PMI_BAB 2

"Bu, itu sudah masa lalu." Daren menghela napas kesal mendengar ibunya menyebut nama mantan istrinya.

"Ya, justru kamu harus belajar dari masa lalu. Kamu semakin tua, dan kamu butuh penerus." Ucapnya lagi dengan nada masih kesal.

"Ibu tidak mau tahu, nanti malam kamu harus temui anak teman ibu." Ucapnya lagi sambil berjalan keluar, namun saat di ambang pintu wanita itu kembali bicara. "Kalau tidak mau yang lain, itu tandanya kamu mengharapkan Shera kembali."

Brak

Daren menutup mata saat pintu ruangannya ditutup sedikit kasar oleh ibunya, Daren seharunya tidak pusing memikirkan perjodohan yang terus dilakukan ibunya, karena dirinya memang tak menginginkannya. Namun saat mendengar nama Shera disebut, Daren tidak mungkin lupa dengan wanita itu, wanita yang tinggal satu atap degannya selama dua tahun, namun sama sekali tak pernah terlibat obrolan yang cukup lama.

"Apa mungkin aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan." Gumamnya pada diri sendiri.

Daren pun memilih berkutat dengan pekerjanya lagi, seperti biasa dia akan tenggelam bersama kertas-kertas itu dan melupakan janji yang ibunya buat, jika tidak asisten Erik yang mengingatkan.

"Kau saja yang pergi." Daren menatap asistennya sambil bersandar di kursinya.

"Saya tidak sedang mencari jodoh Tuan, lagi pula saya punya kekasih." Ucap asisten Erik dengan santai.

Daren menatap asistennya memicing, namun ucapkan Erik setelahnya membuat Daren menghela napas pasrah.

"Meskipun anda memberikan saya bonus, tapi saya tidak ingin membuat keributan dengan kekasih saya Tuan."

Final, Daren pun tak punya pilihan lain, pria itupun meninggalkan kantornya setelah semua karyawan pulang.

Di restoran xxx, Daren mencari seseorang yang ibunya janjikan, hingga arah matanya menangkap sosok wanita yang duduk sendiri diujung.

Daren berjalan mendekati, tatapannya yang datar dan wajahnya yang terlihat tegas. Tak membuat beberapa wanita berpaling dari wajah datar dan tatapan dingin Daren.

"Sonia!"

Wanita yang merasa namanya di panggil mendongak, dan terpaku melihat sosok tinggi tegap yang berdiri didepannya.

"D-daren."

Kepala Daren mengangguk, pria itu mengambil duduk di depan Sonia.

Wanita yang bernama Sonia tersenyum, tangannya sibuk merapikan rambut dengan senyum merekah. Sama halnya dengan wanita kebanyakan yang Daren temui sebelumnya, bertemu dengannya sudah seperti bertemu dengan idola, mereka sibuk dengan penampilan.

"Ternyata kamu lebih tampan dari foto yang di tunjukan Tante Rena." Ucap Sonia memuji dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Daren tak bereaksi, pria itu sibuk dengan ponselnya, tidak peduli dengan gadis cantik didepan matanya.

"Em..Kata Tante Rena kita akan dijodohkan." Ucapnya lirih diakhir kalimat, bahkan wajahnya bersemu saat mengatakan itu. Siapa yang tidak mau dijodohkan dengan sosok pria tampan, mapan dan hampir segalanya Daren milikki. Siapapun wanita yang bersamanya pasti akan sangat beruntung.

Daren mendongak dan menatap wajah gadis yang sejak tadi berbicara padanya.

"Kamu tahu kenapa aku bercerai dulu?"

Sonia terdiam sejenak, "Aku tidak akan menuntut apapun, aku tidak akan mempermasalahkan jika kamu ingin bekerja tidak kenal waktu, dan aku tidak akan menuntut anak."

Daren mengangkat sebelah alisnya, bibirnya tersenyum tipis mendengar penuturan wanita itu.

"Dan karena semua itu aku bercerai."

Deg

Bibir Sonia terkatup rapat, wajahnya mendadak kaku. Jawaban yang dia berikan justru seperti paku yang menancap di tenggorokan.

"Jadi apapun yang kamu lakukan, tidak menutup kemungkinan jika aku akan menceraikan mu."

Setelah mengatakan itu Daren berdiri dan berlalu pergi, meninggalkan Sonia dengan segala pikiranya.

**

"Pasti aku akan sangat merindukan mu." Joli memeluk Shera sebelum wanita itu pergi.

Keduanya berpelukan di bandara, hari ini Shera akan kembali.

"Tentu saja, karena hanya aku teman yang baik untuk mu." Balas Shera membuat Joli mencebikkan bibirnya.

Keduanya cukup lama saling berbicara sebelum keberangkatan pesawat Shera lepas landas.

Duduk menatap awan putih dari kaca pesawat, Shera tersenyum mengingat dirinya akan kembali setelah lima tahun meninggalkan negeri tercinta. Rasanya begitu lama, namun semua terbayar dengan apa yang dia dapatkan. Mimpinya perlahan terwujud dengan menjadi desainer, dan saat ini kemampuannya akan di pertaruhkan di perusahaan D'She. Membayangkan saja membuat Shera tersenyum senang. Tanpa dia ketahui apa yang akan dia hadapi kedepannya.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, Shera sampai di saat sore hari. Kedua orangtuanya sudah menunggunya membuat Shera tersenyum lebar dan merentangkan tangan.

"Mah..I Miss you..." Ucapnya sambil menghambur ke pelukan sang Mama.

"I Miss you to sayang..." Keduanya saling memeluk, berbagi kerinduan yang selama ini tak sampai.

Ehem...

"Papa tidak dipeluk nih..."

Shera melepaskan pelukannya dan bergantian memeluk Amar sang papa.

"Miss you pah.."

Amar membalas pelukan Shera dengan hangat, mencium pucuk kepala putrinya dengan sayang.

Sarah sampai mengusap ujung matanya yang basah, melihat putrinya kembali dengan sehat.

"Ayo pulang, Mama mu sudah memasak makanan kesukaan kamu." Ucap Amar sambil merangkul bahu sang putri.

"Ummm..aku sangat merindukan masakan Mama." Shera begitu antusias menanggapi.

Ketiganya berjalan keluar bandara, memasukkan barang Shera ke mobil. Shera menikmati udara sore yang sepetinya sangat dia rindukan.

"Ngomong-ngomong sejak kapan kamu melamar bekerja di D'She, sayang.." Tanya papa Amar yang duduk dibalik kemudi.

"Sudah lama Pah, Shera juga tidak menyangka akan diterima di perusahaan besar itu."

Papa Amar dan Sarah saling menatap, mereka seperti menyembunyikan sesuatu.

"Ya, kamu termasuk beruntung. Sulit untuk bisa diterima di D'She. Perusahaan terbesar yang bonafit itu."

Shera menggunakan setuju. Perusahaan yang sedang hangat di perbincangkan berita lokal maupun internasional itu. Shera diam-diam bersyukur dan bangga.

"Kapan mulai bekerja nak?" Tanya Mama Sarah.

Pasalnya Shera melalui interview lewat online, bersama beberapa orang yang bergabung.

"Lusa Ma, jadi ada waktu untuk Shera istirahat."

Mama Sarah mengangguk.

Mobil memasuki gerbang rumah berlantai dua, Shera tersenyum sambil membuka kaca jendela mobil. Menatap bangunan lantai dua yang penuh kenangan sewaku dirinya masih kecil.

"Aku merindukan kamar ku Mah." Ucapnya dengan binar terang.

Sarah tersenyum, "Semua masih sama, dan sekarang kamu kembali."

Terpopuler

Comments

tripledi

tripledi

d'she : daren 'shera.. 😃😃

2026-06-19

0

Rusmini Mini

Rusmini Mini

mampir thor

2026-01-14

0

Uthie

Uthie

Wahhh... baru ngeh dehhh baca D'She itu 😍
seperti: Daren & Segera 😂👍

2026-01-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!