Baru juga belok ke arah rumah Bik Soleha, suara khasnya sudah terdengar menyambut dari kejauhan.
“Nah, ini dia tamu VIP kita hari ini… Sama cucu kecil yang makin berat kayak utang negara!”
Indah tertawa kecil sambil menaiki anak tangga rumah panggung khas Sumatera itu—anak tangga yang kadang bunyinya berderit, seolah ikut mengeluh karena tiap hari tak pernah absen diinjak.
Bik Soleha memang beda dari ibu-ibu lain. Suaranya santai, semangatnya awet, meskipun hidupnya nggak bisa dibilang ringan.
Begitu duduk, pisang muli langsung disodorkan.
“Nih, dari kebun. Lumayan, daripada makan angin.”
Indah menyambut dengan senyum.
Pisang itu benar-benar penyelamat jiwa. Di rumah, yang ada cuma angin sepoy dan sisa nasi subuh tadi. Maklum, mertua tak punya kebun. Sawah pun nyewa.
Mereka ngobrol soal sawah.
“Udah kelar nanam. Bibi nyuruh orang, biar cepet. Badan udah tua, tapi duit masih muda,” kata Bik Soleha sambil terkekeh.
Lalu topik bergeser ke anaknya yang merantau ke Jawa.
“Kakakmu (anak Bik Soleha) sekarang jadi S.Pd."
"Wah, ngajar SD, SMP, SMA, Mts, atau sekolah kejuruan, Bik?"
Soleha terkekeh. "Bukan sarjana pendidikan… Sales Penjual Daster. Kang kredit bulanan."
"Hahaha! Ada-ada aja Bibi ini bikin singkatan.”
Indah tertawa, walau dalam hati ikut merasa ngenes.
Lalu cerita beralih ke kebun di pinggir sungai.
“Pisang Bibi sering diembat monyet. Kadang dicuri makhluk dua kaki.”
Bik Soleha menunjuk seekor monyet yang dirantai di samping rumah.
“Kalau semua dijadiin piaraan, bisa penuh ini rumah. Ya, meski bermanfaat, karena kalau banyak kutu bisa bantu nyariin.”
Indah tertawa kecil. Sudah sering melihat monyet itu mencari kutu keluarga Bik Soleha.
“Aku kira monyet begitu cuma ada di topeng monyet keliling, Bik. Atau di kebun binatang…”
“Lah, di sini mah semua bisa. Mau punya monyet? Tinggal bawa pisang,” jawab Bik Soleha santai sambil mengipas tubuhnya dengan kipas dari anyaman bambu.
Mereka tertawa sebentar. Lalu senyap. Hening yang tidak nyaman.
“Eh, Ndah… kabar orang tuamu di Jawa gimana sekarang?”
Indah tercekat.
Tawa tadi mendadak lenyap.
Suasana yang tadinya ringan, sekarang berubah berat. Lebih berat dari Rayhan yang tertidur di pangkuannya.
Tangannya otomatis meremas ujung selendang Rayhan.
Pandangannya menunduk.
Tersenyum kecil—senyum yang tidak benar-benar senyum.
Pertanyaan Bik Soleha itu seperti pisau—tumpul, tapi tetap tajam.
Indah hanya menunduk, bibirnya nyaris bergerak, tapi suara tak keluar.
Lama, sampai akhirnya ia berkata pelan, hampir seperti gumaman.
"Aku nggak terlalu dekat sama orang tuaku, Bik."
Bik Soleha mendongak, berhenti mengayunkan kipasnya.
“Lho, emang dari kecil kamu nggak tinggal sama orang tuamu?”
Indah menggeleng.
“Katanya sih dulu mereka ke Bengkulu, transmigrasi. Waktu aku masih kecil. Dulu kirim surat pun susah. Boro-boro mau nelpon. Saat aku SMA, mereka baru pulang ke Jawa. Itu pun hanya sekitar sebulan kami tinggal bersama."
“Ya Allah…”
Bik Soleha mendecak pelan, ikut larut.
Indah tertawa miring, matanya sayu.
“Dulu nenekku bilang, aku dijampi. Biar lengket sama dia dan pamanku. Katanya biar aku lupa sama orang tuaku dan tinggal sama nenek dan paman. Karena paman dan bibiku belum punya anak. Awalnya disayang, beneran disayang. Dibikinin akte lahir, dijadiin anak kandung mereka. Gitu katanya."
“Lho? Serius?”
Indah mengangguk. “Tanpa izin orang tuaku.”
“Astaghfirullah…”
“Lucunya, orang tuaku juga nggak pernah pulang cari aku.”
Sunyi. Bahkan suara ayam pun mendadak sopan.
"Semuanya baik-baik saja...sampai bibi kabur dari rumah."
“Kabur? Kenapa?”
“Aku juga gak tahu, Bik. Waktu itu aku masih kelas dua SD. pulang sekolah tiba-tiba aja udah nggak ada. Cuma tinggal baju di jemuran.”
Indah nyengir.
Getir.
“Lha pamanku?”
“Ya makin jauh. Apalagi setelah nikah lagi dan punya anak sendiri. Aku? Dianggap benalu. Aku makan dan tidur sama nenek. Sekolah? Nggak pernah dibayarin. SPP kayak mimpi. Alat tulis? Minjem. Uang jajan? Jangan ngimpi. Sekolah cuma modal tekad, sarapan sebungkus nasi dan gowes sepeda pulang pergi. Sepeda paling butut di parkiran sekolah.”
“Astagaaaa...” Bik Soleha mengelus dada.
“Kadang aku bantu nenek nyangkul, bawa sayuran ke pasar, narik sepeda tanpa lampu subuh-subuh. Gelap, embunnya tebel, dinginnya kayak tusukan jarum. Tapi ya... bisa makan tahu tempe aja udah pesta.”
Indah memejam, seolah menyusun ulang ingatan yang selama ini dikurung.
“Dulu pohon jambu belakang rumah itu temenku. Tempat rebahan, tempat belajar, tempat ngelamun. Sekaligus tempat kerja. Jambu, mangga, kluweh… semua dipanjat. Dijual ke pasar buat bayar SPP.”
Ia tersenyum miris.
“Aku panjat pohon kluweh tinggi banget, Bik. Kalau jatuh, paling tinggal dibungkus tikar dan dikubur rame-rame. Tapi aku naik juga. Biar bisa sekolah.”
“Yaa Allah Ndah… Kamu tuh kayak tokoh di sinetron azab, tapi versi nggak ada latar musiknya.”
Indah tertawa kecil.
“Bahkan azab di sinetron kadang masih ada sponsor. Aku nggak.”
Mereka diam. Angin berembus pelan, membawa suara ayam dan angin dari pematang.
“Jadi ya gitu, Bik… sejak nenek meninggal, aku merasa sebatang kara. Meski orang tua masih ada, tapi terasa seperti orang asing.."
Indah berhenti.
“…aku gak pernah merasakan bagaimana tidur di pangkuan ibu, mengeluhkan apapun yang jadi beban hatiku. Aku nggak merasakan gimana rasanya kepalaku diusap bapak atau ibuku. Aku belum pernah merasakan perhatian dan kasih sayang tulus, bukan sekedar sapaan formalitas."
Indah menunduk mengelus kepala Rayhan. Dalam hati bergumam,
"Aku tak mau Rayhan tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua."
"Tapi..."
"Sanggupkah aku mempertahankan rumah tangga macam ini?"
***
Sore kembali tiba.
Langit mulai menguning, aroma jerami basah dan asap dapur bercampur jadi satu. Suasana desa yang biasanya ramai oleh kepulangan dari sawah, kini agak berbeda. Ada jeda.
Biasanya, sore adalah waktu semua penghuni rumah kembali. Meski hanya untuk rehat sebentar, lalu hilang lagi. Tapi kali ini... Hendra masih di rumah. Aneh. Biasanya dia sudah lenyap entah ke mana—ke rawa, ke empang, atau ke langit ke tujuh.
Sari, ibu mertua Indah, sudah pergi sejak tadi bersama Astri, entah ke mana. Sedangkan Tuti sibuk memilih baju di depan cermin kecil yang berdiri miring, lalu menyapukan make-up seadanya. Bedak tabur dan lipstik warna cabe, hasil patungan dengan teman-teman sekampung.
Tak lama, suara ketukan pintu terdengar. Dua orang wanita dewasa dan beberapa anak muda datang ikut nimbrung.
"Assalamualaikum. Hen, kami minta izin mau ngajak Tuti ke acara pengantin malam ini," kata salah seorang wanita dewasa.
Mereka mau pergi ke acara pelepasan lajang pengantin. Semacam malam muda-mudi sebelum nikah. Ada permainan, ada nyanyi-nyanyi, ada surat cinta dari para jejaka—sebuah tradisi kampung yang terus dilestarikan. Entah biar terkesan romantis atau karena sinyal HP masih tersangkut di pucuk pohon durian. Mungkin dua-duanya. Mungkin juga karena tidak ada pilihan lain.
Setelah Tuti pergi, suasana rumah lengang. Hanya suara kipas bambu bergesekan dengan angin dan napas Rayhan yang sudah lelap dalam kelambu.
Hendra duduk di lantai, menyender ke tiang rumah. Tiba-tiba, ia merogoh saku celana dan mengulurkan beberapa lembar uang lusuh ke arah Indah.
"Ibu belum beli beras," katanya tanpa menoleh. "Beli empat kilo. Di tempat Bu Hajah. Sekalian rokok."
Indah mengangguk kecil, lelah. Ia bangkit, mengambil tas anyaman plastik—tas sejuta umat yang biasa buat wadah beras. Ia tahu, biasanya memang empat kilo. Entah itu jatah, entah sudah takaran sakral keluarga ini.
Sesampainya di warung kecil berdinding papan itu, Indah menyodorkan tasnya dengan senyum kecil.
"Bu Hajah, beli beras empat kilo, ya."
Bu Hajah menoleh. Matanya menyipit lalu membesar. "Wah, tumben kamu yang beli, Ndah."
Indah tersenyum tipis. "Iya, Bu. Soalnya Ibu lagi pergi ke rumah calon pengantin, yang ada acara muda-mudi itu."
"Ohhh..." gumam Bu Hajah sambil mulai menakar beras. Bunyi beras yang jatuh ke dalam timbangan terasa seperti detak waktu yang pelan dan malas.
Setelah membayar dan mengambil rokok, Indah mengucap pamit. Tapi belum sempat ia melangkah, Bu Hajah menahan.
"Ndah…"
Indah menoleh. Ada keraguan di wajah Bu Hajah. Seolah sedang menimbang sesuatu yang sebaiknya tak dikatakan—tapi tak kuat dipendam.
"Iya, Bu?" tanya Indah pelan. Ada getar di suaranya. Firasatnya seperti nyamuk: kecil, tapi gatal.
Bu Hajah melihat ke kanan-kiri. Hening. Lalu menurunkan suaranya.
...🍁💦🍁...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Siti Jumiati
hemm kira2 apa ya yang dikatakan Bu Hajah, mungkin tentang mertuanya indah.
nasib mu sedih banget ya ndah dulu masih sekolah banting tulang buat biaya sekolah
sekarang dapat suami yang penghasilannya pas2 an
semoga kamu bisa melewati semua ini dengan sabar dan ikhlas.
2025-06-26
2
syisya
bua hajjah mau menyampaikan kalau indah digosipin enggak" atau mau bilang selama ini belanjanya ngutang alias uang belanja ditilep 🤔
2025-06-27
2
syisya
SPD, sales penjual daster ?
apa anak Bu hajjah itu Dimas yg skrg nikah sama Ayana ? hehehe
2025-06-27
1