4

Shela terbangun pagi-pagi, antusias mempersiapkan diri untuk hari itu. Dia segera memakai seragamnya, lalu beranjak menuju meja rias untuk mengaplikasikan riasan wajah yang sempurna pada wajah polosnya. Setelah puas dengan hasilnya, ia mengambil tas sekolah dan keluar dari kamarnya.

Wajah Shela berseri-seri, memancarkan rasa harap yang mendalam; ingin sekali dia dapat merasakan kehangatan sarapan bersama kakak-kakak dan ayahnya di pagi yang cerah ini. Tapi sayangnya, begitu melangkah masuk ke ruang makan, wajahnya seketika suram. Rupanya orang-orang di meja makan sudah bangkit dan mulai beranjak. Walau telah berusaha bangun lebih awal, Shela belum juga berhasil meraih momen berharga itu.

Dengan langkah gontai, Shela menatap ayahnya yang masih berada di sekitar meja makan. Laki-laki paruh baya itu menatapnya dengan wajah datar,seolah kehadiran Shela begitu mengganggu penglihatannya.

"Uang bulanan sudah saya transfer ke rekening kamu," ucap ayahnya, lalu meninggalkan Shela begitu saja, menambah panjang daftar kekecewaan yang menghantui hati gadis kecil itu.

Shela menghela napas berat, menghadapi kenyataan bahwa bahkan ucapan selamat pagi pun tak pernah ia dapatkan dari keluarganya. Perlahan, ia duduk di salah satu kursi dan menatap meja makan yang terasa begitu kosong. Dalam benaknya bergema pertanyaan, "Ayah mana yang berbicara dengan putrinya sendiri menggunakan bahasa formal seperti itu? Saya?" Shela tersenyum getir, menyadari bahkan panggilan sehari-hari ayah padanya pun seperti menunjukkan bahwa Shela hanyalah orang asing yang menumpang hidup di keluarga ini.

Mata Shela mendongak ke atas, berusaha mencegah butiran-butiran air yang menggenang di pelupuk matanya jatuh begitu saja. Ia tak ingin riasan wajahnya luntur karena air mata yang mengalir dari penyesalan tak berujung ini.

"Non, sarapannya sudah?" tanya Mbok Inah, tiba-tiba berada di samping Shela.

"Belum, mbok. Ini baru mau makan," jawab Shela lembut.

Mbok Inah tersenyum hangat. "Yasudah makan, mbok temenin."

Seulas senyum tulus menghiasi sudut bibir Shela. "Makasih mbok," ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Shela segera mengambil makanan yang ada di hadapannya dan melahapnya. Meski keluarganya tidak peduli, setidaknya masih ada sosok Mbok Inah yang selalu peduli padanya, bagai oasis di tengah gurun yang tandus.

-----

Shela memandangi langit biru yang dipenuhi awan, pemandangan yang begitu menakjubkan sehingga mampu mengubah suasana hatinya yang sempat kelam menjadi sedikit lebih cerah. Matanya kemudian terpejam sejenak, menatap pemandangan orang-orang yang sedang berolahraga di lapangan, seperti semut dari atas sini.

Saat ini, Shela berada di rooftop, perasaan tercekik membuatnya memilih untuk bersembunyi dari keramaian kelasnya.

Menghela napas, ia melangkah dengan lemah menuju sebuah kursi tak terpakai, lalu melemparkan tubuhnya dengan lelah ke sana.

Karena bosan, Shela menutup matanya dan mencoba untuk tidur, berharap gelisah di dalam hatinya perlahan menghilang.

Tapi baru saja beberapa menit matanya terpejam, ia terbangun mendadak saat mendengar seseorang berbicara tak jauh darinya. Merasa terganggu dan emosinya kembali memuncak, Shela mengernyitkan dahi dan beranjak dengan penuh kekesalan untuk melihat siapa yang tidak berpikir dua kali sebelum mengganggu tidurnya yang singkat.

"Gue udah lama suka sama lo!" seru gadis itu dengan suara yang bergetar, menahan air mata. "Maaf, tapi gue udah punya cewek." jawab pria di hadapannya dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi.

Gadis itu mencoba menegakkan wajahnya dan menatap mata pria yang dicintainya, "Gue tau, gue... cuma ingin ungkapin perasaan gue sebelum terlambat. Gue nekat lakuin ini karena lusa gue bakal pindah dari sini," ucapan itu keluar bersama isak tangis yang tertahan.

"Sebagai permintaan terakhir, boleh gak gue peluk lo, sebentar aja?" pintanya dengan mata berkaca-kaca. Shela yang mengintip dari kejauhan hanya bisa mencibir melihat pemandangan di depannya. "Dasar modus, nyari kesempatan aja!" gerutunya dengan wajah merah padam.

Namun tak disangka, Marvin, pria yang didekati oleh gadis itu, mengangguk pelan dan merentangkan tangannya dengan sikap lemah lembut. Wajahnya yang hangat dan penuh pengertian membuat gadis yang mencoba mengungkapkan perasaannya merasa bersyukur, walau tahu bahwa cinta takkan pernah bersatu.

Gadis itu tersenyum cerah, matanya berbinar seolah mengandung ribuan bahagia, kemudian dengan langkah ringan, ia segera menghambur ke pelukan laki-laki itu. Namun tak lama, gadis itu melepaskan pelukannya. "Terima kasih, ya. Cewek lo sungguh beruntung bisa dapat cowok kayak lo. Semoga kalian langgeng dan selalu bahagia bersama," ujar gadis itu dengan suara tulus yang menggema dalam hatinya.

Marvin mengangguk, matanya kembali menyiratkan segala makna yang tak perlu diucapkan. "Ya, anggap saja ini sebagai pelukan perpisahan terakhir kita. Yaudah, gue pergi dulu. Ingat, jangan pernah membahas soal ini kepada siapa pun, termasuk cewek gue." Kalimat tersebut terucap seraya ia menatap gadis itu dalam-dalam.

Gadis itu mengangguk mantap, dan setelahnya Marvin meninggalkan gadis itu sendirian di sana . Setelah memastikan bahwa Marvin benar-benar pergi, Shela keluar dari persembunyiannya. Dengan ekspresi cemoohan di wajahnya, ia bertepuk tangan keras dan berjalan mendekati gadis itu yang kini terdiam dalam keheningan malam.

"Wow! Pertunjukan yang sangat dramatis. Luar biasa!" Seru Shela sambil bertepuk tangan. Namun, begitu gadis itu berbalik dan melihat siapa yang ada di depannya, wajah cerianya berubah menjadi panik. "Shela, g-gue..."

Mata Shela menyala dan ia menghentikan langkah di depan gadis itu. Dengan tangan yang terlipat di dada, Shela memandang gadis yang lebih pendek darinya dengan tatapan tajam. "Berani banget ya, lo mendekati Marvin? Bahkan memeluknya? Padahal, gue aja belum pernah dipeluk sama Marvin!"

Shela maju selangkah dan dengan geram mendorong bahu gadis itu. "Shel, gue minta maaf. Gue gak bermaksud deketin Marvin."

Mendengus dengan kesal, Shela membentak, "Gak bermaksud? Lo kira gue tuli, apa gue buta?! Gue lihat sendiri lo menyatakan perasaan lo dan pelukan manis yang lo berikan padanya!"

"Itu cu-cuma... aw!" Rintih gadis itu saat tamparan mendarat di pipinya. Meski tidak begitu keras, rasa perih tetap menyeruak di wajahnya.

"Sialan! Gak boleh ada seorang pun yang berhak mendekati Marvin selain gue!!! Sudah cukup cewek cupu sialan itu menghalangi jalan gue!" Shela berteriak, amarahnya membuat gadis di hadapannya bergemetar ketakutan. "Shel, Ma-maaf."

Shela tersenyum sinis. "Oh, lo mau pindah sekolah ya? Setelah menerima hadiah perpisahan dari Marvin, gue juga akan memberikan hadiah perpisahan buat lo, bagaimana?"

Gadis itu menggeleng cepat, merasa ketakutan. "G-gak usah, jangan.."

Namun, tanpa menggubris ucapan gadis itu, Shela menjambak rambut gadis itu hingga kepalanya terangkat. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong roknya, lalu mengoleskan benda berwarna merah itu pada seluruh wajah gadis itu. Setelah cukup lama mengoleskan lipstik, Shela melepaskan genggamannya dan tersenyum puas melihat hasil karyanya.

Masih belum cukup, Shela mengeluarkan sebuah maskara dan dengan kejam, mengoleskan benda berwarna hitam itu ke wajah gadis itu. Setelah puas mempermainkan wajah si gadis, Shela menyeringai dan menyatakan, "Oke, selesai!"

Sambil menangis, gadis itu tak mampu berbuat apa-apa, merasakan perasaan hancur dan terhina. Di balik derai air mata, ia berjanji suatu hari akan bangkit dari keterpurukan dan membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar korban Shela yang kejam.

Shela menatap wajah gadis itu yang kini tampak tak beraturan, penuh coretan lipstik dan maskara memenuhi seluruh wajahnya. Dia mengamati tulisan di lipstik dan maskara miliknya, lalu ekspresinya berubah menjadi pura-pura panik yang menyiratkan rasa penyesalan.

" Yah, lipstik sama maskara ini tahan air, gimana dong? Kan susah dihapus pakai air. Maaf deh ya, gue nggak sengaja ngegambar di wajah lo, apalagi di sekolah pasti gak ada yang bawa penghapus make up," ujar Shela dengan senyuman jahil.

Gadis di hadapannya menunduk, tubuhnya menggigil. Shela menduga gadis itu tak kuasa menahan tangis, namun dia sama sekali tak merasa peduli.

"Sana pergi! Gue muak liat wajah jelek lo!" Usir Shela tanpa ampun.

Dengan tubuh yang masih bergetar, gadis itu berbalik perlahan dan meninggalkan Shela sendiri di sana, seolah membawa luka yang tak bisa disembuhkan hanya dengan air mata.

Terpopuler

Comments

Nisa Nisa

Nisa Nisa

gk nyadar Shel kamu jg modus sama Marvin walau ditolak mentah mentah🤣🤣 gk da harga diri loe sebagai cewek

2026-01-16

0

Nisa Nisa

Nisa Nisa

lama2 gk simpati sama tokoh utama cerita ini.. kemarahan sama keluarga dilimpahkan utk mahluk lain yg lebih lemah. Padahal dia punya semuanya keluarga yg tetap menafkahi dia gk kurang suatu apa gk pernah lihat bgm anak-anak tanpa orangtua atau ada orang tua tp jg miskin kadang mengeksploitasi anaknya. Dia cuma tdk diperhatikan, tp marah pd semua dan gk berani berontak pd keluarganya.

2026-01-16

2

lihat semua
Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 126
127 127
128 128
129 129
130 130
131 131
132 132
133 133
134 134
135 135
136 136
137 137
138 138
139 139
140 140
141 141
142 142
143 143
144 144
145 145
146 146
147 147
148 148
149 149
150 150
151 151
152 152
153 153
154 154
155 155
156 156 ( ending )
Episodes

Updated 156 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
126
127
127
128
128
129
129
130
130
131
131
132
132
133
133
134
134
135
135
136
136
137
137
138
138
139
139
140
140
141
141
142
142
143
143
144
144
145
145
146
146
147
147
148
148
149
149
150
150
151
151
152
152
153
153
154
154
155
155
156
156 ( ending )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!