2. Mesin Waktu

Hendra menghembuskan asap rokok ke udara dengan, santai.

"Itu cuma perasaan kamu saja. Kamu-nya aja yang baperan," sahutnya enteng.

Indah nyaris tak percaya.

“Apa? Aku baperan?”

"Astaga naga..sabar.. sabar.. Bagaimana pun juga dia adalah suamiku, ayah dari anakku. Baru dua tahun kami menikah, masa iya mau cerai gara-gara mertua dan adek ipar? Dan anakku? Aku gak mau dia tumbuh tanpa keluarga yang utuh... seperti aku dulu."

Indah menahan emosi. Ingin rasanya melampiaskan amarah, menjadikan pria ini samsak tinju. Tapi ia menarik napas panjang, mencoba meredam.

"Lalu, gimana kalau adek kamu nggak nikah-nikah? Apa selamanya kita bakal tinggal sama ibu dan adik-adik kamu? Aku juga pengen punya rumah sendiri punya kehidupan sendiri."

Hendra menghela napas berat lalu beranjak dari duduknya. "Sudahlah!Aku capek. Pengen cari hiburan."

Tanpa menoleh, ia beranjak, begitu saja. Seolah tak ada beban.

Indah menatap Hendra yang mulai melangkah keluar dari rumah dengan segudang rasa kesal. "Brengsek! Kalau tak takut durhaka sama suami sudah tak--"

Indah mengepalkan tangannya, dadanya turun naik menahan emosi yang hampir meledak.

"Kak, kita belum selesai bicara," protes Indah.

Hendra berhenti. Tapi tak menoleh.

“Udahlah, jangan banyak protes. Jalanin aja,” ujarnya ringan, seolah masalah yang sedang mereka bicarakan tak lebih dari memilih menu makan siang.

Indah mengatupkan rahangnya. Ada bagian dari dirinya yang ingin berteriak. Tapi ia tahan.

"Jalanin aja? Ini hidupku, Kak… bukan sepatu bekas yang bisa dijalani tanpa rasa."

“Masa iya, aku harus tinggal di rumah ini sampai adik kamu yang paling kecil nikah?” tanyanya, berusaha memastikan ia tak salah dengar.

“Ya,” jawab Hendra, tanpa ragu. Lalu kembali mengisap rokok.

Indah tercekat.

Pria ini... bahkan tak peduli sedikit pun.

Tak ingin tahu apa yang dirasakannya. Tak ingin ikut lelah. Tak ingin berpihak.

“Kenapa aku harus berjuang sendirian di rumah ini? Sementara kamu… pura-pura tuli tiap kali aku butuh kamu?”

“Kalau kamu nggak nyaman, ya keluar aja,” sahut Hendra enteng.

Indah tersentak. Keluar? Dari mulut suaminya sendiri?

"Jadi, aku yang harus pergi? Setelah semua sabar dan diamku? Setelah semua yang aku tanggung selama ini? Setelah aku bertahan tanpa kamar, tanpa ruang privasi? Setelah aku biayai sendiri pernikahan kita dari uang tabunganku? Bahkan jual sapi buat bayar utang kamu sebelum menikah?”

Hatinya remuk, tapi matanya tak meneteskan air mata. Ia terlalu lelah untuk menangis. Terlalu sering disakiti untuk merasa kaget lagi.

Indah bangkit berdiri. Tangannya mengepal, bibirnya bergetar.

“Terima kasih, Kak. Jawaban kamu jelas,” katanya pelan.

Hendra hanya mendengus. Tak menoleh. Tak bertanya.

Ia melangkah keluar, meninggalkan Indah seperti seseorang yang tak ada artinya.

Di dalam ayunan, Rayhan masih tertidur. Bocah itu bahkan belum bisa bicara banyak, tapi sudah jadi satu-satunya alasan Indah tetap bertahan.

Ia duduk di lantai, punggungnya menyandar di dinding kayu yang lapuk. Menatap kosong ke depan.

"Aku nggak minta rumah mewah. Aku cuma minta ruang untuk bernapas. Tapi bahkan itu pun nggak bisa aku punya."

"Apa aku salah kalau ingin hidup dengan tenang? Salah kalau ingin dicintai dan dihargai, bukan cuma dijadikan istri yang harus nurut dan nggak boleh bersuara?"

Dari balik jendela kayu yang mengelupas, cahaya sore menyusup masuk. Tapi hati Indah.. tetap gelap.

Indah menghela napas panjang, lalu bangkit dengan malas.

“Nangis juga nggak bikin kenyang. Yang ada malah lapar dan kerasukan setan,” gumamnya sambil menatap kosong ke arah dapur.

Matanya melirik Rayhan yang masih terlelap di ayunan. Anak semata wayangnya itu tampak damai, seolah dunia benar-benar baik-baik saja. Ia mengayun pelan kain sarung tempat Rayhan tidur.

“Tidur yang nyenyak, ya, Nak. Ibu mau masak… sebelum akal sehat ibu ikut menguap.”

Ia melangkah ke dapur dan menatap ember plastik berisi hasil tangkapan Hendra pagi tadi.

“Belut, lele, udang. Mantap. Tinggal tambah lilin sama kue, lengkap buat sesajen,” gumamnya sambil menarik napas pasrah.

Bubu belut yang ditaruh Hendra di sungai rupanya cukup ampuh. Jebakan kecil yang bahkan lebih kecil dari harapan Indah soal rumah tangganya… tapi ya sudahlah.

Sambil menyiangi belut, Indah mengomel pelan. “Kenapa sih, belut ini licinnya kayak orang ngutang yang ogah bayar? Dipegang selip, diatur susah, nyetrumnya cepet. Udah kayak Hendra aja—kalau nggak hati-hati, bisa bikin emosi meledak.”

Isi perut belut ia buang, lalu badannya ia pukul berkali-kali. Bukan cuma buat melunakkan tulang, tapi juga buat menyalurkan emosi.

"Apa Hendra juga harus dipukul dulu kayak belut ini biar otaknya agak lunak?" desisnya sambil menghela napas panjang.

Lele dan udang menyusul dibersihkan. Ia menatap udang itu beberapa saat. "Udangnya kecil-kecil banget, tapi cukup buat lauk keluarga besar yang rakus dan doyan nyinyir ini."

Wajan ia panaskan, sambal mulai digoreng. Asap dan aroma mengepul, menari-nari di udara, meniru emosinya yang barusan hampir meletus. Sesekali ia kembali ke ruang tengah—yang merangkap ruang tidur—untuk menggoyang ayunan Rayhan, memastikan bocah itu tak bangun sebelum semuanya matang.

Ia balik lagi ke dapur. Ikan digoreng, sambal hampir jadi.

“Dulu makan cuma tahu tempe sama sayur tumis. Sekarang tiap hari makan ikan. Naik kelas dong?” gumamnya. “Tapi ya gitu… sayur sekarang lebih langka dari empati mertua.”

Indah tersenyum miris.

"Hidup emang aneh. Kadang kamu cuma butuh belut goreng, wajan panas, dan satu anak kecil yang belum ngerti apa-apa… buat tetap waras."

 

Indah selesai memasak tepat saat Rayhan terbangun dan merengek minta susu. Bocah kecil itu duduk di ayunan, mengucek mata, lalu mulai rewel seperti alarm yang tak bisa dimatikan.

Setelah kenyang, Rayhan kembali diam, menatap langit-langit rumah seolah dunia cuma selebar kain kasa. Indah mengelus pipi gembul anaknya dan mengecupnya.

“Ayo, mandi, Nak.”

Suara Indah pelan tapi mantap. Dia tahu, kalau ditunda-tunda, bisa-bisa nanti yang keluar cuma bau keringat dan cucian kotor, bukan air.

Ia mengenakan sarung yang dililit dari dada sampai mata kaki. Klasik, praktis, dan menutup aurat—selama angin tidak terlalu niat bercanda. Tangan kiri menggendong Rayhan, tangan kanan menjinjing baskom isi peralatan masak kotor, sabun, odol, dan sikat gigi yang bulunya tinggal dua belas biji.

Ia menghela napas. Napas seberat hidupnya.

Perjalanan ke sungai dimulai. Melewati jalan setapak, kebun-kebun kecil, rumah-rumah tetangga yang saling bertukar kabar lewat suara ayam dan bocah-bocah teriak. Kalau ada soundtrack-nya, ini mungkin cocok pakai lagu latar "Sendiri Lagi" tapi versi dangdut koplo.

Dan ya—sungai. Jangan bayangkan kamar mandi keramik, pancuran air hangat, atau bathtub dengan busa. Ini bukan sinetron, ini kenyataan. Kamar mandi? Mimpi. Toilet? Ah, jangan ketinggian.

Yang ada cuma sungai selebar seratus meter, alirannya pelan, airnya surut karena kemarau. Sebuah rakit bambu dengan papan di atasnya jadi tempat buang air. Mandi dan cuci? Ya di situ juga. Satu paket hemat—serba guna.

Indah berdiri di tepi sungai, melihat ke air yang surut, berpasir, dan agak berbau lumut. Ia mulai mencuci perabot, sementara Rayhan bermain pasir di sebelahnya. Sesekali ia menoleh, memastikan bocah itu tidak mendadak nyebur ke tengah.

Beberapa tetangga juga sedang di sana. Ada yang nyuci, ada yang nyabun, ada yang curhat, dan ada yang pura-pura nggak nguping curhatan orang lain.

Indah menyabuni piring sambil menggumam dalam hati.

“Dulu, mandi meski harus nimba air… ya di kamar mandi. Sekarang? Mandi di sungai kayak sinetron jaman dulu. Bedanya, ini bukan akting. Ini kenyataan yang nggak ada script-nya.”

Ia lanjut mencuci sambil mengingat masa-masa ketika malam hari berarti nonton sinetron atau talk show, rebahan di kasur empuk sambil nyemil keripik.

“Sekarang? Cuma bisa mandang langit-langit kelambu, ditemani lampu kaleng dari bekas susu. Tinggal tiup kalau apinya goyang-goyang, persis lampu buat pesugihan bab bi ngepet,” desisnya lirih.

Ia menyeringai.

“Dulu, tinggal colok headset sambil rebahan. Sekarang? Yang kedengeran cuma suara anak-anak nyebur, suara kodok, sama doa supaya lampunya nggak mati diterpa angin.”

Ia mendongak ke langit sore, lalu menatap air yang mengalir lambat.

“Astaga… aku kayak masuk mesin waktu. Bukan ke masa depan. Tapi ke masa lalu. Ke zaman ketika HP kamera belum jadi standar hidup, dan wartel masih berjaya.”

Ia mengusap wajah, mengibaskan air.

“Ya Tuhan… ini hidupku atau film dokumenter?”

Tapi lalu ia menoleh ke Rayhan, yang sedang asik menggali pasir dengan tangan mungilnya.

Indah tersenyum.

"Setidaknya, kamu di sini, Nak. Satu-satunya alasan ibu masih bisa ketawa, walau rasanya pengen meledak."

Setelah ia dan Rayhan mandi, dan perabotan sudah bersih, Indah menarik napas, sekali lagi. Lalu ia bersiap kembali ke rumah yang katanya rumah tangga—tapi lebih sering terasa seperti kontrakan tanpa kontrak hati.

Ia tidak tahu akan seperti apa malam ini, tapi satu hal pasti: ia masih harus bertahan.

...🍁💦🍁...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

^ã^😉

^ã^😉

jaman q Masih unyu² Indah ..kalau Muslim kemarau pergi ke sawah Nimba air di pertengahan tanaman jagung utk di bawa pulang terus balik lagi ke sawah mandi pakai kain jarik itu dari Dada sampi Mata kaki takut kalau di lihat org lewat hihi

2025-06-23

2

Eliermswati

Eliermswati

kak ini kisah indah tmn nya zay bkn kak

2025-06-23

2

Yunita Sophi

Yunita Sophi

knp gak pergi aja Indah... sengsara jg klo gak punya suami dan keluarga nya yg jilid masih mendingan lah...

2026-04-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!