Keesokan harinya setelah membereskan semua pekerjaan rumah dan juga memasak untuk makan siang, Amara pergi dari rumah. Ia benar-benar pergi untuk melamar pekerjaan.
"Ya Allah, mudahkan lah jalanku ini!" ia berdoa sebelum pergi.
Untungnya tak ada seorangpun di rumah pagi itu. Wahyu dan Sarah baru pulang sore nanti. Sementara kedua mertuanya sedang berada di toko dan baru pulang siang nanti.
Ini adalah kesempatannya. Ia lalu bergegas pergi menuju toko bunga tersebut. Ia pergi menggunakan angkutan umum.
"Selamat siang, nona! Apa benar toko bunga ini sedang mencari beberapa pegawai? Apa masih ada lowongan pekerjaan yang tersedia?" tanya Amara sopan setelah bertemu penjaga kasir yang juga diketahui sebagai pemilik dari toko bunga tersebut.
"Iya. Kebetulan lowongan itu masih tersedia. Apa anda ingin melamar pekerjaan?" tanyanya.
"Iya, Nona. Saya ingin melamar pekerjaan di sini." jawab Amara.
"Ini ijazah dan CV saya." lanjutnya sambil menyerahkan data dirinya.
Wanita itu membacanya dengan teliti.
"Apa kau pernah menjadi kasir sebelumnya?" tanyanya.
"Iya, pernah. Sekitar 3 tahun yang lalu."
"Lalu kenapa kau berhenti dari pekerjaan mu?" tanyanya.
"Oh, suami saya tidak mengizinkan saya bekerja. Jadi terpaksa saya berhenti dari pekerjaan saya." jelas Amara.
"Lalu sekarang, apa suami mu memberikan izin untuk bekerja?" tanyanya lagi.
"Iya." Amara tampak ragu-ragu.
"Oh, baiklah kalau begitu." ucap wanita itu. "Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." ucapnya.
"Iya, terima kasih, Nona." Amara tampak tersenyum.
Amara lalu berpamitan dan segera pergi dari sana. Ia takut ketahuan oleh ibu mertuanya.
Namun Amara tampak bingung sepanjang perjalan. Entah alasan apa yang akan dia buat ketika meminta izin pada suaminya. Dia juga tak mungkin menyembunyikan masalah ini selamanya.
Dia akan mencoba bicara ketika Randi pulang malam nanti.
...****************...
Amara langsung pulang ke rumah begitu urusannya selesai. Rumah masih tampak sepi. Untungnya tidak ada siapapun di sana. Jadi dia bisa sedikit bernafas lega.
Tak lama kemudian seorang pria muda pulang ke rumah itu dalam keadaan marah. Pria itu bertubuh tinggi — sedikit lebih tinggi dari Randi — dengan bahu lebar dan lengan yang sedikit berotot. Ia mengenakan seragam putih abu-abu yang dibalut jaket Hoodie kegemarannya.
Dia — Wahyu, adik kedua Randi. Anak itu sudah dua hari ini tidak pulang ke rumah. Dia memang selalu seperti itu. Orang tuanya selalu kewalahan menghadapinya. Apalagi Wahyu suka membolos dan membuat masalah di sekolah. Namun, dia selalu bersikap baik pada Amara. Setidaknya dia selalu membela Amara ketika ibunya memarahinya.
"Wahyu! Kau baru pulang? Kemana saja kau dua hari ini? Kenapa tidak pulang ke rumah. Kakak 'kan sudah bilang jangan membolos lagi. Sebentar lagi kau akan ujian akhir. Bagaimana jika kau sampai tinggal kelas?" cerca Amara dengan serentetan pertanyaan.
"Aku malas sekolah, kak. Aku tidak suka belajar. Aku ingin mencari pekerjaan saja." jelasnya kesal.
"Wahyu! sayang sekali jika kau berhenti sekarang. Sebentar lagi akan diadakan ujian. Jika kau punya ijazah SMA, kau bisa mencari pekerjaan yang lebih baik daripada hanya sekedar lulusan SMP. Ayolah! Selesaikan sekolah mu hingga akhir. Kau sudah berjanji pada kakak untuk menyelesaikan sekolah mu 'kan? Jangan buat masalah lagi. Ibumu bisa marah. Dan mungkin kakak juga akan terkena imbasnya." jelas Amara menasehatinya.
"Haa... Baiklah kak. Aku akan mengikuti ujian dan menyelesaikan sekolah ku." ia berjanji.
"Itu baru adik kakak. Kau sudah makan?" tanyanya.
Ia hanya menggeleng.
"Iya, sudah. Sekarang ganti pakaian mu, setelah itu makan siang. Kakak akan siapkan makanan untukmu." ucap Amara sambil tersenyum.
Ia sangat menyayangi Wahyu seperti adik kandungnya sendiri.
"Iya, kak." Jawab pria itu.
Wahyu lalu pergi ke kamarnya untuk mengganti seragamnya.
...****************...
Tak lama kemudian, Sarah juga pulang ke rumah.
"Kak Mara! Kak Mara!" panggilnya.
"Iya, ada apa Sarah?" tanya Amara setelah menghampirinya.
Gadis muda itu lalu melemparkan tas padanya.
" Letakkan tas ku di dalam kamar. Aku lelah sekali. Setelah itu siapkan makan siang ku segera. Aku lapar sekali." perintahnya dengan tidak sopan.
"Sarah! Berlakulah yang sopan pada kakak. Jangan seenaknya sendiri. Kenapa kau tidak meletakkan tas mu sendiri." hardik Wahyu kesal.
"Sudahlah! Jangan ribut-ribut. Kakak tidak mau ada masalah lagi. Sudah biarkan saja." Amara menenangkannya.
"Tapi kak, anak ini semakin dibiarkan malah semakin bertindak kurang ajar. Sesekali kakak perlu memarahinya." tegur Wahyu.
"Jangan sok jadi pahlawan, kak Wahyu. Kak Mara saja tidak keberatan dengan sikapku. Iya 'kan kak Mara?" ucap Sarah.
"Iya. Hmm.. kakak siapkan makan siang kamu dulu ya. Wahyu, lanjutkan saja makanmu. Jangan pikirkan kakak. Kakak tidak apa-apa, kok." ia menenangkannya.
"Haa ... Kakak terlalu lemah." Wahyu mendengus kesal.
Setelah makan siang, Sarah masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Sementara Wahyu membantu Amara untuk mencuci piring.
Sore harinya ketika Yanti pulang ke rumah. Ia mulai marah kepada Wahyu karena tidak pulang ke rumah beberapa hari ini.
Dia terus mengomel sepanjang waktu hingga kuping Wahyu terasa panas.
"Sudah, Bu! Jangan mengomel terus tanpa henti. Besok aku akan sekolah dan menyelesaikan ujian akhir ku. Sekarang aku ingin istirahat. Aku sangat lelah." ucapnya lalu masuk ke kamarnya begitu saja.
"Dasar anak nakal. Ibu belum selesai bicara. Cepat buka pintunya." perintahnya sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Wahyu!!!!" panggilnya marah.
"Sudahlah, Bu. Jangan ribut-ribut terus. Tidak enak jika di dengar tetangga." tegur Baskoro.
"Ini semua salahmu yang terlalu memanjakan anak itu. Dia jadi sulit di atur." ia balik mengomel pada suaminya itu.
Baskoro hanya diam mendengarkan ocehan istrinya itu. Karena jika ia menjawab, istrinya tidak akan pernah berhenti berdebat dengannya.
...****************...
Malam harinya ketika selesai membereskan meja makan dan mencuci piring, Amara masuk ke kamar tidur untuk menyusul Randi yang sudah masuk lebih dulu.
"Apa kau mau pergi?" tanyanya ketika melihat Randi berpakaian rapi.
"Iya. Aku ada urusan penting di luar." ucapnya dingin.
Amara tampak gugup. Ia tak tahu harus mulai darimana.
"Kenapa? Apa kau ingin bicara sesuatu? Apa ini tentang kembali bekerja?" tebaknya.
"Iya. Apa aku boleh bekerja? Tolonglah! Aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Ibuku sedang sakit dan aku ingin membantu biaya pengobatannya." pinta Amara sambil memohon padanya.
Ia terpaksa memakai nama ibunya sebagai alasan agar Randi menyetujui permintaannya.
"Hah, baiklah! Kau akan terus memohon jika aku tidak memberikan izin. Tapi ingat, jangan sampai kau melupakan kewajiban mu. Jangan sampai aku mendengar keluhan dari ibu jika kau tidak membantunya sama sekali di rumah." ancamnya.
"Iya. Aku akan melakukan tugasku sebelum pergi bekerja." ucapnya senang.
"Iya sudah. Aku pergi dulu." ucapnya.
"Hmm.. Tapi, mas! Mas mau pergi kemana malam-malam begini? Apa tidak bisa besok saja." tanyanya penasaran.
"Jangan banyak tanya. Ini urusan pekerjaan."
"Tapi, mas..."
"Apalagi?" desaknya marah.
"Hmm... Ini masa subur ku. Apa mas tak mau melakukannya?" tanyanya ragu.
Randi sempat terdiam sejenak. Memang sudah lama sekali mereka tidak berhubungan suami istri. Tetapi entah kenapa Randi seperti kehilangan minatnya pada Amara.
Wanita itu tampak lusuh dan tidak menarik lagi seperti dulu. Wajahnya selalu penuh keringat dan tak pernah dirias. Penampilannya juga biasa saja. Mungkin karena hal tersebut membuatnya tak tertarik lagi pada istrinya.
Apalagi setelah ia mengenal Dina setahun belakangan ini.
Dina adalah salah satu karyawan baru di kantornya. Hubungan mereka semakin dekat beberapa bulan terakhir ini. Dina selalu tampil menarik dan sangat cantik. Tubuhnya selalu wangi dan ia juga pandai merias diri. Apalagi dia sangat perhatian padanya di kantor.
Hal itu membuat Randi terpesona dan jatuh hati padanya. Apalagi dia juga menyambut baik perasaannya.
Dina juga mengetahui tentang statusnya yang masih mempunyai istri. Dan dia sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut.
Beberapa bulan ini, ia selalu berkunjung ke rumahnya untuk bermesraan dengannya. Randi benar-benar dibuat tergila-gila oleh pesona Dina.
"Aku tidak bisa. Aku ada urusan mendesak. Sudah, jangan ganggu aku lagi." tolaknya kasar.
Randi lalu keluar dari kamar dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Amara mendadak merasakan perasaan yang tidak enak pada suaminya. Batinnya terus gelisah karena memikirkan sikap aneh suaminya beberapa bulan belakangan yang sering keluar rumah pada malam hari.
Semoga tidak ada apa-apa. Harapnya cemas.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
@dadan_kusuma89
Kakakmu itu sangat tertekan, Wahyu. Semoga kau bisa mensupportnya agar ia memiliki keberanian dan ketegasan.
2025-11-01
0
𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱
alhamdulillah, mending kerja D sini amara dpet gaji, drpda D rmh itu😌
2025-12-11
1
Oksy_K
ya udh sih, cari pembantu sana... masa dia sendiri yg ngurusin rumah
2025-11-13
1