Malam itu, kediaman keluarga Anggara tampak biasa-biasa saja dari luar. Lampu ruang tengah berpijar terang, sayup-sayup suara televisi berderik pelan, dan Bu Lasmi masih setia berkutat dengan layar ponselnya. Tidak ada yang mencurigakan bagi siapa pun yang melintas di depannya.
Namun, di dalam kepala Andin, situasinya jauh berbeda. Suasana hatinya terasa ganjil, diselimuti keheningan yang kian lama kian menyesakkan dada.
Ia duduk di hadapan meja rias, perlahan menyisir rambut panjangnya sambil sesekali melirik bayangan suaminya melalui cermin. Dimas masih berada di dalam kamar mandi.
Bagi Andin, melayani suaminya adalah bentuk bahasa cinta yang paling nyata. Hal-hal kecil seperti menyiapkan pakaian ganti, meracik kopi dengan takaran gula yang pas, atau sekadar menyambut kepulangannya setelah lelah seharian adalah pilar kebahagiaannya sebagai seorang istri.
Ia tidak pernah menduga sedikit pun, lelaki yang selalu ia nantikan kepulangannya dengan debar rindu itu justru sedang merajut kebohongan busuk di belakangnya.
Pintu kamar mandi berderit perlahan, terbuka. Dimas melangkah keluar dengan wajah yang tampak lebih segar, mengeringkan sisa air di rambutnya menggunakan handuk kecil tanpa banyak berkata-kata.
"Mas, kopinya sudah Andin buatkan di meja, ya," ucap Andin lembut, menyunggingkan senyum hangat meski lelah mendera fisiknya.
Dimas hanya melirik sekilas ke arah meja kecil di sisi ranjang tempat cangkir uapnya masih mengepul tipis.
"Hm, iya," sahutnya singkat, datar tanpa emosi.
Andin tertegun sejenak. Sebenarnya, ada ribuan kata yang ingin ia tumpahkan malam itu—tentang lelahnya mengurus rumah seorang diri, atau sekadar ingin mendengar Dimas menanyakan bagaimana harinya berjalan.
Namun, ia memilih menelan kembali seluruh keluh kesah itu.
Andin sudah terlampau terbiasa dengan dinding es yang perlahan-lahan dibangun Dimas dalam beberapa bulan terakhir.
"Dimas, kamu capek banget ya di kantor?" tanya Andin hati-hati, mencoba mencairkan suasana.
"Iya, capek. Pekerjaan lagi menumpuk dan bikin pusing," jawab Dimas pendek, jemarinya bahkan sudah kembali sibuk menggulir layar ponsel tanpa menatap sang istri.
Andin mengangguk pelan, memaklumi. Dalam benaknya, suaminya itu pasti sedang dililit beban karier yang berat di luar sana.
Padahal, bukan urusan kantor yang menyedot seluruh atensi Dimas malam itu.
Pikiran lelaki itu sudah melayang jauh pada sesosok perempuan lain—seseorang yang akhir-akhir ini sukses membuatnya tersenyum sendiri di balik meja kerja, melupakan fakta bahwa ada seorang istri sah yang sabar menunggunya pulang dengan hati terbuka.
*Brak!* Suara getar bernada pendek menandakan sebuah pesan masuk ke ponsel Dimas di atas nakas.
Seketika gerakan tangan Dimas terhenti. Matanya melirik cepat ke arah layar, mendapati sebuah nama dengan ikon hati yang terpampang jelas di sana.
**"Sayang ❤️"**
Jantung Dimas berdesir kecil, bukan karena cinta yang suci, melainkan karena rasa takut ketahuan. Secara refleks, matanya melirik ke arah Andin untuk memastikan istrinya tidak sedang mengintip.
Dengan gerakan gesit, ia membuka pesan tersebut.
*"Sudah sampai rumah? Aku kangen makan siang bareng kamu tadi."*
Sudut bibir Dimas terangkat tanpa sadar, membentuk senyum tipis yang berhasil ia sembunyikan. Jarinya bergerak cepat membalas pesan penuh racun itu.
*"Udah. Nanti malam kita lanjut ngobrol lewat telpon ya."*
Begitu pesan itu terkirim, ia langsung menghapus notifikasinya agar tidak meninggalkan jejak apa pun di layar ponsel.
Sementara itu, Andin yang duduk hanya berjarak beberapa jengkal darinya sama sekali tidak mencium bau pengkhianatan yang begitu pekat. Di dalam kepalanya, ia justru sibuk memutar otak, mencari cara terbaik agar suaminya senantiasa merasa nyaman dan bahagia di rumah.
Tiga tahun berumah tangga membuat Andin sangat mengenal Dimas—atau setidaknya, itulah yang ia yakini selama ini. Lelaki itu dulunya adalah sosok penuh janji manis yang bersumpah di hadapan wali nikahnya untuk selalu menjaga dan tidak akan pernah membuat matanya meneteskan air mata.
Itulah alasan utama mengapa Andin selalu memaafkan setiap perubahan sikap dingin suaminya, menganggapnya sebagai ujian pernikahan yang biasa.
---
Keesokan paginya, jauh sebelum semburat merah matahari menembus celah jendela, Andin sudah terjaga. Saat dunia luar masih diselimuti gulita, ia sudah berputar cekatan di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk Bu Lasmi, Dimas, dan Melinda.
Tidak ada satu pun orang di rumah itu yang tahu rahasia terbesar dalam hidup Andin. Di balik statusnya kini sebagai menantu yang serba mengabdi dan tampak bergantung penuh, Andin bukanlah perempuan kemarin sore yang tidak punya apa-apa.
Sebelum menikah dan memilih berbakti sepenuhnya pada suami, ia adalah seorang wanita mandiri yang cerdas. Jauh di sudut kota, ia adalah pemilik sah sebuah rumah makan lesehan strategis yang selalu dipadati pengunjung, terutama mahasiswa, karena racikan kulinernya yang terkenal lezat.
Namun, semua pencapaian itu ia tanggalkan demi menjaga keharmonisan rumah tangga.
Andin sengaja memilih menyembunyikan kesuksesan finansialnya rapat-rapat. Ia tidak ingin harga diri Dimas sebagai suami sekaligus kepala keluarga terluka jika tahu istrinya jauh lebih mandiri secara materi. Ia ingin suaminya merasa menjadi satu-satunya pahlawan pencari nafkah di rumah ini.
Andin rela berpura-pura menjadi perempuan biasa yang tak berdaya.
Sebab baginya saat itu, keutuhan rumah tangga jauh lebih berharga tinggi dibanding harta duniawi apa pun.
Sayangnya, Andin belum menyadari satu hal yang teramat pahit: pengorbanan terbesar yang ia lakukan dengan sukarela itu justru sedang menggali lubang kehancuran bagi hatinya sendiri.
Karena pada akhirnya, luka paling menyakitkan di dunia ini selalu datang dari tangan orang yang paling kita jaga sepenuh jiwa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments