Shera kembali ke meja kerjanya, wajahnya tampak tertekan dengan pikiran yang rumit.
"Kenapa aku tidak tahu kalau perusahaan ini milik kak Daren." Gumamnya dengan tatapan lurus.
"Shera! bagaimana?"
Shera terlonjak saat suara rindu menyadarkannya.
"Kamu melamun?" Tanya Rindu yang malihat Shera terkejut saat dia panggil.
"Sorry.." Shera tersenyum tipis.
"Alah.. pasti dia sudah dipecat, lihat aja tu wajahnya, di tekuk gitu." Sambar Vivi yang meja kerjanya dipojok dari tempat Shera duduk.
"Dih..kompor meleduk, main sambar aja. Napa? ngantuk gak ada bahan Omelan!" Protes Rindu dengan wajah judesnya tak lupa tatapan matanya mendelik ke arah Vivi.
Mata Vivi melotot, Ingin membalas namun tak jadi.
"Sudah Rin, Biarin aja." Shera menatap Rindu memperingati.
"Lagian, mulut kok kayak sumbu kompor." Gerutu Rindu membuat Shera tersenyum.
"Nggak di pecat, cuma disuruh beresin ruangan bos satu minggu." Ucap Shera dengan wajah lesu.
Berbeda dengan Rindu yang tampak terkejut dan tak percaya.
"Oh..May... demi apa Shera? Kamu disuruh pak Daren bersihin ruangannya?" Ucap Rindu heboh.
Kepala Shera mengangguk, namun bingung ketika melihat reaksi Rindu yang justru tersenyum lebar dengan wajah girang.
"Ya ampun...Shera! Hoki satu tahun kamu pakai!" Rindu justru terlihat girang dan heboh sendiri. Membuat Shera mengernyitkan keningnya.
"Rin, aku disuruh jadi tukang bersih-bersih loh ini, kok kamu malah kayak senang gitu." Shera menatap tak percaya dengan Rindu. Tangannya mengusap keningnya yang terasa pusing.
"Shera..asal kamu tahu aja ya, semua karyawan wanita di perusahaan ini berlomba-lomba untuk bisa dekat dengan pak Daren, bahkan mereka sampai curi-curi pandang jika bertemu pak Daren. Dan kamu... kamu Shera, berada diruangan pak Daren langsung. Pasti kamu bisa mencium aroma parfum pak Daren dari dekat." Ucap Rindu sambil tersenyum menghayal.
Melihat sahabatnya seperti mengidolakan sosok Daren, lalu apa kabarnya jika mereka tahu dialah mantan istri bos mereka. Shera menggelengkan kepalanya, merasakan pusing jika semua tahu dirinya adalah mantan istri bos besar mereka.
Shera pun sedikit mencondongkan wajahnya dekat dengan rindu, "Apa kamu tahu kalau pak Daren itu duda?" Tanya Rindu dengan berbisik dan wajahnya di buat penasaran.
Rindu yang masih tersenyum, membayangkan mengangguk, "Tentu saja tahu, duda lima tahun." Jawab rindu membuat Shera mendelikkan matanya.
"Kamu nggak tau siapa mantan istrinya?" Tanya Shera lagi.
kepalanya menggeleng. "Nggak tau, tapi aku yakin, dia adalah wanita bodoh didunia ini!"
Mata Shera membulat, wajahnya terlihat kesal mendengar ucapan Rindu.
***
Saat jam istirahat, Shera masih tinggal dimeja kerjanya, ada Rindu yang menemani.
"Sher, kamu gak laper?" Tanya Rindu yang berdiri disisi meja Shera.
"Tanggung Rin, kamu duluan aja."Shera menatap jam di ponselnya, "Masih ada tiga puluh menit, ini sedikit lagi kok." Katanya yang tatapannya tak lepas dari layar laptop.
"Yasudah, kamu mau nitip apa?"
Rindu menghentikan gerakan jarinya, "siomai saja, kayaknya aku lagi pengen makan siomai."
Rindu pun mengangguk, berlalu pergi meninggalkan Shera didalam sana.
Sedangkan diruangan Daren, pria itu tampak seperti sedang berbicara lewat sambungan telepon, asisten Erik berdiri di depan meja atasannya.
"Baik.. saya tunggu." Daren mematikan sambungan telepon.
"Ada pertemuan dengan kolega di restoran xxx tuan, waktunya tiga puluh menit lagi." Asisten Erik tampak menunjukan jadwal Daren hari ini.
"Kita pergi sekarang." Daren berdiri dan menyambar jasnya yang berada di bahu kursi. Pria itu berjalan lebih dulu sambil memakai jasanya.
Saat berjalan keluar langkah Daren terhenti mendapati ruangan staf desainer. Kakinya mundur satu langkah, membuat asisten Erik ikut mundur.
"Jam berapa sekarang." Ucapan Daren yang pelan namun masih didengar oleh asistennya.
"Jam dua belas tiga puluh tuan." Jawab asisten Erik.
Daren melirik asisten Erik dengan ekor matanya, lalu badannya justru berbalik memasuki ruangan staf desainer.
Daren masuk tanpa suara berdiri dibelakang Shera yang fokus dengan layar laptopnya. Bukan hanya sekedar berdiri, tapi Daren bisa melihat bagaimana jari lentik Shera bergerak membuat pola dilayar persegi itu.
Daren mengamati, apa yang sedang Shera kerjakan, sebuah mode yang sedang mereka garap.
Ehem
Suara deheman Daren membuat Shera terkejut.
"K-kak Daren." Ucapnya tanpa sadar. membuat asisten Erik dibelakangnya mengerutkan keningnya. "Em.. Maksudnya Pak Daren." Ralat Shera.
"Sudah jam makan siang, tidak ada jam tambahan meskipun kamu bekerja di jam istirahat." Ucap Daren sambil melirik layar laptop Shera yang menyala.
Shera ikut meliriknya. namun tidak menjawab, justru pikiranya bertanya-tanya, sejak kapan Daren berdiri disana?
"Nona Shera lebih baik anda makan siang lebih dulu, kerjakan nanti." Timpal asisten Erik. Yang sepertinya mengartikan ucapan atasannya yang menurutnya berbelit.
"B-baik Pak.." Shera hanya bisa mengangguk.
Daren pun berbalik pergi, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Membuat Shera bernapas lega.
"Dulu saat tinggal bersama aku biasa saja, tapi sekarang justru aku selalu merasa gugup, padahal kita juga tinggal di perusahaan yang sama." Pikir Shera dengan rasa anehnya.
Di balik kemudi asisten Erik diam-diam memperhatikan atasannya. Telinganya tidak tuli tadi saat Shera memanggil Daren dengan sebutan 'Kak'. Namun untuk sekedar bertanya rasanya mulut asisten Erik justru terkunci rapat.
"Belakangnya banyak orang meninggal karena suka curi pandang dan memendam rasa penasarannya sendiri."
Mendengar sindiran atasannya membuat asisten Erik menelan ludah dengan senyum kaku.
"Saya rasa, saya tidak termasuk Tuan." Jawabnya terbata.
Kepala Daren hanya mengangguk, fokusnya terus pada ponselnya.
"Apa mereka saling kenal? Rumor yang beredar, Tuan Daren memang seorang duda, tapi siapa mantan istrinya tidak ada yang tahu." Batin asisten Erik yang justru penasaran.
**
Shera menatap lembaran kertas yang sudah ada beberapa desain dari jarinya. Tak lupa senyum di bibirnya terlihat tertarik.
"Kira-kira kak Daren acc gak ya?" Shera justru memikirkan apakah desain miliknya akan menjadi mode tahun ini di perusahaan D'She. Ini adalah debut Shera yang pertama ditanah air, tentu saja berbeda dari sebelumnya yang memang setiap negara memiliki ciri khas sendiri.
"Tapi siapapun yang di pilihnya, pasti untuk kebaikan D'she." Ucapnya lagi sambil mengangkat selembar kertas yang menjadi desain favoritnya.
"Ini adalah desain yang sangat aku sukai," Ucap Shera menatap binar selembar kertas yang memang tidak akan ia berikan. Ia akan menyimpan untuk dirinya sendiri.
Sore setelah semua semua perkejaan harus selesai di jam pulang. Shera sudah keluar dari perusahaan. Mengemudikan mobilnya menuju supermarket terdekat, meskipun sudah lima tahun tinggal di negara lain, tapi Shera masih mengingat jalanan yang sering dia lewati dulu.
Shera membeli beberapa perlengkapan pribadi, troli yang dia dorong perlahan terisi. Saat mengantri di kasir, tak sengaja trolinya menabrak pinggang seseorang membuat Shera merasa bersalah.
"Tante, tidak apa-apa!" Katanya saat wanita itu mengaduh.
"Saya- Shera!" Pekik wanita itu terkejut mendapati sosok Shera yang berdiri di dekatnya.
"Ibu Rena." Gumam Shera yang ternyata juga terkejut melihat mantan ibu mertuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Lilik Juhariah
Darren emang kl.ngomong muter muter penuh kiasan 🤣🤣🤣
2026-06-26
0
Patrish
😄😄😄😄..... belakangan banyak orang bisulan nahan kangen..... 😀😀😀
2025-09-16
0
*Septi*
dikatain di depan mata sendiri 😂😅
2025-08-30
0