Bab 4

"Mau kemana kau membawa tas?" tanya Yanti ketika melihat menantunya tampak rapi dan memakai tas.

"Aku mau pergi bekerja, Bu." jelasnya.

"Bekerja? Memangnya siapa yang memberimu izin untuk bekerja?" tanyanya kaget.

"Mas Randi, bu. Dia sudah mengizinkan saya untuk pergi bekerja." jelas Amara.

"Dia sudah memberi kamu izin? Memangnya kamu sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah?" tanyanya lagi.

"Sudah, Bu. Saya sudah mencuci pakaian, membersihkan rumah. Juga sudah memasak untuk makan siang. Saya harus pergi sekarang, Bu. Saya sudah hampir terlambat." jelas tergesa-gesa.

"Iya, sudah. Pergi sana!" ucapnya.

Amara lalu pergi bekerja.

"Hmm... Kalau dia bekerja, itu artinya uangku akan bertambah. Nanti aku akan mengambil gajinya setiap bulan. Lumayan. " senyum licik seketika mengembang di wajahnya.

Matanya tampak berbinar-binar memikirkan pundi-pundi uangnya yang akan bertambah setiap bulannya.

"Aku harus siap-siap pergi arisan." ucap kemudian.

...****************...

Toko bunga D'florist

"Baiklah! Ini Lydia. Dia akan mengajarimu selama beberapa hari ini. Kau harus tahu bagaimana caranya membuat buket dan memeriksa stok bunga kita setiap harinya. Nanti aku akan memperkenalkan mu pada pak Johan. Dia adalah supplier bunga kita. Biasanya dia datang sebelum toko buka." jelas Samira, pemilik toko bunga tersebut.

"Iya, nona." ucapnya mengerti.

"Panggil kakak saja seperti yang lainnya. Kita hanya selisih dua tahun. Haha..." ucapnya ramah.

"Iya, kak."

"Hai Lydia, aku Amara. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, ya." ucapnya pada Lydia.

"Iya, kak." ucapnya.

Lydia terlihat lebih muda darinya. Usianya baru menginjak dua puluhan tahun. Dia sudah dua tahun lebih bekerja di toko bunga ini. Gadis juga sangat ramah padanya. Amara tampak lega karena dikelilingi orang-orang yang baik.

Mereka lalu mulai bekerja. Lydia mengajarkan nya tentang merangkai bunga dan membuat buket. Juga menjelaskan tentang jenis-jenis bunga padanya.

Mereka tampak sudah akrab dalam waktu singkat. Tampaknya Amara akan betah bekerja di sini.

...****************...

Pekerjaan baru Amara tampak berjalan dengan lancar. Tanpa terasa sudah hampir satu bulan ia bekerja di toko bunga. Ia bahkan sudah mahir merangkai bunga.

Untungnya selama ini tidak ada masalah di rumah. Namun, ia menjadi lebih lelah dari biasanya. Karena ia harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya bahkan setelah pulang dari bekerja.

Dua hari lagi ia akan menerima gaji pertamanya. Ia berencana untuk memberikan setengah gajinya pada ibunya.

"Hei! Kau mau berangkat kerja?" tanya Yanti.

"Iya, Bu." jawabnya.

"Apa kau sudah memasak untuk makan siang?" tanyanya.

"Sudah, Bu."

"Baguslah." ucapnya singkat.

"Tapi kenapa hari ini ibu menyuruh ku untuk memasak makanan lebih banyak dari biasanya. Apa ibu ada arisan lagi?" Amara tampak penasaran dengan hal tersebut.

"Iya. Ada acara nanti siang." jawabnya singkat, seakan malas menanggapi pertanyaan Amara.

"Oh, begitu." ucap wanita itu.

"Sudah, sana pergilah! Sebentar lagi mereka akan datang. Jangan sampai mereka melihat mu nanti. Aku bisa malu." Yanti mengusirnya.

Amara hanya bisa mengelus dada — menahan rasa kesalnya. Ia teringat jika harus pergi bekerja.

"Iya, Bu." jawabnya murung.

Yanti memang tak pernah memperkenalkan dirinya pada teman-temannya. Setiap kali ada acara di rumah, ia memang tak pernah diikutsertakan dalam acara tersebut. Ia selalu ditugaskan di bagian dapur saja. Atau sekedar untuk menyajikan makanan di meja. Setelah itu ia akan cepat-cepat menyuruhnya pergi agar tidak dilihat oleh teman-temannya.

Ia memang tidak pernah dianggap sebagai menantu di rumah ini. Terkadang ia ingin sekali pergi dari sana karena sudah tak tahan dengan perlakuan mereka padanya. Tapi, ini semua adalah pilihan hidupnya. Jadi ia harus bertahan walaupun itu menyakitkan.

Yanti menatap kepergian menantunya dengan senyum lebar.

"Haa.... Untung saja di sudah pergi. Sekarang aku harus bersiap-siap untuk bertemu dengan calon menantuku. Aku harus dandan yang cantik agar tidak terlihat memalukan. Kata Randi gadis itu berasal dari keluarga kaya. Jadi sudah pasti nanti aku juga akan kebagian menikmati kekayaannya. Haha ...." Yanti tertawa puas ketika membayangkannya.

"Tapi, akan lebih baik jika wanita itu di usir keluar dari rumah ini. Nanti aku akan minta Randi untuk segera menceraikan wanita itu." ucapnya lagi.

...****************...

Di tempat kerja, Amara tak henti melayani pelanggan. Sudah dua Minggu ini, ia bekerja sendirian. Pemilik toko belum juga mendapatkan pegawai tambahan. Jadi ia harus merangkap sebagai pegawai juga.

"Selamat siang, tuan!" sapanya ramah kepada salah satu pelanggan yang datang.

"Siang. Saya ingin memesan seratus tangkai mawar merah."

"Seratus tangkai?" Amara tampak terkejut mendengar jumlahnya.

"Iya. Apa bisa?" tanya pria itu heran.

"Hmm... Iya. Tapi sepertinya akan dibutuhkan waktu lama untuk menyiapkannya. Apa anda tidak keberatan untuk menunggu?" tanyanya.

"Tidak apa-apa. Pesanan itu bukan untuk hari ini. Tapi besok malam. Dan tolong di kirim ke alamat ini." jelasnya sambil memberikan sebuah kartu nama padanya.

"Oh begitu." ucap Amira.

Pria itu lalu membayar pesanannya dan pergi dari sana.

"Mawarnya banyak sekali. Seumur hidup aku belum pernah mendapatkan satu tangkai pun. Wanita itu sungguh sangat beruntung." ucapnya sambil tersenyum simpul.

Amara bekerja hingga pukul sepuluh malam. Setelah selesai menghitung pemasukan hari ini bersama Samira dan Lidya, ia lalu pulang ke rumah dengan angkutan umum.

Ia sangat lelah karena melayani pelanggan sepanjang hari. Pesanan bunga hari ini cukup banyak.

Rasanya ia ingin cepat sampai rumah untuk beristirahat. Namun sayangnya itu hanyalah khayalan semua semata baginya. Karena begitu tiba di rumah, ia sudah disambut dengan setumpuk piring kotor di dapur. Belum lagi lantai keramik yang terlihat kotor. Padahal sebelum berangkat kerja ia sudah menyapu lantai bahkan mengepelnya hingga bersih.

Rumah terlihat sepi. Sepertinya semua orang sudah tidur nyenyak. Sementara dirinya masih harus berkutat dengan semua pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya.

Menangis pun sepertinya tidak ada gunanya karena sudah pasti tidak akan ada seorangpun yang perduli padanya. Bahkan suaminya sekalipun.

Amara meletakkan tasnya dan mulai mencuci semua piring kotor itu. Dengan tangan gemetar, ia mencuci piring itu satu persatu. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia berusaha keras untuk menahannya.

Kapan semua ini akan berakhir? Batinnya.

Setelah selesai, ia menyapu dan mengepel lantai agar besok pekerjaannya sedikit berkurang.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Pekerjaannya akhirnya selesai. Ia memutuskan untuk tidak mandi karena sudah sangat lelah. Randi pasti juga sudah tidur. Ia hanya akan mengganti pakaiannya saja sebelum tidur.

Besok ia harus bangun pagi untuk memasak. Pekerjaan serasa tidak ada habisnya di rumah ini.

Amara masuk ke dalam kamar. Ia mendapati kondisi kamar itu gelap. Bahkan lampu tidur juga tidak menyala.

Apa Randi tidak pulang lagi malam ini? Ia bertanya-tanya.

Setelah menyalakan lampu, pertanyaannya pun terjawab sudah.

Pria itu tak ada di ranjang. Kamar itu kosong seperti malam-malam sebelumnya. Jika dipikir-pikir mungkin sudah hampir dua bulan ini ia selalu tidur sendirian.

Randi juga hanya pulang ke rumah setiap pagi untuk mengganti pakaian.

"Sebenarnya kemana dia pergi setiap malam? Urusan apa yang mengharuskan dirinya pulang pagi setiap hari? Aku bahkan tidak pernah tahu dimana dia bekerja." Amara tampak menduga-duga.

Iya, dia memang tidak pernah tahu dimana Randi bekerja. Bahkan suaminya itu tak pernah sekalipun mengajaknya pergi ke acara kantor. Ia selalu pergi sendirian.

Apa yang sebenarnya aku harapkan dari pernikahan ini? Karena keberadaan ku sama sekali tak pernah dianggap ada.

Amara terduduk di lantai dengan memeluk lututnya. Ia membenamkan wajahnya diantaranya dan menangis dalam diam. Meratapi nasibnya yang tak pernah beruntung.

...****************...

Terpopuler

Comments

𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱

𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱

bukan urusan amara bu, pekerjaan rumah tuh. harusnya modal dikitlah, kalau nggak mau urus rumah mending gaji pembantu aja, jgn nyuruh2 menantumu 🤭

2025-12-12

0

PrettyDuck

PrettyDuck

laki2 udh punya istri gak pernah tidur di rumah apa lagi coba alesannya??
tolong bukain pikiran amara, dia terlalu berbaik sangka 😭

2025-12-24

0

MULIANA 💦

MULIANA 💦

astaga, dari pada mengharap pada menantu, kenapa gak suruh randi kerja di berbagai tempat? bila perlu 24 jam. agar uangmu banyak

2025-11-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!