Bab 2

Sepulang dari rumah ibunya , Mara tampak bingung. Rasanya malas sekali untuk pulang ke rumah suaminya. Tidak ada yang menghargainya di sana. Bahkan suaminya pun tak pernah membelanya ketika keluarganya menyudutkan dirinya.

"Apa aku cari kerja saja, ya?"

"Tapi mau kerja apa dan dimana? Aku hanya tamatan sekolah menengah atas." ia bergumam sambil jalan.

Namun tiba-tiba, ia melihat selebaran lowongan pekerjaan yang di tempelkan di tiang listrik.

...Lowongan pekerjaan....

...Toko bunga "D-florist"...

...Di cari pegawai wanita/pria...

...Usia max 30 tahun....

...Berkepribadian baik dan berpenampilan menarik....

...Untuk di tempatkan sebagai pegawai dan kasir....

...Jika berminat silahkan hubungi no Hp. 08xxxxxxxxxx...

...Sekian dan terima kasih....

"Sepertinya aku bisa melamar di toko bunga ini. Alamatnya juga tidak jauh dari rumah. Semoga lowongan pekerjaannya masih ada."

Amara mencabut kertas selebaran itu dari tiang listrik dan menyimpannya di dalam tas. Rencananya besok ia akan mendatangi toko bunga tersebut.

...****************...

"Kau darimana saja? Kenapa baru pulang sekarang?" Yanti yang sore itu pulang lebih awal dari toko, menegur Amara karena pulang sore.

"Sudah lama saya tidak ketemu ibu. Jadi saya keasyikan mengobrol, Bu!" jelas Amara.

"Alasan saja. Kau pasti mengadu pada ibumu, 'kan?" tuduhnya.

"Tidak, bu. Aku tidak mengadu apapun pada ibu." sanggahnya.

"Dengar, ya! Kau itu hanya menumpang tinggal di sini. Jadi jangan pikir jika kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu. Sekarang siapkan makan malam. Sebentar lagi ayah dan Randi akan pulang. Jangan lupa cuci semua piring bekas makan siang tadi. Apa kau mengerti?" perintahnya.

"Iya, Bu!" jawabnya lirih tanpa membantah sedikitpun.

Amara pergi ke dapur untuk melakukan pekerjaan. Ia tampak terkejut melihat keadaan dapur yang berantakan. Begitu banyak piring dan gelas yang kotor berserakan di wastafel.

Ibu pasti mengundang beberapa temannya lagi. Batinnya.

Amara tampak sedih karena keberadaannya di rumah ini tak pernah di hargai. Mungkin bagi mereka ia tak lebih dari sekedar pembantu yang tenaganya bisa di pakai secara cuma-cuma. Apalagi suaminya tak pernah sekalipun perduli pada perlakuan keluarganya padanya.

Terkadang ia ingin sekali lari dari rumah ini dan meninggalkan Randi. Hanya saja ia tak bisa karena takut membuat ibunya jatuh sakit karena masalahnya. Ditambah lagi ia tak punya uang sepeserpun untuk mengajukan perceraian.

Dia hanya berharap jika suatu saat keadaan bisa berubah.

"Kau sudah pulang, Mara?" tanya Baskoro pada menantunya itu.

"Iya, yah. Jawabnya.

Satu-satunya orang yang bersikap baik padanya hanyalah ayah mertuanya saja.

"Maafkan sikap ibu mertua mu ya. Kau selalu diperlakukan seperti ini setiap hari. Dan ayah minta maaf karena tidak bisa melakukan apapun untuk membantumu. Kau tahu kan jika posisi ayah juga sulit di rumah ini." jelasnya.

"Tidak apa-apa, yah. Ini juga merupakan kewajiban saya sebagai menantu rumah ini." ia berusaha ikhlas.

Ayah mertuanya itu juga selalu di remehkan oleh istrinya. Hal itu karena ia lah yang memberikan modal pada suaminya untuk membuka usaha. Rumah ini juga warisan dari mertuanya. Dia bahkan tidak punya hak di rumah ini untuk mengutarakan pendapatnya sendiri.

"Sabar ya!" ucapnya.

"Iya, yah!"

...****************...

Malam harinya ia berbicara dengan Randi tentang niatnya untuk bekerja. Walaupun ia ragu bahwa Randi akan mengizinkannya untuk bekerja.

"Kau mau bekerja? Untuk apa? Siapa yang nantinya akan membantu ibu mengurus rumah jika kau pergi bekerja. Ibuku sudah tua dan mudah lelah. Tidak mungkin dia mengerjakan pekerjaan rumah sendirian." jelas Ervin ketika Amara mengutarakan niatnya.

"Aku bisa bekerja pada sore hari. Paginya aku bisa mengurus rumah dan memasak. Aku tidak akan lupa kewajiban ku jika aku bekerja. Tolong izinkan aku, mas." pintanya memohon.

"Tidak. Kau tidak boleh bekerja. Kerjakan saja pekerjaan yang ada di rumah. Lagipula untuk apa kau bekerja. Aku masih sanggup untuk menghidupi mu."

"Menghidupi ku? Iya, mas memang memberiku makan tiga kali sehari di sini. Tapi apa mas pikir aku hanya butuh itu? Sementara ibu dan adik-adik mas bisa belanja pakaian bagus setiap minggunya. Lihat aku, mas! Pakaian ku sudah lusuh karena dipakai setiap hari. Dan lihat wajah ku, bahkan membeli satu lipstik pun harus mengemis pada ibumu. Setiap hari aku bangun lebih pagi dan menyiapkan segala kebutuhan kalian hingga malam hari. Tapi apa yang ku dapatkan, hanya hinaan dan makian dari keluarga mu." jelasnya meluapkan segala isi hatinya.

"Kamu sudah berani melawanku." tegurnya marah.

"Aku bukan melawan padamu. Tapi aku membicarakan kenyataan. Aku tidak pernah mendapatkan apapun darimu selama menikah. Baik itu materi ataupun perhatian. Kau bahkan tidak perduli ketika semua keluarga mu menghinaku. Kau hanya diam. Sekarang aku mau tanya padamu, mas. Apa artinya aku bagimu?" Akhirnya Amara meluapkan segala emosi yang ia pendam selama ini.

Randi terdiam karena apa yang dikatakannya memang benar.

"Kenapa diam saja, mas. Jawab?" desak Amara.

Randi tak gentar begitu saja. Egonya jauh lebih tinggi daripada nuraninya.

"Kau jangan banyak bicara. Jika kau tak tahan hidup bersama dengan ku lagi, silahkan keluar dari rumah ini." usirnya.

"Kau mengusirku, Mas?" tanyanya tak percaya.

"Iya. Kenapa? Apa kau takut? Jika aku mengusir mu, kemana kau akan pergi? Ke rumah ibumu?" ejeknya dengan nada sinis.

Randi tahu jika kelemahan istrinya itu adalah ibunya. Wanita itu tentu tak ingin ibunya mendengar berita buruk darinya dan membuatnya jatuh sakit.

"Kenapa kau hanya diam?"

Amara hanya tertunduk diam. Randi lalu mendekatinya dan menarik dagunya dengan kasar.

"Dengar! Jangan bertindak macam-macam denganku! jika kau tak ingin ibumu terluka. Kau harus menurutiku jika ingin ibumu tetap sehat. Apa kau mengerti?" Randi mengancamnya.

Amara mengangguk patuh. Ia tak punya kekuatan apa-apa untuk melawannya. Untuk saat ini ia mungkin hanya bisa bersabar.

Randi lalu keluar dan pergi entah kemana.

Kamar itu kini terasa sunyi. Perlahan terdengar suara isakan yang tertahan yang lolos dari bibir Amara. Dadanya terasa sesak seketika — menahan rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan. Ada banyak amarah yang tertahan, namun tak bisa ia salurkan.

...****************...

Randi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menembus padatnya jalanan malam itu. Rasa kesal di dadanya kian membuncah mengingat sikap Amara yang sudah berani melawannya. Ia perlu pergi untuk mencari kesenangan.

Mobil itu memasuki area komplek perumahan yang tak jauh dari kantornya. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah lantai dua yang di desain dengan konsep minimalis.

Ia lalu turun dan masuk ke dalam rumah. Randi menekan bel yang berada di pintu masuk. Tak lama, seorang wanita muda keluar dari rumah itu.

Wanita itu berperawakan sedang — dengan rambut panjangnya yang sengaja di biarkan terurai.

"Sayang! Kau datang!" wanita itu memeluknya erat — melepas rasa rindu yang sudah tak tertahankan.

"Iya. Aku bosan di rumah! Jadi aku datang ke sini. Kau tidak keberatan, 'kan?" tanya Randi menatapnya lembut.

"Tentu saja tidak. Aku senang sekali kau ada di sini. Aku baru saja memikirkanmu. Sepertinya hati kita sudah terhubung satu dengan yang lainnya." godanya.

"Kau bisa saja. Ayo masuk! Aku juga merindukan mu." Randi balik menggodanya.

Pintu rumah itu lalu tertutup rapat.

...****************...

Terpopuler

Comments

Lonafx

Lonafx

berat ya.. di sisi lain mengingat perasaan ibu, .. tpi diri sendiri juga udah kesiksa banget sama perlakuan keluarga yg bikin mental ambruk🥲

2026-01-05

0

Sarifah_Aini97

Sarifah_Aini97

Semoga aja Amara beneran dapet kerja di toko bunga itu, biar bisa mandiri. Deket rumah pula 🤭

2025-12-11

1

PrettyDuck

PrettyDuck

man and his ego 🫠

kalo provider gpp punya ego tinggi. ini udah bikin istri hidup susah masih mentingin ego, hadehh 😐

2025-12-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!