Bab 1

Beberapa tahun kemudian...

"Dimana istrimu itu, Ran? kenapa jam segini belum menyiapkan sarapan?" tanya seorang wanita paruh baya dengan nada ketus kepada putra tertuanya itu.

Wanita itu bernama Yanti — ibu pria itu. Mereka sedang berada di meja makan. Tidak hanya ada mereka berdua disana, ada seorang pria paruh baya dan seorang gadis muda berusia remaja.

"Dia sedang memasak di dapur, Bu. Tadi Amara bangun kesiangan." jelas pria bernama Randi itu.

"Dasar pemalas! Sudah jam berapa ini? Kau dan adik-adikmu bisa terlambat nanti." gerutunya kesal.

Wanita itu lalu pergi ke dapur untuk melihat Amara , menantunya.

Gadis itu tampak sibuk memasak dan menyiapkan sarapan. Ia hanya sendirian di sana. Sementara wanita paruh baya itu hanya mengawasinya tanpa berniat sedikit pun untuk membantunya.

"Kenapa lama sekali? Cepat sedikit masaknya. Ini sudah jam berapa?" hardiknya.

"Iya, Bu. Sebentar lagi makananya akan siap. Ini tinggal di pindahin ke mangkuk saja." jelasnya sambil mengambil mangkuk.

Gadis itu tampak kewalahan membawa makanan ke ruang makan. Tak ada seorangpun dari mereka yang berinisiatif untuk membantunya.

Amara lalu meletakkan semua masakan di meja makan.

"Kak! Mana telur sapi setengah matangnya?" tanya gadis muda itu setelah melihat tidak ada lauk favoritnya di meja.

"Kita kehabisan telur. Semalam kakak lupa untuk membelinya." jelas Amara dengan sabar.

"Aduh! kenapa bisa lupa? 'Kan kakak tahu kalau aku tidak bisa makan tanpa telur. Pokoknya aku tidak mau tahu, cepat buatkan telur mata sapi untukku!" perintahnya sambil merengek minta segera dituruti.

"Sarah! Sudah! Makan saja apa yang ada. Kau bisa terlambat ke sekolah nanti." ucap Baskoro pada putri bungsunya itu.

Gadis muda yang mengenakan seragam putih biru itu tampak mengerucutkan bibirnya karena kesal.

"Ayo, makan saja, Sarah! Dimana mas mu? Mara, bangunkan Wahyu sekarang! Dia bisa terlambat ke sekolah nanti." perintah Yanti.

"Iya, Bu!" Amara tampak menuruti perkataannya.

Ia lalu bergegas ke kamar Wahyu untuk membangunkannya. Ia mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada jawaban. Ia mencoba untuk membuka pintu kamarnya dan ternyata tidak di kunci. Ia tak melihat ada orang di dalam.

"Apa Wahyu tidak pulang semalam?" tanyanya heran.

Ia kembali ke ruang makan. "Bu! Wahyu sepertinya tidak pulang semalam." jelasnya.

"Apa! Dasar anak itu! Kemana dia?" Yanti tampak kesal.

Mereka lalu selesai sarapan dan bersiap-siap untuk pergi.

Randi — suami Amara, bekerja sebagai manajer di salah satu perusahan besar. Sementara Ayahnya — Baskoro, memiliki sebuah toko sembako. Terkadang Yanti membantu suaminya di toko. Tapi sebagian besar waktunya di habiskan bersama teman-teman arisannya.

Randi punya dua adik, adik lelakinya bernama Wahyu. Sementara adik perempuannya bernama Sarah.

Amara dan Randi sudah menikah selama dua tahun, namun mereka belum dikaruniai seorang anak. Hal itu membuat Yanti semakin tidak suka pada menantunya itu.

"Mas, sebentar! Ini tasnya." Amara berlari ke depan menghampiri suaminya itu.

"Iya, sudah! Mas berangkat kerja, ya!" ucap pria itu.

"Hmm... Sebentar, mas. Apa nanti siang aku boleh pergi ke rumah ibu? Sudah lama aku tidak ke sana?" tanyanya.

"Untuk apa kau pergi ke sana?" tanyanya balik.

"Aku mendapat kabar jika ibu sedang sakit. Jadi aku ingin melihat bagaimana keadaannya."

"Hah! Iya, sudah. Tapi jangan lama-lama. Nanti ibu bisa marah lagi. Mas pergi, ya!" pria itu tampak terburu-buru masuk ke dalam mobilnya.

"Mas, tunggu sebentar! Mas!" Amara berusaha untuk memanggilnya, namun Randi tidak menggubrisnya.

Padahal aku mau minta uang. Tidak mungkin aku pergi dengan tangan kosong. batinnya.

"Apa aku minta saja pada ibu?" gumamnya ragu.

Selama menikah, Randi selalu memberikan semua gajinya pada ibu mertuanya. Menurut Randi, ibunya lebih bijak mengatur keuangan daripada istrinya. Sehingga jika ada keperluan, Amara selalu meminta uang pada ibu mertuanyanya itu. Tetapi, itu bukanlah hal yang mudah. Karena ibu mertuanya itu tidak akan begitu saja memberikan uang padanya begitu saja, kecuali uang belanja. Uang belanja yang diterimanya pun selalu pas-pasan. Sehingga Amara tak pernah memegang uang sepeserpun setelah menikah.

Hal itu tentu saja membuatnya terluka. Ia merasa tak pernah dianggap sebagai seorang istri di rumah ini. Namun ia memilih untuk diam daripada harus terus bertengkar dengan suaminya. Ia hanya tak ingin penyakit jantung ibunya kambuh karena mendengar bagaimana ia diperlakukan di rumah ini.

Ia pun lalu masuk ke dalam untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum pergi.

...****************...

"Mau kemana kau?" tanya Yanti ketika melihat menantunya telah berpakaian rapi dan membawa tas.

"Saya mau pergi ke rumah ibu. Tadi saya sudah izin sama Mas Randi." jelasnya.

"Mau apa kau pergi ke sana? Mau mengadu pada ibumu?" tanyanya curiga.

"Tidak, Bu! Saya tidak pernah mengadu apa-apa sama ibu saya. Saya hanya mau menjenguk ibu. Dia sedang sakit." sanggahnya.

"Apa kau sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah?" tanyanya.

"Sudah, Bu. Saya juga sudah menyiapkan makan siang." jelasnya.

"Iya, sudah! Tapi jangan lama-lama." perintahnya.

"Iya, Bu. Hmm... Tapi Bu!" ucap Amara ragu.

"Kenapa? Mau minta uang?" duganya.

"Iya, Bu. Saya mau membeli buah untuk ibu!" jelasnya.

"Hah! Enak saja. 'kan kau yang mau pergi sendiri. Kenapa malah minta uang pada ibu. Randi mencari uang ini dengan susah payah. Enak saja kau mau menghabiskan uang ini. Apalagi untuk diberikan pada ibumu. Jangan harap! Pergilah!" gerutunya kesal.

Wanita itu lalu pergi begitu saja.

"Bu! Tolong, Bu!" pintanya.

Namun wanita itu tidak menggubrisnya.

Amara tampak menangis. Dia merasa tak tahan dengan semua ini. Ia hanya berharap jika suatu saat nanti mereka bisa bersikap lebih baik padanya.

...****************...

Amara tiba di rumah ibunya dengan menggunakan angkutan umum. Butuh waktu satu jam untuk tiba di sana. Amara terpaksa meminjam uang dari tetangganya untuk membeli buah.

Rumah yang ditempati oleh ibunya itu adalah rumah peninggalan dari mendiang neneknya.

Ibunya hidup dengan berjualan sarapan pagi. Tetapi beberapa hari ini ia tidak bisa jualan karena sakit. Wanita itu memiliki riwayat penyakit jantung. Karena hal itulah, Amara selalu berhati-hati agar penyakit ibunya tidak kambuh.

Sementara Ayahnya sudah meninggal ketika ia masih duduk di sekolah dasar.

Amara mengetuk pintu rumah itu dan memanggil-manggil ibunya.

"Assalamualaikum, Bu! Ini Amara, Bu!" serunya.

Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintu.

"Mara! Kamu datang, nak! Ayo, masuk! Uhuk .. Uhuk..." wanita itu tampak pucat.

Ia terbatuk-batuk dan masih tampak lemas. Ia bahkan memakai cardigan rajut untuk menghalau rasa dingin yang ia rasakan.

"Ibu masih sakit?" tanyanya sembari memapah ibunya untuk duduk.

"Tidak, kok. Ibu sudah jauh lebih sehat. Hanya masih sisa batuk-batuk saja. Untuk apa kau datang ke sini? Ibu hanya sakit biasa saja, kok!" jelasnya.

"Apanya yang hanya sakit biasa. Wajah ibu terlihat sangat pucat. Apa ibu sudah ke rumah sakit?" tanyanya cemas.

"Sudah. Ibu sudah pergi ke puskesmas kemarin. Makanya sekarang ibu sudah jauh lebih mendingan. Kau tidak perlu cemas, nak." ucapnya.

"Maafkan Mara ya, Bu. Mara baru bisa datang sekarang." pintanya sedih.

"Tidak apa-apa. Ibu mengerti, kok. Apa kau sudah makan siang? Kau tampak lebih kurus dari saat terakhir ibu melihat mu." ucapnya cemas.

"Masa, sih! Tapi Mara makan lebih banyak akhir-akhir ini. Memang Mara sedang menjaga asupan yang Mara makan. Mara ingin segera hamil." ucapnya.

"Iya, ibu tahu. Tapi jangan sampai hal itu membuatmu sakit."

"Iya, Bu. Mara bisa menjaga diri Mara, Bu."ucapnya menenangkan ibunya.

"Oh, iya! Mara bawa buah untuk ibu. Mara potongkan dulu, ya!" ucapnya.

"Iya, nak. Oh iya, kamu makan siang di sini ya. Temani ibu!"pinta ibunya.

"Iya, Bu."

Mara lalu pergi ke dapur dengan ibunya. Sudah lama sekali ia tidak makan bersama ibunya.

...****************...

Terpopuler

Comments

🌺Bunga_Ros⁹⁷

🌺Bunga_Ros⁹⁷

laki² ingusan itu namanya, belum bisa lepas dalam ketek ibunya🤣
kok bisa yah pria kayak gitu nikah🤭 harusnya netek aja Ampe tua sama ibu mu

2025-10-29

0

Oma yeni*🦋

Oma yeni*🦋

nasibnya udah mirip si Melanie aja nih 🤧

2025-11-11

0

Alyanceyoumee

Alyanceyoumee

mertua menakutkan. jauhkan ya Allah...

2025-11-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!