Anshela
Anshela Pradipta, yang akrab disapa Shela, merupakan anak bungsu dalam keluarga beranggotakan empat bersaudara. Namun, ia tak hanya menjadi anak bungsu, tetapi juga anak perempuan satu-satunya di tengah-tengah saudara-saudaranya yang semuanya laki-laki. Dibalik posisinya yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih sebagai anak bungsu dan perempuan satu-satunya, Shela justru dihadapkan pada takdir yang menyedihkan.
Kematian sang ibu yang terjadi tak lama setelah melahirkannya, menjadikan Shela tercoreng stigma sebagai penyebab kematian sang ibu. Bahkan, mereka sering menyebutnya dengan sebutan anak pembawa sial. Kehidupan dalam lingkungan keluarga yang suram, menjadi saksi bagi tumbuh kembang Shela yang diliputi kegelapan.
Tiga kakak laki-laki yang tampan di matanya, sama sekali tidak memberikan pengaruh positif karena mereka justru mengabaikannya. Bukan hanya itu, sang ayah juga ikut memberikan tatapan penuh kebencian, setiap kali menatap wajah Shela . Kekurangan kasih sayang yang kronis inilah yang pada akhirnya melahirkan sifat-sifat buruk dalam diri Shela. Gadis ini tumbuh menjadi sosok yang arogan, sombong, dan angkuh. Shela terbiasa hidup sesuka hati, menjalani kehidupan dengan kebekuan emosional akibat rasa sakit yang selama ini ditekannya.
Meskipun begitu, Shela selalu berusaha mencuri perhatian sang kakak, bahkan sampai menyukai salah satu teman baiknya, Marvin, ketua geng Black Eagle yang terkenal. Pria itu memiliki wajah tampan, tubuh atletis, serta tatapan dingin yang tajam sehingga Shela jatuh cinta padanya. Sayangnya, pria itu telah memiliki kekasih, Fiona, gadis cantik berparas menawan, pintar, ramah, baik hati, polos, dan lugu, yang juga meraih beasiswa di sekolahnya.
Kisah asmara Marvin dan Fiona seperti roman yang digambarkan dalam novel-novel populer, di mana sang ketua geng jatuh cinta kepada gadis cantik, lugu, dan penerima beasiswa. Dan seperti plot cerita dalam novel, pastilah ada sosok antagonis yang menghiasi kisah mereka; dan sosok itu adalah Shela. Inilah alasan mengapa banyak orang membencinya - dia selalu membully orang-orang yang lebih lemah, seperti Fiona, hanya karena perasaan cemburu yang menyelimuti hatinya.
Shela juga tidak memiliki bakat apapun, ia bodoh dalam segala hal. Itulah yang membuat dirinya selalu dihina oleh keluarganya terutama kakaknya, hal itu juga yang membuat mereka semakin membenci Shela. Tapi itu dari sisi mereka. Tanpa keluarganya ketahui, Shela merupakan anak yang pintar, di tempat lain ia juga sering berlatih bela diri dan juga alat musik. Ia sengaja tidak menunjukkan itu semua karena rasanya percuma mereka tidak akan menghargai apapun usahanya.
Setiap malam di dalam kamar ia selalu membaca buku, meski ia anak yang bermasalah tapi pendidikan penting baginya,meski di sekolah apa yang ia pelajari tidak ia tunjukkan. Ia tidak peduli jika orang-orang menganggapnya sebagai anak bodoh, yang ia inginkan bukan pujian dari orang-orang itu. Ia hanya ingin pujian dari keluarganya setidaknya salah satu dari keempat anggota keluarganya. Sayangnya semua itu tidak pernah Shela dapatkan.
Di sekolah, Shela dikenal sebagai gadis pemberontak yang selalu membuat keributan, dan selalu mengikuti Marvin,laki-laki yang menjadi pusat perhatiannya. Ia bahkan dijuluki 'Ratu Bully' karena siapa saja yang berani menyentuhnya pasti akan menjadi sasaran balas dendamnya.
Tak hanya itu, Shela juga sengaja memodifikasi seragam sekolahnya agar terlihat lebih pendek dan ketat, sementara wajahnya tak pernah lepas dari riasan make up tebal nan mencolok. Padahal, di balik topeng kegarangan dan penampilannya yang berlebihan, terselip paras wajah cantik yang sayangnya terkubur oleh make up tebal dan sifat buruknya.
Meskipun kerap menimbulkan masalah, ada batasan moral yang tidak pernah Shela langgar, seperti mengonsumsi alkohol atau pergi ke tempat hiburan malam. Ia sangat menentang tindakan-tindakan tersebut.
Shela punya alasan kuat mengapa ia memilih berdandan dan mengenakan pakaian yang mencolok seperti itu. Semua dilakukan demi menarik perhatian Marvin, dengan harapan pakaian ketat yang ia kenakan bisa memikat hati lelaki itu.
Sayangnya, itu hanyalah angan-angan semata. Marvin tidak pernah menaruh perhatian pada Shela, bahkan justru merasa jijik dengan sikap dan penampilan Shela yang terkesan seperti perempuan murahan. Gaya bicara menggemaskan yang dibuat-buat serta sifat manja yang terkesan berlebihan membuat Marvin merasa risih. Marvin bahkan tak segan untuk berkata keras pada Shela dan menyebutnya sebagai perempuan jalang, karena ia kerap menempel pada dirinya.
"Lepas, sialan! Apa gak bisa, satu hari aja lo gak nempel terus sama gue?" tegas Marvin sambil menatap tajam ke arah Shela.
Namun, bukannya gentar, Shela malah tertawa. "Ya, sebentar lagi juga pasti hati lo luluh, Kak. Lagipula, si cupu kan gak masuk hari ini, jadi gue mau memaksimalkan waktu berdua sama lo," ucap Shela sambil menggelayut pada lengan Marvin dengan gaya manja yang membuat Marvin makin muak.
Dari belakang, Dika - kakaknya, serta beberapa teman Marvin yang lain, menatap penuh sinisme ke arah Shela. Mereka sudah bosan mencoba menghalau Shela yang keras kepala itu.
Marvin melepaskan tangan Shela dengan kasar, lalu mendorong tubuh gadis itu, tidak terlalu keras namun cukup untuk membuat Shela terhuyung dan nyaris terjatuh. Shela memandang penuh amarah sambil menyeimbangkan tubuhnya, dan ia kembali mendekati Marvin dengan langkah penuh tekad.
"Jal*ang sialan! Lo punya kuping gak si?!" Sentak Marvin dengan suara melengking.
Dika yang melihat temannya mulai kehilangan kendali segera menarik kasar tangan adiknya, memutuskan tindakan Shela yang mulai kelewat batas. Dengan tatapan tajam, ia mencengkram pergelangan tangan Shela erat-erat.
"Pergi sialan!" ujar Dika dengan tenang, namun kata-katanya penuh penekanan.
Bibir Shela mengerucut, tak mampu menyembunyikan rasa sakit hati. "Abang, kok gitu sih? Aku kan cuma mau deket sama Kak Marvin. Emang salah ya?" gumamnya dengan suara tersedu. Terlihat betapa hatinya tersayat melihat keadaan ini, namun ia tetap mencoba membela diri.
Dika menatap adiknya dengan penuh jijik, kemudian menghempaskan tangan gadis itu dengan kasar. "Jijik banget gue liat lo! Dasar perempuan murahan, kalo mau nempelin cowok, mending cari om-om buat perawatan muka lo yang jelek itu. Emang lo gak sadar diri apa, jadi cewek kayak gini gak ada yang mau sama lo!" Ujar Dika dengan nada yang penuh meremehkan.
Shela merasakan sakit di dadanya, mengatupkan jemarinya, membentuk tinju. Meski sudah terbiasa mendengar cacian dari kakaknya, tak bisa dipungkiri jika ia merasa terluka mendengarnya. Shela mencoba mengabaikan perasaannya, dan berjalan kembali menghampiri Marvin. Tiba-tiba, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Marvin, membuat laki-laki itu terkesiap.
"Kalau lo enggak biarin gue deketin lo, gue bakal siksa cewek lo setiap hari. Lo tinggal pilih aja," bisik Shela dengan suara yang penuh ancaman. Gadis itu tersenyum miring, menatap Marvin yang tampak terkejut sebelum beranjak pergi.
Marvin memandangi sosok Shela yang perlahan menjauh, dengan tangan yang dibanjiri kemarahan, menggenggam erat, dan tekad membara di dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
Nisa Nisa
adiknya disebut jalang kakaknya ikutan marah, bukan marahi org yg menghina adiknya tp marahi adiknya. Kelakuan adikmu adalah hasil didikan dikeluarga kalian. Percaya ada anak pembawa sial benar-benar gk percaya takdir
2026-01-16
0
Rere
Kenapa harus anak yang di salahkan kalo sang ibu meninggal setelah melahirkan
2026-01-21
0
Nisa Nisa
keluarga yg tdk menerima takdir, tidak mengenal Tuhan.
2026-01-15
0