5

Pulang sekolah Shela buru-buru merapihkan alat tulisnya, ia segera berlari menuju kelas kakaknya yang jaraknya cukup jauh dari kelasnya. Hari ini ia tidak membawa mobil, sengaja agar ia bisa menumpang pada kakaknya.

Saat melewati lorong orang-orang menatapnya juga beberapa dari mereka menyingkir kerena takut terurusan dengan wanita bar-bar seperti dirinya. Wanita yang tahu belas kasihan.

Shela menghentikan langkahnya ketika hampir sampai di kelas kakaknya, dari sana ia berjalan dengan santai sambil memperhatikan orang-orang yang tengah keluar dari kelasnya. Saat melihat Dika sang kakak, ia mempercepat langkahnya menuju laki-laki itu.

Wajah Dika yang semula terlihat cerah berubah menjadi datar ketika melihat kedatangan Shela. Dia mengacuhkan Shela lalu pergi dengan teman-temannya.

Shela tak mau tinggal diam, dia mengikuti kakaknya itu dan berjalan di samping kakaknya.

"Mau ngapain si lo?!" tanya Dika dengan nada ketus.

"Nebeng dong,Bang. Aku gak bawa mobil hari ini," ujar Shela dengan nada dimanjakan.

Dika menatapnya jijik." Ogah, sana pergi, cari tumpangan lain! Gak Sudi gue nebengin lo. Lagian suruh siapa gak bawa mobil!"

Shela menghela napasnya." Mesinnya ada yang rusak, aku belum sempet bawa mobilnya ke bengkel. Gue nebeng ya, gak perlu sampai rumah kok, cuma sampai lampu merah pertigaan aja," ujar Shela memohon.

Dika berdecak, dia lalu menyuruh teman-temannya untuk pergi duluan termasuk Marvin." Oke, tapi gak gratis."

Shela mengangguk senang." Oke, Abang mau aku bayar berapa?"

"Lo pikir gue taksi? Gue gak butuh duit lo!"

"Loh katanya gak gratis, yaudah aku bayar."

"Bego! Gue bilang gak gratis bukan berarti gue nyuruh Lo bayar pake duit!" Hardik Dika.

Shela menghela napasnya, tak apa Shela yang terpenting kakak lo yang satu itu mau nebengin lo.

"Yaudah, Abang maunya apa?"

Dika tersenyum miring."Jadi babu gue selama seminggu di rumah."

Mata Shela melebar, hanya menumpang di mobil kakaknya saja, dia harus menjadi babi laki-laki itu. Benar-benar kejam, tapi pada akhirnya Shela hanya mengangguk, ia harap ini akan menjadi awal dirinya bisa dekat dengan kakaknya.

"Oke, nih bawa tas gue." Dika memberikan tasnya pada Shela lalu berjalan begitu saja tanpa menunggunya.

Shela berjalan mengikuti langkah kaki kakaknya. Dia melihat sebagian besar orang yang dilewati menatapnya. Shela tak peduli, biarlah orang menatapnya sepuas mereka.

Saat berada di perkirakan matanya melihat sesuatu yang membuatnya murka, ya dia melihat gadis yang tadi dia bully di rooftop tengah berbicara dengan Marvin, ditambah di sebelah Marvin ada Flora. Sialan! Pasti gadis itu tengah mengadu pada Marvin.

Dengan tangan yang masih memegang tas kakaknya, dia berjalan menuju ke arah meraka. Namun baru beberapa langkah seseorang menarik tangannya dengan kasar.

"Mau kemana lo,hah?!"

Shela berbalik, dia menatap kakaknya yang berbawah datar. " Aku mau samperin mereka," ujar Shela sambil menunjuk ke arah Marvin dan juga dua gadis itu dengan dagunya.

Dika mengikuti arah yang di tunjuk gadis itu,kalau kembali menatapnya. " Gak usah nyari perkara! Sehari aja jangan ganggu Marvin bisa?! Gue malu sama dia karena punya adik murahan kayak lo!"

"Bang, aku gak nyari perkara, aku cuma-"

"Jangan bantah! Cepet naik ke mobil atau gue gak mau tumpangin lo!"

Shela bimbang, haruskah dia mengabaikan Marvin dan menurut pada kakaknya. Atau menghampiri Marvin dan mungkin akan membuat kakaknya semakin membencinya.

Shela mengembalikan tas kakaknya yang dia pegang." Nih, aku gak jadi nebeng sama Abang." Dia segera berlari menuju ke arah Marvin.

"Sialan! Heh mau kemana lo,Shela?!" Dika berteriak, sayangnya adiknya itu tidak mendengarnya. Terpaksa ia mengikuti gadis itu, daripada adiknya membuat masalah lagi,lebih baik dia ikuti.

" Gue minta maaf Flo, karena udah minta hal itu sama pacar lo, tapi gue gak bermaksud apa-apa."

Flora menatap sendu gadis itu lalu mengusap bahunya." Iya, gak apa-apa aku ngerti. Nanti aku coba bicara sama Shela ya."

"Gak usah! Biar gue yang ngasih pelajaran sama dia!" Ujar Marvin.

Dia geram, tak ada henti-hentinya Shela mengganggu para gadis yang tidak bersalah hanya karena berinteraksi dengannya. Gadis gila!

"Jangan Vin, nanti yang ada dia malah semakin banyak menyakiti perempuan lain," ujar Flora.

"Tapi kalau di biarin aja, dia juga gak akan berhenti bully orang lain. Cewek gila kayak dia itu harus di kasih pelajaran biar kapok!"

"Oh, mau ngasih gue pelajaran ya?" Shela datang dengan wajah congak-nya." Apa aja yang udah cewek ini omongin ke lo?" Ujar Shela sambil menatap nyalang ke arah gadis yang dia bully tadi.

Ketiga orang itu terkejut, terutama gadis itu. Mendadak wajahnya panik.

Marvin menatap tajam Shela, sungguh laki-laki itu sangat tidak menyukai wanita seperti Shela. " Mau ngapain Lo ke sini?!"

Shela tersenyum manis lalu mendorong tubuh gadis itu sehingga kini dia berhadapan langsung dengan Marvin." Mau nemuin lo."

Marvin menatap jijik Shela." Gue gak mau ketemu cewek jahat dan gak punya perasaan kayak lo. Emangnya lo gak bosen ganggu gue terus,hah?!"

"Oh? Gue si gak bosen ya." Shela mendekatkan diri ke arah Marvin lalu mengaitkan tangannya pada tangan laki-laki itu.

Marvin menyingkirkan Shela dengan kasar, wajahnya memerah karena kemarahan. "Lepasin! Lo gak liat ada pacar gue di sini? Emang gila ya, Lo!"

"Gue gak peduli sama dia yang cupu itu." Shela berusaha keras kembali meraih tangan Marvin, tetapi tubuhnya ditarik keras oleh seseorang sebelum sempat melakukannya.

"Gue bilang, jangan nyari perkara!" Dika menatapnya dengan penuh nyalang, lalu tatapannya beralih pada Marvin.

"Sorry Vin, lo langsung balik aja biar gue yang urus ini."

Marvin mengangguk, lalu menggandeng tangan kekasihnya menuju ke arah ujung parkiran dimana motor laki-laki itu diparkirkan. Tak terima, Shela menepis tangan Dika dan menyusul Marvin, memutuskan untuk bertindak nekat. Dia menarik tangan Flora dengan kasar sehingga pegangan gadis itu terlepas dari Marvin.

"Shela! Lo apa-apaan si?!" Marvin berseru murka.

"Kenapa? Lo tau gue udah ngelakuin berbagai cara supaya bisa deket sama lo, tapi lo malah lebih milih dia. Gadis culun yang gak berguna!" Luapan emosi Shela menjadi cambuk tajam yang menyayat hati Flora, membuatnya merasa terhina dan hancur.

" Jelas gue lebih milih Flora karena dia cewek baik-baik, gak kayak lo!" Marvin menatapnya remeh." Seperti yang selalu gue bilang, cewek kayak lo gak pantes buat siapapun."

Tatapan Shela tajam, beraroma kemarahan langsung tertuju pada Flora. "Lihat! Gara-gara kehadiran lo, Marvin gak pernah peduli sama gue."

"Itu bukan salah Flora, itu salah lo sendiri yang lahir sebagai cewek yang gak punya perasaan. Lagipula, mau sekeras apapun usaha lo, gue gak akan pernah suka sama lo. Ingat itu!" jawab Marvin tanpa ampun.

Amuk semburat merah pada wajah Shela. Tangan Shela mengepal erat, ia merasa diliputi rasa kesal yang memuncak. Tanpa ragu, ia mendorong tubuh Flora yang berada di sampingnya dengan kekuatan penuh. Flora tersungkur.

"Flora!" seru Marvin dengan prihatin, segera menghampiri kekasihnya.

Shela hanya menatap pemandangan di depannya dengan hati yang tercabik-cabik. Emosinya bercampur aduk, menciptakan racun berbahaya yang meracuni dirinya. Tak lama dari itu, sebuah teriakan keras menerjah di telinganya.

"Sialan!" bentak Dika, seraya menampar keras pipi Shela. Tak pandang bulu, kemarahan Dika mencapai puncaknya. "Cewek gak tau diuntung! Bisa gak berhenti cari masalah, hah?! Gue capek punya adik bermasalah kayak lo, Shela! Gue bener-bener muak, gue benci sama lo! Mulai sekarang jangan pernah anggap gue kakak lagi, gak sudi gue punya adik pembunuh dan gak punya perasaan kayak lo!"

Setelah menghardik Shela habis-habisan, Dika melangkah maju untuk membantu Flora berdiri. Perlahan, Shela menyadari betapa tidak pedulinya kakaknya. Betapa dia tega menamparnya di depan Marvin dan Flora, mengekspos kelemahannya tanpa belas kasihan. "Bawa ke mobil gue aja," tawar Dika yang terlihat khawatir

"Yaudah, lo bawa Flora, nanti kabarin gue ya. Hati-hati," ujar Marvin seraya meredakan kawatir yang menari-nari dalam matanya. Dika mengangguk, lalu pergi menuju mobilnya dengan menggendong Flora di dalam dekapan, sementara Marvin mengambil motornya dan bersiap untuk mengikuti dari jauh.

Mereka meninggalkan Shela yang berdiri mematung di parkiran, terasing dalam lamunan penuh perih. Begitu mereka menghilang dari pandangan, Shela terisak dalam tangis. Dia bukanlah seorang pembunuh, bahkan bukan gadis jahat. Semua yang dia lakukan hanyalah demi menarik perhatian mereka, ingin sekali mereka peduli pada dirinya, mencari tahu kenapa dia melakukan ini semua.

Namun kenyataan yang menusuk adalah mereka hanya menganggap Shela sebagai gadis jahat, menyayat hatinya yang rapuh, tanpa pernah mencoba memahami alasan tersembunyi di balik semua perbuatan itu. Alunan tangisannya menjadi suara kesepian yang tak terdengar, memecah kebisuan malam yang menghantui setiap sudut hatinya.

Terpopuler

Comments

falea sezi

falea sezi

bodoh bgt sella ini ngemis kayak. jalang aja

2025-12-28

0

Fitri Yastuti

Fitri Yastuti

klo caranya bgtu, ya salah atuh shela, makin benci smua org, mn ada cwo yg demen cewe kasar

2025-12-19

2

lihat semua
Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 126
127 127
128 128
129 129
130 130
131 131
132 132
133 133
134 134
135 135
136 136
137 137
138 138
139 139
140 140
141 141
142 142
143 143
144 144
145 145
146 146
147 147
148 148
149 149
150 150
151 151
152 152
153 153
154 154
155 155
156 156 ( ending )
Episodes

Updated 156 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
126
127
127
128
128
129
129
130
130
131
131
132
132
133
133
134
134
135
135
136
136
137
137
138
138
139
139
140
140
141
141
142
142
143
143
144
144
145
145
146
146
147
147
148
148
149
149
150
150
151
151
152
152
153
153
154
154
155
155
156
156 ( ending )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!