Chapter 03

Kylena Gabriella. Sesuai dengan bayangannya mengenai tokoh utama. Gaby gadis cantik dengan struktur wajah halus, anggun, dan lembut. Sekali melihat saja orang pasti tahu siapa tokoh utamanya, Gaby adalah gambaran wanita rapuh yang membuat siapa pun tergerak ingin melindungi ketika melihatnya.

Definisi cantik itu bermuka dua. Pikir Asa.

Gadis itu mendekat dengan mata berkaca-kaca, wajahnya yang putih bersih memerah menahan tangis.

"Maafin aku," suaranya sangat halus. "Gara-gara aku, Kak Zia jadi kayak gini, maafin aku, Kak. Aku, aku salah."

Gaby menundukkan kepala seraya terisak pelan. Maddy mendengus sebal, bukan iba ia malah muak melihat tingkah Gaby saat ini.

Sudah dibilang ia sangat membenci wajah-wajah polos seperti ini, karena menurutnya kerjaan gadis lemah seperti itu kalau tidak meminta perlindungan ya menangis menyebalkan seolah menjadi mahluk paling tersakiti di muka bumi.

Di tengah suana tegang, tiba-tiba dua orang memasuki ruangan, mereka adalah Damian dan Amanda, ibu kandung Gaby. Sepasang suami istri itu kaget melihat putri mereka sedang menangis.

Damian dengan rahang mengeras menghampiri mereka. "Zia, kamu ngelakuin apalagi sama adikmu?!"

"Mas," Amanda di sampingnya berusaha menenangkan suaminya.

Asa mengernyit kemudian mendengus. Ah, Asa sudah bilang di awala kalo ia sangat tidak menyukai karakter dua orang ini, manusia egois yang mengatasnamakan segalanya demi cinta.

"Kamu keterlaluan Zia! Belum puas kamu menganiaya adikmu, ha? Papi kecewa sama kamu, kenapa kamu bisa berperilaku seperti binatang yang gak punya akal?"

Ucapan kemarahan yang keluar dari mulut Damian membuat Asa meringis dan sedikit tidak terima. Di kehidupannya dulu ia tidak pernah dibentak atau diteriaki kasar seperti ini oleh keluarganya.

"Binatang? Mending Papi ngaca deh dari mana perilaku ini muncul." Sahut Asa acuh.

"Zia!" Bentakan kembali terdengar, namun Asa terlihat tak menghiraukannya.

Maddy yang sedari tadi diam sejak kehadiran Gaby, ia tahu sendiri kalo Zia jelas-jelas disalahkan tanpa alasan. Gaby yang tiba-tiba datang lalu menangis seolah habis dianiaya dan sekarang Damian malah menyalahkan Zia karena membuat putri mereka menangis, sangat tidak masuk akal.

"Om ini bukan salah Zia, Gaby yang tiba-tiba datang terus nangis begitu," seru Maddy berusaha membela.

"Maddy, Om tahu kamu berusaha melindungi Zia, tapi anak itu sudah keterlaluan. Kamu sebaiknya pulang, lagi pula ini urusan keluarga Om sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur," sela Damian tegas.

Maddy ingin mengeluarkan suara, tapi bibirnya kembali tertaut ketika melihat gelengan samar dari Zia. Dengan berat hati Maddy keluar ruangan, sebelum keluar ia sempat melirik sinis ke arah Gabriella yang setia menunduk. Dalam hati Maddy menyumpahi supaya kepala gadis sok polos itu tidak bisa tegak kembali, sukur-sukur patah sekalian.

"Papi, yang Kak Maddy bilang benar. Bukan Kak Zia yang buat aku nangis, tapi..." Gaby mengangkat kepalanya melihat Damian dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku ngerasa bersalah, Pi. Gara-gara aku..."

Perkataan Gaby kembali tersendat karena isak tangisnya kembali terdengar.

Raut wajah tegas Damian melembut melihat kesedihan putrinya. "Bukan salah kamu, kamu gak salah. Papi yang salah karena nggak becus mendidik anak."

"Mas," Ratih mengusap lembut lengan suaminya. "Kamu jangan terlalu keras sama Zia, dia masih anak-anak."

Damian menoleh ke arah istrinya, "Kamu selalu membelanya. Itulah mengapa dia jadi besar kepala."

"Mas, Zia anak kita. Jangan begitu, kasihan dia."

"Tapi dia sudah keterlaluan, tingkah Zia sudah nggak tertolong." Damian mengusap wajahnya frustrasi.

"Aku pusing, kalau kalian masih mau berdebat silakan keluar," ucap Asa letih mendengar drama keluarga ini.

Damian semakin tersulut mendengar ucapan tidak sopan putrinya. "Zia!"

"Apa?" Asa menyaut santai tanpa emosi. "Ada yang salah? Aku pasien, dibawa ke rumah sakit supaya sembuh bukan malah stres denger drama kalian. Yang satu datang terus nangis gak jelas, yang satunya lagi tiba-tiba marah bikin pusing tau gak. Kalau kalian datang cuman buat aku tambah pusing, aku benar-benar gak butuh kedatangan kalian."

Mata Damian berkilat mendengar rentetan kalimat kurang ajar putrinya. Ia ingin memarahi, namun terhalang oleh istrinya.

"Mas, benar apa kata Zia, sebaiknya kita keluar. Biarkan dia istirahat. Kamu juga butuh meredakan amarah, gak baik berbicara saat sedang dikuasai amarah." Damian menarik napas lalu keluar kamar dengan ekspresi kaku.

"Sebaiknya kamu istirahat." Usai mengatakan itu Amanda dan Gaby keluar kamar menyusul Damian.

Asa melihat pintu tertutup, kamar yang tadinya ramai mendadak sepi, tapi sangat melegakan untuknya.

Ia membuang napas kasar. Apakah dirinya akan sanggup menerima takdirnya sebagai Zia, gadis yang hidupnya penuh kesengsaraan.

***

Sudah seminggu sejak kepulangannya dari rumah sakit, kondisinya sudah sangat membaik dan hari ini hari pertama dia sekolah sebagai Zia. Cukup menyebalkan karena ia harus kembali menjadi anak SMA.

Ia adalah seorang mahasiswi hukum semester lima. Otaknya yang biasanya dipenuhi dengan pasal-pasal sekarang harus kembali mengulang pelajaran SMA.

Ah, sungguh membuang-buang waktu. Setelah selesai berpakaian Zia melangkah menuruni tangga untuk sarapan. Di sana sudah ada Damian, Amanda, dan Gaby yang sedang makan sambil berbincang hangat.

"Zia, ayo sarapan dulu. Mami masak nasi goreng kesukaan kamu," tawar Amanda tersenyum hangat.

Zia tidak menyaut dengan santai menarik kursi lalu mengambil roti dan mengoleskan selai cokelat di atas roti itu. Ia memang tidak terlalu suka sarapan pagi dengan nasi, ia lebih suka makanan yang tidak terlalu berat.

"Zia!"

"Mas," suara Damian terhenti karena melihat gelengan istrinya.

Ia melihat Zia yang tetap makan dengan santai seolah tidak melakukan kesalahan apa pun, kemudian barulah berpaling melihat istrinya.

Melihat Zia bahkan dilirik pun tidak. Damian tidak habis pikir dengan perilaku putrinya, hampir setiap hari Zia selalu membuatnya marah.

"Zia, kamu berangkat sama Pak Imam, biar Gaby bareng Papi," ucap Damian.

Ia memang sengaja tidak menyatukan mereka karena tidak mau ada hal buruk di perjalanan.

Zia mengambil tisu mengelap bibirnya. Ia mendongak melihat Damian. Tersenyum tipis, tanpa mengucapkan apa pun ia berdiri dari kursi dan berjalan dengan santai ke luar rumah.

Semakin lama hidup di dunia ini ia semakin menyadari mengapa Zia bisa menjadi manusia penuh kebencian. Segala tingkah laku orang-orang di sekitarnya tanpa sadar memang menyakitinya. Tidak disadari memang, tapi berjejak telak pada hatinya.

Di perjalanan menuju sekolah Zia membuka ponsel yang baru dia temui semalam di kolong tempat tidur. Zia membuka setiap chat yang kebanyakan dari grup kelas dan Maddy. Kemudian membuka chat yang bertuliskan nama Arza dengan emoji hati di belakang namanya.

Zia mendengus, dari hampir puluhan bahkan ratusan chat tidak ada yang dibalas bahkan dibaca pun tidak. Bahkan chat terakhir pun hanya bertanda centang satu yang berarti diblokir.

Zia menghapus semua chat itu sekalian memorinya, tidak penting untuk disimpan. Dia kemudian membuka galeri dan menemukan sebuah folder dengan nama Arza Love.

Zia membuka folder itu dan kembali meringis melihat isinya terdapat banyak sekali foto lelaki yang ternyata juga fotonya di kamar Zia. Zia menghapus folder itu tanpa beban, kemudian kembali mengunci ponselnya ketika mobil mulai memasuki gerbang sekolah yang bertuliskan Bintang High School.

Zia turun setelah Pak Imam membukakan pintu mobil. Ia menarik napas pelan menegadahkan pandangannya pada gedung sekolah. Saat ini yang Zia bingungkan adalah keberadaan kelasnya, di dalam novel itu dituliskan Zia di kelas 12 IPS 3 sekelas dengan Maddy dan Arza, tapi ia tidak tahu di mana kelas itu. Ingin bertanya, tapi takut menimbulkan kecurigaan.

Beberapa saat kemudian dia akhirnya mendesah lega ketika melihat ada Maddy di ujung koridor sedang melambaikan tangan padanya, segera Zia menghampiri gadis itu. Maddy langsung merangkulnya.

"Gue kira lo masih betah di rumah," ucap Maddy, mereka berjalan beriringan menuju kelas sambil berbincang satu arah.

Bukan tidak menyadari ketika menginjakkan kaki di sekolah ini beberapa kali Zia menangkap pandangan takut dan segan di sekelilingnya, bahkan Zia melihat tidak hanya sekali siswa yang memilih putar arah daripada berpapasan dengannya.

Tokoh Zia memang terkenal dengan julukan iblis berparas malaikat. Mempunyai wajah cantik, tapi tidak dengan hati dan kelakuannya.

Sampai di kelas, Zia duduk di bangku paling pojok. Di belakangnya ada satu bangku kosong yang ia tidak tahu siapa pemiliknya sementara di depannya tempat duduk Maddy.

"Males banget gue ngulang pelajaran mulu," gumamnya jenuh. "Tahu gini, usaha keras gue kayak nggak ad artinya."

Terpopuler

Comments

alexsander

alexsander

nama mama mama nya ratih atau amanda ya🤔

2026-04-20

0

siti hajar

siti hajar

semangat kak 👍👍👍

2026-02-03

0

Heni Mulyani

Heni Mulyani

lanjut 💪

2025-10-19

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 01
2 Chapter 02
3 Chapter 03
4 Chapter 04
5 Chapter 05
6 Chapter 06
7 Chapter 07
8 Chapter 8
9 Chapter 09
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Chapter 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Chapter 01
2
Chapter 02
3
Chapter 03
4
Chapter 04
5
Chapter 05
6
Chapter 06
7
Chapter 07
8
Chapter 8
9
Chapter 09
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Chapter 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!