ISTRI MANDUL YANG DIKHIANATI

ISTRI MANDUL YANG DIKHIANATI

PENGKHIANAT

"Sayang, bagaimana jika kita liburan ke luar negeri untuk merayakan anniversary pernikahan yang kesepuluh," ajak Kania yang sudah merencanakan liburannya.

"Yang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, sudah lama aku tahan." Amer meminta istri tercintanya duduk di sampingnya.

"Kenapa sayang?"

"Maafkan aku, apapun yang terjadi aku tetap mencintai kamu, kamu wanita terbaik dalam hidupku."

Senyuman Kania terlihat, dia tahu Amer sangat mencintainya, sepuluh tahun belum memiliki momongan tidak mengurangi perasaan cinta mereka.

"Aku sudah menikah lagi Nia, sekarang aku punya dua anak," ucapnya.

Tawa Kania terdengar, suaminya begitu lucu. Memiliki anak dari mana sedangkan mereka belum dikarunia.

"Sayang, candaan kamu ngak lucu, aku pesan tiket sekarang, boleh?" tanyanya sambil tertawa.

Kedua tangan Nia digenggam, Amer mencoba menyakinkan jika dirinya tidak bercanda.

Lima tahun yang lalu Amer menikah lagi tanpa sepengetahuan Nia. Rasanya Amer lelah terus berbohong soal pernikahannya.

Air mata Amer menetes, dia tahu salah, tapi tidak punya pilihan, Amer juga menginginkan anak. Tidak peduli Nia tidak bisa memberikan keturunan paling penting mereka saling mencintai.

Anak Amer juga anak Nia, meskipun cinta Amer terbagi. Perasaannya kepada Nia tidak akan pernah berubah.

"Sayang, aku melakukan ini bukan karena tidak cinta, kita berdua butuh anak. Kamu tidak perlu memikirkan anak lagi, tidak perlu mendengar cemoohan orang, kita punya anak." Tangan Amer menyentuh wajah istrinya lembut.

"Kamu serius sudah menikah lagi, siapa, sejak kapan?" mulut terasa pahit, Nia tidak bisa menangis lagi mendengar ucapan suaminya di hari anniversary pernikahan mereka.

Rasanya mimpi buruk, Nia tidak mampu mencerna dengan baik, bertanya saja sampai binggung ingin bertanya apa.

"Lima tahun yang lalu, aku menikah dengan sekretaris ku, memiliki dua anak, pertama perempuan usianya empat tahun, dan yang kedua berusia dua tahun."

Senyuman Nia terlihat, kepalanya mengangguk. Suaminya sudah jujur saja begitu luar biasa. Hanya saja sakitnya tidak bisa diutarakan.

"Kenapa kamu mengatakannya?"

"Capek terus berbohong, aku ingin kamu tahu, dan kita tetap baik-baik saja. Nia, aku tahu kamu akan mengerti," ucapnya memohon agar Nia memahami perasaan sama seperti Amer yang memahami kekurangan Nia.

"Aku terluka Amer," ungkapnya.

"Maaf sayang, aku sudah menyakiti kamu, tapi mengerti sekali ini saja. Kamu pasti senang melihat kedua anak kita, dia juga milikmu." Amer mengambil ponselnya menunjukkan foto kedua anaknya.

Senyuman Nia terlihat kembali, dia memahami dan sangat mengerti. Tidak ada lelaki yang bertahan dengan pernikahan tanpa anak.

Dirinya yang bodoh dan tidak beruntung, marah, menangis, mengusir, atau melakukan kekerasan tidak akan mengubah apapun.

Suaminya sudah mendua selama lima tahun, Nia tidak tahu apapun. Dia pikir suaminya lelaki hebat yang menerima kekurangan, ternyata salah.

"Kita pesan tiket untuk liburan," ajak Amer yang ingin menghibur Nia.

"Tidak perlu, aku tidak ingin merayakannya seperti dulu," tolaknya sambil tersenyum.

"Aku turuti apapun mau kamu, asalkan tidak pisah. Aku tidak bisa tanpa kamu Nia. Aku mencintai kalian berdua," ucap Amer menambah rasa sakit hati Nia.

"Cinta hanya untuk satu orang, kamu harus kembali kepada wanita itu, dan anak kalian. Tinggalkan saja aku, itu lebih baik untuk kita berdua." Kepala Nia tertunduk, matanya panas, namun air mata terasa kering.

Kepala Amer menggeleng, sampai kapanpun dia tidak akan menceraikan Nia. Dia sangat mencintai istrinya, makanya Amer berbohong selama ini.

Pintu kamar dibanting, Nia pindah ke kamar tamu, dia duduk di pojokkan kamar sambil memeluk kedua lututnya, tawa kecil Nia terdengar masih tidak percaya.

"Apa ini nasibku, kenapa harus aku yang menjadi pilihanmu ya Tuhan, mengapa perjalanan hidupku sesakit ini." Mata Nia berkaca-kaca, cepat diusapnya.

"Tidak apa Nia, ini ujian. Ada yang diuji dengan sakit, anak, materi, kamu tahu itu. Tidak apa, kamu bisa menghadapinya." Mata Nia terpejam hingga tertidur dalam rasa sakitnya.

Berapa kali Amer mengetuk pintu, dia terduduk di depan pintu berlinang air mata. Rasa cintanya kepada Nia sungguh luar biasa, terlalu takut kehilangan dia rela menyembunyikan selama lima tahun.

"Maafkan aku Nia, ampuni aku ya Tuhan. Demi apapun pun aku begitu mencintai istriku, tapi aku juga butuh anak." Amer mengusap air matanya takut sekali kehilangan Nia.

Panggilan masuk, Amer menatap ponselnya. Dia menjawab panggilan Lita istri keduanya yang dinikahi secara diam-diam.

"Sayang, kamu ke sini cepat. Dwi sakit, panasnya tinggi sekali, aku bingung harus melakukan apa," ucapnya.

"Mengurus anak saja kamu tidak bisa, kenapa tidak ke rumah sakit sedari tadi?"

"Dwi kangen kamu, makanya sering-sering jenguk anak jangan hanya mementingkan wanita mandul itu." Lita menatap ponselnya yang dimatikan secara sepihak.

Ponsel dilempar, kepala Lita pusing melihat kedua anaknya yang masih kecil begitu berisik.

"Mama, aku lapar." Dea memegang perutnya.

"Nanti Dea, Mama lagi pusing memikirkan adik kamu yang demam tinggi." Lita menggendong anaknya yang sedari tadi tidak berhenti menangis.

Lita mencoba menghubungi Amer kembali, tapi tidak ada jawaban. Kebiasaan, tiap bulan liburan ke luar negeri bersama Nia, tapi tidak pernah ada waktu bersama anak-anak.

Amer hanya menatap ponselnya, dia tidak tega meninggalkan Nia sendiri. Hati istrinya sedang hancur, tapi Amer tidak bisa menutupi lagi.

Membujuk Nia tidak membuahkan hasil, sedangkan Lita terus menghubunginya.

"Sayang, aku pergi dulu soalnya Dwi sakit," ucapnya bergegas pergi.

Nia tertidur begitu lama, saat bangun tubuhnya terasa sakit karena duduk dipojokkan. Rasanya seperti mimpi buruk saat suaminya mengakui perselingkuhannya.

Saat ini kamar terasa sunyi, biasanya terisi tawa pasangan suami istri yang masih romantis sekalipun sudah lama menikah.

"Kini kamu menghancurkan rumah tangga kita, Amer. Aku memang tidak sempurna, tapi bukan berarti kamu bisa mendua." Nia tidak menemukan apapun soal perselingkuhan suaminya.

Lima tahun begitu lama, seharusnya Amer jujur sejak lama jika dia menginginkan anak mungkin Nia juga akan mengusahakan dengan banyak program, tapi Amer tidak mengizinkannya.

"Tidak mengizinkan bayi tabung, tidak boleh melakukan program apapun mengajak untuk sabar menunggu, pernikahan bukan soal anak, semuanya bohong." Kepala Nia menggeleng, dia mengguyur tubuhnya dengan air.

Sedari malam tidak ada air mata, hatinya sakit sekali. Terlalu bangga kepada suami, ternyata lima tahun mendua dan punya kebahagiaan lain.

"Kalian pikir aku akan hancur sendiri, tidak Amer. Mari kita hancur bersama, dan mari kita lihat siapa yang akan menderita." Mata Nia berkaca-kaca.

Selama sepuluh tahun rela menjadi istri yang patuh, bahkan mengesampingkan segalanya. Berusaha mengimbangi suami yang didampingi sejak susah, sampai akhirnya lupa diri.

"Aku bukan Kania yang kamu kenal lagi, tapi inilah aku yang sebenarnya. Hatiku hancur, rumah tangga juga hancur." Tawa Kania terdengar, dia mentertawakan dirinya sendiri.

Sungguh memalukan, membanggakan lelaki yang punya selingkuhan. Sungguh luar biasa.

***

Terpopuler

Comments

cinta semu

cinta semu

wow Badas ceritanya bagus banget ...next thor

2025-12-03

0

new07

new07

cintanya bulsit mah iti... /Frown/

2025-09-23

0

Uthie

Uthie

Suka di awal mampir 👍👍👍

2026-01-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!