Shera berdiri didepan cermin, mematut dirinya dengan baik. Rambut yang diikat menjuntai, kemeja biru muda dengan rok span hitam. Tak lupa senyumnya yang terlihat manis.
Penampilannya kini berubah, ya Shera akui, selama Lima tahun berada di Prancis Shera banyak memiliki perubahan.
Membuat wanita itu kini lebih percaya diri. Shera menuruni tangga dengan membawa tas dan beberapa desain yang sudah ia siapkan. Wanita itu berjalan menuju dimeja makan dimana Sarah dan Amar sudah duduk di sana.
"Pagi Ma, Pa..." Sapanya dengan senyum ceria.
"Pagi sayang, sudah siap bekerja hari ini?"
Shera mengangguk mantap, "Tentu saja, karena hari ini aku baru akan memulai."
Amar mengangguk dan tersenyum, begitu juga dengan Sarah.
"Semoga hari mu menyenangkan, bekerjalah dengan baik."
**
Shera menatap bangunan tinggi didepanya, logo D'She terpajang jelas dan begitu mendebarkan untuk Shera. Meskipun sudah beberapa kali kaluar masuk perusahaan besar, namun entah kenapa kali ini rasanya berbeda, Shera sendiri tidak tahu. Mungkin karena di sini ia akan menjadikan rumah nya untuk melebarkan kemampuannya.
Tarikan napas dalam, Shera berjalan memasuki lobi, udara dingin dan beberapa karyawan yang lalu lalang.
"Selamat pagi, saya Shera Sephira bagaian desain." Ucapnya pada resepsionis wanita.
"Selamat pagi Nona, silahkan ke lantai lima, disana sudah ada Miss Fira yang akan membantu anda."
Shera mengangguk dan tersenyum, berjalan menuju lift untuk menuju lantai lima.
Saat didepan lift beberapa orang menunggu karena lift sedang digunakan, sedangkan satunya masih dalam perbaikan. Namun mata Shera tertuju pada lift sebelah kiri, di mana lift itu kosong namun tidak ada yang memakainya.
Dengan gerakan cepat Shera menggunakan lift ujung kiri, tanpa tahu jika lift tersebut adalah lift khusus presedir.
"Wah.. siapa itu yang berani pakai lift presedir."
"Pasti anak baru, mana mungkin orang lama berani memakainya, bisa-bisa pak Erik langsung memecat." Tutur mereka yang melihat Shera masuk ke lift khusus presedir.
"Ssttt, jangan keras-keras, itu presedir dan pak Erik."
Mereka menoleh pada sumber, dan benar saja Daren bersama asistennya berjalan menuju lift khusus.
"Pasti akan langsung dipecat."
"Sepetinya sedang ada yang menggunakan lift Tuan." Erik menatap tombol lift yang masih berjalan di lantai tiga.
Daren menatap sekilas. "Siapa yang berani disini, cari tau dan bawa orangnya padaku." Kesal Daren yang harus menunggu.
Daren tidak suka dengan keterlambatan meskipun hanya sedetik, baginya waktu adalah uang, dan kedisiplinan adalah yang utama.
"Baik Tuan."
Keduanya menunggu sekitar lima menit sampai lift itu bisa digunakan, wajah Daren yang memang datar dan tak memiliki senyum terlihat menyeramkan, di tambah kekesalan diwajahnya tampak terlihat.
"Permisi.." Shera memasuki ruangan yang tadi di tunjukan, wanita itu menatap beberapa orang yang sepertinya sama seperti dirinya.
"Saya Shera Sephira." Katanya saat beberapa orang menatap kearahnya.
"Oh...hay...saya Miss Fira, silahkan bergabung."
Shera mengangguk, berjalan menuju kursi yang tersedia, tak lupa memberi salam dengan orang-orang sekitarnya.
"Miss Shera selamat bergabung di perusahaan D'She, semoga dengan bergabungnya anda akan membuatmu perusahaan ini semakin maju dan bersinar." Ucap Miss Fira dengan ramah."
"Baik, terimakasih sudah memberi kesempatan pada saya untuk bergabung di perusahaan besar ini. Semoga kita semua bisa bekerja sama untuk perusahaan ini menjadi lebih baik dan bersinar."
Didalam ruangan itu ada enam orang, kepala bagian desain Miss Fira, sedangkan lima diantara Shera.
"Untuk musim ini kita akan membuat atau merancang pakaian sesuai kebutuhan di negara asia dan Eropa, terutama negara kita sendiri. Jadi saya minta kalian desain beberapa mode sesuai kebutuhan, dan saya akan memberikan hasil kalian pada presedir untuk disetujui." Miss Fira tampak menunjukan beberapa contoh dan gambaran untuk bahan mereka. Shera tentu sangat bersemangat, jarinya menari lincah di atas kertas dengan pensilnya.
"Besok saya akan megambil hasil kalian."
Miss Fira pun meninggalkan ruangan.
**
Erik masuk keruangan Daren membawa tablet miliknya. Memberikan laporan pekerjaan yang hanya didengarkan Daren, karena pria itu sibuk dengan kertas diatas meja yang harus ia tanda tangani.
"Dan saya sudah mengambil cctv siapa orang yang menggunakan lift anda." Erik mengulurkan ponselnya sendiri, menunjukan sebuah vidio yang Daren minta.
"Sepertinya dia karyawan baru di bagian desain, saya belum pernah melihatnya Tuan." Tutur Erik.
Daren meraih ponsel Erik, menekan layar untuk melihat Vidio tersebut.
Matanya memicing, menatap dengan intens, karena jarak cctv terlihat jauh, namun Daren sepertinya masih mengenali sosok wanita itu.
Daren menggunakan kedua jarinya untuk memperbesar layar, dan benar saja dia melihat Shera mantan istrinya.
"Shera..." Gumamnya dengan pelan.
"Anda mengenalnya tuan?" Bibir Erik tak bisa diam.
"Hem... yasudah, kirimkan ke hp saya." Daren mengembalikan ponsel Erik, dan Erik melakukan apa yang di minta Daren.
"Sudah tuan, kalau begitu saya permisi."
Daren hanya berdehem, seteleh Erik keluar, Daren membuka vidio yang Erik kirim, kembali memastikan jika wanita yang berani masuk kedalam lift khusus benar-benar Shera mantan istrinya.
"Jadi dia ada di sini." Gumamnya lagi, saat menyakini jika wanita itu benar-benar Shera.
Daren megambil berkas beberapa karyawan desain yang minggu laku dia periksa, sepertinya dia tidak teliti saat memeriksa nya sehingga melewatkan satu hal, Mantan istrinya.
"Shera Sephira, Prancis fashion."
Jadi selama ini dia tinggal di Prancis?
Daren menatap bio data karyawan desain, lalu menutupnya kembali.
"Lima tahun dan kini dia muncul kembali."
Daren kembali melihat vidio Shera, ada perbedaan di sana dengan lima tahun lalu. Shera tampak berbeda.
"Ck, kenapa malah nonton vidionya." Daren berdecak, menyingkirkan ponselnya dan kembali pada pekerjaannya.
**
"Shera menurut mu ini bagaimana?"
Shera melihat desain rekanya, "Menurut ku, ini sudah lebih baik, tapi kamu harus tetap menggunakan desain penting di dalam D'She, karena dengan begitu simbol ikoniknya tidak akan hilang."
Wanita itu mengangguk, "Terima kasih ya." Ucapnya dengan senang.
Begitu juga dengan Shera, namun tidak dengan dua wanita yang duduk di sana.
"Sepetinya kamu berlebihan Rin, dia karyawan baru, belum tentu ide yang dia beri akan membuat desain mu jauh lebih baik." Vivi menatap Shera sinis.
"Paling tidak, dia tidak pelit ilmu dan mau berbagi, jadi kalian diam saja jika tidak mau berbagi." Rindu membalas Vivi ketus.
Shera hanya diam, menatap mereka yang disana, sepertinya diantara mereka ada yang tidak suka dirinya.
"Tentu saja Vivi tidak akan mau berbagi, karena ilmu itu mahal, dan pasti Presdir akan menggunakan desain Vivi yang selalu membuat beliau puas." Ucap Prita.
Rindu hanya menatap sinis, "Ya.. semoga saja kali ini presedir tidak salah pilih."
Shera yang mendengar perdebatan mereka hanya geleng kepala dan tersenyum, baginya berbagi sedikit ilmu tidak masalah, karena disini mereka bekerja untuk memajukan perusahaan yang sama.
"Nona Shera!"
Shera menoleh mendapati sosok pria yang berdiri diambang pintu.
"Ya,"
"Mari ikut saya."
Shera mengerutkan keningnya, "Anda siapa?" Tanyanya yang memang tidak tahu. Berbeda dengan empat orang di sana yang hanya berbisik melihat asisten Erik datang menemui Shera.
"Kau tidak tahu kesalahan mu, pagi tadi kau dengan lancang menggunakan lift presedir, dan membuat presedir menunggu."
Shera membulatkan matanya mendengar penuturan Vivi, berbeda dengan Vivi yang justru tersenyum menyeringai seperti sedang menertawakan kepanikan Shera.
"Mampus aku..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
*Septi*
gimana kira-kira reaksi Shera ketemu Darren
2025-08-24
0
*Septi*
tuhhh ka... Erik asisten Darren
2025-08-24
0
Ass Yfa
D'She...Daren Shera...
2026-05-02
0