sekadar tempat mengolah bahan makanan. Di sinilah ia mendedikasikan seluruh tenaga dan waktunya—berkutat dengan cucian piring yang tak pernah ada habisnya, menyiapkan hidangan hangat, dan melayani keluarga suaminya tanpa kenal lelah. Semua itu ia jalani tanpa setitik pun keraguan, demi satu tujuan mulia yang ia pegang teguh: merawat dan mempertahankan rumah tangga bersama lelaki yang paling ia cintai di dunia ini.
Dimas Anggara. Laki-laki yang mengucapkan janji suci di hadapan penghulu tiga tahun silam itulah yang menjadi alasan utama mengapa Andin masih sanggup bertahan hingga detik ini, di tengah tekanan batin yang kian menghimpit.
Meski begitu, rasa lelah yang teramat sangat kerap datang menghantam tanpa diundang. Ada kalanya batinnya berteriak ingin menyerah, ingin lepas dari keadaan yang seolah tak pernah berhenti menguji batas kesabarannya. Akan tetapi, setiap kali bayangan senyum Dimas dan kenangan manis masa lalu hadir di benaknya, ia kembali menemukan sisa-sisa kekuatan untuk berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
Pagi itu berjalan seperti hari-hari biasa yang melelahkan. Usai menuntaskan cucian piring bekas sarapan yang menumpuk, Andin mengambil wadah *rice cooker* dan mengisinya dengan beras putih. Ia mencucinya dengan teliti, menyaring butiran demi butiran sebelum menambahkan air pas sesuai takaran.
Ia sengaja tidak pernah berani langsung menyentuh bahan makanan lain tanpa komando. Andin tahu betul, dapur itu bukan tempatnya untuk menentukan pilihan atau selera. Menu harian di rumah tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali mutlak Bu Lasmi, sang ibu mertua, atau Melinda, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sebagai seorang menantu yang menumpang restu di rumah itu, ia merasa tidak memiliki hak suara atas apa yang tersaji di meja makan. Bahkan untuk sekadar lauk yang sebenarnya sangat ia gemari, Andin selalu memilih memendamnya dalam diam, menelan seleranya sendiri bersama ludah yang terasa pahit.
Baginya, menjaga ketenangan dan menyenangkan perasaan keluarga suaminya jauh lebih utama ketimbang memikirkan kepuasan diri sendiri.
"Andin, untuk makan siang nanti, masak ayam lengkuas, tumis buncis wortel, sambal terasi yang sedap, dan jangan lupa siapkan timun segar untuk lalapannya," suara Bu Lasmi mendadak memecah lamunannya dari arah ruang tengah.
Andin tersentak kaget. Nyaris saja wadah *rice cooker* di tangannya terlepas dan menghantam lantai keramik.
"Oh... iya, Bu, baik," sahutnya cepat, berusaha menstabilkan suaranya.
Ia segera menarik seulas senyum tipis di bibirnya, meski debar di dadanya belum sepenuhnya mereda akibat keterkejutan tadi.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Andin melangkah membuka pintu kulkas yang dingin, mengeluarkan seluruh bahan mentah yang diminta. Semuanya sudah tersedia rapi di dalam sana karena Bu Lasmi selalu berbelanja sendiri sesuai selera pribadinya. Tugas Andin hanyalah meracik, menumbuk bumbu, memasak, dan memastikan semuanya siap tersaji tepat waktu saat perut keluarga itu mulai lapar.
Tangannya bergerak terampil membersihkan daging ayam, meracik bumbu rempah, hingga mengiris sayuran dengan presisi. Nyaris satu jam ia bergelut dengan hawa panas kompor dan kepulan asap, hingga akhirnya aroma sedap masakan siang itu menguar pekat memenuhi seluruh ruangan.
Setelah menata rapi hidangan tersebut di atas meja makan besar, Andin berniat untuk mundur sejenak, melangkah ke kamar untuk sekadar membasuh peluh di keningnya.
Namun, di ruang tengah, Bu Lasmi tampak bersantai di depan televisi sambil jemarinya sibuk menggulir layar ponsel pintar, memantau riuhnya grup pertemanan tanpa beban.
"Andin, mau ke mana kamu?" panggil Bu Lasmi tajam, menghentikan langkah kaki menantunya.
Andin lekas menghentikan ayunan kakinya, lalu berbalik sambil sedikit membungkukkan badan tanda hormat.
"Mau ke kamar sebentar, Bu."
"Memangnya semua pekerjaan kamu di dapur sudah beres sepenuhnya?" cecar mertuanya lagi tanpa menoleh.
"Sudah, Bu. Masakannya sudah siap di meja."
Belum sempat kakinya kembali melangkah melewati batas ruang tamu, titah lain yang lebih berat sudah meluncur begitu saja dari bibir Bu Lasmi.
"Kalau sudah, ini ada tumpukan pakaian kotor yang harus disetrika sampai licin. Nanti kalau sudah selesai, langsung masukkan ke dalam lemari masing-masing tanpa terkecuali."
"Iya, Bu," jawab Andin patuh, menelan mentah-mentah rasa lelahnya tanpa sedikit pun terbersit niat untuk membantah atau mengeluh.
Ia mengambil keranjang besar berisi pakaian yang menggunung dan mulai menyetrika satu per satu dengan ketelitian tinggi. Mulai dari baju harian, kemeja kerja suaminya, daster mertuanya, celana, hingga seprai tebal—semuanya ia selesaikan dengan kesabaran tingkat dewa.
Dua jam berlalu hingga setrikaan terakhir selesai dilipat rapi. Andin lantas membawa pakaian milik Bu Lasmi ke kamar utama dan meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur besar itu. Ia bahkan tidak pernah lancang menyentuh isi lemari tanpa izin tertulis atau isyarat dari pemiliknya.
Setelahnya, ia membawa sisa pakaian miliknya dan Dimas kembali ke kamar mereka sendiri—ruangan kecil yang seharusnya menjadi tempat perlindungan paling aman.
Andin tidak pernah mengeluh pada siapapun. Ia selalu tulus melakukan semuanya dengan harapan bisa menjadi seorang istri yang sempurna di mata suaminya.
Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka... di balik kesetiaan mutlak dan ketulusan hati yang ia berikan tanpa batas, Dimas justru mulai merajut rahasia kelam di belakangnya—sebuah kebohongan busuk yang perlahan-lahan bersiap menghancurkan rumah tangga yang selama ini ia pertahankan setengah mati dengan air mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments