Beban Sunyi di Rumah Suami

Sejak beberapa bulan terakhir, Andin mulai merasakan ada perubahan nyata dalam rumah tangganya. Perubahan itu tidak datang secara tiba-tiba, tetapi merayap perlahan seperti angin malam yang awalnya tidak terasa, namun akhirnya membuat sekujur tubuh menggigil kedinginan.

Dimas yang dulu selalu mencari kesempatan untuk berbicara atau sekadar bersenda gurau dengannya, kini lebih sering memilih diam. Waktu yang biasanya mereka habiskan bersama kini menyusut drastis. Bahkan saat berada di dalam rumah, atensi Dimas lebih banyak tersita oleh layar ponsel di tangannya ketimbang menatap istrinya sendiri.

Andin berusaha keras tidak memikirkan hal-hal buruk. Ia selalu mencari ribuan alasan untuk membela suaminya di dalam hati.

"Mungkin Mas Dimas sedang sangat lelah dengan pekerjaannya di kantor," pikirnya mencoba tenang.

Pagi itu, seperti biasa Andin sudah sibuk berputar di dapur sejak subuh. Ia menyiapkan menu sarapan hangat untuk keluarga Anggara. Sementara ia berkutat dengan alat-alat masak, Bu Lasmi duduk di ruang makan sambil memperhatikan gerak-gerik menantunya dengan pandangan menilai.

"Andin, nanti jangan lupa bersihkan halaman depan. Banyak daun kering yang berserakan," titah Bu Lasmi tajam.

"Iya, Bu," jawab Andin patuh.

Belum sempat ia menarik napas, Melinda keluar dari kamar dengan wajah masih mengantuk dan rambut tergerai acak-acakan.

"Ma, sarapannya sudah siap belum?" tanya Melinda setengah menguap.

"Sudah. Ambil sendiri sana," sahut Bu Lasmi.

Melinda duduk di kursi makan lalu melirik hidangan yang tersaji di meja dengan sebelah alis terangkat. "Lauknya cuma ini saja?" tanyanya bernada kurang puas.

Andin yang mendengarnya hanya bisa diam. Padahal, sejak pagi buta ia sudah memasak menu sesuai selera yang biasa mereka minta.

"Kalau mau lauk lain, nanti Andin coba buatkan sebentar," ucap Andin pelan, berusaha meredam rasa tidak enak.

Melinda mendengus tipis. "Sudahlah, tidak usah repot-repot. Aku kira ada menu lain yang lebih enak."

Kalimat sederhana itu sebenarnya cukup telak melukai hati Andin. Namun, ia sudah terbiasa menelannya mentah-mentah. Di rumah itu, apa pun bentuk pengorbanan yang ia berikan seolah tidak pernah cukup bernilai di mata mereka.

Usai sarapan, Andin kembali membereskan meja makan. Bu Lasmi masih duduk bersantai sambil jemarinya lincah memainkan ponsel.

"Andin," panggil mertuanya.

"Iya, Bu?"

"Kamu jangan terlalu banyak mengatur Dimas. Dia itu laki-laki, harus bebas bernapas. Jangan sampai suamimu merasa tidak nyaman di rumah karena punya istri yang terlalu mengekang."

Andin terdiam seribu bahasa, dadanya mendadak terasa sesak oleh rasa bingung yang menghimpit. Selama ini, ia justru selalu memberikan kebebasan penuh kepada Dimas. Ia tidak pernah sekali pun melarang suaminya pergi bersama rekan kerja atau lembur sampai malam.

"Iya, Bu. Andin mengerti," jawabnya lirih.

Bu Lasmi mengangguk puas. "Bagus. Sebagai istri, kamu harus tahu diri posisimu di mana."

Kalimat terakhir itu meluncur begitu telak, menghujam langsung ke dasar hati Andin. Ia memilih menunduk dalam-dalam dan melanjutkan pekerjaannya tanpa protes. Di sudut ruangan, Melinda memperhatikan sambil menyunggingkan senyum kecil penuh meremehkan.

Hubungan Melinda dan Andin memang tidak pernah hangat. Sejak awal menikah, Melinda selalu merasa kakaknya salah memilih istri. Apalagi ia sama sekali tidak tahu bahwa di balik kesederhanaannya, Andin adalah seorang pemilik bisnis kuliner yang sukses. Di mata keluarga itu, Andin hanyalah perempuan benalu yang hidup menumpang dari keringat Dimas.

Menjelang siang, ketika Andin tengah sibuk mencuci setumpuk pakaian kotor, ponsel di sakunya bergetar. Pesan singkat dari Dimas.

"Din, hari ini aku pulang malam lagi. Jangan menunggu."

Andin membaca pesan itu lekat-lekat. Sebenarnya ia ingin sekali bertanya mengapa akhir-akhir ini suaminya selalu pulang terlambat. Namun, jarinya mendadak kaku di atas layar. Ia takut pertanyaannya justru membuat Dimas merasa tidak dipercaya atau semakin jenuh.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa makan malamnya."

Seperti biasa, balasan Dimas sangat singkat. "Iya."

Andin menatap layar gawainya cukup lama dalam kesunyian pekarangan belakang. Ada rongga kosong dan rasa sedih yang teramat perih merayap di dadanya.

Malam harinya, benar saja, Dimas kembali pulang larut. Begitu menjejakkan kaki di rumah, lelaki itu langsung melangkah menuju kamar tanpa basa-basi. Andin yang sigap langsung mengikuti dari belakang.

"Mas, sudah makan malam?" tanya Andin lembut.

"Sudah," jawab Dimas datar sambil melonggarkan ikatan dasinya.

"Mas kerja banyak banget ya akhir-akhir ini?"

Dimas melepas jam tangannya dengan kasar dan meletakkannya di atas meja nakas. "Iya, banyak kerjaan. Jangan banyak tanya dulu, Din. Mas lagi capek."

Ucapan ketus itu membuat Andin tertegun. Dulu, seberat apa pun masalah di kantor, Dimas tidak pernah berbicara dengan nada setinggi dan sedingin itu kepadanya.

Andin menelan ludah yang terasa pahit. "Iya, Mas. Maaf."

Dari arah ruang tengah, Bu Lasmi yang mendengar percakapan itu langsung bersuara lantang, "Dimas memang sedang banyak tanggungan kerja, Din. Jangan malah membuat pikirannya di rumah tambah berat."

Andin menoleh sekilas ke arah pintu kamar yang terbuka. "Iya, Bu."

Lagi-lagi, ia tidak punya pilihan selain menerima semuanya dalam diam. Tidak ada satu pun orang di rumah itu yang peduli bagaimana perasaannya. Tidak ada yang melihat bahwa di balik ketegarannya, Andin juga manusia yang bisa merasa lelah dan rapuh.

Malam semakin larut. Ketika Dimas sudah terlelap di atas pembaringan, Andin masih terjaga dalam gulita. Ia menatap wajah suaminya yang dulu pernah berjanji untuk menjaganya sepenuh hati.

Dalam dekap kesunyian malam, ia membatin lirih, "Mas, sebenarnya apa yang sedang terjadi di antara kita?"

Tanpa pernah sedikit pun disadari oleh Andin, keretakan itu bukan sekadar karena kesibukan kantor. Ada perempuan lain yang secara perlahan mulai merangsek masuk ke dalam kehidupan suaminya—mengambil alih ruang di hati Dimas yang seharusnya menjadi benteng suci kesetiaan mereka berdua.

Episodes
1 Goresan Sunyi di Balik Dapur
2 Topeng di Balik Senyuman
3 Jejak Parfum Asing
4 Dusta di Balik Senja
5 Beban Sunyi di Rumah Suami
6 Bayangan Asing di Ujung Malam
7 Topeng yang Mulai Retak
8 Dinginnya Fajar Baru
9 Langkah Awal di Balik Layar
10 Senyum Palsu
11 Topeng yang Semakin Retak
12 Pertemuan Rahasia
13 Topeng yang Semakin Tipis
14 Badai yang di Mulai dari Meja Makan
15 Topeng yang Runtuh Seketika
16 Topemg yang Hangus menjadi Abu
17 Surat Gugatan
18 Fajar Baru
19 Rataknya Sangkar Rania
20 Neraka di Runah Sendiri
21 Undangan dari Masa Lalu
22 Benteng Keadilan di Ruang Mediasi
23 Bayangan Masa Lalu yang Menghadang
24 Reruntuhan Impian Dimas
25 Bayangan Rumah yang Runtuh
26 Badai di Pengadilan Agama
27 Awal yang Baru
28 Bayang Masa Lalu Datang Lagi
29 Babak Baru
30 Takdir Yang Memihak
31 Fajar Baru di Ujung Loring Gelap
32 Memulai Lembaran Baru tanpa Bayangan Masa Lalu
33 Warisan Luka yang Berdarah
34 Bayangan yang Menghantui
35 Senyum Kemenangan yang Tulus
36 Pertemuan yang Tak Terduga
37 Bayangan yang Menghilang
38 Mahkota yang Tak Tergapai
39 Pertemuan yang Berujunh Petaka
40 Dinginya Dinding Rumah Sakit
41 Kerja Seadanya
42 Pelajaran Hidup dari Sepetak Kontrakan
43 Luka yang di Uji Waktu
44 Mulainya Kepalsuan Baru
45 Topeng Sempurna Melinda
46 Paket Misterius di Petakan Sempit
47 Bayangan Lelaki Bernama Hendra
48 Air Mata Penyesalan
49 Amukan di Lorong Sempit
50 Awal Pahit di Gang Sempit
51 Kemunculan Siska
52 Penolakan
53 Akhir Perjalanan Siska yang Kelam
54 Jejak Digital yang Membawah Kejut
55 Bayang - Bayang Dari Masa Lalu
56 Rencana Baru di Tengah Badai Penyesalan
57 Punggung yang Menanggung Beban
58 Bayangan Hari Pernikahan
59 Hari yang Menguji Ketahanan Hati
60 Hujan Malam di Petakan Sempit
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Goresan Sunyi di Balik Dapur
2
Topeng di Balik Senyuman
3
Jejak Parfum Asing
4
Dusta di Balik Senja
5
Beban Sunyi di Rumah Suami
6
Bayangan Asing di Ujung Malam
7
Topeng yang Mulai Retak
8
Dinginnya Fajar Baru
9
Langkah Awal di Balik Layar
10
Senyum Palsu
11
Topeng yang Semakin Retak
12
Pertemuan Rahasia
13
Topeng yang Semakin Tipis
14
Badai yang di Mulai dari Meja Makan
15
Topeng yang Runtuh Seketika
16
Topemg yang Hangus menjadi Abu
17
Surat Gugatan
18
Fajar Baru
19
Rataknya Sangkar Rania
20
Neraka di Runah Sendiri
21
Undangan dari Masa Lalu
22
Benteng Keadilan di Ruang Mediasi
23
Bayangan Masa Lalu yang Menghadang
24
Reruntuhan Impian Dimas
25
Bayangan Rumah yang Runtuh
26
Badai di Pengadilan Agama
27
Awal yang Baru
28
Bayang Masa Lalu Datang Lagi
29
Babak Baru
30
Takdir Yang Memihak
31
Fajar Baru di Ujung Loring Gelap
32
Memulai Lembaran Baru tanpa Bayangan Masa Lalu
33
Warisan Luka yang Berdarah
34
Bayangan yang Menghantui
35
Senyum Kemenangan yang Tulus
36
Pertemuan yang Tak Terduga
37
Bayangan yang Menghilang
38
Mahkota yang Tak Tergapai
39
Pertemuan yang Berujunh Petaka
40
Dinginya Dinding Rumah Sakit
41
Kerja Seadanya
42
Pelajaran Hidup dari Sepetak Kontrakan
43
Luka yang di Uji Waktu
44
Mulainya Kepalsuan Baru
45
Topeng Sempurna Melinda
46
Paket Misterius di Petakan Sempit
47
Bayangan Lelaki Bernama Hendra
48
Air Mata Penyesalan
49
Amukan di Lorong Sempit
50
Awal Pahit di Gang Sempit
51
Kemunculan Siska
52
Penolakan
53
Akhir Perjalanan Siska yang Kelam
54
Jejak Digital yang Membawah Kejut
55
Bayang - Bayang Dari Masa Lalu
56
Rencana Baru di Tengah Badai Penyesalan
57
Punggung yang Menanggung Beban
58
Bayangan Hari Pernikahan
59
Hari yang Menguji Ketahanan Hati
60
Hujan Malam di Petakan Sempit

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!