Shera masih berdiri mematung, pikiranya tertuju pada ucapan Vivi barusan, bagaimana jika dirinya benar-benar dipecat lantaran kecerobohannya yang tidak hati-hati. Shera tahu dirinya salah, namun jika harus di pecat dirinya merasa tak rela.
"Nona Shera!"
Suara asisten Erik kembali membuat Shera sadar dengan pikiran negatif yang membuatnya takut.
"B-baik.." Ucapnya dengan suara bergetar.
Shera melangkah dengan berat mengikuti asisten Erik yang berjalan didepanya. Rasanya Shera seperti berjalan di atas duri yang membuatnya ingin berhenti tak tahan dengan rasanya.
"Bagaimana jika aku di pecat, Selian menyesal, aku juga merasa malu." Batinnya dengan kecemasan.
Shera sangat bermimpi untuk bisa bergabung dengan perusahaan ini, banyak orang-orang yang menginginkan menjadi bagian di perusahaan D'She. Dan dirinya salah satu orang yang beruntung, namun dalam sesaat Shera merasa menjadi orang yang bodoh.
"Nona!"
Shera mendongak, dan matanya membulat saat didepan wajahnya terdapat sebuah tembok, hanya tinggal satu langkah wajahnya akan mencium tembok.
Shera segera membalikkan tubuhnya, senyum kaku dengan kedua tangan meremat rok nya.
"M-maaf.." Cicitnya dengan suara malu.
"Sepetinya anda sedang banyak pikiran." Ucap asisten Erik yang tersenyum tipis.
Shera menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, gerakan kecil yang menandakan jika dirinya merasa malu.
"Disini ruangan presedir," Tunjuk asisten Erik pada pintu bercat hitam tinggi itu.
Shera hanya mengangguk, ragu kakinya melangkah kembali dengan perasaan berdebar.
"Silahkan.." asisten Erik lebih dulu membuka pintu, agar Shera masuk lebih dulu, namun sepertinya Shera enggan untuk masuk lebih dulu.
"Sebaiknya anda lebih dulu, saya merasa tidak enak." Ucap Shera dengan suara ragu.
Asisten Erik sepeti bisa menemani kegelisahan Shera, pria itu pun lebih dulu masuk.
"Permisi tuan"
Daren yang sibuk dengan berkas mendongak, menatap asistennya.
"Ada apa?"
Dibelakang tubuh asisten Erik, Shera tampak memejamkan matanya mendengar suara berat seseorang yang di panggil Tuan itu. Rasanya tubuhnya melemas, pasti presedir D'She sangat galak dan menyeramkan.
Rumor yang beredar, jika presedir D'She adalah pria yang dingin dan tak kenal ampun. Tidak ada yang bisa lolos dari presedir itu jika mengetahui ada kesalahan. Mengingat itu tubuh Shera menegang, dengan menggigit bibirnya.
"Saya membawa pegawai yang sudah menaiki lift presedir." Asisten Erik menggeser tubuhnya, namun Daren tak melihat siapapun disana.
Menyadari tatapan sang Tuan, asisten Erik menoleh kebelakang, dan ternyata Shera justru mengikuti pergerakan tubuh asisten Erik.
Dengan sengaja asisten Erik bergeser dengan cepat, sehingga Shera tidak bisa mengikutinya dan wanita itu berdiri kaku dengan tenggorokan tercekat menatap asisten Erik memelas.
Daren terdiam, matanya menatap lurus posisi Shera berdiri dengan kepala menunduk. Wanita itu belum menyadari sosok didepanya.
Daren lebih dulu menelisik penampilan Shera yang tampak feminim. Tubuhnya yang ramping dan-
Daren berdehem untuk membasahi tenggorokannya yang kering. pria itu sedikit membenarkan posisi duduknya dan jasnya.
"Nona... angkat wajah mu " Titah asisten Erik yang sepertinya senang melihat Shera seperti terintimidasi dalam ruangan yang tegang mencekam.
Shera belum berani mengangkat wajahnya namun suaranya membuat asisten Erik menahan senyum.
"Maaf'kan saya Tuan, saya salah. Saya tidak tahu jika lift itu tidak bisa digunakan sembarang orang. Tolong jangan pecat saya, saya akan melakukan apapun untuk hal itu. Tapi saya mohon jangan pecat saya." Shera mengatupkan kedua tangannya didepan dada, matanya terpejam dengan wajah pucat.
Daren sendiri membuang wajah menahan geli dengan apa yang mantan istrinya lakukan. Tak menyangka bisa bertemu dengan Shera Sephira.
Daren memberi isyarat pada asistennya agar meninggalkan mereka berdua.
"Nona, sebaiknya anda harus waspada, presedir suka sekali bermain-main." Bisik asisten Erik didekat telinga Shera sebelum pria itu meninggalkan ruangan tersebut.
Bunyi knop pintu yang tertutup membuat tubuh Shera menegang.
Reflek tubuhnya berbalik dan mendapati pintu tertutup rapat.
"Asisten Erik, jangan tinggalkan saya sendiri!" Pekiknya terlambat.
Shera mencoba membuka pintu besar itu, namun karena panik Shera tak berhasil, padahal pintu tersebut tidak terkunci seperti pikiranya.
"Tolong buka pintunya! Saya mau keluar!" Shera berteriak dan menggedor pintu tersebut, namun usahanya tidak berhasil. Dia seperti terjebak didalam lubang buaya yang siap untuk memakannya.
Sedangkan Daren duduk dibelakang dengan bibir tersenyum lebar, tak bisa menahannya lagi.
Daren berdiri, berjalan perlahan mendekati Shera yang masih panik menggedor-gedor pintu.
Berdiri dengan bersandar di ujung meja, Daren memasukkan kedua tangannya kedalam saku.
"Mau suara kamu sampai habis tida akan ada yang mendengar."
Tangan Shera yang semula berusaha menggedor-gedor kini terhenti. Tubuhnya langsung berbalik dan tatapan keduanya bertemu.
"Kau!" Mata Shera langsung membulat saat menyadari sosok pria yang dalam pikirannya kejam.
Daren hanya mengerutkan kening, wajahnya tampak datar.
"Apa kabar, Mantan istri..." Ucapnya dengan nada datar dan tatapan lurus pada Shera.
Tubuh Shera sendiri masih mematung, apalagi saat mendengar Daren memanggilnya mantan istri. Panggilan itu seperti menggelitik hatinya.
"Tidak ku sangka, desainer berbakat itu Kamu Shera."
Shera masih belum bisa mengeluarkan suaranya, tubuhnya masih berdiri diam. Pandanganya tertuju pada Daren, mantan suaminya. Tak di sangka tak di duga Shera bertemu dengan Daren dalam hubungan karyawan dan atasan.
Melihat Shera yang hanya diam saja membuat Daren melangkah mendekat, hingga jarak keduanya dekat tanpa Shera sadari sepenuhnya, dia terlalu syok dengan keadaannya sekarang.
"Nona Shera Sephira, kau sudah berbuat kesalahan dengan berada di dalam lift khusus presedir, jadi hukuman apa yang seharunya kamu terima."
Mata bulat Shera mengerjakan pelan, dan semua tak luput dari tatapan tajam mata Daren yang mengawasinya.
Bibirnya terbuka dan tertutup, membuat Daren diam-diam menelan ludah.
"A-aku..." Bibir Shera terasa kelu, entah mengapa rasanya tak bisa bicara dengan baik. Apalagi ditatap begitu dekat oleh mantan suaminya, yang justru dimatanya sosok pria tampan dan panas.
Tubuh Shera meremang membuatnya tak bisa berpikir dengan baik.
"Kenapa dia begitu..." Shera tanpa sadar mengigit bibirnya.
"Sial!!"
Daren berdehem dan mundur, pria itu berbalik dan duduk di kursinya kembali. Berdekatan dengan Shera ternyata membuatnya tak setenang itu. lalu bagaimana dengan dulu saat mereka tinggal bersama. Bertatap wajah saja tidak pernah, baru kali ini keduanya menatap satu sama lain.
"Sebagai hukuman, kau harus membersihkan ruangan ini selama satu minggu." Ucap Daren tanpa melihat reaksi Shera. Tangan Daren kembali sibuk dengan berkas di atas meja.
Shera yang memang merasa kesalahannya pun hanya pasrah.
"Jadi saya tidak akan di pecat kan, mantan suami?"
Daren yang fokus kini justru menatap tajam Shera yang menutup mulutnya dengan kedua mata melebar.
"Sorry Tuan, saya-"
"Pergilah, dan ingat tugas mu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
🌺 Tati 🐙
bilang aja pengen liat mantan istri tiap.hari,dg alasan hukuman
2026-06-01
0
Ass Yfa
😄😄ketemu mantan suami ya Sher..ada yg brbah..tmbh cakep kah???
2026-05-02
0
tripledi
masa depan bos kayak gitu.. drama banget 🤔
2026-06-19
0